“25 Mei 2016, 07.30 WIB”
Kemeja kotak-kotak Tanto kebesaran di pundak dan kependekan di lengan. Celana kain hitamnya berhenti dua senti di atas mata kaki, sedangkan sepatu kets yang dipinjam dari Oni sempit di ujung jari. Arjuna berdiri di teras penginapan Ranu Pani dengan kedua tangan kaku di sisi tubuh, seperti patung yang dipakaikan baju oleh orang yang tidak tahu bentuk patung.
Sinta menutup mulut dengan telapak tangan. Bahunya bergetar.
“Jangan tertawa, Ta,” bisik Tanto, padahal ia sendiri sedang menggigit bagian dalam pipinya. “Kasihan orangnya, jangan.”
“Kancingnya salah satu, Mas.” Sinta menunjuk dengan telunjuk gemetar. “Bukan cuma satu. Semua salah satu.”
Arjuna menunduk dan memeriksa kancingnya sendiri. Memang. Ia membuka dan memasangnya lagi, lambat dan teliti, seperti sedang menjinakkan makhluk halus yang lebih licik dari kerdil. Indri, yang berdiri di belakangnya dengan tas ransel kecil, ikut menggigit bibir.
“Mas Juna, kamu kelihatan bagus kok.”
“Jangan bohong, Indri.” Suaranya datar, tetapi ujung bibirnya naik. “Aku kelihatan seperti pengantin yang salah memilih hari.”
Anto muncul dari dalam penginapan dengan bungkusan nasi di kedua tangan, pipinya lebih gembul dari kemarin. Ia menyodorkan satu bungkus kepada Arjuna.
“Makan dulu, Bang. Ini nasi bungkus, bukan sihir.” Matanya berkedip nakal. “Mbak Retno bilang orang kurus nggak boleh ketemu mertua.”
Arjuna menerima bungkusan itu dengan dua tangan dan menatapnya seolah menerima pusaka. “Terima kasih, Anto. Aku akan makan sampai habis.”
“Habisin juga bungkusnya,” sela Oni dari belakang. “Kali aja enak.”
Perjalanan ke Malang memakan waktu empat jam dengan jip, truk sayur, dan angkot. Arjuna duduk di sudut angkot dengan lutut menyentuh dagu, menatap jendela tanpa berkedip. Kuda tanpa kuda. Begitu ia menyebut mobil di jalan menurun. Begitu pula sepeda motor, tiang listrik, pengeras suara di masjid desa. Indri menjelaskan satu per satu, pelan, sambil sesekali menahan tawa. Ketika angkot menikung tajam dan penumpang lain terhuyung, Arjuna refleks merentangkan lengan di depan Indri tanpa menyentuhnya, dan sopir menoleh lewat kaca sambil menahan senyum.
“Kamu jago, Mas,” kata Indri saat angkot berhenti.
“Aku murid yang baik,” balasnya serius. “Guruku sabar.”
***
Bunda dan Ayah menunggu di ruang makan penginapan sederhana di dekat alun-alun Malang. Meja bundar dengan taplak kuning, teh tubruk dalam teko kaleng, dan sepiring pisang goreng yang tidak disentuh siapa pun. Ayah mengenakan kemeja kotak-kotak terbaiknya, kancing teratas dikancingkan, kumis tipisnya dicukur rapi. Bunda duduk di sebelahnya dengan kerudung baru yang jelas baru dibeli pagi itu.
Ketika pintu terbuka, keduanya berdiri.
“Ayah, Bunda,” kata Indri, napasnya pendek. “Ini Mas Juna. Arjuna Birawa.”
Arjuna membungkuk dalam-dalam, sampai keningnya hampir sejajar pinggang. “Pak, Bu. Terima kasih telah menerima saya.”
Hening yang canggung. Bunda sudah membuka mulut untuk berkata sesuatu yang ramah, tetapi Ayah mengangkat tangan sedikit.
“Duduk,” katanya. “Beberapa hari lalu aku bilang besok kita lihat orangnya. Ternyata besoknya kamu sudah pergi berduka.”
“Maaf, Pak. Ayah saya ...”
“Aku tahu. Indri sudah cerita.” Ayah menatap cangkirnya. “Duduk.”
Mereka duduk. Ayah menuang teh sendiri, mengaduknya lambat. Bunda memandangi Arjuna dari ujung rambut ke ujung sepatu, dan tatapannya berhenti di kancing kemeja yang kini benar. Matanya melembut.
“Nak Arjuna,” kata Bunda. “Pakaian siapa itu?”
“Pinjaman dari Mas Tanto, Bu. Dan sepatunya dari Mas Oni.” Arjuna berkata jujur tanpa sadar bahwa itu lucu. “Pakaian saya sendiri bukan untuk dunia ini.”
Ayah meletakkan sendoknya.
“Apa pekerjaanmu?”
Pertanyaan itu jatuh di meja seperti batu. Indri menahan napas. Dari seberang meja Bunda menoleh pada suaminya seolah ingin menegur, tetapi tidak jadi.
“Raja, Pak.” Arjuna menegakkan punggung. “Atau akan segera begitu. Ayah saya wafat tiga hari lalu. Dan murid seorang gadis yang suka jatuh.”
Hening. Bunda mengerjap, lalu mulutnya bergetar. Ayah tidak tertawa, tetapi alisnya naik pelan, dan sudut matanya berkerut.
“Raja dari negara mana?”
“Tidak ada di peta, Pak. Tetapi ada. Putri Bapak sudah melihatnya.”
“Berapa luasnya?”
“Dari Jawa Tengah sampai Bali, kalau dihitung dengan batas lama. Penduduknya baru belajar menua, Pak. Mereka sedang belajar lapar.”
“Ayah,” kata Indri lirih. “Jangan mulai.”
“Aku cuma bertanya.” Ayah mengambil cangkirnya, menyesap sedikit, dan menaruhnya lagi. Ia menatap Arjuna tanpa berkedip. “Kamu tahu, Nak, tiga minggu lalu anakku pergi naik gunung dengan ransel dan pulang dengan kebaya. Aku nggak tanya apa-apa. Aku nggak mau tahu. Aku cuma pengin dia pulang.” Suaranya menurun. “Sekarang kamu duduk di depanku dan bilang kamu raja. Aku minta kamu jujur: apa yang kamu mau dari anakku?”
“Ayah—”
“Biar,” kata Arjuna pelan pada Indri. Ia kembali menatap Ayah. “Saya mau hidup di sisinya, Pak. Bukan sebagai pemilik, tidak sebagai ratu yang saya tempatkan di singgasana. Sebagai teman. Saya baru belajar apa itu teman dari putri Bapak.”
Ayah diam lama. Lalu ia menghela napas panjang.
“Kalau kamu membuat anakku menangis,” katanya, perlahan, setiap kata ditekan seperti paku, “aku tidak peduli kamu raja atau tukang sayur.”
“Saya memahami, Pak.” Arjuna menunduk. “Saya sudah berjanji kepada seseorang, dan Bapak boleh memukul saya kalau saya lalai.”
“Memukul itu tidak sopan.”
“Maka Bapak boleh memarahi saya sepanjang malam.”
Bunda tertawa kecil, dan itu menarik tawa tertahan dari Indri.
***
Arjuna berdiri. Ia mundur selangkah dari meja dan berlutut dengan satu lutut, kedua tangan di pangkuan, dan kepala tertunduk sopan.
“Pak, Bu. Saya datang bukan untuk membawa Indri hari ini. Saya datang untuk meminta izin, dengan hormat, agar suatu hari saya boleh meminangnya. Dan kalau Bapak dan Ibu tidak berkenan, saya akan menunggu sampai berkenan.”
Ayah memandang Bunda. Bunda memandang Ayah. Mereka bicara tanpa kata, dengan cara pasangan yang telah menikah puluhan tahun dan tidak perlu suara lagi.
“Setahun lagi,” kata Ayah.
Arjuna mengangkat kepala. Indri membuka mulut, tetapi Ayah mengangkat telapak tangan.
“Bukan karena aku nggak percaya sama kamu, Nak. Aku percaya, sebagian, dan itu sudah lebih dari yang kukira bisa kuberikan pada laki-laki yang kukenal tiga puluh menit.” Ia menarik napas. “Tapi anakku belum lulus kuliah, kamu belum tahu cara antre di kantor kecamatan, dan kalian berdua kenal satu sama lain dalam keadaan yang paling aneh di dunia: di tengah hutan, dikejar-kejar, di bawah bulan biru. Nggak ada orang yang kenal pasangannya dengan baik dalam keadaan begitu.”
“Ayah ...”
“Setahun, Ndri. Kalian kenal di dunia yang sama. Di dunia yang ada hari kerja dan tagihan listrik.” Suara Ayah serak, dan ia berpura-pura batuk. “Kalau setahun lagi kalian masih begini, aku sendiri yang jadi wali.”
Bunda tersenyum, dan matanya basah. Ia menyentuh tangan suaminya di atas taplak kuning dan tidak melepasnya.
“Setahun lagi,” ulang Arjuna pelan, seperti menerima sesuatu yang lebih berharga daripada mahkota. “Saya akan menunggu, Pak.”