Dalam bayanganku, kamera yang baru saja membesar di antara ilalang itu adalah wujud dari imajinasi anima Doraemon yang baru saja kusaksikan secara nyata. Kamera itu seperti memiliki alat pengatur molekul yang dipakai Ant-Man dan The Wasp. Ketika Kendra memintaku untuk memasukinya, aku masih benar-benar bingung dari mana aku harus memasukinya. Kendra tertawa melihatku yang mengamati setiap senti dari kamera yang baru saja ia lempar.
Jika dizamanku, bentuk dasarnya mirip dengan kamera DSLR warna hitam dengan lensa yang bisa dipanjangkan dan pendekkan. Pintu untuk memasuki kapsul dari masa depan ini adalah tempat memasukkan baterai. Kendra membukanya perlahan dan kami diibaratkan sebuah baterai lengkap dengan kartu memorinya.
Setelah memasukinya, sebuah ruangan dengan satu tempat duduk yang bisa diubah-ubah bentuknya, menjadi panjang atau sebuah kursi belajar. Menempel dekat dengan mekanisme tombol power terdapat kapsul yang dilengkapi dengan sebuah kasur. Alat ini sepertinya memang lebih diperuntukkan untuk satu orang daripada dua sekaligus. Namun, aku tak peduli jika pun harus berada di kursi multifungsi itu. Aku hanya berpikir untuk ke masa depan, melihat wajah orang-orang congkak yang seenaknya mengambil hujan di bulan ulang tahunku.
Sejenak kemudian, aku tak bisa melepaskan pandanganku terhadap instalasi lensanya. Tepat berada di dalam kamera, aku bisa melihat rumput-rumput ilalang yang memiliki tinggi sekepalaku, sedagu Kendra. Belum puas aku menghitung pasti ukuran ilalang itu, Kendra menekan sebuah tombol yang membuat pemandangan itu berubah kehampaan. Lensa kamera berubah menjadi layar hologram yang menunjukkan rumus-rumus matematis. Dari rumus-rumus itu, yang bisa kubayangkan hanyalah angka-angka untuk membawaku ke masa depan. Angka-angka itu nantinya akan berubah menjadi sebuah jalur panjang bercahaya. Kapsul waktu yang kunaiki ini akan terombang-ambing – terbawa arus dari jalan cahaya itu.
“Aku mau tanya sekali lagi Nova, kamu yakin mau ikut denganku? Kita mungkin bisa kembali lagi ke hari kita berangkat. Namun, kau akan membawa kenangan yang mungkin membuatmu trauma selamanya!” ucap Kendra dengan nanar matanya yang seolah memancarkan rasa kekhawatiran, lebih dari sekadar ornag yang pertama kali kukenal.
“Sepertinya aku tak perlu menjawab ucapanmu bukan?” pertanyaan ini hanyalah sekedar basa-basi saja. Kuberikan tatapan mata tanpa sebuah kedipan pada alis Kendra yang melengkung dan berkerut.
Ia mengangguk dan menggariskan senyuman sekuat tenaganya. Ceklek... Kendra menekan kembali tombol di dekat lensa dan mengubahnya kembali sebagai sebuah cermin reflektif, membuatku kembali melihat barisan ilalang yang hanya berjarak 500 meter dari rumahku. “Pandanglah lekat-lekat! Ini mungkin pemendangan terakhir sebelum perjalanan panjang yang akan kita lakukan,” ucap Kendra sembari menghela napas untuk menguatkan dirinya sendiri.
Siang terik di antara barisan ilalang yang tak mampu mengumbar panasnya terlalu sering, kecuali hari-hari ini memang telah begitu kering. Pemandangan ini adalah ucapan sampai jumpa sebab aku tahu pasti akan pulang lagi. Hari di mana aku akan sampai di rumah adalah suka cita langit di mana tanggal yang menandai kelahiranku akan kembali diguyur hujan paling deras. Hujan itu dinantikan para petani sayur yang menginginkan tetumbuhannya subur dan berbobot. Hujan itu juga menjadi pertanda bagi kakakku yang ikut sebagai pemandu rafting untuk kembali membuka bisnisnya. Jalan panjang yang kulalui, mungkin hanyalah sekedipan di mata orang-orang yang kukenal. Namun, bagiku, perjalanan yang biasanya hanya bisa kutonton dalam layar kaca atau layar lebar ini akan menjadi sebuah pengalaman nyata.
Cekrek... cekrek... cekrek... sebuah nada yang tak asing. Nada yang biasa keluar dari shutter sebuah kamera yang dengan sigap melaksanakan tugasnya itu justru melakukan sesuatu yang berbeda. Jika biasanya sebuah benda di luar kamera akan ditangkap menjadi sebuah iluatrasi dua dimensi. Ini jelas berbeda. Ketika kamera kapsul waktu ini mengeluarkan bunyi khasnya, aku sadar bahwa tubuhnya memipih, seperti kertas foto yang baru saja menjadi alas pencetakan gambar. Anehnya, dalam wadah yang pipih ini aku dan Kendra bisa bergerak sebebas semula. Tak ada yang berbeda daripada pengalam pertama kali memasukinya.
Tik... tik... tok... tik... tok... bunyi yang khas dari pergerakan jarum penunjuk detik terdengar nyaring di telingaku. Seperti malam hari yang sunyi ketika tak ada bunyi lain selain jam dinding di atas televisi di ruang tamu, aku benar-benar merasakan melayang di antara setiap suara yang juga tak asing itu.
“Ini mungkin akan menjadi pengalaman baru bagimu. Perjalanan dengan keecepatan cahaya juga mengubah kita menjadi molekul cahaya. Masuklah ke dalam kapsul tidur, aku akan duduk di sini saja,” Kenda mengucapkan sesuatu yang biasa kudengar dari cerita-cerita romansa. Seorang laki-laki akan mengorbankan kenyamanannya demi seorang gadis.
“Aku tak menyangka akan mendengar ucapan itu,” ucapku sembari berjalan kearah kapsul tidur. Aku tak mau menolak kenyamanan yang diberikannya sebelum ia berubah pikiran.
“Hmmmm... aku tak paham maksudmu! Bukankah ini hal yang wajar?” ia tampak seperti seorang profesor yang baru saja menemukan rumus baru, namun butuh waktu untuk benar-benar memecahkan persamaan di dalamnya.
“Ah... sudahlah!” aku tak melanjutkan penjelasanku dan kubiarkan saja ia menjadi seorang profesor yang sibuk memahami sebuah persamaan. Ia kemudian menerangkan kepadaku bahwa perjalanan ini sebenarnya membutuhkan waktu yang sangat lama – sebuah rasa yang menjadi akibat dari perwujudan cahaya yang kami alami. Kami tak ubahnya bagian dari molekul dari cahaya senter yang dinyalakan dan diarahkan pada sbeuah tujuan. Hanya saja, bagi semua orang yang berjalan di waktu yang normal, kami seperti hanya sebuah kedipan. Sekali menggerakkan bulu mata dansampailah pada yang dituju.
***
Aku masih menyimpan sebuah keraguan membawnaya ke duniaku. Tetap saja, ini adalah sebuah perjalanan yang berbahaya. Lalu, aku harus bagaimana kalau tak menurutinya? Apakah aku sanggup melindunginya dari serbuan Pasukan Federasi. Ketika aku sudah benar-benar sadar dengan renteten pertanyaan pada diriku sendiri, kami yang melayang-layang seperti kertas mengkilap di jalur waktu pun menemukan tempat mendarat.
Dengan tepat aku mengukur tempat mendarat kami adalah baseman dari laboratorium kamera milik Andre. Sesuatu yang dimulai dari tempat itu akan kembali menemukan jawabannya, juga di tempat itu. Ketika itu, ukuran pipih kami telah kembali normal. Dinding abu-abu yang tak asing di mataku. Bunyi-bunyi shutter yang juga menjadi nada penghias laboratorium ini, tempat yang juga membuat Nova tak berhenti mengelilinginya. Kurasa, kami benar-benar mendarat dengan mulus.
Kletak... kriek... jeduk... suara itu diiringi dengan bunyi-bunyi getaran radio dan sensor holografik ditangkap oleh komputer Andre. Ini tidak mungkin, justru hal yang benar-benar kutakutkan harus benar-benar terjadi di pendaratan pertama ini. Hah... sebuah helaan napas panjangku yang juga disadari oleh Nova. Ia mendengarkan langkah yang sama dengan yang kuperhatikan. Tatapannya tak berubah, tak ada keraguan pun di sinar irisnya. Ia seperti sudah tahu harus melakukan apa untuk mengatasi situasi yang tak mengenakkan ini.