Pasar di bawah Cemoro Kembar sunyi pagi itu. Gerai-gerai batik masih ditutup kain, kedai-kedai belum mengepulkan asap, tetapi di setiap ambang pintu berdiri seseorang yang melambai pelan. Ibu penjual kedai berlari kecil membawa buntalan daun pisang dan menjejalkannya ke tangan Tika.
“Untuk di jalan, Den Ayu. Nasi kuning. Masih hangat.”
“Makasih, Bu,” kata Tika dengan mata berkaca-kaca. “Ibu nggak usah repot. Ibu kan juga lapar.”
“Hamba lapar tiap pagi sekarang,” sahut perempuan itu, dan tertawa seperti belum pernah menertawakan hal sesederhana itu. “Pergilah. Sampaikan salam hamba untuk dunia.”
Mereka menaiki undakan panjang menuju dua pohon cemara besar. Gilang, yang memakai tongkat dahan dan harus berhenti tiap sepuluh anak tangga, menoleh ke belakang berkali-kali.
“Kita beneran bisa ke sini lagi, nggak sih?” bisiknya pada Tika.
“Nggak tahu.” Tika memegang lengannya. “Tapi gue mau. Gue belum sempat nanya resep nasi kuning itu.”
“Lo selalu mikirin makanan.”
“Karena makanan itu nyata, Lang. Hantu bukan.”
Arjuna berjalan di depan dengan selempang merah tua di pinggang, dan Mbah Resa menyusul di belakang, lenteranya menyala seperti biasa, tidak bergoyang. Di bawah pohon kembar itu lelaki tua itu berhenti.
“Mbah?” Sinta menoleh. “Kenapa berhenti?”
“Dua puluh tahun lebih saya lewat pintu ini hanya untuk menunggu,” kata Mbah Resa. Suaranya serak dan pelan. “Tadi malam Baginda bilang, pintu ini bukan lagi tali. Saya boleh pulang, Nduk.” Ia menyentuh batang cemara dengan telapak tangan, seperti menepuk bahu kawan lama. “Anak saya sudah tua sekarang. Sudah bercucu, barangkali. Saya ingin tahu namanya cucu saya.”
Tanto membuka mulut, menutupnya lagi, lalu menunduk dalam-dalam. “Hati-hati di jalan turun, Mbah. Biar saya yang bawakan lenteranya.”
“Lentera ini tidak butuh dibawakan,” kata Mbah Resa. “Tapi terima kasih, Nak.”
***
Siang. Ranu Tompe terbentang tenang di bawah langit yang cerah, airnya hijau pekat, tanpa kabut, tanpa riak. Garis lima langkah dari tepi air, yang dulu membuat Zaki lumpuh, kini tidak lebih dari tanah berumput biasa.
Zaki melangkah melewatinya satu kali, dua kali, hanya untuk memastikan. Tidak ada perih. Kaki kirinya masih setengah mati rasa, dua jari tetap tak merespons, tetapi tubuhnya tidak lagi menolak tanah itu.
“Sumpahmu sudah dilepas,” kata Arjuna. Ia berdiri di sisi telaga, menatap Zaki lurus. “Ayahanda sendiri yang mencabutnya semalam. Kau tamu kami sekarang. Datanglah kapan pun kau mau, dengan undangan atau tanpa.”
“Aku nggak bakal bilang aku bakal sering datang,” sahut Zaki. Ia menghela napas. “Tapi makasih.”
Mereka berdiri berhadapan sebentar. Dua laki-laki yang pernah saling menatap seperti musuh, yang satu berselempang merah, yang satu bercelana gunung bernoda lumpur. Lalu Zaki mengulurkan tangan.
“Jaga dia.”
“Dia yang menjagaku,” kata Arjuna sambil menyambut tangan itu. “Tapi akan kuusahakan menjaga yang tersisa.”
“Kalau kamu bikin dia nangis ...”
“Aku akan membiarkanmu memukulku.” Arjuna tersenyum tipis. “Aku sudah bilang.”
Jabat tangan itu singkat, kuat, dan tidak ada yang mengatakan lebih. Di belakang mereka, Tika menyikut Gilang sambil berbisik, “Lo lihat? Lo lihat? Ini bakal jadi cerita.”
“Jangan bikin gosip.”
“Gue bukan gosip. Gue dokumentasi.”
Indri berdiri di dekat dermaga batu. Tangannya merogoh saku buntalan dari Laras, mengeluarkan sepasang sarung tangan abu-abu yang sudah lusuh. Sudah kusut dan sedikit bau asap. Ia berjalan menghampiri Zaki dan berhenti satu langkah di depannya.
“Kak.”
“Dri.”
“Ini punya Kakak.” Ia mengangkat kedua tangannya. “Aku ... aku sudah bawa ini ke mana-mana. Ke istana, ke jalan pulang, ke sini lagi. Waktu dingin banget, aku pakai. Makasih banyak. Kakak selalu ada waktu aku butuh.”
Zaki menatap sarung tangan itu lama. Jemarinya tidak langsung meraihnya.
“Simpan aja kalau mau,” katanya akhirnya. Suaranya lebih lembut daripada yang pernah Indri dengar. “Tapi aku tahu kamu nggak bakal simpan. Kamu terlalu jujur.” Ia mengambilnya, menepuk-nepuk debunya, dan memasukkannya ke saku jaket. “Aku senang kamu nggak milih karena kasihan, Dri. Itu yang paling aku mau dari kamu sejak awal. Bahkan kalau pilihannya bukan aku.”
“Kak ...”
“Jangan nangis. Aku baru belajar ketawa.” Ia tersenyum, senyum miring dan jujur, yang tidak sepenuhnya baik-baik saja tetapi tidak berbohong. “Pergilah ketemu Bunda.”
Bunyi gemerisik datang dari tepi danau.
Seorang perempuan muda berdiri di sana. Jaket pendaki pucat, rambut dikuncir, kaki sedikit pincang. Hanya Indri yang melihatnya, dan Indri langsung tahu.
“Mas Tanto,” bisiknya. “Dania di sini.”
Tanto membeku. Rombongan mendadak menahan napas. Ia tidak melihat apa-apa, tetapi angin dingin yang menyentuh pipinya seperti jari ragu-ragu, dan ia melepas topinya.
“Dia bilang Mas pernah janji,” sambung Indri, matanya pada Dania. “Soal ibunya. Dia nggak minta apa-apa selain ibunya berhenti menyalahkan diri.”
“Saya ingat.” Suara Tanto parau. Ia menunduk pada udara kosong di sebelah kirinya. “Saya ingat, Mbak Dania. Saya akan temui ibu Mbak di Malang. Sebelum akhir bulan ini. Saya sendiri yang bilang. Saya janji.”
Dania tersenyum. Sebelum Tanto sempat mengedip, bayangan itu surut ke dalam angin dan tak ada lagi di tepi danau. Hanya sehelai bunga edelweis kecil yang tergeletak di batu dermaga, kering dan putih.
***
“21 Mei 2016, 20.10 WIB”
Penginapan warga di Ranu Pani malam itu penuh bau teh jahe dan sup. Bunda tidak mau melepas pelukannya sejak sore. Ayah duduk di kursi rotan dengan koran yang tak dibaca, dan setiap beberapa menit ia menoleh hanya untuk memastikan Indri masih duduk di tempat yang sama.
“Dua hari kamu pergi lagi, Bunda kira kamu nggak pulang,” kata Bunda berulang-ulang, mengusap rambut anaknya. “Kamu kurus.”
“Aku makan terus, Bunda.”
“Makan apa?”
“Bubur. Yang terlalu asin.”
Bunda tertawa di tengah tangisnya. Anto dan Oni berdesakan di ambang pintu membawa nampan, masing-masing dengan wajah sembab dan senyum yang baru belajar kembali. Ayah melirik ke jendela. Di bawah pinus di tepi lapangan, ada punggung berjaket pinjaman yang kebesaran, duduk tegak di atas batu dengan secangkir teh yang tak diminum.
“Dia masih di luar?” tanya Ayah, tanpa menoleh.
“Iya, Yah. Dia nggak mau masuk sebelum diundang.”
“Biar.” Ayah kembali ke korannya, yang masih di halaman yang sama. “Malam ini dingin. Besok baru kita lihat orangnya.”
Kemudian kabut tipis menempel di kaca jendela.
Bukan kabut malam. Kabut itu naik dari bawah, melingkar, lalu membentuk wajah yang Indri kenal: rambut sebahu, bunga di pelipis, seruling di tangan kiri.
“Jaga?” bisik Indri.
Bunda menoleh. Ayah menoleh. Tak seorang pun dari mereka melihat apa-apa, tetapi Ayah menurunkan korannya.
“Indri, Arjuna.” Suara Jaga datang tipis dari balik kaca, hanya terdengar oleh dua orang yang dipanggil. “Baginda memanggil kalian berdua sebelum fajar.”