"Aku bisa memanfaatkan ini semua dengan baik," ujar Kezia, ia merasa ini situasi terbaik untuknya.
Dengan ide gilanya, Kezia kembali masuk ke dalam mobil, dan segera mengarahkan mobilnya ke kantor polisi tanpa memerdulikan tentang mobilnya sendiri yang sedang rusak. Untuk saat ini ada hal yang jauh lebih penting harus ia lakukan dari pada mobil ini.
Senyuman kecil terbit karena mengingat apa yang baru saja ia lihat, dan ide luar biasa langsung keluar begitu saja. Tanpa peduli dengan beberapa masalahnya tadi, ia lebih memilih fokus pada apa yang ia inginkan lebih dulu karena mencari pasangan sangat susah sekali, dan menurutnya ini sangat baik dari pada melakukannya sendiri.
"Terlepas dari masalah-masalah malam ini, aku rasa ini sudah cukup mengobati rasa kesalku. Kurasa ini akan berjalan lancar sesuai dengan rencana melihat bagaimana usia, dan statusnya saat ini. Aku merasa jauh lebih muda mengendalikan anak kecil dari pada pria seusia denganku, kan?" ujar Kezia, di balik beberapa masalah malam ini, setidaknya ada hal yang membuatnya merasa jauh lebih baik, dan ia rasa ini lebih dari cukup.
Melihat bagaimana pria sekarang, ia merasa jauh lebih baik mengendalikan anak kecil, dari pada pria seusia dengannya atau lebih tua. Karena ia sudah tahu kebanyakan dari mereka akan bagaimana, dan lebih baik mengendalikan anak kecil kan?
Setelah sampai di depan kantor polisi, Kezia segera keluar dari dalam mobil, dan berjalan masuk ke dalam tanpa peduli dengan tatapan penasaran orang-orang di dalam sini, karena fokusnya mengarah pada pemuda itu lebih dulu. Urusan lainnya, akan ia urus nanti.
"Saya mohon, pak. Beri kami sedikit keringanan untuk bisa membayar denda atas kesalahan yang sudah di lakukan oleh anak kami, dan kami akan memarahinya agar tidak melakukan masalah seperti ini lagi,"
Bisa Kezia lihat, kalau orang tua dari pemuda itu menyatukan kedua tangannya, dan memohon pada salah satu polisi untuk memberikan keringanan bagi anak mereka, membuat senyuman kecil terbit di bibir itu, karena dugaannya memang sangat benar tadi.
"Ini bukan pertama kalinya anak kalian melakukan balapan liar, karena kami sudah melihat sendiri bagaimana balapan yang mereka lakukan tapi selalu lolos pengejaran. Tadi saja kalau tidak menabrak mobil orang, mungkin anak kalian tidak bisa kami tangkap, dan kalian tidak akan pernah tahu apa yang sudah dia lakukan. Di usia semuda ini, seharusnya dia fokus sekolah, bukan balapan liar sampai membuat jalanan rusak. Di tanya tentang teman-teman yang lainnya pun, anak kalian menolak bicara, lalu bagaimana bisa kami memberikan keringanan atas kesalahannya ini?"
"Saya berjanji akan memberikan hukuman seberat mungkin padanya, dan memarahinya atau kalau perlu saya akan menyita kendaraannya. Tapi saya mohon pak, beri sedikit keringanan untuk denda atas kesalahan yang sudah Mahesa lakukan, karena kami tidak mempunyai uang sebanyak itu,"
"Saya akan memberi sedikit keringanan, tapi dengan anak kalian mengatakan di mana tempat mereka biasa melakukan balapan liar, dan di mana rumah teman-temannya. Dengan begitu, kalian mendapatkan keuntungan karena dendanya di ringankan, dan saya mendapatkan informasi penting itu. Karena menangkap mereka ketika sedang melakukan balapan liar bisa di bilang mustahil,"
Kezia masih terdiam di tempatnya, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, sebelum masuk dalam pembicaraan mereka. Ia akan melihat terlebih dahulu.
"Mahesa ... nak, katakan pada Pak polisinya, di mana tempat biasa kamu melakukan balapan? Dengan siapa kamu biasa melakukan balapan? Apa dengan kedua teman kamu? Bunda bisa memberitahu di mana rumah mereka kalau memang kamu tidak bisa mengatakannya. Lakukan apa yang di katakan, agar kita mendapatkan keringanan," wanita itu, mengelus surai anaknya, dan berusaha membuatnya mengerti. Karena memang dengan Papanya, Mahesa tidak terlalu dekat.
"Gue sendiri yang milih buat ikut balapan, jadi temen-temen gue sama sekali nggak ada hubungannya," ujar Mahesa, mana mungkin ia mengatakan itu semua pada polisi, itu sama saja dengan menyerahkan teman-temannya.
"Kalian bisa melihatnya? Sedari tadi, dia terus mengatakan tentang alasannya ikut balapan, maka dari itu kami meminta denda cukup besar. Kalau dia mempunyai teman atau orang yang berada di atasnya mungkin dendanya akan di perkecil, tapi dia sacara suka rela ikut balapan itu. Jadi kalian sama sekali tidak bisa mendapatkan keringanan dari kami," ujar polisi, mereka mempunyai alasan kenapa meminta denda besar, karena pemuda ini ikut serta balapan secara suka rela.
"Mahesa! Bunda tahu kalau kamu tidak mungkin melakukan itu secara secara suka rela, dan tanpa teman. Bunda tahu kamu itu bagaimana, jadi sangat tidak mungkin hal itu bisa kamu lakukan sendirian tanpa campur tangan orang lain," bentak Putri, selaku bunda dari Mahesa. Mendengar kabar ini, ia merasa seluruh dunianya hancur, karena Mahesa memang nakal tapi tidak pernah sampai masuk penjara selama ini, namun hari ini? Orang tua mana yang akan merasa biasa saja kan?
"Kenyataanya memang begitu. Bunda nggak perlu membelaku." ujar Mahesa, ia bisa melihat bagaimana tatapan Bundanya, dan itu sudah tentu rasa kecewa padanya.
"Karena semuanya sudah jelas, kalian bisa melakukan pembayaran di sana, dan Mahesa sudah bisa pulang bersama kalian."
"Tapi kami sama sekali tidak mempunyai uang sebanyak itu. Apa bisa saya menyicilnya?" tanya Putri, karena memang untuk makan saja cukup-cukupan, bagaimana harus membayar denda, dan ganti rugi atas kerusakan yang sudah Mahesa lakukan pada mobil seorang wanita tadi.
"Tidak bisa. Kami tidak bisa menerima kalau kalian mau menyicilnya. Kalau bisa di lunasi malam ini juga, maka Mahesa bisa kami pulangkan, namun kalau harus menunggu. Maka Mahesa akan terus berada di sini sampai kalian melunasi denda itu."
"Tap-"
"Maaf sebelumnya karena menyela pembicaraan kalian. Kedatanganku ke sini untuk melunasi denda, dan ganti rugi atas apa yang sudah Mahesa lakukan. Di mana aku harus membayarnya?" ujar Kezia, bak pahlawan kesiangan, setelah memperhatikan pembicaraan mereka, ia mulai angkat bicara, dan berjalan mendekat.
"Ah. Anda bisa melakukannya di sana." ujar polisi itu, menunjuk salah satu tempat, membuat Kezia menganguk sebelum beranjak dari sana dan mulai melakukan pembayaran.
Setelah membayar semuanya, Kezia kembali mendekat ke arah pemuda itu, dan kedua orang tuanya. Menatap mereka satu persatu, dan melihat wajah terkejut mereka. Ia tahu, sudah tentu ini menjadi pertanyaan besar untuk mereka, karena orang asing secara mengejutkan datang lalu melunasi semuanya.
"Terima kasih karena sudah membantu kami, tanpa Anda mungkin sekarang Mahesa masih berada di sini sampai kami bisa melunasi semuanya. Kalau boleh tahu, Anda siapa?" tanya Putri, ia sangat berterima kasih pada wanita ini, tapi ia juga merasa penasaran siapa dia? Apakah anaknya mempunyai hubungan dengannya?
"Iya. Apa kita bisa bicara berdua?" ujar Kezia, ia perlu bicara dengan Mahesa, jadi untuk orang tua dari pemuda itu akan ia tunda dulu. Mungkin kalau nanti bertemu lagi, maka ia akan lebih sopan lagi dalam menjawab pertanyaan dari mereka.
"Sama gue?" tanya Mahesa, menunjuk diri sendiri.
Apa yang wanita ini perlukan? Apa masalah mobil tadi? Tapi kenapa tidak bicara langsung saja? Walaupun begitu, Mahesa tetap mengikuti Kezia keluar dari dalam kantor polisi biarpun keadaannya kurang bisa di katakan baik.
"Kenapa?" tanya Mahesa, ia menatap kartu nama yang di berikan padanya, menerima itu, lalu melihatnya.
"Aku sudah membayarmu. Sekarang, ganti semua uangku atau nikahi aku. Pilih."