Taman istana pagi itu berbau tanah basah dan daun laurel. Labirin Laurel Pucuk Merah yang biasanya tampak angkuh dan rapi kini berantakan oleh semalam yang panjang: ranting patah di sana-sini, satu lampu batu tergeletak miring di tepi jalan setapak. Burung-burung berkicau seolah tak tahu apa yang terjadi, dan entah kenapa itu justru terasa menenangkan.
Brawijaya menunggu di bangku batu di bawah pohon kemuning. Ia duduk dengan punggung bungkuk, rambutnya sepenuhnya putih, dan kedua tangannya yang berurat terlipat di pangkuan. Tidak ada singgasana, tidak ada mahkota. Hanya seorang lelaki tua dengan selendang tebal di bahu yang sedang memandangi embun di rumput.
“Duduklah,” katanya ketika Indri dan Arjuna berhenti di depannya. “Kalian berdua. Aku sudah terlalu tua untuk mendongak.”
Mereka duduk di bangku seberang, jarak sejengkal di antara keduanya. Arjuna memperhatikan wajah ayahnya lama.
“Ayahanda sudah makan?”
“Sudah. Roti keras, ikan asin, dan segelas air.” Brawijaya tersenyum, tipis, hampir geli. “Enak sekali. Aku tak ingat roti pernah seenak itu.” Ia merogoh lipatan jubahnya dan mengeluarkan dua benda. “Aku punya dua barang untuk kalian. Yang pertama untukmu, Anakku.”
Selempang merah tua bersulam benang emas bergambar naga. Arjuna menatapnya tak bergerak.
“Malam itu kau menaruhnya di lantai balairung,” kata Brawijaya. “Aku memungutnya sesudah kau pergi. Aku tidak berani menyimpannya di kamar, jadi kutitipkan pada Cipta, dan ia mengembalikannya ke tanganku pagi ini. Kau berkata tak sanggup menjadi pewaris sebuah kebohongan.” Ia mengangkat selempang itu. “Kebohongannya sudah selesai. Kalau sekarang kau ingin memakainya, itu bukan lagi kebohongan.”
Arjuna menelan ludah. “Aku tidak tahu apakah aku pantas.”
“Tidak ada raja yang pantas. Yang ada hanya raja yang mau bertanggung jawab.” Brawijaya menyodorkannya. “Kemarilah. Biar ayahmu yang mengikatnya, selagi tanganku masih kuat.”
Arjuna berlutut. Tangan tua yang gemetar itu melingkarkan selempang di pinggangnya, menyimpulkannya dua kali, lalu menepuk bahunya sekali. Hanya sekali. Indri memalingkan wajah ke arah kemuning supaya tidak menonton sesuatu yang bukan miliknya.
“Dan yang kedua untukmu, Nak.”
Indri menoleh. Di telapak tangan Brawijaya terlipat sehelai selendang jingga. Kainnya halus, tepinya bersulam benang keemasan, warnanya sudah lembut oleh waktu, dan ujungnya masih terlihat bekas tanah lembah yang tak pernah hilang.
“Ini ...” suara Indri tercekat. “Yang dipakai Ratu Amarawati di mulut lembah.”
“Kau melihatnya, jadi kau tahu. Ia menyuruhku menyimpannya, katanya agar kelak ada yang memakainya tanpa merasa menjadi dirinya.” Brawijaya menatap Indri lurus. “Kau bukan dia, Indri. Aku menatapmu lama di balairung hari pertama karena rasa bersalah, bukan karena mencari dia di wajahmu. Kau memilih dengan tanganmu sendiri, dan jarang ada yang melakukan itu untuk negeri ini. Terimalah sebagai tanda terima kasih, bukan sebagai warisan.”
Indri menerimanya dengan dua tangan. Kainnya hangat. Ia menempelkannya di dada sebentar, lalu melipatnya hati-hati ke dalam kebaya.
“Terima kasih, Baginda.”
“Satu pesan lagi.” Brawijaya memandang jauh ke arah pagar taman, ke arah kabut yang berubah menjadi biru muda. “Jemput orang tuamu.”
Indri terdiam.
“Aku pernah menjadi ayah yang tidak mengatakan apa yang seharusnya dikatakan,” lanjutnya pelan. “Dan aku tahu bagaimana rasanya menunggu di gerbang. Mereka sudah menunggu terlalu lama. Pulanglah dahulu, bawa mereka bicara, baru kembali dengan restu. Kau sudah mengatakannya di depan seribu orang. Sekarang katakan di depan dua.”
“Baginda sendiri?” tanya Indri pelan. Batuk kering yang ia dengar semalam kembali berputar di kepalanya. “Baginda akan baik-baik saja?”
Brawijaya tersenyum, dan senyum itu tidak berbohong.
“Tubuh ini membayar lima abad dengan cepat, Nak. Jangan menunggu aku sembuh, sebab aku tidak akan sembuh.” Ia menoleh pada Arjuna yang menegang. “Kau antar mereka pulang dahulu. Kalau waktuku tiba, Jaga akan memanggilmu. Aku ingin dibaringkan di Pesarean, di dekat ibumu. Itu saja yang kuminta.”
“Ayahanda—”
“Anakku.” Suaranya lembut dan tidak memberi ruang tawar. “Jangan merusak pagi seindah ini.”
***
Di paviliun kolam teratai, Laras sudah menunggu.
Tangannya tidak lagi terikat. Rangga Wesi berdiri dua langkah di belakangnya dengan lengan kiri dibalut kain, wajah keras seperti biasa, tetapi matanya merah oleh kurang tidur. Ketika Indri melangkah ke serambi, perempuan itu langsung bersimpuh sampai dahinya menyentuh lantai.
“Mbak Laras, jangan—”
“Biarkan hamba, Den Ayu.” Suaranya serak. “Hamba pembuka Pintu Selatan. Hamba tahu hamba tidak pantas bicara kepada Den Ayu.”
“Aku tahu,” kata Indri.
Laras mengangkat wajah dengan kaget.
“Aku sudah curiga lama. Cincin kayu itu, pintu yang selalu Mbak biarkan setengah terbuka, mata Mbak yang lari tiap aku tanya soal suami.” Indri berlutut supaya sejajar dengannya. “Aku nggak tahu alasannya. Tapi aku nggak pernah merasa Mbak jahat. Aku cuma merasa Mbak kesepian.”
Isak yang selama berhari-hari ditahan tumpah. Dengan terbata, Laras bercerita: suaminya yang tak ikut moksa dahulu, yang menunggu di tepi dunia lima abad, ditawan Sabdo Palon sebagai sandera. “Setiap kali hamba menolak, ia hilang satu malam. Hamba tak sanggup memilih antara pangeran yang hamba layani dan satu-satunya orang yang hamba punya.” Ia menunduk. “Hukum negeri ini menyebut hukuman bagi pengkhianat, Den Ayu. Hamba menerimanya.”
“Pak Rangga,” kata Indri tanpa menoleh. “Hukumannya apa?”
Rangga Wesi menegakkan bahu. “Menurut aturan, pengasingan di Pintu Selatan seumur hidup.” Ia berhenti. Lalu, dengan suara yang tidak sepenuhnya biasa: “Tetapi hukum itu ditulis untuk negeri yang tak pernah tahu rasanya memilih antara dua orang yang dicintai. Hamba menangguhkan sampai Baginda mengambil keputusan. Dan hamba akan bicara untuk meringankan.”
Laras menutup mulut dengan kedua tangan.
Di belakangnya, dari bayang pilar paviliun, muncul sosok samar lelaki tanpa wajah. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di belakang istrinya, lalu meletakkan telapak tangan di atas kepalanya, sebentar. Cahaya pagi menembus tubuhnya. Ketika Laras berbalik, sosok itu sudah menjadi butir-butir cahaya yang naik ke atap dan hilang.
“Pergilah dengan tenang,” bisik Laras. Ia tersenyum, wajahnya basah.
***
Di gerbang depan, rombongan duduk berderet di undakan batu. Tika menyuapi Gilang sepotong roti sambil memarahinya karena kakinya yang pincang. Sinta dan Tanto berbagi sebotol air tanpa saling bicara. Ragil duduk agak terpisah, tangannya tak henti meraba lehernya yang bersih, dan Zaki di sebelahnya diam saja, tetapi sesekali mengulurkan potongan buah kepadanya tanpa menoleh.
“Gue masih nunggu dia nyindir gue,” gumam Ragil.
“Dia bakal nyindir lo dari mana pun,” kata Zaki. “Makan.”
Semalam, sesudah segel terikat, Brawijaya sudah memanggil Zaki dan Mbah Resa di pelataran candi. Dengan tangan yang gemetar oleh umur barunya, ia menyentuh dahi Zaki dan melepas sumpah itu kata demi kata, lalu menyentuh lentera di tangan Mbah Resa dengan ujung jarinya. “Pintu ini tidak lagi butuh penjaga,” katanya. “Pulanglah, kalian berdua.” Zaki membungkuk dalam-dalam dan tidak sanggup berkata apa-apa.
Arjuna menunggu di tepi taman dengan selempang di pinggang. Ketika Indri tiba, ia tidak langsung bicara. Ia menengadah ke arah kabut tipis di langit yang sudah berubah warna.
“Ayahanda menyuruhku mengantar kalian keluar,” katanya. “Lewat Cemoro Kembar, bersama Mbah Resa.”
“Dan kamu?”
“Aku akan menemanimu sampai kamu bertemu orang tuamu. Setelah itu terserah kamu.” Ia menoleh. Tidak ada seringai, tidak ada wibawa pangeran, hanya seorang laki-laki yang belum tidur semalaman. “Ayo kita pulangkan dulu teman-temanmu ke dunianya.”