"Sialan, masalah apa lagi sekarang?" Umpat Kezia, ia segera keluar dari dalam mobil, dan melihat apa yang sedang terjadi.
Tatapan itu mengarah pada seorang pemuda yang sedang berusaha untuk bangun, sepertinya karena tabrakan barusan membuat dia terjatuh, dan terluka sehingga kesusahan untuk bangun.
"Apa ini? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Kezia, ia perlu kejelasan tentang apa yang sedang pemuda ini lakukan di tempat ini?
Karena selama ini setiap kali melewati jalan ini, semuanya baik-baik saja bahkan bisa membuatnya merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, namun ini? Kepalanya terasa sangat sakit, melihat bagaimana mobilnya rusak, dan pemuda itu terluka. Di sini jelas salah dari pemuda di depannya sebab sudah jalan jalur, dan malah menabraknya jadi sudah tentu ia mempertanyakan tentang itu semua kan? Apa juga yang sedang pemuda itu lakukan larut malam seperti ini, di tempat sepi?
Hening, pertanyaan yang barusan ia berikan sama sekali tidak mendapatkan respon apa pun, sampai membuat amarahnya naik. Sedari tadi ia sudah menahan diri, lalu masalah ini datang. Sudah sangat jelas, ia naik pitan. Terlebih ketika melihat pemuda itu dengan mudahnya berdiri, dan kembali akan menaiki motornya padahal sudah rusak lumayan parah, serta luka di tubuhnya cukup parah.
"Kamu tahu kalau ini merupakan kesalahanmu, kan? Apa yang kamu lakukan malam-malam seperti ini di luar, dan sendirian? Kamu bisa melihat bagaimana kondisi mobilku setelah kamu tabrak?" tanya Kezia, ia sama sekali tidak merasa takut untuk terus memberikan pertanyaan pada pemuda itu, karena ini sudah sangat salah.
Kedua mata itu menatap bagaimana mobil bagian belakangnya rusak, dan harus di perbaiki dalam waktu dekat ini sedangkan urusannya sudah luar biasa banyak di kantor, belum lagi masalah di rumah kedua orang tuanya tadi. Malam ini, masalah benar-benar berteman baik dengannya, sampai ia merasa muak.
Atensi itu mengarah pada pemuda itu lagi, di mana dia tidak merespon apa pun dari apa yang ia katakan barusan, sampai membuatnya merasa heran, apa mungkin ini begal? Tapi mana mungkin begal diam saja saat tahu mangsanya keluar dari dalam mobil bukan? Namun kalau bukan begal lalu apa? Kenapa hanya diam saja? Dan apa yang dia lakukan di sini malam-malam?
"Ah, b*****t! b*****t!"
Tubuh itu tersentak saat mendengar suara pemuda ini, dan menatapnya dalam diam. Dari semua pertanyaannya tadi, tidak ada satu pun terjawab, lalu apa yang keluar dari mulutnya barusan? Makian. Ia tidak bisa melihat bagaimana wajah pemuda ini, kalau bisa entah akan bagaimana reaksinya nanti. Untuk pertama kalinya ada yang mengabaikannya, dan mengatakan kata-kata buruk seperti ini.
"Kamu tidak bisa memakai motor itu, karena rusak. Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan di sini? Malam-malam berada di luar, dan sendirian." ujar Kezia, ia sama sekali tidak merasa takut saat pemuda itu hanya mengatakan kata-kata makian, ia malah merasa tertantang untuk terus bicara agar semuanya jelas.
Bisa di lihat dengan mata, kalau motor ini rusak, lalu bagaimana bisa pemuda itu masih berusaha untuk menghidupkannya kembali? Terlebih tubuhnya terluka, karena pakaiannya sobek, dan ia bisa melihat darah mulai keluar dari sana tapi bukannya mengkhawatirkan lukanya, pemuda itu malah berusaha untuk pergi? Apa dia ingin kabur setelah ketahuan menabrak mobilnya beberapa menit lalu?
"Kenapa malah sekarang gue dapet sial? Anjing-anjing!"
Lagi, tanpa peduli akan semua pertanyaannya, dan seakan-akan ia tidak pernah ada di sini. Pemuda itu kembali bicara serta memaki, sampai membuatnya merasa heran. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini? Ia bukan sedang berhalusinasi kan? Di mana setiap perkataannya sama sekali tidak mendapatkan respon, dan pemuda itu bicara sendirian? Lalu hanya ia yang bisa mendengar suaranya karena ini akan sangat buruk sekali. Terlalu banyak masalah yang datang sampai membuatnnya berhalusinasi seperti ini.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Seperti tidak mempunyai malu, dan rasa menyerah, ia akan terus memberikan pertanyaan pada pemuda itu, sampai mendapatkan apa yang ia inginkan.
Jangan sampai ini benar-benar halusinasinya, karena banyaknya masalah yang sudah ia hadapi, sebab itu akan membawa pengaruh buruk bagi kehidupannya nanti.
Terdengar suara dari mobil polisi, membuat atensi itu terarah pada asal suara, sebelum terdiam ketika melihat mobil polisi itu berhenti di samping pemuda itu, dan keluar dari dalam mobil. Ia terdiam lumayan lama, sampai tersadar akan sesuatu, ini menjawab semua pertanyaannya karena ternyata pemuda itu melakukan balap liar? Pantas saja menabrak secara tiba-tiba, lalu tanpa merasa sakit sama sekali dia akan langsung melarikan diri, ternyata karena tengah di kejar polisi? Kezia mulai paham sekarang.
"Ikut dengan saya ke kantor polisi untuk mengatakan semuanya, dan jangan berani untuk melarikan diri lagi."
Tanpa memberi pertanyaan padanya selaku orang yang sedang bersama dengan pemuda itu, polisi yang tengah bertugas langsung menyeret pemuda itu masuk ke dalam mobil, dan meminggirkan motor itu. Mungkin mereka mengerti kalau di sini ia merupakan korban dari pemuda tadi sampai tidak berani memberi banyak pertanyaan atau satu pertanyaan pun padanya.
Embusan napas itu terdengar saat mobil polisi pergi dari tempat ini, dan meninggalkan ia sendirian. Langkah itu, kembali ke arah mobilnya serta melihat bagaimana kondisinya. Lumayan buruk, ia rasa akan butuh waktu untuk memperbaikinya padahal urusannya di kantor saja sudah sangat banyak, lalu masalah ini mendatanginya juga? Apa yang lebih mengerikan dari menjadi dirinya malam ini?
"Aku mengira itu hanya pemuda yang sedang bermain-main di sini, tapi siapa menyangka kalau ternyata dia sedang melakukan balapan liar? Di mana kelompoknya? Dia sendirian kabur dari polisi." ujar Kezia, ia merasa penasaran, tadinya mengira kalau itu hanya pemuda iseng atau jahil, tapi kenyataannya sangat berbeda.
Dia sangat berani sekali, sampai melakukan balapan liar di sini, padahal tahu kalau tempat ini sebelumnya sangat ramai, sudah tentu akan ada polisi berjaga di sini kan? Tapi kenapa masih berani? Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana cara pemuda itu memutuskan ini semua.
Langkah itu mengarah pada mobilnya, sebelum tatapannya melihat sesuatu, dan menunduk untuk mengambilnya.
"Dompet? Dompet pemuda tadi?" tanya Kezia pada diri sendiri, tangan itu dengan berani membuka dompet di tangannya untuk memastikan ini benar-benar milik pemuda tadi atau polisi tadi? Ia harus memastikan semuanya.
"Nama Mahesa, umur 18 tahun, dan sepertinya dia masih sekolah. Berarti ini benar-benar milik dari pemuda tadi. Namanya Mahesa ... " ujar Kezia saat membaca kartu dari pemuda itu, umurnya masih sangat mudah sekali, membuatnya terdiam selama beberapa saat, dan tersenyum.
Kezia menatap penuh makna, sambil berkata, "Hm. Anak kecil jauh lebih mudah untuk dikendalikan daripada pria dewasa, kan?"