"Pelan-pelan minumnya," ujar Kezia, mengelus punggung Mahesa, bagaimana pun ia mengerti kenapa pemuda ini sampai tersedak karena pertanyaan dari orang tuanya barusan.
"I-iya." ujar Mahesa gugup, baru pertama kali bertemu, dan sudah mendapatkan pertanyaan itu?
Apa tadi? Memberi cucu? CUCU?! Ia bahkan baru bertemu serta saling bicara satu sama lainnya hari ini, lalu sudah mendapatkan pertanyaan mematikan ini?
"Mas, pasti Mahesa terkejut dengan perkataan kamu. Maafin suaminya tante, ya? Dia memang selalu bicara tanpa basa-basi sama sekali seperti ini," ujar Indah, ia nerasa tidak enak mendengar pertanyaan dari suaminya barusan, karena mereka baru bertemu hari ini.
Kesannya terlihat sangat buruk sekali, baru bertemu sudah menanyakan masalah sepribadi itu. Setidaknya beri pemuda ini waktu untuk menyesuaikan diri lebih dulu akan mereka di sini.
"Anjir, bapak sama anak sama aja. Langsung inti tanpa basa-basi, bisa nurun gitu." Batin Mahesa
"Iya, tante." ujar Mahesa, mana mungkin ia mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya, karena itu akan menjadi boom baginya.
"Jadi bagaimana dengan orang tuanya? Apa mereka tahu tentang hubungan kalian? Lalu bagaimana pendapat mereka kalau sudah tahu?" tanya Bagas, ia tidak peduli akan perkataannya tadi, sehingga memberi pertanyaan lainnya.
"Orang tua Mahesa ada di luar negeri, dia sendirian di sini. Mereka sudah tahu karena aku sempat menghubunginya waktu itu, tapi hari ini ponsel mereka belum bisa di hubungu untuk bicara langsung dengan kalian. Di sana susah sinyal tapi secara garis besarnya sudah aku bicarakan semalam," ujar Kezia, ia sangat lancar mengatakan itu semua, karena Mahesa akan kebingungan kalau sampai harus menjawab semua pertanyaan yang tidak dia mengerti.
"Apa kata mereka?" tanya Bagas, ia penasaran.
"Selain karena sibuk serta belum sempat memberi tahu kalian, aku juga belum ingin memberi tahu orang-orang tentang hubungan kami karena Mahesa baru akan lulus beberapa bulan lagi. Tapi karena desakan dari Ayah semalam, aku memberanikan diri bicara dengan orang tua Mahesa, dan mereka setuju-setuju saja selama aku bisa menjaga anak mereka. Tapi dengan permintaan, pernikahan kami harus di rahasiakan dari publik lebih dulu sebab Mahesa masih sekolah, itu akan mengganggunya kalau sampai ketahuan," lagi, dan lagi, Kezia yang menjawab pertanyaan dari Ayahnya itu, sedangkan Mahesa hanya diam, membiarkan wanita itu memainkan perannya.
"Jadi sebelum Mahesa lulus, kalian akan merahasiakan pernikahan ini? Orang tuanya setuju kalian menikah, asal di rahasiakan lebih dulu? Bisa, Ayah akan mengatur semuanya. Kalian bisa menikah secara hukum atau pun agama nanti, dan akan di hadiri beberapa orang," ujar Bagas, ia setuju-setuju saja selama anaknya ini menikah.
"Iya, kurang lebih begitu. Mahesa akan ikut denganku tinggal di apartemen nanti setelah kami menikah." ujar Kezia, semua sudah sesuai dengan rencananya.
"Bisa saja. Besok kalian datang ke sini lagi, dan akan menikah di sini. Ayah akan mengatur semuanya hari ini,"
"Besok?" tanya Kezia, semuanya serba cepat sekali, sampai membuatnya terkejut, entah akan bagaimana tanggapan pemuda itu nanti.
"Iya. Kamu sudah siap kan, Mahesa? Semakin cepat, maka akan semakin bagus lagi," ujar Bagas, ia sudah sangat ingin melihat anaknya ini menikah.
"Ah, iya. Aku akan selalu siap kapan pun itu." ujar Mahesa, ia merasa aneh. Semuanya serba cepat sekali bahkan sampai membuatnya belum bisa memproses semuanya dengan baik. Inti dari semuanya, ia akan menikah besok. Di usia semuda ini, sudah menikah.
"Setelah lulus, kamu akan ke mana? Apa sudah ada rencana mau melanjutkan kuliah di mana?" tanya Bagas, ia tidak bisa meminta anaknya untuk mencari orang lain setelah tahu kalau pasangan Kezia semuda ini, karena takutnya memakan waktu lebih lama lagi.
"Untuk saat ini aku masih fokus sama urusan sekolah, dan juga ujian. Mungkin setelah ujian, aku akan memikirkannya lagi." ujar Mahesa, ini saja setengah mati menjalaninya, sampai ia belum sampai sejauh itu memikirkan akan ke mana nanti.
Setelah itu, mereka mulai membicarakan hal-hal lainnya, mulai dari Mahesa anak ke berapa, jurusan apa yang pemuda itu ambil, di mana pertama kali bertemu. Hampir semua hal mereka tanyakan, sampai pada akhirnya Mahesa bisa kembali pulang ke rumahnya, dan Kezia kembali ke apartemennya. Pertemuan hari ini benar-benar menguras energi mereka berdua.
***
Sekarang Mahesa berada di samping Kezia, setelah beberapa menit lalu mereka sudah menikah di hadapan beberapa saksi, baik secara agama atau pun hukum. Sehingga sekarang, mereka akan kembali ke apartemen dari Kezia, dengan Mahesa ikut bersama wanita itu juga.
"Apa yang kamu katakan pada kedua orang tuamu? Karena ini akan berlangsung lama, bukan sebentar," tanya Kezia penasaran, karena pemuda ini akan tinggal bersama dengannya selama mungkin, jadi apa yang dia katakan sampai mendapatkan izin?
Kezia pun masih merasa tidak percaya, kalau statusnya hari ini sudah berubah menjadi pasangan dari bocah SMA di sampingnya, padahal selama ini berpikir untuk menikah pun hampir tidak pernah, tapi hari ini? Ia telah menikah.
"Gue bilang, temen gue mau ngajak tinggal di kos bareng. Jadi gue ikut sama dia. Mereka nggak ada yang ngelarang, karena memang selama ini gue pengen banget tinggal sendiri atau jauh dari orang tua. Jadi gitu, nggak ada kendala apa pun tadi," ujar Mahesa, selama ini ia lumayan sering mengatakan pada kedua orang tuanya tentang keinginan tinggal sendirian, untuk belajar mandiri namun mereka melarang karena ia belum mempunyai uang. Tapi tadi, ia mengatakan kalau uangnya sudah ada, sebab sudah menabung selama ini, jadi mereka setuju.
"Kamu ada masalah pribadi dengan orang tuamu? Anak-anak seumuran kamu bahkan takut jauh dari orang tuanya, tapi kamu?" tanya Kezia, ia jadi merasa penasaran, karena setiap keputusan pasti ada sebab kan?
"Gue nggak suka sama Papa baru gue, selama ini kami nggak akur. Jadi gitu, mungkin Bunda pun ngerti makanya kasih izin sama gue buat ngekost," ujar Mahesa, banyak yang tidak tahu, tapi ini lah kenyataannya. Ia mempunyai Papa tiri, sudah 5 tahun berlalu, sedangkan Papa kandungnya sudah lama meninggal.
"Ah, aku mengerti." ujar Kezia, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana dengan masalah ini, jadi lebih baik diam.
"Apa gue boleh bawa motor ke sana nanti? Nggak sekarang sih, karena motor gue masih di perbaiki, tapi cepet atau lambat pasti selesai," tanya Mahesa, mungkin sekarang ia akan memakai taksi kalau ingin berangkat serta pulang sekolah.
"Boleh. Tapi kamu tidak boleh melakukan kegiatanmu biasanya yaitu balapan liar. Akan sangat berbahaya kalau sampai Ayah tahu tentang masalah itu." ujar Kezia, pemuda ini bisa melakukan apa pun, asalkan tidak melakukan balapan liar lagi.
Pemuda itu menganguk tanda setuju, karena saat ini ia hanya perlu mematuhu perkataan dari wanita ini kan?
Saat sampai di apartemennya, Kezia langsung mengajak Mahesa untuk mengikutinya. Menunjukan di mana kamar mereka karena di dalam sini hanya ada satu kamar, tapi sangat luas.
"Kamu bisa meletakan beberapa pakaianmu ke dalam lemari. Aku sudah menyiapkan ruangan untuk pakaianmu," ujar Kezia, menunjuk lemari di dalam kamar ini.
"Kita bakalan tidur berdua di sini?" tanya Mahesa, walaupun sudah tahu bagaimana jawabannya.
"Iya, memangnya kenapa? Tidak ada larangan bagi suami istri tidur di dalam kamar yang sama kan? Walaupun ini hanya nikah kontrak untuk kita berdua," ujar Kezia, ia memang merasa tidak ada salahnya tidur di dalam satu kamar kan? Mereka sudah menikah.
"Nggak masalah sih. Yaudah kalo gitu, gue mau beresin baju-baju gue dulu." ujar Mahesa, ia tidak masalah sebenarnya, mau di mana pun boleh asalkan nyaman.
****
Keesokan harinya, Kezia sudah bangun pagi-pagi sekali untuk memasak sarapan sederhana, serta bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Setelah semua siap, ia kembali ke dalam kamar, menatap seorang pemuda yang masih terlelap di tempatnya dalam diam, karena semalam mereka tidak bicara lagi, dan langsung tidur begitu saja. Terlihat sekali ke canggungan di antara mereka.
"Aku akan memberi catatan untuknya, dan meninggalkan kunci cadangan agar bisa masuk ke dalam apartemen ini lagi setelah pulang dari sekolah." ujar Kezia, mengambil buku, menulis catatan kalau ia akan berangkat, dan pulang malam. Untuk sarapan sudah ia siapkan serta kunci cadangan akan ia tinggalkan juga.
"Entah akan sampai kapan dia akan tidur seperti ini, dan bangun. Aku terbiasa bangun pagi, dan merapikan tenpat tidur, tapi karena masih ada dia jadi belum bisa di rapikan." ujar Kezia, sepertinya mulai hari ini ia harus terbiasa akan perbedaan luar biasa antara mereka berdua.
Setelahnya, ia langsung saja beranjak dari dalam kamar, karena pekerjaan di kantor sudah menunggunya sebab sedari kemarin ia belum datang ke sana, karena sibuk mengurus masalah pernikahan mereka berdua.
Sekitar jam setengah 2 siang, Kezia berdiri di depan pintu apartemen, ia harus pulang karena ada beberapa berkas harus di ambil. Tatapan itu mengarah pada pintu apartemen, di mana ada beberapa sepatu di sana, seingatnya Mahesa hanya membawa satu pasang sepatu, kenapa jadi banyak? Jangan-jangan pemuda itu melakukan sesuatu tanpa izin darinya?
Pintu itu ia buka, sebelum tatapan itu mengarah pada Mahesa, bersama dengan kedua temannya. Ruang tengah apartemen jadi sangat berantakan sekali sampai membuat kepalanya sakit, hanya dengan melihatnya saja. Pemuda itu secara kebetulan menatapnya juga, sehingga tatapan membunuhnya bisa tersampaikan padanya.
"Siapa yang mengizinkan kamu membuat kebun binatang di rumahku?"