Entah bagaimana, aku tak berpikir terlalu jauh. Tetap saja, yang kuinginkan sebenarnya hanyalah turunnya hujan ketika hari ulang tahunku tiba. Entah bagaimana, aku menjadi begitu muak dengan orang-orang di desa ini, dan mungkin kebanyakan manusia di duniaku sekarang, yang lebih memilih untuk diam dan menanti. Seperti yang pernah dilakukan pemimpin kami bertahun yang lalu, kebakaran yang tak ada hentinya di Riau disiram oleh air langit yang dibuat manusia. Namun, tidak adakah yang berpikir mengapa kekeringan ini bisa berlangsung selama sebulan? Angin bahkan enggan untuk berembus tenang. Serbuan panas tanpa kelembaban membuat kulit kering sepanjang hari. Jelaslah, pemimpin kami pun tak tahu bagaimana caranya menciptakan hujan sekali lagi sebab air untuk menciptakannya harus dihemat.
Bahkan, jika unsur murni dari H2O yang beterbangan di atmosferharus digunakan untuk menciptakan hujan buatan, mereka pun akan berpikir lebih keras lagi. Sebab, mereka sendiri telah kehilangan akal bagaimana musim hujan bisa hilang. Kalau-kalau air langit yang masih murni juga diambil untukmenciptakan hujan sementara, bumi akan kering dan tak tahu apalagi yang akan terjadi lagi setelahnya. Kiamat mungkin?
“Jadi, bagaimana cara kita berangkat Ken? Bagaimana aku bisa ikut denganmu ke zaman yang telah sembarangan mencuri hujan sebelum ulang tahunku,” rumput ilalang mungkin sempat tertawakarenaku. Namun, aku abaikan – bahkan segaris senyum tipis yang tiba-tiba terlukis di wajah Kendra. Aku tahu ia keheranan dengan alasan yang kuucapkan. Tapi, ia tak bisa mundur untuk melarangku berangkat. Alasan kekanak-kanakan atau apalah ini adalah bagian diriku yang resah dan aku tak suka itu.
“Nanti kita lakukan saja ya! Kalau harus diterangkan sepertinya akan memakan lebih banyak waktu. Hanya saja, aku masih belum benar-benar punya rencana bagaimana caranya menghadapi sebuah struktur yang begitu besar. Pemerintahan Federasi yang bermarkas di Kota Malang yang membuat semua peristiwa ini menjadi begini,” dengan pancaran mata yang lebih terang Kendra tak lagi seorang laki-laki yang menyimpan keraguannya.
“Hmmm... gimana kalau kau jelaskan padaku bagaimana Pemerintah Federasi yang kau kenali?” dengan modal pertanyaan dan jawaban yang akan Kendra sampaikan, kurasa pasti akan ditemukan jalan keluar.
**
Harus kuceritakan apa padanya? Kurasa, aku tak perlu banyak berpikir. Kulihat ia memutuskan sesuatu yang begitu besar hanya karena ulang tahunnya. Tapi, ia tak melepaskan pandangan dari orang-orang sekitarnya yang juga menderita karena hujan yang tak kunjung turun dan kekeringan panjang sangat mungkin terjadi. Tentu saja, tragedi pencurian ini sangat mungkin mengubah garis sejarah yang sudah ada.
“Baiklah... akan kuceritakan padamu, semua yang kutahu.” Ucapan ringkasku itu menjadi pengantar untuk sebuah peristiwa panjang yang hanya kuketahui dari buku-buku yang ada.
Dunia barangkali telah modern dan tak ada lagi kesenjangan sosial. Tak ada satupun orang yang tak memiliki kendaraan atau baju bagus. Semua orang sudah dilayani kepemilikian dasarnya. Hanya saja, Pemerintah Federasi 25 tahun yang lalu, jika dihitung dari zamanku, mencetuskan teknologi baru dalam hal pencatatan wasiat.
Tidak ada lagi wasiat yang ditulis ataupun diketik, kedua hal itu sudah tak dianggap legal. Teknologi baru inilah yang mengubahnya. Seorang fotografer dari seluruh dunia kini membawa sepaket kamera yang berguna untuk menyimpan ingatan dari siapa saja yang bermaksud mencatatkan wasiatnya. “Mungkin, kau tahu film Harry Potter? Di sekolah Hogwarts banyak terdapat lukisan yang tokoh di dalamnya bisa bergerak dan berbicara, bahkan menyimpan sesuatu yang seharusnya hanya bisa diletakkan di dunia yang dianggap nyata.” Nova mengangguk menanggapi pertanyaanku itu.
Dari film itulah inspirasi ini lahir. Seseorang yang kaya, yah walaupun semua orang kini bisa dianggap kaya, menyimpan hartanya di dalam hasil fotodan videografi yang dibuat para fotografer. Karya foto dan video itu akan ditandatangani secara virtual oleh pengacara yang memiliki avatar di dunia virtual. Namun, sesuatu yang seharusnya mempermudah dan mempercanggih segalanya malah menciptakan kerunyaman tersendiri.
Wasiat seharusnya diberikan, diturunkan, untuk para penerusnya. Hanya saja, orang-orang yang terlalu cinta terhadap hartanya justru menyimpan warisan untuk dirinya sendiri yang termaktup dalam karya foto atau video itu. Bisa dibayangkan, harta itu hanya akan menjadi simpanan dan tak dapat digunakan menjadi apa-apa? Hasilnya, kemiskinan kembali tercipta. Orang-orang yang tak ingin memberikan harta atau peninggalan apapun pada penerusnya membuat para penerusnyta kalut dan tak bisa apa-apa.
Dari sekedar harta benda, pabrik, sistem informasi, dan peninggalan yang seharusnya harus dijalankan lagi pun tak bisa dijalankan. Dunia menjadi tak seimbang. Sebuah kebun tak pernah lagi disiram sebab selang pancurannya telah diakuisisi oleh orang yang memiliki pabrik selang. Hutan dibiarkan terbengkalai, bahkan menjadi gundul, sebab pengurus hutan meminta hutan itu sebagai warisan kehidupannya dan tak boleh diberdayakan siapapun. Seorang pembibit membawa semua bibit yang ada di gudang produksinya. Hasilnya, beberapa tanaman tak lagi bisa dikembang-biakkan.
Beberapa kelompok pemerhati mulai menyinpan sisa-sisa sumber daya agar bisa direproduksi lagi. Namun, kejadian seperti tadi terus berulang. Entah, apa yang terjadi setelahnya, sampai-sampai hujan tak mau turun di negeraku. Semua orang bingung, bahkan Pemerintah Federasi pun kalang kabut. Akhirnya, semua berubah ketika kamera yang kubawa bisa membuat mahkota bunga hilang dari tangkainya. Meskipun secara utuh bunga itu tetap hidup, kelopak bunga itu bisa dikeluarkan dair hasil potretan yang kuambil. Ketika gambar itu dicetak, mahkota bunga pun keluar dari dalamnya.
Aku dan Andre sudah dengan cermat menyembunyikan penemuan tak terduga ini. Tapi, gara-gara Rosi, cerita yang ia tulis dalam berita membuat kami tertanggap Pasukan Federasi. Dari kamera yang kubawa, mereka pun mulai mengembangkan banyak kamera lainnya. Sebuah misi perjalanan kemasa lalu yang lebih subur dan kaya pun dijalankan dengan maksud mengambil semua sumber daya yang dibutuhkan masa depan dari masa lalu.
Aku tahu ini bukanlah tindakan yang benar. Makanya, aku pun kabur dari Pasukan Federasi dengan sebuah harapan bisa mencari jalan untuk mengakhir semua pencurian yang sudah kelewatan ini. Lompatan yang kulakukan, secara tak sengaja membuatku sampai di Giripurno lagi. Itulah saat aku menemukanmu yang menari sampai membuat telapak kaki terluka.
“Kurasa, hanya itu yang bisa kuceritakan Nova!”
**
Sebuah cerita yang mencengangkan. Tak ada yang bisa kulakukan jika hanya diam di Giripurno dan merencanakan saja. Kami harus melakukan sesuatu yang pasti. Sesegara mungkin, kami harus berangkat ke masa depan.
“Ayo kita ke tempat Andre? Apakah kalian punya tempat aman yang tak bisa ditemukan siapapun?” tanyaku pada Kendra, berharap sebuah jawaban darinya akan menuntunku pada rencana besar yang bisa menggagalkan langkah menakutkan Pemerintah Federasi.
“Emmmm... sebuah taman di bawah tanah yang Andre buat untuk bersantai dari para pelanggannya. Kurasa itu,” ucap Kendra sembari menengadahkan kepalanya ke langit. Kami telah sampai lagi di antara barisan ilalang yang menyembunyikan keberadaan kami dari siapapun yang berlalu lalang.
“Baiklah, kita ke sana sekarang!” tanpa perlu pikir panjang ucapanku pun menjadi sebuah keyakinan yang terpancar di mata Kendra.
Ia pun dengan sigap mengeluarkan kamera kecil seukuran ibu jari dari kantung celananya. Ia melempar kamera mini itu di antara barisan ilalang yang setinggi manusia. “Kita harus masuk ke dalamnya Nova!”
***