"Ujianmu berjalan lancar, kan?" tanya Kezia, ia menatap pemuda itu, di mana Mahesa sedang sibuk menyantap makan malamnya.
Mereka sudah bersama selama seminggu lebih, dan ini sudah cukup membuat keduanya terbiasa akan kehadiran masing-masing, biarpun masih ada perasaan canggung ketika akan melakukan sesuatu.
"Tentu aja lancar, bahkan gue bisa ngerjain semuanya dengan baik. Tante pasti nggak akan pernah nyangka kalo liat hasilnya nanti. Kalo hasilnya udah keluar, gue bakalan kasih tau tante," jawab Mahesa bangga, satu minggu lebih sejak mereka menikah kontrak, dan ia sudah sangat terbiasa berada di apartemen ini. Walaupun terkadang ada beberapa hal yang membuatnya merasa canggung.
"Pastikan hasilnya bagus, karena aku sudah membelikanmu ini. Kamu bisa memakainya sebagai hadiah pertama. Nanti hadiah lainnya akan menyusul kalau memang bagus," balas Kezia, ia mengeluarkan kotak hadiah yang sudah ia beli beberapa hari yang lalu, dan akan ia berikan hari ini.
"Apa isinya?" tanya Mahesa, ini pertama kalinya ia mendapatkan hadiah dari apa yang sudah ia lakukan, karena selama ini tidak pernah sekali pun.
"Buka saja, kamu akan tahu kalau sudah melihatnya sendiri," jawab Kezia, ia hanya ingin memberi hadiah ini, ketika melihat salah satu brand sedang mengeluarkan produk terbaru mereka, dan ia rasa itu akan cocok untuk Mahesa.
"Jam tangan? Ini pasti mahal banget, kelihatannya mewah," ujar Mahesa, saat melihat isi dari kotak ini. Jam tangan mahal, ia tahu itu.
"Iya, kamu belum mempunyai jam tangan, kan? Itu hadiah pertamamu, dan hadiah lainnya akan menyusul jika hasilnya memuaskan," jawab Kezia, ia melihat pemuda ini belum mempunyai jam tangan, jadi sekalian saja.
"Dulu ada sih, tapi namanya jam murah, tahannya bentaran doang, terus rusak," balas Mahesa, ia menatap jam itu lumayan lama, mengira-ngira berapa harganya. Pasti mahal.
"Itu bisa kamu pakai ke mana pun, bahkan mandi pun bisa kamu pakai. Tentunya tidak akan rusak," ujar Kezia, ia menatap pemuda itu, melihat bagaimana kedua mata itu menatap jam tangannya. Ia senang kalau memang Mahesa menyukainya.
"Makasih. Ini pertama kalinya gue dapet hadiah," gumam Mahesa, namun masih bisa di dengar oleh Kezia dengan sangat jelas.
"Selama kamu menjadi anak baik, nurut, dan tidak membuat masalah. Aku akan memberimu hadiah terus," ujar Kezia, ia merasa aneh entah mengapa, karena selama ini sedari kecil ia selalu mendapatkan semuanya, sampai dewasa pun sama. Mendengar itu rasanya aneh.
"Selama uang bulanan gue nggak di kurangin lagi sih, aman banget." sindir Mahesa, ia tersenyum setelah mengatakan itu semua, karena ketakutannya hanya satu yaitu di kurangi uang bulanan.
Kezia tersenyum, di kepala pemuda ini pasti isinya tentang masalah uang bulanan yang ia kurangi waktu itu kan? Kejadiannya sudah sangat lama, tapi masih dia ingat sampai hari ini.
"Aku lupa bilang sama kamu tentang beberapa hal," ujar Kezia saat sadar akan sesuatu, ia memang berencana memberitahu Mahesa setelah ujiannya selesai, jadi selagi ingat, ia akan mengatakannya.
"Apa itu?" tanya Mahesa, tatapan itu mengarah pada Kezia, menunggu apa yang ingin di sampaikan oleh wanita ini, dengan harapan itu sesuatu yang baik.
"Lusa aku harus keluar negeri selama 3 bulan karena ada tugas dinas di sana. Ini sudah di beritahu dari beberapa hari lalu, tapi melihat kamu masih ujian, aku memutuskan untuk menundanya dulu, dan baru sekarang bicara," kata Kezia, ia menatap Mahesa, selama ini ia sering dinas keluar negeri dan tidak ada masalah apa pun, tapi karena posisinya sudah berbeda, maka ua harus memberi tahu pemuda ini, kan?
"Selama tante di sana, gue masih boleh tinggal di sini atau gimana?" tanya Mahesa, itu yang ada di dalam pikirannya sekarang. Karena bagaimana pun, ini apartemen Kezia.
"Tentu saja. Selama kamu selalu mematuhi aturan, dan meminta izin setiap kali ingin melakukan sesuatu, aku pasti akan membiarkan kamu tetap di sini. Dan untuk uang bulanan selama 3 bulan nanti, aku akan mengirimnya langsung jika sudah tanggalnya," jawab Kezia, itu sudah tentu karena orang tuanya akan marah kalau sampai tahu Mahesa pergi dari apartemen selama ia berada di luar negeri.
"Kalo masalah itu mah udah pasti gue akan nurut, dan saat tante pulang nanti, tante bakalan kaget liat gue tambah ganteng," celetuk Mahesa, ia menaik turunkan alisnya, membuat Kezia mencibir.
"Jadi maksud kamu, sekarang saat ada aku, kamu tidak bisa bertambah tampan? Setelah aku pergi nanti, baru ketampanan kamu bertambah?" tanya Kezia, tatapan itu memicing, entah kenapa setiap kali bicara dengan Mahesa, ia selalu merasa ada ketertarikan sendiri. Yang dulunya sendirian, sekarang mempunyai seseorang yang bisa menghiburnya atau bicara dengannya.
"Bukan gitu, maksudnya sekarang gue udah tampan kan? Nah saat tante pulang nanti, ketampanan gue pastinya bertambah karena nggak saling liat selama 3 bulan lebih," jelas Mahesa, kenapa wanita suka sekali salah paham?
"Siapa bilang kamu tampan? Biasa saja," ejek Kezia, ia menatap pemuda itu dengan tatapan biasa, agar Mahesa merasa kalau ucapannya memang benar.
"Loh? Buktinya tante langsung tertarik sama gue, itu artinya gue tampan. Kalo nggak tampan mana mau, kan?" Bangga Mahesa, ia tersenyum senang setelah mengatakan itu semua, membuat Kezia tersenyum, tingkat kepercayaan diri dari pemuda ini benar-benar di atas rata-rata sekali sampai membuatnya merasa heran sendiri.
Kehadiran Mahesa di dalam kehidupannya benar-benar memberikan warna tersendiri, dan ia cukup menyukai perubahan ini.
***
"Udah mau berangkat?" tanya Mahesa, ia sedang menonton televisi, dan Kezia sudah keluar dari dalam kamar dengan kopernya.
"Iya. Jaga diri kamu baik-baik selama aku pergi, dan ingat jangan membuat masalah apa pun selama aku pergi. Ini kesempatan terakhirmu," pesan Kezia, ia ragu untuk pergi, karena pemuda ini susah di tebak, namun mau bagaimana lagi, tuntutan mengharuskannya melakukan itu semua.
"Siap boss!" seru Mahesa, meletakan tangan di dahi, karena mana berani ia melakukan itu semua.
Kezia menganguk, ia segera beranjak dari dalam apartemen. Meninggalkan Mahesa sendirian. Pemuda itu kembali fokus pada tayangan di depannya, karena setelah ini ia akan bebas selama 3 bulan, kan? Tidak akan ada lagi yang mengaturnya tentang ini serta itu.
"Mulai hari ini gue bakalan bebas mau ngapain aja di sini. Bangun siang, makan bebas mau apa, nggak ada lagi yang bikin gue waswas." ujar Mahesa, ia tersenyum senang, walaupun sudah tentu selama 3 bulan ke depan ia akan sendirian di apartemen ini.
Terdengar suara dari ponselnya, membuat Mahesa langsung melihatnya, karena biasanya hari libur seperti ini tidak akan ada yang mengganggunya, tatapan itu mengarah pada sebuah foto yang baru saja di kirim dalam grup sekolah dengan caption.
"Mahesa Jual diri?"