"Eh, katanya pulang malem?" tanya Mahesa, ia masih ingat dengan sangat jelas bagaimana catatan itu saat baru bangun dari tidur, atau matanya salah membaca?
"Katakan padaku, apa aku pernah mengatakan padamu untuk membawa teman-temanmu ke sini? Membuat rumah berantakan seperti kebun binatang?" tanya Kezia, bukan menjawab pertanyaan dari pemuda itu, ia justru memberi pertanyaan lainnya. Karena memang ia tidak mengatakan itu semua kan?
Kalau pun memang ingin mengajak teman datang ke sini, setidaknya harus izin lebih dulu agar ia bisa memberi aturan untuk Mahesa, apa yang bisa mereka lakukan, dan tidak bisa di lakukan di rumah ini. Ia sangat menjunjung tinggi kebersihan, maka dari itu rasanya sangat pusing ketika tahu kalau rumahnya berantakan seperti ini.
"Mulai kemarin, ini rumah gue juga kan? Jadi gue bisa bawa temen ke sini tanpa harus minta izin dulu sama tante," ujar Mahesa, ia sangat dekat dengan kedua temannya ini, maka dari itu sampai berani mengajaknya datang ke sini, serta mengatakan semuanya pada mereka.
Pemuda itu mengira, setelah kemarin Kezia mengajaknya ke sini, ia bisa menganggap rumah ini sebagai rumahnya juga kan? Tapi kenapa masih harus ada larangan ini dan itu? Ia tidak balapan liar lagi, itu sudah sangat cukup menurutnya tapi kenyataannya? Seberapa banyak lagi aturan yang harus ia terima?
"Harus! Kalau ingin mengajak teman, pergi ke sesuatu tempat, atau hal lainnya. Kamu harus mengatakannya padaku lebih dulu agar aku tahu semuanya. Di sini aku yang memegang kendali," ujar Kezia, ia sama sekali tidak menduga kalau pemuda itu akan seberani ini, bahkan sampai membawa teman-temannya.
"Masa hal sepele gini harus izin dulu? Kecuali gue bawa cewek lain ke sini, baru jadi masalah," ujar Mahesa, ia masih merasa tidak bersalah sama sekali, karena ia hanya membawa temannya saja, bukan wanita lain.
"Sepele kamu bilang? Coba kamu pikirkan, bagaimana jadinya kalau aku membawa orang asing yang sama sekali tidak kamu kenal, ke rumahmu? Memberantakan barang-barangmu, dan seenaknya? Apa kamu akan diam saja?" tanya Kezia, ia baru merasa kalau mereka benar-benar berbeda, pemuda ini sama kerasnya dengannya, namun versi lebih muda.
Pemuda itu hanya diam, ia sama sekali tidak menduga kalau membawa kedua temannya ke sini akan menjadi masalah besar seperti ini, ia mengira Kezia akan menerima, selama ia tidak balapan lagi namun kenyataannya sangatlah berbeda. Niat hati ingin menunjukan apartemen mewah ini pada kedua temannya, malah mendapatkan masalah ini.
"Kalian berdua silahkan pulang. Aku sama sekali tidak menerima tamu yang datang tanpa izin dariku, dan seenaknya." ujar Kezia, ia menunjuk kedua teman dari pemuda itu, sampai membuat mereka menganguk dan segera keluar sehingga hanya menyiksakan Mahesa sendirian.
"Kamu mengerti tentang semua yang aku katakan padamu tadi kan?" tanya Kezia, ia berjalan mendekat, dan mengambil beberapa sampah bungkus cemilan di lantai serta membuangnya ke dalam tempat sampah.
Sedari kecil, ia sama sekali tidak menyukai tempat berantakan, oleh karena itu saat Ayahnya menawarkan apartemen ini, ia langsung setuju untuk tinggal di sini. Sebab ia bisa melakukan semuanya, termasuk menjaga kebersihkan di apartemen ini.
"Dasar tante girang. Tante bisa marahin gue setelah temen-temen gue pulang, dan bicara baik-baik. Mereka pasti bakalan pulang sendiri tanpa perlu di usir," ujar Mahesa, ia tidak menyukai cara wanita ini memperlakukan temannya.
"Setelah melakukan ini semua, kamu masih mengatai aku begitu? Kurasa dengan marah saja tidak akan membuat kamu merasa kapok, jadi untuk uang bulananmu akan aku kurangi nominalnya. Di sini aku yang mengendalikan semuanya, kalau kamu sampai seenaknya maka uang itu akan berubah menjadi nol. Kamu harus ingat, kalau dalam kontrak itu, tugasmu hanya menerima," ujar Kezia, ia harus memberitahu ini, agar Mahesa tahu akan batasannya.
"Ini nggak adil! Lo bilang, lo cuman butuh status kan? Tanpa gue, maka status lo nggak bakalan ada! Tapi sekarang lo seenaknya sama gue!" seru Mahesa, tidak ada manusia yang mau di perlakukan seenaknya bukan? Bukankah ia sudah membantu wanita ini sampai harus menikah, tapi kenapa dia seenaknya? Ternyata, dewasa bukan masalah umur, tapi tentang pikiran juga.
"Kenapa? Kamu mau memberontak? Mengakhiri kontrak ini? Kamu yang akan rugi, karena aku akan menarik semua yang ada di dalam kontrak, dan kamu akan mendapatkan masalah setelahnya. Apa susahnya menuruti permintaanku? Selama kamu menjadi anak baik, aku bahkan bisa membelikanmu motor baru atau hal lainnya. Jadi berhenti bersikap seenaknya," ujar Kezia, ia tidak takut sama sekali, karena di sini Mahesa hanya mainan, ia tidak akan rugi. Walaupun kalau benar-benar terjadi, ia harus mencari mainan lainnya untuk bisa di kendalikan.
Pemuda itu diam, namun tangannya mengepal kuat. Rasanya seperti sedang di dalam penjara, dan ia sama sekali tidak bisa melakukan apa pun. Jika kontrak ini di akhiri, maka seperti kata Kezia tadi, semuanya akan berantakan.
"Kamu mengerti?" tanya Kezia, ia tidak akan pernah mau di d******i oleh bocah ini.
"Iya." ujar Mahesa, ia hanya mengatakan itu, karena ini benar-benar membuatnya muak.
"Aku akan kembali ke kantor setelah ini, dan kamu diam di sini. Jangan melakukan masalah yang akan membuat uangmu di kurangi terus-terusan." ujar Kezia, ia segera pergi dari sana untuk mengambil berkas yang ia butuhkan, kalau tadi berkasnya tidak tertinggal mungkin ia tidak akan pernah tahu apa yang sudah pemuda itu perbuat pada apartemennya.
Mahesa masih diam di tempatnya, ia sama sekali tidak tahu sebanyak apa uang itu akan di kurangi, padahal ia sudah menghitung semuanya. Ini akan kurang kalau untuk kebutuhan hidup, dan membantu Bundanya. Ia harus melakukan sesuatu.
"Aku akan kembali bekerja, dan kamu tetap di apartemen kalau tidak ada urusan lain." ujar Kezia, saat sudah berhasil mengambil berkas itu, membuat Mahesa menganguk di tempatnya.
Setelah itu, Mahesa sibuk memasak mi untuk makan siang, menghubungi teman-temannya dan meminta maaf atas kejadian tadi karena ia benar-benar tidak menduga kalau masalah tadi akan terjadi.
"Apa gue harus ikut? Tempat dan jalannya sudah bukan di tempat kemarin, jadi udah tentu akan aman. Tadi Erlangga bilang kalo gue bisa pinjem motor dia dulu, jadi gue bisa ikutan. Tapi gimana kalo ketahuan? Tadi tante Zia bilang pulangnya malem, jadi gue ada kesepatan buat ikutan." ujar Mahesa, ia beranjak dari tempat duduknya, dan segera keluar dari apartemen untuk bertemu teman-temannya. Ia akan merencanakan semuanya terlebih dahulu agar bisa sesuai, ini harus ia lakukan demi mendapatkan uang sendiri.