Kerikil yang ke sepuluh adalah yang paling tajam. Gadis itu menari-nari dan tak menghiraukan di mana letak kerikil itu. Untung saja, aku datang tepat waktu. Aku berhasil menghentikan langkah tumit kanannya sebelum menyentuh ujung runcing kerikil yang membiarkan dirinya rebah di sebelah rerumputan hijau.
Tatapan mata kami berhenti di udara, membuatku lupa bahwa ujung jemarinya yang basah sedang kupegang dengan sekuat tenaga. Kulihat mukanya yang telah membiarkan ratusan lubang kelenjar keringat membersungaikan kecantikannya. Rambutnya yang terkepang di belakang juga membiarkan air-air keringatnya tertampung, hampir-hampir menetes ke tanah.
“Mas, kamu siapa? Datang dari mana? Aku gak pernah lihat kamu di desa ini!” gadis ini menatapku dengan keberanian. Tak satupun ketakutan keluar dari rangkaian kata-katanya. Sembari ia menarik jemarinya yang basah, ia berdiri tegap, tak sesentipun kulitnya menyentuh kerikil tajam yang tadi kulihat sekilas. Untung saja, kalau benar kerikil itu menusuk kakinya – pastinya darah akan mengcur deras dari kaki ramping itu.
“Kau mungkin tak akan percaya dengan apa yang kukatan!” ucapku sembari membenarkan raut mukaku. Sedari tadi aku merasakan otot yang begitu kaku memenuhi seluruh jalur pembluh darah di wajahku.
“Sudah tak ada yang tak kupercayai sekarang. Bahkan, aku pun kini menari hanya untuk memanggil hujan!” gadis itu tak menutupi kebenaran apapun. Ia benar-benar mengatakan yang senyatanya, yang keluar dari kenyataan dalam hatinya.
“Panggil saja aku Kendra. Aku datang dari 400 tahun di masa depan. Pada masa itu aku tinggal di sini, meskipun bukan asli orang sini. Ini benar desa Giripurno kan? Sebuah desa yang menjadi awal dari segalanya,” ucapku mengikuti nada suara gadis itu yang memancingku untuk tak menutupi apapun.
Gadis itu terengah-engah seperti sudah ada beragam bayangan di kepalanya yang basah keringat. Angin berembus berusaha mengusap peluhnya yang menatapku tanpa melepaskan sesentipun celah dari tubuhku. Sepertinya, ia benar-benar paham apa yang kumaksudkan, meskipun tidak semuanya.
“Baiklah, aku percaya! Kita harus bicara!” ucapnya tanpa banyak berbasa-basi. Ia mengajakku berjalan sembari menjinjing sandal jepit yang enggan ia pakai. Matahari memang sedang terik. Hujan juga tidak sedang turun sebab mendung 1 bulan di masa ini telah kami ambil. Namun, Giripurno masih benar-benar sejuk. Tiupan angin dari Gunung Arjuno yang sedingin ini tak pernah kurasakan di masaku.
Dalam serangakain ilalang yang ia lihat di sepanjang jalan, ia kembali mengucek matanya berkali-kali. Ia memperhatikan sebuah jam tangan dengan mekanika kamera yang kupakai. Ia juga melihat kerah bajuku yang memiliki lingkaran lampu, menyalakan warna jingga sehingga samar-samar cahayanya. Ketika ia selesai dengan semua kewaspadaanya, aku pun mengambil kesempatan itu untuk menceritakan segalanya. Semua yang terjadi di masa ini adalah kesalahan dari manusia 400 tahun di masa depan.
***
Aku memang sudah menduga bahwa ketiadaan hujan bukanlah hal yang biasa. Ketika semua orang di desaku memilih menunggui keputusan pemerintah, aku hanya bisa menduga bahwa para pemimpin sekarang sedang mendiskusikan bagaimana caranya menggunakan air sepuasnya untuk dirinya sendiri. Aku tak bisa memikirkan kemungkinan terburuk, selain melihat kembali ingatan tentang The Hunger Games. Film yang membuatku terbayang kembali akan sebuah kekejaman tak masuk akan dari sebuah logika yang memang bisa dikatakan benar.
Hari ini, seperti salah satu seri komik Paman Gober, salah satu keluarga Donald Bebek (Donald Duck) yang terkaya pernah menceritakan bagaimana ia memperjual-belikan air panas. Pada masa itu, mesin pemanas air telah menjadi hak milik dan dipatenkan oleh Gober sehingga tak mengherankan kalau semua air panas di dunia menjadi ladang bisnisnya. Musim dingin yang panjang membuatnya semakin kaya sebab ia tahu semua orang butuh mandi air hangat. Sementara itu, para makhluk yang tak mampu membeli air panas hanya bisa membiarkan dirinya kedinginan atau ya sudah sekaliah tak perlu mandi.
“Jadi, bagaimana caraku, juga untuk semua makhluk di zaman ini, lebih tepatnya pada bulan November ini, untuk mendapatkan hujan yang seharusnya sudah pasti menjadi hak kami?” tanyaku padanya, seorang lelaki yang akhirnya kukenal sebagai Kendra. Nama yang aneh, panggilan yang tak umum di masaku.
“No... Nova! Untuk saat ini aku hanya bisa memikirkan untuk mengambil dan menghancurkan semua kamera pencuri momen yang ada di zamanku. Tentu saja, kita butuh bantuan untuk itu, Andre ada di sana. Ia teman yang sangat kupercayai,” ia mengatakan sebuah rencana yang memang sudah seharusnya, tapi langkah yang harus dilakukan tak bisa hanya begitu saja.
“Apakah aku bisa ikut bersamamu? Bagaimanapu, ini sudah menjadi masalah zamanku juga. Aku tak mau tinggal diam begitu saja,” kataku sembari memberikan tatapan terkuat yang bisa kusampaikan padanya. Bagaimanapun, kami baru bertemu hari ini. Memang aneh, ia datang tiba-tiba hanya untuk menghentikanku menari.
“Tawaranmu mungkin benar. Tapi, aku tak tega membiarkanmu terancam di zamanku. Kalau kau tidak bisa mat... kembali bagaimana?” ia sepertinya seorang lelaki yang dipenuhi rasa was-was yang berlebihan. Namun, empati yang dimilikinya mungkin musuh alami bagi zaman yang hanya mementingkan kepemilikan. Aku tak bisa membayangkan zaman yang semacam itu akan benar-benar ada di masa depan.
“Kau mau bilang mati kan? Hmmmm...” aku berpikir sebentar, “Keluargaku mungkin akan sedih, tapi tetap, aku tak bisa diam begitu saja. Orang di zamanmu harus tahu bahwa zaman yang mereka curi akan menderita dan mungkin saja berefek pada masa depan bukan?”
Kendra masih berpikir seperti tak benar-benar mau menjawabnya. Aku menghela napas panjang dan sengaja membuat suara hembusan yang membuatnya tak nyaman. “Lihatlah mereka!” telunjukku mengarah oada berbagai rumah. Seorang kakek dan nenek yang duduk terdiam sambil melihat jalanan. Mereka hanya bisa mengipas-ngipas ke tubuhnya sembari melihat sebuah kebun sayur yang tak lagi menunjukkan kehijauan dan keceriaannya.
Telunjukku tak berhenti. Kuperlihatkan anak-anak kecil yang berlarian dengan botol kosong. Kukatakan padanya bahwa biasanya, botol itu selalu terisi minuman yang diseduh dengan aneka rasa manis, bisa sirup atau serbuk sachet lainnya. Mereka akan bermain bola di salah satu lapangan di tengah perkebunan. Mereka sadar bahwa berolahraga akan membuat mereka kehausan dan minuman dingin atau rasa-rasa itu menjadi bekal yang wajib. Namun, kini mereka hanya membawa botol kosong dan pasti menahan haus atau membiarkan permainan mereka selesai pada jam yang semestinya belumlah usai.
Telunjukku mengarah pada salah satu sumur di mana jerigen-jerigen putih dan biru telah mengantre. Masyarakat di desanya hanya bsia berharap bahwa air sumur,sumber mata air Gunung Arjuno akan tetap mengalir dalam waktu dekat. Hujan mungkin telah meniadakan air, tapi Arjuno menjadi petuah yang lebih agung bagi mereka. Hanya saja, mereka sepertinya juga telah lelah untuk menunggu segala keajaiban yang tak kunjung terjadi.
“Baiklah Nova! Kita berangkat malam ini,” ucap Kendra kepadaku.