Tubuh Sabdo Palon membesar.
Bukan dengan bunyi, melainkan dengan bayangan. Jubah kuning keemasannya menggelembung, naik, membengkak menjadi sosok setinggi pohon beringin yang menutupi separuh bulan biru. Wajahnya tinggal dua lubang hitam dan sebuah mulut yang terbuka lebar. Cahaya hitam dari kedua tangannya menghantam mandala berkali-kali, dan tiap hantaman membuat retakan di cincin-cincin pelataran menjalar sejengkal.
“Mas!” Indri masih berlutut dengan telapak tangan menempel di cekungan. Batu di bawah jarinya berdenyut liar. “Aku nggak bisa lepas, nanti segelnya kosong!”
“Tidak usah lepas.” Arjuna sudah berdiri di atas tubuhnya, keris terhunus, punggungnya menjadi dinding antara Indri dan bayangan itu. Ia tidak menyentuh bahunya, tidak menariknya, hanya berdiri di sana. “Aku di sini. Tak ada yang lewat selama aku masih bernapas.”
Bayangan raksasa itu merunduk. Dari lubang mulutnya keluar suara yang menggetarkan lantai.
“Ratusan tahun menunggu! Dan kau menukar diri dengan janji-janji kecil ini?”
“Hei.”
Satu kata, cempreng, ketus. Bayangan itu terdiam.
Retno berdiri di depan Indri dan Arjuna, di jalur lurus antara mandala dan mulut raksasa itu. Jaket pendaki lusuh, rambut dikuncir asal, kedua tangan di pinggang. Ia kecil sekali dibandingkan bayangan di atasnya, tetapi dagunya terangkat setinggi biasanya. Zaki melangkah ke sisinya dengan tongkat di tangan. Napasnya berat. Matanya merah.
“Lo bisa lihat gue, kan?” kata Retno. “Pasti bisa. Lo yang paling lama nyimak malam ini.”
Bayangan itu mengerut, perlahan, seperti air surut. Sabdo Palon berdiri lagi sebagai lelaki pendek gemuk berjubah kuning yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca penuh amarah. “Anak hamba Jene.”
“Retno. Nama gue Retno.” Ia menunjuk dadanya sendiri. “Dan lo yang nyuruh mereka dorong gue.”
Hening. Cahaya hitam di tangan Sabdo Palon meredup sendiri.
Indri bisa melihat kerdil-kerdil di barisan depan bergeser gelisah. Mereka mengenal kalimat itu. Mereka mengenal perintahnya.
“Ya,” kata Sabdo Palon.
Tidak ada kelit. Tidak ada senyum sinis. Ia hanya menjawab, dengan suara datar dan lelah.
“Aku yang memerintahkan. ‘Pisahkan yang satu dari yang lain, singkirkan siapa pun yang berdiri di jalan.’ Kerdil-kerdilku mengikuti. Aku tidak tahu namamu, aku tidak bertanya, dan itu tak pernah mengganggu tidurku.” Ia menelan ludah. “Aku tidak punya alasan yang pantas kau dengar. Kau tidak punya urusan dengan dendamku. Kau hanya perempuan yang kebetulan berdiri di tempat itu.”
Retno mengerjap. Matanya berkilat, dan untuk beberapa tarikan napas ia tidak mengatakan apa-apa.
“Gue disuruh ngelayanin meja di dapur ikan, belasan hari,” katanya akhirnya, pelan. “Lupa cara tidur, lupa cara marah. Anto nggak bisa tidur sejak malem itu. Zaki yang nutupin mata gue. Lo tahu itu?”
“Aku baru tahu.”
“Gue ketuanya.” Suara Zaki parau, nyaris tak terdengar. Ia tidak menatap bayangan itu, ia menatap Sabdo Palon yang sudah mengecil. “Gue yang turun ke ceruk dan nemuin dia dingin. Gue yang bilang ke anak-anak, ‘tenang, kita pulang bareng’. Lo ngerti? Gue udah nggak bisa nepatin kalimat itu.” Tongkatnya gemetar di genggamannya. “Jadi sekarang gue cuma mau lo dengerin dia. Bukan gue. Dia.”
Retno menoleh sekilas pada Zaki, sekilas saja, lalu kembali pada Sabdo Palon.
“Gue belum maafin lo,” katanya. Suaranya bergetar dan ia tidak menyembunyikannya. “Mungkin nggak akan. Tapi gue juga nggak mau pergi sambil nenteng benci lo. Berat banget, Pak. Tas gue di gunung aja udah cukup berat.”
Tanto di belakang mereka mengusap mata dengan punggung tangan. Di tepi pelataran, nyaris tersembunyi di antara rakyat, Jene berdiri sendirian dengan cangkang kosong di dadanya dan tidak berkata apa-apa.
“Kakang.”
Brawijaya telah berdiri di sana. Entah sejak kapan. Arjuna dan Rangga hendak menahan, tetapi ia menggeleng. Rambut putihnya tergerai, tubuh tuanya bersandar pada tongkat yang dipinjamkan seorang prajurit, tetapi ia berjalan tegak menembus pecahan cahaya hitam.
“Kakang, maafkan aku,” katanya. “Bukan karena pintu itu saja. Karena aku membiarkan kau menjadi seseorang yang memerintahkan hal seperti itu, dan aku tidak ada di sana untuk mencegahnya.”
Sabdo Palon membuka mulut, dan yang keluar hanya bunyi serak. Lututnya goyah, kemudian tertekuk. Ia jatuh berlutut di cincin cahaya yang tadi hendak ia hancurkan, dengan kedua tangan menutupi wajah.
“Hamba lelah,” katanya. Kata ganti itu berganti dengan sendirinya. “Hamba lelah, Gusti.”
***
“Sekarang,” kata Cipta.
Jaga mengangkat seruling lagi. Satu nada, panjang, naik. Mandala yang semula retak dan bergetar menyala dari pusat ke tepi. Cahaya mengalir bukan hanya dari cekungan di bawah jari Indri, tetapi dari setiap cincin tempat seorang rakyat berdiri. Pedagang, ibu kedai, prajurit tua, Rangga Wesi, Laras yang terikat. Cahaya mereka naik bersama, mengalir ke satu pusat.
“Mas Juna.” Indri menoleh. Matanya basah. “Bisa kamu taruh tanganmu di sini? Cuma kalau mau.”
Arjuna berlutut di sisinya. Tanpa kata ia menaruh telapak tangan di samping jari Indri, tidak bersentuhan, hanya berdekatan, dan dari jarak sejengkal itu cahaya keduanya menyatu. Biru dan keemasan. Segel baru bukan lagi beban yang menindih punggung. Indri merasakannya seperti tahlilan di posko, ringan karena dipikul banyak orang, hangat karena tak seorang pun dipaksa. Tiang cahaya dari dua arca meledak ke atas dan tersebar ke seluruh kabut seperti jaring yang dilempar ke langit.
Retakan menutup. Garis-garis hitam bekas asap memudar. Di atas, kabut yang tadi bergetar menjadi tenang, putih, utuh. Kerdil-kerdil menjatuhkan senjata satu demi satu. Salah satunya, yang tadi menunduk menatap lembingnya, mulai terisak seperti anak kecil.
Di cincinnya, Laras menutup mata. Ikatan di pergelangannya mengendur sendiri, entah oleh segel entah oleh Rangga Wesi yang tak lagi menahan tali. Di belakangnya, samar, ada bayangan seorang lelaki yang tidak punya wajah dan tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, tidak mendekat, seolah menunggu sesuatu yang belum waktunya.
“Kami ... kami masih di sini,” bisik seorang pemuda di barisan rakyat, memandang telapak tangannya yang bergetar. “Kenapa terasa lelah?”
“Karena kita sedang pulang,” kata Cipta dari undakan, suaranya parau. “Dari lima abad yang bukan milik kita.”
***
Brawijaya menyambut Sabdo Palon yang rebah ke arahnya. Ia menahan berat tubuh pendek gemuk itu dengan kedua lengan tuanya, terhuyung, hampir jatuh, tetapi tidak melepaskan.
“Aku datang terlambat lima abad,” kata Brawijaya.
“Lima abad dua puluh tahun,” balas Sabdo Palon, dan tertawa kecil, tawa patah seorang kakek yang akhirnya diperbolehkan lelah. “Aku menghitungnya setiap malam.”
“Pintu itu terbuka malam ini, Kakang. Aku sudah meminta Cipta.” Brawijaya menoleh. Di ujung pelataran, lengkung cahaya putih terbit pelan dari udara, sama dengan yang pernah menutup di mulut lembah. “Kali ini aku akan menahannya sampai kau masuk.”
Sabdo Palon menatap lengkung itu lama. Tanda hitam di bawah matanya memudar. Amarahnya, yang selama lima abad menjadi tulang punggungnya, meluruh seperti garam di air. Ia memegang tangan Brawijaya dan menekannya ke dadanya sendiri.
“Hamba pamit, Gusti.”
“Silakan, Kakang.”
Tubuhnya menjadi cahaya, tidak meledak, tidak berteriak, hanya menipis seperti kabut ditiup pagi, butir demi butir. Retno, dengan mata basah, mengangkat tangan dan melambai kecil seperti kepada sopir yang mengantarnya turun di terminal. Kerdil-kerdil berlutut dan menunduk. Cahaya itu melayang ke arah lengkung putih dan masuk dengan tenang, tanpa menoleh.