"Maksud tante gimana?" tanya Mahesa, bahkan sampai hari ini ia belum bisa memahami bagaimana cara dari wanita ini berpikir, sehingga ia butuh kejelasan dari setiap perkataannya.
"Setelah kamu menandatangani surat tadi, otomatis kita sudah menikah secara kontrak di sana. Aku bisa kapan pun menarik kontrak ini kalau sampai kamu melakukan kesalahan fatal, dan kontrak kita akan berakhir. Karena sudah menikah, otomatis kita akan tinggal satu rumah, kan?" jelas Kezia, apa perlu di jelaskan lebih detail lagi agar pemuda ini mengerti?
"Orang tua lo gimana? Kalau gue sendiri jelas nggak mau mereka tau tentang masalah ini, begitu pun dengan orang-orang sekitar apa lagi pihak sekolah," tanya Mahesa, ia ingat bagaimana wanita itu mengatakan kalau dia membutuhkan status, mungkin saja tuntutan orang tua? Jadi ia menanyakannya.
"Merekalah alasanku mengambil keputusan ini, jadi sudah tentu mereka harus tahu tentang keberadaan kamu di sini," ujar Kezia, karena orang tuanya yang meminta ini semua, maka sudah tentu harus tahu kan? Kalau pemuda itu sendiri, ia mengerti kalau hal seperti ini harus di rahasiakan.
"Gimana caranya?" tanya Mahesa, bagaimana cara agar orang tua wanita ini tahu tentang keberadaannya? Apa harus melakukan sesuatu?
"Kita akan menemui mereka hari ini, jadi mereka akan tahu tentang kamu," ujar Kezia, ia merasa lebih cepat tahu, maka Ayahnya akan menunda keinginannya itu kan? Ia tidak mau kalau sampai perkataannya benar-benar di lakukan.
Pemuda itu melongo, secepat itukah? Ia belum mempunyai persiapan apa pun, bahkan pakaiannya su dah seperti mau mengambil COD barang, dan tidak bagus sama sekali. Biarpun belum terlalu dewasa, tapi ia tahu kalau bertemu orang tua harus memakai pakaian yang layak, bukan asal-asalan seperti ini.m,
"Secepat ini? Tante bisa lihat sendiri gimana pakaian gue sekarang. Takutnya orang tua tante malah ngerasa kalau gue ini pengamen di jalanan, dan nggak mau percaya," ujar Mahesa, ia tahu akan situasi ini, jadi akan memalukan kalau datang ke sana dengan setelah sepertinya sekarang, mereka tidak akan percaya.
"Kita akan pergi kebutik, dan juga salon untuk mengganti pakaian kamu lalu merapikan rambutmu sedikit. Aku bisa menjamin kalau mereka pasti akan percaya, dan menerima kamu," ujar Kezia, ia tahu kalau orang tuanya hanya membutuhkan menantu kan? Jadi apa pun bisa, asal pemuda ini baik pada mereka.
"Boleh-boleh aja sih. Tapi gue perlu tau nama lo dulu, karena dari semalem cuman lo yang tau nama gue kan? Masa di sana nanti gue manggil lo tante-tante mulu?" ujar Mahesa, ia bisa-bisa saja melakukan itu semua, karena tidak sulit.
"Namaku Kezia, kamu bisa memanggilku dengan nama itu nanti. Walaupun sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan kamu panggil begitu, sebab memang jarak umur kita lumayan jauh.
"Oke. Kezia, gue bakalan inget nama itu. Ini udah bisa gue ambil? Lo nggak takut gue kabur?" tanya Mahesa, ia menatap amplop warna putih itu.
"Tentu saja bisa, dan aku sama sekali tidak takut kamu kabur. Karena masalahnya akan jauh lebih buruk kalau sampai kamu berani melakukannya," ujar Kezia dengan tenang, karena ia sudah merencanakan semuanya.
Pemuda itu menganguk, ia pun tahu kalau setelah uang ini berada di tangannya, sudah tentu mereka akan langsung terikat satu sama lainnya kan? Kalau ia sampai berani untuk kabur, maka masalah lebih besar akan mendatanginya atau bahkan kedua orang tuanya juga.
"Bagaimana? Langsung berangkat? Ini sudah mau siang," ujar Kezia, ia akan membayar pesanannya tadi, dan langsung berangkat.
"Boleh." ujar Mahesa, ia mengikuti wanita itu dalam diam, mulai dari melihatnya membayar sesuatu sampai masuk ke dalam mobil.
"Aku akan memilih sendiri pakaian untukmu, dan gaya rambutmu nanti. Kalau rambutmu seperti ini, kesan nakalnya terlihat sekali," ujar Kezia saat mereka sudah masuk ke dalam mobil, ia tersenyum kecil setelah mengatakannya.
Karena memang kalau pemuda ini sendiri yang memilih pakaian, sera gaya rambut, ia takut akan membuat orang tuanya trauma nanti.
"Emang kelihatan banget?" tanya Mahesa, memangnya gaya rambut bisa membuat orang tahu kalau ia nakal atau tidak? Menakutkan juga.
"Iya, kamu tidak tahu itu?" ujar Kezia, ia tersenyum kecil setelahnya, karena itu tidak nyata. Ia hanya ingin merapikan rambut Mahesa, dengan pilihannya sendiri.
"Nggak. Sengaruh itu ternyata, padahal ini rambut hasil potongan temen sih." ujar Mahesa, jujur saja ia tidak tahu, karena dulu ini salah satu temannya yang memotongkannya.
Prinsipnya, selama itu gratis maka kenapa tidak di lakukan. Benar kan?
Kezia sendiri memilih menggigit bibirnya sendiri untuk menahan senyuman, karena pemuda ini benar-benar lugu sekali, tapi bisa masuk penjara semalam. Ia jadi bingung, itu pengaruh lingkungan pertemanan atau bagaimana? Rasanya seperti dua orang.
"Aku akan menyimpankan uangmu lebih dulu, sebelum kita mengganti pakaianmu. Setelah pulang dari rumah kedua orang tuaku nanti, maka aku akan mengembalikannya padamu,"
"Ah, boleh." ujar Mahesa, ia memberikan amplop itu, karena takutnya hilang. Bisa stres ia kalau sampai terjadi.
"Ayo ikut denganku." ujar Kezia, keluar dari dalam mobil setelah menerima uang itu, di ikuti Mahesa dalam diam.
Pemuda itu hanya diam saja, membiarkan Kezia memilih pakaian yang dia inginkan sesuai permintaan dari wanita itu sendiri, setelah selesai, ia langsung memakainya.
"Cocok sama kamu, aku akan membeli beberapa pasang juga nanti untuk bisa kamu gunakan nanti." ujar Kezia, saat melihat pakaian itu terlihat sangat cocok untuk pemuda ini, ia tidak salah memilih pakaian ternyata.
Tubuh tinggi itu, sangat sesuai dengan pakaian yang sudah ia pilih tadi. Ia jadi senang melihatnya, karena ini pertama kalinya selama hidup 26 tahun, ia mencarikan pakaian untuk pria yang bisa di sebut sebagai pasangannya.
"Kamu bisa menunggu di luar, aku akan membayar semuanya lebih dulu. Jangan lupa bawa pakaianmu tadi." ujar Kezia saat merasa semuanya sudah sesuai, hanya tinggal masalah rambut. Di samping butik ini ada toko khusus untuk memotong atau merapikan rambut, jadi sekalian saja nanti.
"Oke." ujar Mahesa, ia sama sekali tidak memberikan komentar apa pun, karena menurutnya apa yang sudah di pilih, maka akan sesuai untuknya.
Setelah itu, mereka masuk ke dalam toko khusus untuk memotong serta merapikan rambut, Kezia mulai memilih tipe rambut yang ia inginkan sebelum petugas melakukan pekerjaannya. Menunggu selama beberapa menit sampai selesai, dan kembali melakukan perjalanan ke rumah kedua orang tua dari Kezia yang hanya membutuhkan waktu 30 menit lebih.
"Kamu bisa mengganti cara bicaramu ketika bertemu kedua orang tuaku kan? Kalau denganku, aku sama sekali tidak masalah mau kamu bicara bagaimana, tapi dengan mereka aku tidak mau," ujar Kezia, saat mereka sampai di depan rumah kedua orang tuanya.
Semalam ia pergi dari sini tanpa mengatakan apa pun, dan hari ini datang bersama seorang pria. Entah akan bagaimana reaksi mereka, tapi ia harus mencobanya lebih dulu.
"Boleh, gue usahain." ujar Mahesa, pantas saja wanita ini bisa memberikan uang sebanyak itu, ternyata rumah orang tuanya sebesar ini.
"Aku sudah mengatakan pada mereka kalau kamu akan datang, jadi santai saja nanti." ujar Kezia, ia tersenyum kecil sebelum keluar dari dalam mobil, di ikuti Mahesa.
Pemuda itu terus mengikuti Kezia dalam diam, sampai seorang wanita seumuran dengan Bunda Mahesa membuka pintu. Mempersilahkan mereka masuk, dan duduk di ruang tengah.
"Baru semalam Ayah mengancam kamu, hari ini sudah membawa seorang pria? Dia terlihat lebih muda dari kamu," ujar Bagas, anaknya ini memang harus di ancam dulu baru mau melakukan apa yang ia minta.
"Aku memang sudah dekat dengannya, tapi karena terlalu sibuk aku belum memperkenalkan dia sama kalian. Dia sangat baik, keluarganya pun baik, jadi sudah tentu kalian akan suka. Kenalkan nama kamu," ujar Kezia, ia hanya berharap pemuda ini atau pun orang tuanya tidak mengatakan hal aneh.
"Perkenalkan, namaku Mahesa, Om," ujar Mahesa, ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana dalam situasi seperti ini.
"Saya Ibunya Kezia, dan ini Ayahnya. Silahkan di minum dulu, pasti perjalanan ke sini lumayan panjang, ya?" ujar Indah, ia tersenyum menatap pria di depannya.
Mahesa menganguk, ia mulai mengambil salah satu cangkir, dan meminumnya.
"Kapan kalian berencana memberi kami cucu?" tanya Bagas, membuat Mahesa tersedak minumannya sendiri.