“8 Mei 2017, 04.50 WIB”
Ranu Kumbolo sebelum matahari terbit berwarna perak tua, dengan kabut tipis menggantung di permukaan air dan tenda-tenda kecil berjajar di tepinya seperti kancing yang lupa dikancingkan. Dingin menggigit sampai ke tulang. Oni, yang kini memakai jaket ketua dengan tulisan MAPALA UPKI di punggungnya, mengumpulkan rombongan di tepi danau dengan wajah serius yang selalu ia pakai bila gugup.
“Oke, dengar. Satu: jangan petik bunga, jangan ambil batu. Dua: jangan jalan sendirian. Tiga: ini bukan hari ulang tahun siapa pun, jadi jangan ada yang nyanyi lagu ulang tahun.” Ia menunjuk Anto. “Itu buat lo.”
“On, gue belum ngomong apa-apa.”
“Tapi lo udah buka mulut.”
Tawa pecah, kecil, hangat, dan terdengar lepas. Indri berdiri di ujung barisan dengan jaket tebal dan seikat bunga kuning di tangan, bunga liar yang ia petik di tanah milik penduduk Ranu Pani dengan izin, bukan dari gunung. Tika di sebelahnya merangkul pinggangnya erat. Gilang berdiri di belakang mereka tanpa tongkat, tegak dan bangga.
Mereka berjalan ke dermaga batu kecil di tepi air. Indri berlutut, menaruh bunga kuning itu di permukaan danau satu per satu. Selembar kertas bergaris terlipat di antara kelopaknya. Di sebelahnya Oni meletakkan secarik karton bertuliskan RETNO dengan spidol tebal, dan Ragil, tanpa bicara, menambahkan setangkai kecil di sampingnya. Julid kali ini ia simpan. Hanya bibirnya yang bergerak menyebut sesuatu yang tak seorang pun dengar.
Air Ranu Kumbolo bergetar. Sesaat, hanya sesaat, sebentuk riak kecil berwarna keemasan menyentuh bunga-bunga itu, seperti jemari yang menerima hadiah, lalu hilang.
“Dia dengar,” bisik Sinta.
“Dia selalu dengar,” sahut Indri. Dadanya hangat. “Aku cuma telat bilang.”
Zaki berdiri sedikit di belakang. Rambut gondrongnya kini dipangkas pendek, wajahnya lebih tirus dan lebih tenang. Ia menatap danau lama, lalu menepuk bahu Oni dua kali dan berjalan tanpa bicara ke arah punggung bukit di timur: Tanjakan Cinta, bukit terjal yang pendek, tempat Indri dulu mendengar mitos bodoh tentang jomblo dan tak menoleh ke belakang.
Ia mendaki. Langkahnya mantap, dan dua jari kaki kirinya yang dulu mati rasa kini pulih sebagian. Di tengah tanjakan ia tak menengok. Bukan karena mengikuti mitos, tetapi karena ia memang tak punya alasan menoleh. Di kepalanya tidak ada nama siapa pun, hanya jalan di depan dan udara dingin yang bersih, dan itu terasa baru dan ringan. Ia tersenyum.
Di bawah, Sinta menatap Tanto yang berdiri di sebelahnya, tangannya menyilang di dada, rambutnya berembun. Tanto menatap balik. Selama beberapa detik, tak seorang pun dari mereka mengatakan apa-apa, dan itu sudah cukup bagi Tika untuk menyenggol Gilang dengan siku.
“Demi keselamatan kita bersama,” gumam Tanto kikuk, “saya mau cek tali tenda.”
“Tali tendanya sudah kamu cek tiga kali, Mas,” kata Sinta lembut.
***
Akad nikah dilangsungkan pukul enam kurang sepuluh, di sebidang rumput datar menghadap danau, beralaskan tikar anyaman yang dibawa Bunda dari Lampung. Pelaminan dan janur tak dibawa. Hanya meja lipat kecil dengan seperangkat alat salat, sebutir emas dari pasar di bawah Cemoro Kembar, dan seikat bunga kuning yang sama dengan yang mengapung di air.
Seorang ustaz sepuh dari Ranu Pani duduk di sisi Ayah. Bunda duduk di sebelah Indri yang mengenakan kebaya putih sederhana dan selendang jingga di bahu. Tamu undangan pun tak ada; yang hadir hanya Mapala UPKI, Cipta dan Jaga yang berdiri di belakang dengan jubah putih dan seruling, Rangga Wesi dengan baju upacara yang kebesaran, menahan haru supaya tidak kelihatan, dan di sampingnya Nyai Laras dengan baki bunga kemuning dari pesarean, yang hari ini mengangkat wajahnya.
Arjuna duduk berhadapan dengan Ayah, tegak, mengenakan kemeja putih dan sarung yang sungguhan dibeli di toko, bukan pinjaman. Selempang merah tua ia ikatkan di pinggang. Wajahnya tegang, tetapi matanya jernih.
Cipta mencondongkan badan ke arah Jaga dan berbisik cukup keras untuk didengar semua orang. “Upacara mereka lebih singkat daripada milik kita.”
“Lebih jujur juga,” balas Jaga.
“Sudah siap?” tanya ustaz.
“Siap, Pak,” kata Ayah dengan suara serak. Bunda menyikut lengannya pelan, memberi isyarat agar jangan berpidato. Ayah tetap memandang Arjuna lama. “Setahun, Nak. Aku bilang setahun, kan? Sekarang kamu sudah tahu cara antre di kantor kecamatan.”
“Sudah, Pak.” Arjuna menelan ludah. “Mas Oni dan Mas Tanto yang mengajari.”
Ayah menarik napas panjang dan menjabat tangan calon menantunya. Suaranya bergetar di akhir, tetapi tidak patah.
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Arjuna Birawa, dengan putri kandung saya, Indri Arkadewi, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan sebutir emas, dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya Indri Arkadewi dengan mas kawin tersebut, tunai.”
Jawaban itu datang tanpa jeda dan tanpa ragu, jernih, panjang, jatuh ke atas air.
“Bagaimana, saksi?”
“Sah!” seru Oni dan Zaki serempak, dan seluruh Mapala menyusul, terdengar seperti paduan suara lapangan. Bunda menangis. Tika menangis sambil memukul-mukul lengan Gilang. Ragil mengusap matanya dengan lengan baju sambil berkata, “Debu, debu.” Pencatatan negaranya menyusul, sudah dijanjikan Oni dan Tanto untuk diurus minggu depan lewat kantor urusan agama di Malang.
Indri menatap Arjuna. Arjuna menatapnya. Dari jarak sejengkal, mereka tersenyum.
“Dulu aku berkata,” bisik Arjuna, nyaris tak terdengar, “yang terpilih tidak akan bisa kembali.”
“Itu dulu.” Mata Indri basah dan ia tertawa. “Sekarang yang datang adalah pilihan, dan yang terpilih bisa pulang. Dua-duanya. Kapan pun aku mau.”
***
Matahari terbit.
Cahaya pertama menyentuh puncak bukit timur, merambat ke permukaan danau, mengubah perak menjadi emas, lalu menyentuh wajah-wajah di tepi air satu demi satu. Burung-burung memecah sunyi. Kabut yang menggantung rendah mulai naik, menipis, terbelah pelan, helai demi helai, memberi jalan.
Di baliknya, jauh di atas lapisan awan yang menghampar putih seperti samudra tanpa pantai, berdiri atap-atap emas dan menara batu biru yang berkilau di bawah matahari. Gerbang berlapis naga dan harimau. Taman berlabirin laurel. Air terjun bertingkat. Sebuah negeri yang tidak ada di peta, dan sedang melambai pelan dari ketinggian.
Semua terdiam. Bahkan Anto berhenti mengunyah.
“Itu ... itu istana?” bisiknya akhirnya, roti jatuh dari tangannya.
“Mulut lo, Nto,” desis Tika, tetapi suaranya sendiri bergetar.
“Gue minta kopi dulu,” kata Ragil lemah. “Ini terlalu pagi buat keajaiban.”
“Itu rumahnya Mas Juna,” kata Indri pelan, tersenyum. “Dan rumahku juga. Kalian boleh datang.”
“Boleh bawa nasi kuning?” tanya Tika.
“Boleh bawa apa pun yang kamu mau.”
Indri menggenggam tangan Arjuna, atas izin yang sudah tak perlu diminta lagi, dan di sebelahnya Bunda menggenggam tangan Ayah. Angin pagi membawa bau bunga kemuning dari kejauhan sampai ke tepi Ranu Kumbolo.
Negeri di atas awan itu terlihat, utuh, tenang, dan menunggu.
TAMAT