“1 Juni 2016, 15.40 WIB”
Sekret Mapala UPKI berbau debu, kopi sachet, dan kain tenda lembap. Di dinding sebelah kiri tergantung papan kayu panjang tempat nama-nama anggota yang sudah berpulang dipaku berderet, dengan foto kecil di sisi setiap nama. Selama dua minggu papan itu ditutup kain putih. Siang ini kain itu sudah dilipat di meja.
Zaki berdiri di depan kursi kayu berkaki pendek yang biasa ia duduki, kursi ketua, dengan bekas tempelan stiker Rinjani di sandarannya. Di tangannya tergenggam kunci sekret dan stempel organisasi.
“Gue serahin ke lo,” katanya.
Oni, yang duduk di lantai sambil merapikan bendera kecil untuk acara, mendongak. “Apa?”
“Kursi. Kunci. Stempel.” Zaki meletakkannya di meja satu per satu seperti sedang membayar utang. “Gue ketua tim, dan gue pulang tanpa Retno. Gue nggak mau ngangkat muka di depan anak-anak.”
“Ki.” Oni berdiri pelan. “Gue nggak mau.”
“Lo wakil. Itu aturannya.”
“Aturan itu bikin lo pantes ngelepas kalau mau, bukan bikin gue pantes nerima.” Oni menyilangkan tangan. Matanya cekung. Dua minggu terakhir ia jelas tidak tidur lebih dari empat jam semalam. “Lo yang bawa mereka pulang. Semua yang masih bisa dibawa pulang, dari tempat yang bahkan nggak ada di peta. Lo kira gue bisa begitu?”
“Gue kehilangan satu.”
“Lo kehilangan satu dan nyelamatin yang lain.” Oni menunjuk meja. “Ambil lagi.”
“Nggak.”
“Ambil.”
“Nggak!”
“Kak, kalian berdua ini ...” Anto muncul dari ambang pintu sambil mengunyah roti. Badannya sedikit lebih berisi daripada sebulan lalu, dan itu membuat orang-orang di sekret tak sanggup berhenti memandangnya dengan lega. “Bisa nggak ributnya nanti aja? Acara satu jam lagi.”
“Tahu, nih.” Tika menyusul membawa tumpukan kertas. “Mbak Retno bakal ngomel kalau lihat kalian berdebat gara-gara kursi doang.”
Hening sesaat. Zaki dan Oni saling pandang. Perlahan, nyaris bersamaan, keduanya menahan tawa pahit.
“Oke,” kata Oni akhirnya. “Gue terima.”
Zaki menghela napas lega, terlalu cepat.
“Dengan satu syarat. Lo duduk di sebelah gue. Bukan sebagai mantan ketua, tapi sebagai orang yang gue butuhin buat bilang kalau gue salah.”
Zaki terdiam, lalu mengangguk pelan. “Deal.”
Oni mengambil stempel, menekannya sekali ke selembar kertas kosong, dan di kertas itu muncul tulisan MAPALA UPKI dengan tinta ungu. Lalu mereka berdua berbalik ke papan. Di sana, di ujung paling kanan, sebuah paku kosong menunggu.
Anto menyerahkan foto Retno dalam bingkai kecil. Dalam foto itu ia sedang tertawa lebar sambil menunjuk kamera dengan wajah yang jelas-jelas siap memarahi siapa pun yang memotretnya. Tika memaku bingkai itu. Dan di bawahnya Gilang, yang kini berjalan tanpa tongkat meski masih agak pincang, menempelkan stiker bertuliskan RETNO.
Tidak ada yang bicara. Tidak perlu.
***
Pintu sekret berderit pukul empat lewat. Tanto berdiri di sana dengan kemeja batik rapi yang jelas baru disetrika pagi tadi, dan di belakangnya Sinta menggandeng seorang perempuan paruh baya berkerudung putih, wajahnya lelah, tangannya mencengkeram tas kain lusuh.
“Ini Ibu Dania,” kata Tanto pelan. “Beliau ingin melihat tempat anak-anak Mapala berkumpul.”
Seluruh ruangan hening. Tika berdiri. Gilang melepas topinya.
Perempuan itu melangkah masuk dengan ragu. Matanya menyapu ruangan, dan berhenti di papan kayu dengan foto-foto kecil. Tanto menarik napas dalam-dalam.
“Bu,” katanya. “Saya mau sampaikan sesuatu yang mungkin Ibu sulit percaya. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana saya tahu. Tapi Dania pernah minta saya menyampaikannya.”
Ibu itu menatapnya.
“Dania nggak sendirian, Bu. Dia dekat Arcopodo, di tempat yang tenang. Dia nggak marah sama Ibu. Dia cuma minta Ibu berhenti menyalahkan diri karena sudah mengizinkan dia mendaki.” Suara Tanto bergetar, tetapi ia tidak berhenti. “Saya pernah mengantarnya sampai plat di Kalimati. Dia tersenyum waktu itu. Itu senyum orang yang sudah pamit baik-baik.”
Ibu Dania menutup mulut. Bahunya terguncang. Sinta menyentuh punggungnya tanpa kata, dan tangis itu pecah, pelan, panjang, seperti air yang tertahan terlalu lama. Ia mengeluarkan selembar foto dari tas kainnya: seorang gadis berambut ikal, tertawa di depan tenda, dengan ransel setinggi kepala.
“Boleh ... boleh saya taruh di sini?” tanyanya terbata. “Di sebelah anak yang satunya?”
“Boleh, Bu,” sahut Oni, cepat. “Dania itu bagian dari kita juga.”
Ia sendiri yang memakukan foto itu, di samping bingkai Retno. Dua senyum bersebelahan di papan kayu. Anto mengusap hidungnya dengan lengan baju.
“Jangan nangis, Nto,” gumam Ragil dari kursi pojok. Ia sudah di sana sejak tadi, dengan kaus bersih dan leher tanpa bekas apa pun, tenang seperti orang yang baru menyelesaikan ujian panjang. “Pipi lo tambah gede.”
“Kak Ragil, itu julid Mbak Retno!”
“Gue pinjam. Dia nggak bakal keberatan.” Ragil menyeringai tipis. “Dia sendiri yang bilang, kan, julid gue turun kelas.”
Tika tertawa dengan mata basah. Gilang merangkulnya dari samping.
“Naik gunung lagi nanti?” bisik Gilang.
“Kalau ketemu macan lagi, lo yang jadi umpan,” bisik Tika balik. “Tapi gue ikut.”
Anto mengacungkan kepalan setengah hati. Dan di sudut ruangan, Zaki, yang berdiri di sisi Oni dengan rahang masih kaku, melepaskan satu tawa pendek, lalu menutup mulutnya dengan punggung tangan, dan matanya basah.
***
Acara peringatan selesai menjelang magrib. Satu per satu orang pulang, meninggalkan sekret berbau lilin dan teh. Tanto dan Sinta mengantar Ibu Dania ke stasiun dengan pelan, dan di ambang pintu Sinta sempat menoleh pada Indri sambil tersenyum kecil, senyum orang yang punya rahasia manis dan belum siap membaginya. Tika mengedip dari seberang ruangan: sudah lihat, kan? Indri pura-pura tidak melihat apa-apa. Indri tinggal paling akhir, duduk bersila di lantai dengan selembar kertas bergaris di pangkuannya.
Ia menulis perlahan, menghapus, menulis lagi. Surat itu pendek.
Untuk Putri Jene Kumbolo. Aku sudah cerita ke teman-temanku soal kamu. Bukan sebagai penunggu. Sebagai putri yang menunggu terlalu lama. Setiap tahun aku datang membawa bunga kuning. Itu janjiku.
“Itu buat Jene?”
Zaki berdiri di ambang pintu dengan jaket tersampir di bahu. Ia tidak masuk, hanya bersandar di kusen.
“Iya.” Indri melipat kertas itu dua kali. “Aku mau ziarah ke Ranu Kumbolo tahun depan. Tanggal delapan Mei, hari kita ke puncak dulu. Bawa bunga kuning, taruh di air. Sama nama Mbak Retno.”
“Mapala bakal naik lagi. Oni udah bilang.” Zaki memandangi lantai, lalu kembali pada Indri. “Boleh aku ikut?”
Indri menatapnya sebentar. Ia tidak melihat harapan yang menuntut, hanya seseorang yang bertanya dengan sopan.
“Boleh, Kak,” katanya. “Aku malah mau.”