"Kamu mulai ujian besok?" tanya Kezia, ia meletakan tablet di tangannya, dan menatap Mahesa yang sedang sibuk bermain ponsel di sampingnya.
Mereka sudah berada di atas tempat tidur, rencana mau tidur, tapi malah sibuk dengan urusan masing-masing. Kezia mengurus berkas di tabletnya, dan Mahesa bermain ponselnya.
"Iya, jadi kalo semisal tante bangun pagi, jangan lupa bangunin gue juga," jawab Mahesa, ia mematikan ponselnya biarpun teman-temannya masih sibuk membahas masalah kemenangannya tadi.
"Tadi pagi kamu bangun jam berapa? Apa siang?" Kezia penasaran, karena tadi ia berangkat sekitar jam setengah 7, dan Mahesa belum bangun.
"Jam 8 sih, itu pun langsung berangkat tanpa sempet beresin kamar. Tapi tadi gue bersihin kok, jadi besok karena ujian otomatis harus berangkat pagi. Jangan lupa bangunin ya?" ujar Mahesa, tadi pagi memang begitu, alhasil ia mendapatkan hukuman, dan langsung ia lakukan karena sudah sangat terbiasa.
"Menurutku, masih ada banyak hal butuh kita sesuaikan satu sama lainnya. Mulai dari kebiasaan buruk, kamu suka sekali membuat rumah berantakan, bangun siang, dan sulit di atur, itu harus di ubah agar kita bisa lebih mudah menyesuaikan diri masing-masing," usul Kezia, ia merasa ada beberapa hal harus di bicarakan sekarang, karena mereka baru bersama sehari, dan sudah bertengkar seperti kemarin. Rasanya tidak nyaman kalau harus bertengkar setiap hari kan?
"Sebenernya gue niat beresin, tapi sesudah makan atau bicara-bicara sama temen gue. Kalo masalah bangun pagi, selama di bangunin pasti bangun pagi kok, dan masalah susah di atur. Habisnya tante asal marah-marah aja tanpa dengerin penjelasan dulu, kan gue ngerasa nggak di dengerin jadinya nggak mau terima. Gue juga punya beberapa usulan kalo emang tante mau perbaiki," balas Mahesa, ia rasa di sini bukan hanya ia yang butuh berubah, tapi Kezia juga.
"Apa?" tanya Kezia, setelah di pikirkan, memang benar, ia seharusnya mendengarkan lebih dulu, bukan asal marah, dan tidak mau mengerti.
Bagaimana pun, di sini ia lebih dewasa, seharusnya memberikan sikap dewasa juga, kan?
"Jangan terlalu sering marah, itu nggak baik buat kesehatan. Lalu, jangan asal ngomong sebelum denger penjelesan dulu. Gimana pun gue juga ngerti, dan sadar kok akan posisi gue di sini, tapi seenggaknya tante juga harus ngertiin gue. Jangan karena gue di bayar, tante bisa seenaknya. Itu salah kan?" tanya Mahesa, ia tidak peduli mau Kezia marah, tapi ia akan mengatakan bagaimana pemikirannya malam ini.
"Kamu memang benar, mulai malam ini aku akan berusaha untuk menahan diri, dan tidak melakukan itu lagi." balas Kezia, ia baru tahu bagaimana dirinya di mata pemuda ini, itu karena selama ini ia selalu menahan diri sehingga saat ada yang tidak sesuai, maka ia akan meledak-ledak.
"Gue sih cuman itu doang, selebihnya biar kita liat seiring berjalannya waktu. Eh ya, mulai besok gue bakalan sibuk ujian, jadi bakalan sibuk banget. Takutnya tante pulang, dan gue nggak ada di rumah, marah lagi," ujar Mahesa, ia akan mengatakan ini lebih dulu, takutnya nanti ia belum pulang, dan Kezia marah lagi.
"Ujiannya sampai sore?" tanya Kezia, memangnya sampai sore sehingga harus izin dulu? Setahunya, ujian sampai siang, dan itu tidak lama.
"Kurang tau, siapa tau temen gue ngajak nongkrong di rumahnya atau apa. Jadi gue izin dulu," balas Mahesa, ia hanya memastikan, lebih baik jaga-jaga dari pada kena marah lagi.
"Boleh. Asal kamu tidak balapan liar atau melakukan masalah. Ah, aku minta nomor kamu, agar lebih mudah untuk memberi kabar juga," ujar Kezia, ia menyerahkan ponselnya pada pemuda itu, karena ia merasa mereka harus mempunyai nomor satu sama lainnya, agar lebih mempermudah segalanya.
"Iya-iya, nggak bakalan balapan lagi." Tangan itu mulai memasukan nomornya ke dalam ponsel Kezia, dan mencoba menelponnya.
"Tante kelihatan wanita karir banget, foto profilnya aja duduk di kursi kantor," cibir Mahesa, ia tertawa kecil melihat bagaimana wajah angkuh dari Kezia di sana, ternyata kalau di luaran wanita ini sangat dingin, terlihat dari wajahnya itu. Pantas saja suka marah-marah.
"Masih mendingan aku, dari pada foto kamu ini. Kamu kebelet dewasa? Fotonya seperti pria dewasa, duduk di atas motor dengan gaya gini. Bionya "Hidupku, aturanku.' Dih," sarkas Kezia, ia menunjukan foto profil Mahesa pada pemuda itu, agar dia tahu kalau fotonya juga tidak sesuai usianya.
"Lah, emang gue dewasa buktinya udah nikah, kalau belom nikah mah baru masih kecil. Bahkan gue bisa bikin bayi kalau emang mau, jadi udah dewasa dong?" balas Mahesa, ia menunjukan wajah mengejeknya, membuat Kezia langsung melempar wajah pemuda itu dengan bantal.
"m***m banget kamu!" seru Kezia, ia langsung mengambil kembali ponselnya, dan segera merebahkan diri membelakangi Mahesa.
Terdengar suara tawa dari pemuda itu, membuat Kezia mengepalkan tangannya menahan rasa kesal. Apa maksudnya dengan membuat bayi?!
***
"Ujian yang benar kamu, jangan sampai saat lulus nilai kamu kecil," ujar Kezia saat sampai di depan gerbang sekolah dari Mahesa, karena hari ini mereka berangkat bersama.
"Ada hadiah nggak kalo nilai gue gede?" tanya Mahesa, ia menatap wanita itu. Ia butuh motivasi agar nilainya besar.
"Aku akan menaikkan uang bulanan kamu, dan membelikan motor baru kalau nilai kamu tinggi. Harus di atas 90 loh ya," jawab Kezia, ia butuh itu semua agar nanti ketika sudah lulus, maka akan mudah untuknya mencari universitas di mana Mahesa melangsungkan kuliahnya.
"Oke, aman kalo gitu mah. Gue berangkat dulu." ujar Mahesa, ia segera keluar dari dalam mobil, dan segera berlari masuk ke dalam gerbang sekolah.
"Mahesa!"
Langkah itu terhenti, Mahesa menatap seorang gadis yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kenapa?" tanyanya, jujur saja Mahesa merasa muak dengan gadis ini, tapi entah kenapa seberapa sering pun menolaknya, pasti akan semakin sering membuat gadis ini menempel padanya.
"Pakaian kamu baru ya? Sepatu kamu juga baru. Ini juga dari brand mahal semua," tanya Bella, gadis itu meneliti penampilan Mahesa dari atas sampai bawa.
"Terus kenapa? Masalah buat lo?" tanya Mahesa, ia memang baru membeli pakaian ini kemarin, jadi apa masalahnya?
"Tambah ganteng kalo gini," puji Bella.
"Najis." Sarkas Mahesa, karena ini benar-benar membuatnya merasa muak, di mana urat malu gadis itu? Sudah di tolak berkali-kali, masih fokus mencari perhatian?
Bukannya tertarik, ia malah semakin tidak suka padanya. Di mana-mana, harus pria dulu yang mengejar wanita kan? Bukan sebaliknya.
"Kamu simpenan tante-tante, ya?" tanya Bella, bukannya merasa tersinggung, ia malah semakin penasaran.
Mahesa hanya diam, karena ucapan Bella benar-benar tepat sasaran, namun ia tidak ingin memberikan komentar apa pun sehingga langsung saja pergi dari sana.
"Wah, gosip baru nih." Celetuk Bella.