Lengkung cahaya itu menutup tanpa suara, dan pelataran Candi Segel lama sekali tidak bergerak.
Tidak ada yang bersorak. Kerdil-kerdil duduk berkelompok di sudut dengan lembing terletak di tanah, tidak lagi musuh dan belum menjadi apa-apa. Prajurit Rangga Wesi bersandar pada tombak. Brawijaya duduk di anak tangga paling bawah dengan jubah putih menutup lututnya, dan Arjuna bersimpuh di sebelahnya, tidak berkata apa-apa, hanya memegangi lengan ayahnya agar tidak jatuh ke samping.
Bulan biru bergeser pelan ke barat, pucat, lalu bukan biru lagi. Di timur kabut mulai berwarna keperakan. Fajar.
“Hamba lapar,” kata seorang ibu di barisan rakyat.
Ia mengatakannya bukan kepada siapa-siapa, dengan nada heran, seperti orang yang menemukan kata asing di saku bajunya. Perutnya berbunyi, keras, dan ia memegangnya dengan dua tangan sambil menatap sekeliling.
“Hamba lapar,” ulangnya. “Lima abad hamba memasak untuk anak hamba yang tak pernah makan. Hamba kira tubuh ini sudah lupa caranya.” Lalu ia menangis, bahunya terguncang. Seorang pemuda di sebelahnya ikut menunduk, menatap kedua tangannya yang gemetar kecil, menatap pemuda lain yang sedang menguap. Pelan-pelan, seperti riak di kolam, rakyat Negeri Sukma Hilang menyadari bahwa mereka mengantuk, kedinginan, dan haus.
“Lelah itu tanda hidup,” gumam Cipta, mengelus janggutnya yang basah. “Kuingat, lama sekali, rasanya seperti ini.”
“Mereka akan menua sekarang,” kata Arjuna pelan. Ia sudah berdiri di dekat Indri, matanya merah. “Akan sakit, akan kenyang, akan lupa. Akan beranak, kalau mau. Dan akan mati, seperti orang-orang di duniamu.”
“Kamu takut?”
“Sedikit.” Ia menatap rakyatnya yang saling berpegangan bahu. “Tetapi bukan pada hal yang kukira. Aku takut mereka kecewa pada pilihan kita.”
“Mereka nggak kelihatan kecewa,” kata Indri. Ibu tadi sedang disuapi roti oleh pemuda di sebelahnya sambil menangis dan tertawa bersamaan. “Mereka kelihatan lapar. Itu bagus, Mas.”
Indri tidak sempat menjawab. Sebuah tangan menyentuh sikunya.
“Dri.” Zaki berdiri di belakangnya, pucat, rambut gondrongnya lembap. “Retno minta kita ke telaga. Sekarang, sebelum matahari naik.”
***
Telaga Cermin berkilau abu-abu di bawah langit yang belum memutuskan warnanya. Bukit-bukit kecil memantul terbalik di permukaannya. Cipta berdiri di batu pipih dan berkata, tanpa diminta, bahwa fajar pertama sesudah segel baru membuat tabir antara dua dunia setipis kulit bawang. “Siapa pun yang dirindukan dan bersedia, pagi ini boleh tampak, sekali ini.”
Retno berdiri di tepi air. Jaket pendakinya lusuh, kuncirannya miring, dan kali ini semua orang bisa melihatnya, bukan hanya Zaki dan Indri. Tika langsung menutup mulut. Sinta terisak. Gilang berdiri kaku seperti prajurit yang lupa aba-aba.
“Jangan pada kayak lihat setan,” kata Retno ketus. “Aku emang setan, tapi setan yang baik.”
Tika menubruknya, lalu berhenti, tangannya menembus bahu itu. Ia menangis sambil tertawa. Retno memandanginya dengan lembut.
“Kamu sama Gilang itu bucin, tapi bucin yang bener. Jangan ditunda-tunda.” Ia menoleh. “Lang, jaga dia. Jangan sok jago waktu ada macan.”
“Siap, Mbak,” kata Gilang dengan suara pecah. “Janji.”
“Dan Mas Tanto.” Retno melambai ke arah lelaki yang berdiri agak jauh. “Demi keselamatan kita bersama, tolong jagain mereka sampai Jakarta.”
“Siap,” sahut Tanto serak, dan topinya jatuh ke tanah tanpa ia sadari.
“Sinta.” Retno mendekat. “Kamu nangis terus. Berhenti dulu. Kamu inget jalan turun ke Ranu Kumbolo? Kamu masih pegang tangan Mas Tanto sampai ujung?” Sinta menunduk merah. “Nah. Itu bukan karena takut gelap.”
Dari kejauhan, Tanto terbatuk keras dan pura-pura membetulkan topi.
“Lo.” Retno berhenti di depan Ragil.
Ragil berdiri tegak, wajah kusutnya terangkat. Tanda kuning di lehernya masih ada, pucat seperti bekas cap pos. “No,” katanya. “Gue punya julid terakhir buat lo. Yang paling bagus.”
“Keluarin.”
“Lo itu satu-satunya orang yang gue kenal ...” Suaranya patah. Ia menarik napas dalam-dalam. “Yang bisa bikin hantu minta resign.”
Hening. Lalu Retno mendengus.
“Itu bukan julid, Gil. Itu pujian. Julid lo turun kelas.”
“Kok lo yang protes?!”
“Karena gue yang paling kenal julid yang bener.” Retno menyentuhkan telunjuknya yang tembus ke tanda di leher Ragil, dingin, ringan. “Nih, julid gue yang terakhir: setelah gue pergi, bakal ada cewek yang beneran naksir lo dan lo nggak bakal ngerti. Karma.”
Ragil tertawa, dan tawa itu langsung menjadi tangis. Tanda kuning di lehernya memudar, seperti tinta yang dihapus air, dan hilang. Ia menyentuh lehernya dengan tangan gemetar. Kulitnya bersih.
“Gue ... gue bilang ke Indri buat nyampein ini,” katanya sambil terisak. “Dia janji.”
“Dia nepatin janji.” Retno tersenyum. “Dia selalu nepatin.”
Terakhir ia berdiri di depan Zaki. Cukup lama tak seorang pun bicara.
“Ki.”
“No.” Zaki tersenyum, rapuh, dan sedetik kemudian wajahnya runtuh. “Gue ... gue ketua yang gagal.”
“Lo ketua yang bawa mereka pulang.” Retno menggeleng. “Dan jangan diem-dieman, Ki. Ketawa dong. Gue nggak mau pergi lihat lo kayak patung.”
Zaki memaksakan tawa pendek, parau, jelek sekali. Retno menyeringai. “Nah. Gitu. Jelek, tapi lumayan.” Ia melambai pada semuanya, lalu pada Indri, yang berdiri agak jauh dengan Arjuna dan tak berani bicara. “Ndri. Makasih udah balik.”
Tubuhnya menipis. Di permukaan telaga yang terbalik, jalan putih naik dari tepi air menuju kabut, dan ia melangkah ke sana tanpa menoleh.
***
“21 Mei 2016, 05.40 WIB”
Anto duduk di tangga posko sejak subuh dengan jaket membungkus lutut. Oni di sebelahnya memegang gelas teh yang sudah dingin. Mereka tidak bicara. Mereka sudah tidak bicara dari semalam.
“Gue takut, On,” kata Anto akhirnya, tanpa menoleh. “Takut Kak Zaki nggak balik. Takut Indri nggak balik. Takut gue duduk di sini bertahun-tahun sambil mikir ‘andai tangan gue lebih panjang’.”
“Mereka balik,” kata Oni. “Zaki itu keras kepala. Dia nggak bakal ninggalin kursi ketua di tangan gue.”
Anto hampir tersenyum.
“Nto,” kata Oni tiba-tiba. “Lihat.”
Di arah barat daya, ke arah Ranu Tompe, awan yang menggantung menutup puncak pegunungan sejak berhari-hari mulai terbelah. Tidak karena angin. Seperti tirai ditarik dari dua sisi. Dari celah itu turun sinar yang membentuk jalan, lurus dan lebar, menyentuh lereng bagian atas, mengilap di pucuk pinus.
Dan di anak tangga paling bawah, berdiri seorang perempuan berjaket pendaki.
“Mbak Retno?”
Oni tidak melihat apa-apa. Ia hanya melihat wajah Anto yang berubah. Anto berdiri, jaketnya terlepas dari lutut. Air matanya sudah jatuh sebelum ia sadar.
“Nto,” kata Retno. “Kamu udah narik Mbak sekuat kamu. Kamu nggak salah.”
“Mbak, aku ... aku ...”
“Jangan nangis. Mbak nggak tahan lihat kamu nangis, pipi kamu tambah gede.” Retno tertawa kecil. “Makan yang bener, ya. Kamu kurus nih. Sana.”
Ia menunjuk dagu ke arah bawah, dan sosoknya larut dalam cahaya pagi seperti butir embun terkena matahari.
Anto jatuh terduduk, dan Oni, tanpa bertanya apa pun, memeluk bahunya erat-erat.
Di dalam posko, dekat jendela, Bunda berdiri dengan kedua tangan terkatup. Ia tidak melihat Retno, tetapi ia melihat jalan cahaya itu. Bibirnya bergerak. Doa yang ia ucapkan bukan untuk dirinya sendiri, bukan pula untuk anaknya, dan ketika cahaya itu pelan-pelan memudar di ujung lereng, ia masih berbisik.
“Dia nyuruh gue makan, On,” isak Anto di tangga luar, separuh tertawa. “Mbak Retno. Dia nyuruh gue makan.”
“Ya udah.” Oni mengusap wajahnya dengan punggung tangan. “Ayo makan. Gue traktir bubur ayam.”