"Hah? Tante gila ya?" tanya Mahesa, itu sudah sangat jelas, karena ini pertama kalinya mereka bicara secara langsung baginya, tapi apa yang wanita ini katakan?
Tadi ia memang sudah menabrak mobil dari wanita ini, dan tidak menjawab satu pun pertanyaan darinya karena pikirannya hanya tertuju untuk melarikan diri tapi apa katanya tadi?
"Aku sudah membayarmu. Sekarang, ganti semua uangku atau nikahi aku. Pilih."
Apa-apaan maksud dari ini semua? Ia menabrak mobil wanita itu, tidak menjawab satu pun pertanyaan darinya, pergi di bawa oleh polisi, lalu wanita ini datang, membayar semua denda serta ganti rugi yang sudah ia lakukan, lalu memintanya menikahinya? Apa ini? Otaknya sama sekali tidak bisa sampai ke arah sana, dan mengerti bagaimana maksud dari wanita itu. Orang gila mana yang melakukan ini semua? Bahkan menurutnya hal ini jauh lebih gila dari orang gila sendiri, di luar nalar manusia.
"Kamu membutuhkan uang, kan?" tanya Kezia, ia ingin sekali tertawa melihat bagaimana wajah dari pemuda itu saat sedang kebingungan seperti ini. Namun ia harus menahan itu semua agar semuanya berjalan sesuai keinginannya.
"Memangnya kenapa kalau butuh uang?" tanya Mahesa, ia memang membutuhkan uang, bahkan sangat.
Karena uang harian yang di berikan oleh Bundanya, hanya cukup untuk membeli air mineral saja di zaman sekarang, jadi sudah tentu ia membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Biaya perbaikan motor, bensin, uang makan, jajan, dan membeli barang pribadi lainnya. Itu semua membutuhkan uang, sedangkan ia masih sekolah jadi sulit mendapatkannya dengan bekerja, oleh sebab itu ia mengikuti balapan liar.
"Aku bisa memberikan uang yang kamu butuhkan, dan membiayai sekolahmu. Bahkan aku bisa memberi biaya untuk keluargamu juga agar tidak kesulitan lagi, namun dengan satu syarat," ujar Kezia, ia akan langsung saja tanpa berbasa-basi lebih lama, semakin mudah mengerti maka akan semakin baik bagi mereka.
"Maksudnya gimana?" tanya Mahesa, karena ia tidak sepintar, dan sepeka itu sampai tahu tentang apa yang ingin di katakan oleh orang lain.
"Kamu butuh biaya untuk kehidupanmu kan? Aku bisa memberikan itu semua, bahkan kalau semisal orang tua kamu mempunyai hutang di luaran sana, aku akan melunasinya juga. Setiap sebulan sekali, aku akan memberikan uang sebagai kebutuhan untukmu, membayar uang sekolahmu, dan memberikan uang untuk kedua orang tuamu juga bila perlu. Tapi itu semua bisa kamu dapatkan kalau setuju menikah kontrak denganku, sangat mudah sekali kan?" jelas Kezia, kalau memang pemuda ini kurang mengerti, maka ia akan menjelaskan semuanya sampai mengerti.
Pemuda itu terdiam, karena ia merasa heran, dari mana wanita ini tahu tentang kebutuhannya? Bahkan tentang masalah keluarganya juga? Apa sebelum melakukan ini semua, dia mencari tahu masalahnya lebih dulu? Ia sama sekali tidak mengenal wanita ini, dan ini pertama kalinya mereka bertemu. Lalu ia sudah mendapatkan tawaran seperti ini? Mendapatkan uang setiap bulan, itu sudah sangat luar biasa kalau nominalnya besar, dan ia tidak perlu bekerja keras lagi.
"Kalau kamu masih membutuhkan hal lainnya, katakan saja. Aku akan memberikannya padamu, asalkan kamu setuju untuk menikah kontrak denganku," ujar Kezia, karena sudah terlanjur, maka ia memutuskan untuk turun sekalian, sebab situasi seperti ini tidak mungkin terjadi berkali-kali dalam kehidupan, maka dari itu ia akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
"Kamu membutuhkan uang kan? Sedangkan aku membutuhkan status, kita bisa bersama, dan mendapatkan keuntungan masing-masing," lanjutnya, tatapan itu mengarah pada Mahesa, menunggu apa yang ingin pemuda itu katakan padanya.
"Sebanyak apa uang yang bakalan di kasih setiap bulannya?" tanya Mahesa, ia memang bukan pemuda sepintar itu, tapi sebelum memutuskan sesuatu ia pasti akan memastikannya lebih dulu.
"Kamu butuh berapa? Aku akan memberikannya padamu," ujar Kezia, balik bertanya karena takutnya, nominal yang ia berikan kurang.
"Gimana dengan 6 juta?" tanya Mahesa, ekomoni keluarganya benar-benar sangat buruk sekali, mungkin dengan ini ia bisa membantu sedikit demi sedikit.
Karena ia tertarik dengan tawaran ini, sebab sekarang sangat sulit mendapatkan uang sebanyak itu kan? Apa lagi ekonomi keluarganya sedang berada di bawa, sampai makan pun pas-pasan. Ia akan menerima ini, sebab tawaran ini tidak akan datang padanya setiap hari kan? Siapa tahu hanya malam ini, jadi ia akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
"Jadi 6 juta sebulan? Aku akan membayar biaya sekolahmu juga, dan tentu saja uang makanmu nanti. Kita akan bertemu kembali besok, dan aku akan memberikan surat kontraknya untuk kamu tanda tangani, tentu saja uangnya akan kuberikan padamu sebagai awal dari perjanjian kita," ujar Kezia, uang bisa di cari namun kesempatan ini tidak akan pernah datang lagi di dalam kehidupannya, oleh karena itu akan ia gunakan sebaik-baiknya.
"Di mana kita akan bertemu lagi? Di sini? Gue bakalan kena marah lagi kalau di sini," tanya Mahesa, apa pun akan ia lakukan demi uang, dan kelancaran hidupnya.
"Bagaimana kalau di toko depan kantor polisi ini? Agar kamu bisa mengingat tempatnya. Aku perlu menyiapkan surat perjanjian kita sebelum pada akhirnya di tandatangani oleh kita berdua secara langsung," ujar Kezia, ia rasa di sana lebih baik dari pada tempat lain. Ia bisa dengan mudah ke sini lagi.
"Oke. Deal." ujar Mahesa, ia menganguk pertanda setuju akan itu semua, karena memang itu semua butuh di persiapkan.
"Kamu bisa pulang bersama dengan orang tuamu, dan obati luka-luka itu. Atau perlu ke rumah sakit?" tanya Kezia, ia menatap pemuda itu, dan melihat bagaimana wajahnya sebab tadi dia memakai helm sehingga ia tidak bisa melihat wajahnya bagaimana.
Mata tajam, alis tebal, rahang tegas, dan hidung mancung. Apa memang rata-rata anak remaja sekarang cepat sekali dewasa? Di matanya pemuda ini benar-benar mempunyai wajah tegas seperti pria dewasa, apa karena pengaruh hormon?
"Ini cuman luka-luka kecil. Cowok mah selagi nggak demam, dunia bakalan baik-baik aja. Kalau gitu gue duluan, orang tua gue udah nungguin," ujar Mahesa, ia menatap kedua orang tuanya di depan pintu kantor polisi.
"Tentu." ujar Kezia, ia tersenyum kecil saat sadar kalau Mahesa benar-benar pemuda aneh, bagaimana bisa dia sesantai itu mengatakannya? Biarpun memang kenyataannya begitu.
***
Keesokan harinya, Kezia datang lebih dulu ke toko yang semalam ia tentukan, duduk di salah satu kursi karena ia tahu pemuda itu tidak akan pernah menipunya sebab keuntungannya akan menghilang kan?
"Aku ingin teh, dan salad." ujar Kezia saat pelayan dari toko itu mendekatinya. Ia kembali menatap ke arah jalanan sampai sosok dari Mahesa mulai terlihat.
"Sorry telat, karena tadi bangun kesiangan." ujar Mahesa, ia mengambil tempat duduk di samping wanita itu tanpa ragu.
"Ini. Kamu bisa membaca suratnya dengan teliti lebih dulu sebelum menandatanganinya nanti," ujar Kezia, memberikan surat itu pada Mahesa agar segera pemuda itu baca lebih dulu, namun bukannya membaca Mahesa malah langsung menandatanganinya.
Membuat Kezia tersenyum miring. "Bagus. Mulai besok, kamu pindah ke apartemenku. Jangan lupa kerjakan PR-mu, suamiku."