"Kapan kamu akan membawa calon kamu ke sini untuk bertemu dengan Ayah, dan juga Ibumu?" tanya Bagas, menatap sang putri.
"Hah? Apa?" tanya Kezia, memastikan, ia tidak sedang salah mendengar, 'kan?
"Kapan kamu akan membawa calon kamu ke sini? Bertemu dengan Ayah," ulang Bagas.
Embusan napas berat terdengar, "aku tidak mempunyai waktu untuk melakukan itu semua, karena aku sedang fokus mengurus masalah di perusahaan," jawab Kezia, karena ia memang sedang sibuk akhir-akhir ini.
"Menikah bulan ini, atau posisi kamu, dan tempat kamu sebagai CEO sekarang di gantikan oleh sepupu kamu," ancam Bagas, menatap putrinya dengan tatapan dayarnya.
Kezia menatap sang Ayah, tatapan itu terlihat sangat tidak percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh Ayahnya itu. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan itu semua.
"Maksud Ayah bagaimana? Bukankah Ayah sudah berjanji akan memberikan posisi itu padaku? Kenapa sekarang seperti ini?" tanya Kezia, ia merasa tidak terima.
Karena selama ini, Ayahnya sudah berjanji padanya, jika posisi CEO akan di berikan padanya kalau sudah waktunya nanti, tapi kenapa malah jadi seperti ini? Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana cara Ayahnya memutuskan itu semua?
"Coba kamu pikirkan, sekarang kamu sudah dewasa, sudah besar. Tapi selama ini kamu tidak pernah sekali pun membawa pasangan kamu ke sini untuk bertemu dengan Ayah, dan juga Ibumu. Kamu tahu dampak seperti apa yang kami berdua terima? Banyak orang-orang mengatakan kalau kamu tidak menyukai pria, alias menyukai sesama jenis, karena kamu tidak mempunyai pasangan. Itu sudah sangat jelas, kenapa Ayah sampai berani mengancam kamu seperti ini, 'kan?"
"Haruskah dengan cara mengancam seperti ini? Ayah tahu kalau selama ini aku sangat fokus pada perusahaan, jadi sudah tentu tidak mempunyai waktu untuk melakukan itu semua kan? Ini saja, aku baru sempat datang ke rumah lagi setelah sibuk selama beberapa bulan. Tapi lihat apa yang kalian lakukan?" tanya Kezia, ia selalu sibuk di kantor.
Bahkan hampir tidak mempunyai waktu untuk menghabiskan kebersamaan dengan kedua orang tuanya, dan baru malam ini ia bisa datang serta makan malam bersama dengan mereka, tapi apa yang ia dapatkan? Ancaman. Padahal, menyusun waktu agar bisa melakukan ini saja sulit, karena ia biasa tinggal di apartemen dekat dengan perusahaan agar mempermudah urusannya.
"Di luaran sana, banyak sekali orang-orang yang sama sibuknya denganmu, tapi mereka masih tetap bisa melakukan itu semua. Apa lagi mencari pasangan, karena itu sangat penting bagi masa depan kamu." ujar Bagas, ia hanya ingin anaknya ini bisa lebih mengerti tentang semuanya.
Kezia beranjak dari tempat duduknya, dan langsung keluar dari dalam rumah tanpa mengatakan apa pun, bahkan ia sama sekali tidak memedulikan panggilan dari ibunya, karena menurutnya ini sudah sangat keterlaluan. Ia baru bisa menyempatkan makan malam bersama dengan kedua orang tuanya lagi setelah berbulan-bulan tidak melakukan itu semua, tapi apa hasilnya? Hanya rasa kesal yang ia dapatkan di sini.
Setelah sampai di luar rumah, Kezia langsung masuk ke dalam mobil, dan memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Ia merasa itu jauh lebih baik, dari pada tetap berada di sini, dan membuatnya merasa kurang nyaman.
"Sebelum benar-benar kembali ke apartemen, aku akan pergi ke tempat biasa aku menenangkan pikiran. Karena pulang dalam keadaan seperti ini akan sangat tidak baik untuk urusanku ke depannya nanti." ujar Kezia, mobil itu segera keluar dari halaman rumah kedua orang tuanya, dan benar-benar pergi dari sana.
Kezia masih tidak menyangka, kalau setelah berbulan-bulan tidak menghabiskan waktu bersama keluarganya, malam ini itu semua menjadi hancur, dan membuatnya merasa kesal. Bagaimana bisa Ayahnya menanyakan tentang masalah itu malam ini? Kenapa tidak memilih hari lain? Karena hanya di sana ia bisa merasa benar-benar istirahat, tapi apa yang mereka lakukan?
"Ini benar-benar buruk. Bagaimana bisa Ayah lebih mendengarkan orang-orang dari pada anaknya sendiri? Lalu kenapa juga harus di berikan pada sepupuku? Bukankah mereka sudah mempunyai usaha sendiri? Kenapa harus ikut campur dalam masalahku juga?" tanya Kezia, ia benar-benar tidak habis pikir akan ini semua.
Di mana Ayahnya jauh lebih memilih mendengarkan orang-orang di luaran sana, dari pada mendengarkan dirinya sebagai putrinya. Kebanyakan orang tua pada umumnya sudah tentu akan memilih mendengarkan anaknya lebih dulu baru orang lain, tapi kenapa orang tuanya berbeda? Lagi, kenapa harus sepupunya? Mereka sudah mempunyai bisnis sendiri, lalu kenapa harus ikut campur dalam masalah serta perusahaan dari kedua orang tuanya? Bukan hanya posisi, perusahaan Ayahnya pun akan terancam karena mereka. Ia merasa ini bukan pilihan terbaik dari kedua orang tuanya.
"Bagaimana kalau itu semua benar-benar di lakukan oleh Ayah?" tanya Kezia, ia secara tiba-tiba berpikir, bagaimana kalau Ayahnya benar-benar melakukan apa yang dia katakan tadi?
Apakah ia akan baik-baik saja kalau sang Ayah melakukan itu semua? Bagaimana dengan usahanya selama ini? Kerja kerasnya untuk perusahaan? Itu semua akan sia-sia? Karena ia akan di ganti oleh sepupunya sendiri? Memikirkan itu semua, membuat kepalanya terasa akan pecah saat ini juga, dari mana ayahnya itu mendapatkan ide seburuk ini? Keluarga mereka akan benar-benar hancur kalau sampai hal itu di lakukan oleh Ayahnya.
"Bagaimana?"
"Bagaimana?"
"Bagaimana?"
Itu semua terus Kezia katakan, bahkan ia baru sadar kalau malam ini tempat yang biasa ia gunakan untuk menenangkan diri, di mana banyak sekali orang-orang akan berlalu lalang di sini, mendadak menjadi sepi serta sunyi sekali. Ke mana orang-orang biasanya? Setelah beberapa bulan lamanya, apakah tempat ini sudah di tutup? Tapi kenapa jalannya masih bisa di gunakan?
"Apa yang terjadi? Satu masalah belum selesai, sekarang sudah ada masalah lainnya. Apa malam ini aku benar-benar sangat sial sampai harus menghadapi masalah ini secara bersamaan?" ujar Kezia, ia menatap area kanan serta kiri secara bergantian untuk memastikan, apakah jalan ini benar-benar sepi karena akan di tutup, atau ada masalah lain sampai sesepi ini.
Karena biasanya, akan ramai orang-orang sampai membuatnya merasa nyaman, tapi sekarang? Sepi, dan sangat sunyi sekali. Pikiran itu mulai bercabang, antara masalah tempat ini, dan juga masalah dari ancaman sang Ayah tadi, dalam beberapa bulan ini, setelah sibuk dengan urusan kantor sekarang ia juga harus menghadapi ini semua? Hidupnya benar-benar penuh masalah sekali entah bagaimana, bahkan ia sendiri merasa heran tentang ini semua.
Setir itu ia banting untuk meluapkan rasa kesal akan semuanya, sebelum mobilnya di tabrak oleh seseorang.