"Ke mana dia?" tanya Kezia, saat masuk ke dalam apartemen, dan kosong.
Apa mungkin Mahesa berada di dalam kamar? Apa karena masalah tadi siang, pemuda itu marah padanya? Tapi bukankah Mahesa sendiri tahu kalau setelah kontrak ini di setujui, maka semuanya akan berada di bawa kendalinya.
Dengan tenang, dan tanpa merasa bersalah sama sekali, Kezia segera mencuci wajah serta tangannya lebih dulu. Ia akan memasak sebelum membersihkan diri nanti, biarpun sempat bertengkar tadi, tapi ini sudah menjadi tanggung jawabnya yaitu memasakan makanan untuk suami kecilnya itu.
"Dia masak Mi instan?" tanyanya, ketika melihat piring kotor berada di tempat mencuci piring, dan bungkus dari mi itu masih berada di atas meja.
Tangan itu, memasukan sampah itu ke dalam tempatnya, dan mulai memasak makanan yang ia bisa. Karena seberapa sering pun ia marah, kalau dari sananya sudah sangat jorok serta berantakan, akan sangat sulit memperbaikinya. Oleh karena itu ia harus menyimpan lebih banyak stok kesabaran, dan berharap saja rasa sabar ini tidak akan meledak nanti. Mereka masih harus terbiasa satu sama lainnya, terlebih baru satu hari bersama, sangat wajar kalau masalah perbedaan seperti ini terjadi di antara mereka.
"Sepertinya mulai besok, aku harus menyetok lebih banyak makanan siap saji, dan makanan beku agar dia tidak makan mi terus. Kalau setiap hari selama aku bekerja dia melakukan itu, bisa kena usus buntu." ujar Kezia, di dalam apartemennya lumayan banyak makanan, cemilan, buah serta sayuran. Tapi melihat pemuda itu memilih makan mi, ia jadi takut itu akan menjadi kebiasaan untuknya, jadi ia akan menyiapka makanan beku juga nanti.
Mulai hari ini, ia harus memikirkan tentang Mahesa juga, karena di sini ia bukan sendirian lagi, melainkan ada orang lain juga. Kebutuhannya harus ia siapkan juga bukan?
"Kuharap Mahesa tidak akan merasa bosan memakan ini setiap malam, karena aku kurang pandai kalau sudah masalah memasak." Gumam Kezia, ia jadi memikirkan hal-hal lain, karena kemarin malam ia juga memasak ini, dan malam ini pun begitu. Mau belajar pun tidak ada waktu.
Di tengah kesibukannya memasak, terdengar suara pintu terbuka, membuat Kezia segera mematikan kompornya, dan melihat siapa yang datang ke apartemennya. Karena kunci apartemen ini hanya ada 3, 1 ada padanya, lalu Mahesa, dan orang tuanya.
"Anjing!" umpat Mahesa, saat sosok dari wanita yang tadi siang sudah memarahinya habis-habisan sedang menatapnya dalam diam, ia mengira jam segini belum pulang, tapi kenyataannya?
Tadi ia sudah berusaha pulang cepat, bahkan sampai jatuh dari motor saat balapan liar, tapi kenyataannya? Wanita pemarah itu sudah pulang! Apakah uang bulanannya akan di kurangi lagi? Dalam hati Mahesa memaki diri sendiri karena sudah sangat bodoh, kalau sampai di potong habis, ia hanya akan menjalani kontrak ini tanpa bayaran apa pun! Kenapa ia bisa sangat bodoh?
Keuntungan balapan liar malam ini memang banyak, tapi itu di gunakan sebagian untuk memperbaiki motor temannya yang tadi rusak karena ia jatuh, kalau sekarang di kurangi lagi sama saja kosong semua usahanya tadi.
"Dari mana saja kamu?" tanya Kezia, tadi ia mengira pemuda itu berada di dalam kamar, tapi kenyataannya? Dia pergi keluar, dan tanpa meminta izin lagi. Memang sangat luar biasa sekali Mahesa ini.
"Habis ngurus masalah ujian sama temen!" seru Mahesa, mana mungkin ia mengaku begitu saja bukan? Jadi ini pilihan terakhir.
"Mengurus ujian? Kenapa wajah kamu terluka? Apa saat mengurus ujian, kamu di pukul teman kamu?" tanya Kezia, ia mendekati pemuda itu, melihat luka itu lebih dekat lagi. Ia tahu Mahesa sedang berbohong padanya.
"Tadi saat di jemput temen, kami kecelakaan jadinya muka gue luka. Mana nggak sempet izin karena di jemput dadakan, dan nggak punya nomor tante," jawab Mahesa, dalam keadaan terdesak seperti ini, ia akan bisa berpikir cepat, dan kalau tidak ada masalah seperti ini maka sulit membuat otaknya bekerja dengan baik.
"Makanya hati-hati. Bagaimana kalau tadi kamu terluka parah? Aku tidak mau menjadi janda, padahal baru menikah satu hari," balas Kezia, ia percaya kalau perkataan pemuda ini bisa ia terima.
"Makanya gue masih hidup kan? Karena gue nggak mau tante jadi janda," jawab Mahesa santai, ia tersenyum. Ternyata kebohongan ini bisa di terima baik oleh Kezia, ia senang mendengarnya.
"Pasti ada maksud tersendiri dari ucapanmu barusan kan? Aku akan mengobati lukamu, tunggu di sana. Aku akan membersihkan diri lebih dulu sebelum membantu kamu mengobati luka ini." ujar Kezia, tadinya ia mau marah, tapi mendengar alasan pemuda itu masuk akal, dan ia merasa Mahesa sama dengannya dulu, begitu ambisi kalau sudah menyangkut sekolah.
"Oke. Istriku~" ujar Mahesa, ia tersenyum setelah mengatakan itu, sebelum beranjak dari sana, membuat Kezia merasa aneh. Apa-apaan bocah itu?!
Setelah itu, Kezia kembali dengan membawa obat di tangannya. Duduk di samping Mahesa yang sedang sibuk memakan cemilan, memang benar, pria kalau bukan demam maka bisa dia terima, coba demam pasti sudah tidak bisa bergerak.
"Lukamu waktu itu bagaimana? Sudah kamu obati?" tanya Kezia, ia mulai mengobati luka goresan di pipi Mahesa dengan pelan, dan ia bisa melihat kalau ini bukan luka pertama.
"Sudah. Gue kasih bedak tabur doang, dan lukanya langsung ketutup," jawab Mahesa, ia terbiasa mendapatkan luka, jadi ini bukan masalah serius untuknya.
"Kenapa tidak kamu obati dengan salep? Itu akan mempercepat kesembuhan dari luka kamu. Kamu seperti anak kecil saja, kalau luka di kasih bedak," tanya Kezia, ia tersenyum kecil saat mengingkat kalau dulu ia pun begitu, kalau luka pasti di beri bedak tabur.
"Dengan bedak tabur juga cepet sembuh kok. Gue males pake salep, nggak suka sama baunya," jawab Mahesa, ia memang kurang menyukai bau dari salep entah mengapa.
"Ini? Aku kasih salep kamu anteng saja, itu bukan tidak suka, tapi malas," cibir Kezia, dari perkataan Mahesa ia bisa tahu kalau itu malas, bukan tidak suka.
Tawa kecil terdengar dari pemuda itu, karena ia memang malas, kalau bedak tabur ia bisa menemukannya di rumah, kalau salep harus membeli dulu. Selain malas, terkadang uangnya pun tidak ada jadi ambil yang ada saja.
"Hanya di wajah kamu kan lukanya, atau ada di tempat lain?" tanya Kezia, ia menatap wajah itu, meneliti setiap bagian.
"Ada di bawa dagu gue, ini," Mahesa, menunjuk bagian bawa dari dagunya, ia jatuh dengan posisi kurang nyaman tadi, rasanya mau berteriak.
Kezia menganguk, ia mulai mendekatkan wajahnya untuk mengobati luka itu.
"Tante kelihatan cantik kalo anteng sama nggak marah-marah kayak gini." puji Mahesa, jantungnya berdegup kencang untuk pertama kalinya.