“Sebentar saja, Bunda,” kata Indri. “Aku janji balik sebelum matahari tinggi.”
Bunda sudah berdiri dengan jaket Indri di tangannya, tetapi tidak menyodorkannya. Matanya yang sembab menatap kaca jendela yang kini bening lagi, tanpa kabut, tanpa wajah. Ia tidak bertanya siapa yang tadi memanggil. Ia hanya tahu, seperti semua ibu tahu hal-hal yang tak sempat dijelaskan.
“Kali ini kamu bilang dulu ke mana.”
“Ke negeri yang tadi pagi kutinggalkan. Baginda sakit, Bunda. Dia minta aku datang.” Indri meraih jaket itu dan memakainya sendiri. “Aku nggak pergi karena terpaksa. Aku pergi karena mau menemani.”
Ayah berdiri dari kursi rotannya. Semalaman ia jarang berbicara, tetapi sekarang ia menatap Indri seperti menimbang sesuatu yang berat. Ia tidak menahan. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menyampirkan syal wol ke leher Indri dan mengikatnya dua kali, rapi, seperti dulu ketika Indri kecil hendak berangkat sekolah.
“Pulang sebelum matahari tinggi,” katanya.
“Iya, Yah.”
Di bawah pinus, Arjuna sudah berdiri menunggu dengan wajah tegang. Jaga muncul sebagai pusaran kabut di antara batang-batang pohon. Indri menyusul langkah Arjuna masuk ke dalam kabut itu, dan dunia luar menipis di sekelilingnya.
***
Di taman istana, dini hari berbau kemuning dan minyak lampu. Brawijaya terbaring di atas dipan kayu di bawah pohon yang sama tempat ia menyerahkan selendang kemarin pagi. Cipta duduk bersila di kepalanya. Rangga Wesi berdiri di kaki dipan dengan kepala tertunduk, dan beberapa dayang menggenggam kendi serta kain bersih tanpa tahu harus berbuat apa.
“Datang juga,” kata Brawijaya, tersenyum, ketika Arjuna berlutut di sisinya. Suaranya tinggal bisikan. “Aku bilang jangan tunggu sampai aku sembuh, bukan jangan datang kalau aku tidak sembuh.”
“Ayahanda—”
“Antarkan aku ke Pesarean. Dengan tandu. Jangan dengan sihir. Aku ingin sampai di sana dengan cara orang biasa.” Ia menoleh pada dua dewa di kepala dipan. “Cipta. Jaga. Kalian boleh pulang ke Semeru kalau mau. Terlalu lama kalian menjaga urusan kami.”
“Kami tinggal sampai raja baru dinobatkan,” kata Cipta datar, tetapi janggutnya bergetar. “Setelah itu kami akan pulang. Atau tidak. Gunung itu sudah terbiasa menunggu kami.”
Jaga hanya tersenyum dan memainkan serulingnya tanpa meniup.
Rangga Wesi sendiri yang memimpin empat prajurit menggotong tandu. Arjuna berjalan di sisi kanan, Indri di sisi kiri, dan Cipta serta Jaga mengiringi di belakang. Mereka mendaki punggung bukit di antara pohon-pohon kemuning yang gugur kembangnya, dan tidak seorang pun berbicara. Di tengah tanjakan, tandu berguncang oleh akar. Brawijaya mengaduh kecil, lalu terkekeh.
“Maaf, Baginda!” seru salah satu prajurit.
“Jangan minta maaf. Aku seumur hidup dibawa tandu yang rata. Ini baru terasa seperti jalan.” Ia memejamkan mata, tersenyum ke arah kanopi daun. “Pelan-pelan saja. Aku tidak ke mana-mana sebelum sampai.”
Di kaki bukit, rakyat mulai berdatangan dengan lampu batu di tangan, berdiri berbaris di sisi jalan setapak tanpa dipanggil.
Pesarean masih seperti saat Indri melihatnya dulu: halaman selapang rumah, rumput dipangkas rapi, makam beralas batu putih dengan nisan setinggi lutut. Brawijaya minta diturunkan di sampingnya. Tubuh tuanya gemetar saat bersandar, tetapi tangannya meraba batu itu dengan lembut seperti mengusap rambut seseorang.
“Aku datang, Widyadari,” katanya pelan. “Terlambat, seperti biasa.”
Angin menggerakkan dahan kemuning. Indri meremas jemari Arjuna.
“Maafkan aku. Aku bersumpah melindungi, dan aku justru menyembunyikan harga yang kau bayar. Kau percaya aku akan menjaga, dan aku hanya menjaga dengan diam.” Ia menarik napas pendek. “Anak kita tumbuh baik. Ia lebih berani dariku. Ia memilih gadis yang tak mau dijadikan tambatan.” Senyumnya bergetar. “Kau pasti suka gadis itu.”
Arjuna menunduk sangat dalam, bahunya bergetar.
“Anakku.”
“Aku di sini, Ayahanda.”
“Maafkan ayahmu.” Brawijaya meraih tangannya dengan susah payah. “Aku menurut Ibumu yang melarangmu masuk kamar, dan aku tidak pernah berani mengatakan betapa ingin aku memanggilmu masuk. Aku mengira diam itu cara mencintai. Ternyata itu cara kehilangan.”
“Aku memaafkan.” Suara Arjuna pecah. “Aku sudah memaafkan sejak surat Ibunda. Aku hanya terlambat mengatakannya.”
“Kita berdua terlambat,” kata Brawijaya, hampir tertawa. “Itu mungkin warisan keluarga ini.” Ia menarik napas, lebih dangkal. “Satu nasihat lagi, Arjuna. Jangan menjadi raja yang tak boleh salah. Aku mencobanya lima abad dan hasilnya kau lihat sendiri. Dengarkan rakyatmu, dengarkan istrimu kelak, dan dengarkan dirimu sendiri ketika semuanya memintamu diam.”
“Aku akan mendengar.”
Langit di timur mulai berwarna kelabu tipis. Brawijaya menoleh perlahan pada Indri.
“Nak. Tanganmu.”
Indri menoleh pada Arjuna, dan Arjuna, dengan mata merah, mengangguk. Indri berlutut dan menaruh telapak tangannya di atas tangan keriput itu. Dingin, kering, seringan daun.
“Terima kasih telah kembali,” bisik Brawijaya. “Dan karena tidak menjadi jangkar.”
“Baginda ...”
“Jangan panggil aku begitu lagi. Aku bukan baginda siapa-siapa.” Matanya berkedip lambat. “Panggil aku ... ayah, kalau kau mau. Ayah yang tak sempat jadi ayah yang baik.”
“Ayah,” kata Indri, dan air matanya jatuh ke punggung tangan tua itu.
Jaga meniup serulingnya, pelan, nada yang sangat rendah. Dari ufuk, cahaya pertama menyentuh pucuk kemuning, emas pucat. Brawijaya memejamkan mata. Napasnya melambat. Senyum yang tadi bergetar kini diam, tenang, seperti seseorang yang menutup pintu rumah sendiri setelah perjalanan jauh.
Napasnya berhenti.
Tidak ada bunyi. Hanya seruling Jaga yang terus mengalun sampai nadanya habis sendiri. Arjuna menyentuh dahi ayahnya dengan dahinya, dan sebuah isak keluar dari dadanya, panjang, tanpa suara. Indri tidak melepas tangan Brawijaya. Ia memegangnya sampai hangat terakhir habis.
***
Siang itu rakyat mengantar jenazah dalam barisan panjang yang menuruni bukit. Tidak ada gamelan. Hanya langkah kaki dan bunga kemuning di tangan. Seorang ibu menaburkan kelopak, lalu menutup mulutnya sambil menangis. Pemuda yang membawa kendi air mengusap pipinya dengan lengan baju. Bahkan beberapa kerdil berdiri di ujung barisan, topi dari daun dilepas, kepala tertunduk.
Brawijaya dimakamkan di samping Widyadari. Cipta dan Jaga menutup liang dengan batu putih yang sama, dan di antara dua nisan itu Arjuna menaruh selempang merah tua yang baru sehari ia kenakan. Ia memandangnya sebentar, lalu mengambilnya kembali dan mengikatnya ke pinggang.
“Ayahanda menyuruhku memakainya,” katanya pada Indri, pelan. “Aku akan memakainya. Tetapi aku memintanya menjadi saksi.”
Rangga Wesi melangkah maju dan berlutut dengan satu lutut. “Hamba bersumpah setia pada Baginda yang baru.”
“Jangan panggil aku begitu dulu.” Arjuna menggeleng lembut. “Tiga hari berkabung. Setelah itu, panggil aku apa pun yang rakyat mau.”
Rangga Wesi bangkit. Setelah ragu sebentar ia bertanya pelan, “Dan Nyai Laras, Pangeran? Hukumnya masih tertangguh.”
Arjuna menoleh ke barisan paling belakang. Laras berdiri di sana dengan bunga kemuning di kedua tangan, bahunya terguncang tanpa suara. “Ibu menitipkan suratnya pada satu tangan selama sembilan tahun, dan tangan itu tidak pernah membukanya,” katanya. “Pintu itu ia buka karena takut kehilangan suaminya, bukan karena membenci kita. Aku tidak akan mengasingkan orang yang sudah dua kali dihukum oleh cintanya sendiri. Ia tetap di istana dan menjaga pesarean ini. Kalau suatu hari ia ingin pergi, pintu mana pun terbuka untuknya.”
Dari kejauhan Laras menunduk dalam-dalam, dan kelopak kemuning di tangannya jatuh satu per satu.
Mereka berdiri berdampingan sampai halaman Pesarean kosong. Daun kemuning berguguran di bahu mereka. Cipta dan Jaga masih berdiri di pintu halaman, dua sosok putih yang tidak berbicara, memandangi dua nisan yang kini berdampingan.
“Ia selalu bilang ingin istirahat,” gumam Cipta pada akhirnya, kepada siapa pun. “Kukira itu cuma kata-kata.”
“Itu bukan kata-kata,” sahut Jaga. “Itu satu-satunya hal yang ia katakan dengan jujur selama lima abad.”
Indri tidak menyeka air matanya, dan Arjuna tidak memintanya berhenti. Ketika ia mendongak, matahari sudah di atas pucuk kemuning, jauh lebih tinggi daripada janjinya kepada Ayah dan Bunda.
“Aku bilang sebelum matahari tinggi,” bisiknya.
“Mbah Resa sudah turun ke posko sejak subuh membawa kabar,” kata Arjuna. “Mereka tahu kau terlambat karena menemani yang sedang pergi. Tapi malam ini kau turun dan minta maaf sendiri. Itu bagian dari janji.”
Arjuna menunduk memandang dua nisan itu cukup lama, lalu menarik napas. “Dan itu janji yang lain, Ndri,” katanya, suaranya parau. “Sesudah tiga hari berkabung, aku akan turun menemui orang tuamu.”