“Aku akan membukanya.”
Brawijaya mengatakannya sebelum bulan sempat bergeser selebar jari, dan kalimat itu membuat seluruh pelataran tersentak. Prajurit menoleh. Rakyat saling pandang. Cipta di atas undakan menutup mata, seolah baru mendengar hal yang sudah ia tahu akan datang dan tetap berharap tidak.
“Tetapi tidak seperti yang kau minta, Kakang,” lanjut Brawijaya. “Segel itu tidak akan kuhancurkan. Kalau kuhancurkan, orang-orang ini mati dalam semalam, sebab lima abad mereka bertumpu padanya. Aku akan membukanya, mengganti pengikatnya, dan keluar.” Ia berhenti sebentar. “Bukan dengan kaki. Dengan melepas apa yang kutahan selama ini.”
“Kau bicara teka-teki,” desis Sabdo Palon.
“Kau akan melihatnya sendiri.” Brawijaya menoleh pada dua dewa di undakan. “Cipta. Jaga. Mulailah.”
Jaga mengangkat serulingnya dari tangan kiri. Satu nada panjang keluar, rendah dan bergetar, dan Cipta menghentakkan ujung jubahnya ke batu tepat di tengah pelataran. Lantai itu terbuka seperti kelopak. Dari lubang bundar yang menganga naik cahaya biru keemasan, merayap lewat tujuh puluh tujuh anak tangga yang gelap, lalu meluber ke seluruh lantai pelataran. Cincin demi cincin. Garis demi garis. Mandala yang selama ini tersembunyi di bawah tanah kini terhampar di bawah kaki seribu orang, dengan retakan halus yang menjalar dan satu cekungan sebesar telapak tangan di pusatnya.
“Satu janji tiap orang,” kata Cipta nyaring, “diucapkan dari cincin tempatmu berdiri. Segel mencatatnya. Janjikan dengan jujur, sebab ia mengingat setiap kata.”
Hening sesaat. Lalu seorang lelaki pedagang berbaju sederhana melangkah ke cincin terdekat, tangannya memeluk topinya.
“Hamba pedagang gerai batik,” katanya, suara goyah. “Hamba berjanji tidak menutup mata pada tetangga yang kesusahan, sebab selubung ini dahulu ditegakkan agar kami tidak sendirian.”
Cahaya di bawah kakinya berdenyut sekali. Retakan di cincin itu menyempit seujung kuku.
Seorang ibu penjual kedai menyusul, yang dulu memanggil Arjuna “Raden” di pasar. “Hamba berjanji memasak untuk siapa pun yang lapar, entah kerdil entah bukan, sebab perut lapar tidak pernah jahat sendirian.” Satu prajurit tua. Seorang perempuan dengan bayi boneka kayu di gendongan. Pemuda yang tangannya masih menghitam oleh asap. Satu demi satu mereka maju, satu demi satu cincin menyala, dan di atas, di antara kabut yang menjadi langit, garis-garis retak mulai memucat.
Rangga Wesi turun dari barisan dengan bahu kiri masih berdarah. “Hamba berjanji menjaga hukum dan menjaga yang menjalankannya, sebab pedang tanpa janji hanyalah besi.”
Dua prajurit lain menuntun Laras ke cincin terakhir, kedua tangannya masih terikat. Wajahnya pucat. Ia menatap lantai, tidak berani menatap siapa pun.
“Hamba ...” suaranya putus. “Hamba berjanji tidak lagi membuka pintu yang bukan milik hamba, sekalipun yang menunggu di baliknya orang yang hamba cintai.”
Cahaya di bawah kakinya berdenyut, ragu, dan akhirnya menyala. Satu isak keluar dari barisan dayang.
“Janji,” kata Sabdo Palon dari tempatnya, dengan tangan terlipat di balik jubah. Senyumnya tipis dan getir. “Lima abad lalu kau juga berjanji, Gusti. Berjanji melindungi, berjanji tidak meninggalkan.”
“Karena itu kali ini bukan hanya aku yang berjanji,” sahut Brawijaya. “Yang dulu kupikul sendirian, sekarang dipikul banyak punggung. Itu bedanya, Kakang. Hanya itu, tetapi itu besar.”
Sabdo Palon tidak menjawab. Rahangnya bergerak, dan di sebelahnya seekor kerdil mengangkat lembing setengah jalan, melirik tuannya, lalu menurunkannya lagi.
Arjuna maju ke cincin yang masih kosong di dekat undakan. Ia berdiri tegak, udeng merah tuanya rapi, dan suaranya tidak sekeras biasanya.
“Aku Arjuna Birawa, putra Ayahanda dan Ibunda Widyadari,” katanya. “Aku berjanji tidak akan pernah membiarkan seseorang menjadi jangkar sendirian, tidak ibuku, tidak istriku kelak, tidak siapa pun. Dan bila aku lalai, biarlah negeri ini mengingatkan aku.”
Cincin di bawah kakinya menyala biru terang. Indri menelan ludah. Ia sengaja tidak menatap lelaki itu agar tidak menangis di depan seribu orang.
***
“Indri.” Cipta menatapnya dari undakan. “Sekarang cekungan itu, Nduk.”
Jantung Indri memukul-mukul. Ia menunduk menatap jarinya. Setetes cahaya merah keemasan yang tadi dikembalikan Jene masih menempel di sana, hangat, berdenyut pelan seirama napasnya. Darahnya sendiri. Darah yang pernah diminta dengan paksa dan ditukar dengan sebuah nyawa, dan kini ia membawanya sendiri ke pusat segel.
Arjuna berdiri setengah langkah di belakangnya. “Boleh aku berjalan di sampingmu?”
“Boleh.”
Mereka melintasi cincin-cincin yang bergemeretak lembut di bawah sandal. Tika menggenggam tangan Sinta begitu erat sampai buku jarinya memutih. Zaki berdiri kaku, dagu terangkat, dan Retno di sisinya tidak lagi melipat tangan.
Di tepi cekungan Indri berlutut. Batu itu dingin, jauh lebih dingin daripada yang ia bayangkan, dan lebih kecil. Seluruh negeri ini bergantung pada sebuah lekuk seukuran telapak tangan.
“Ini kuberikan,” katanya, tidak tahu pada siapa. Pada segel. Pada Widyadari. Pada perempuan di penglihatan yang berkata hamba bukan meminta izin. “Bukan karena aku dipaksa. Bukan karena aku dijanjikan apa-apa. Karena aku mau.”
Ia menyentuhkan ujung jari ke cekungan. Tetes itu merembes ke batu seperti air ke tanah kering.
Dunia berhenti sekejap. Lalu pusat mandala menyala putih dan dari sisi kiri dan kanan cincin terluar naik dua bentuk, perlahan, dari batu yang terbuka sendiri. Satu sosok berlutut dengan penutup kepala dari kulit hewan. Satu lagi berdiri dalam kain batik panjang, dadanya terbuka, wajahnya penuh welas asih. Dua arca. Indri mengenali keduanya dengan seluruh tubuhnya, sebelum otaknya sempat menyebut nama. Arcopodo. Dini hari dingin, napas berkabut, tangan Zaki menariknya mundur.
Ksatria itu mengangkat kepala. Batu bergerak seperti kain. Ia bangkit dari lututnya, pelan, setelah lima abad berlutut, dan berdiri menghadap perempuan di depannya. Perempuan itu mengulurkan tangan. Keduanya menyatu, bukan bertabrakan, melainkan melebur seperti dua nyala lilin yang didekatkan, dan menjadi satu tiang cahaya yang melesat dari pusat mandala menembus kabut.
Retakan di langit-langit negeri bergetar. Beberapa merapat. Yang lain bertahan.
“Belum selesai,” kata Cipta. “Pengikat utama.”
***
Brawijaya melangkah ke pusat mandala. Tidak ada yang menahannya kali ini. Ia berlutut di sisi cekungan yang kini bersinar, membuka kedua telapak tangan, dan memandang Arjuna, lama.
“Ayahanda?” suara Arjuna pecah.
“Aku menahan banyak hal, Anakku. Terutama diriku sendiri.” Brawijaya tersenyum. “Dengan ini aku melepas yang paling lama kupegang.”
Jaga meniup seruling. Cahaya keemasan naik dari dada Brawijaya, keluar seperti napas panjang yang tertahan lima abad. Rambutnya memutih seluruhnya. Kerut bermunculan di pelipis dan punggung tangan, bahunya turun, jubahnya kebesaran. Hanya dalam dua tarikan napas, ia menjadi orang sangat tua. Namun wajahnya tidak merintih. Ia mengembuskan napas pendek, hampir tertawa.
“Ah. Jadi begini rasanya lelah.”
Dan tepat saat itu, Sabdo Palon berteriak.
“Tidak!”
Ia menyaksikan lelaki yang dulu ia kejar hingga tiga langkah dari pintu menua di depan matanya, menjauh ke tempat yang tak bisa dituju orang yang masih abadi. Wajah bulatnya pecah. “Kau pergi lagi! Kau mau pergi lagi dan meninggalkanku sendirian!”
Ia merentangkan kedua tangan. Cahaya hitam melesat dari telapaknya menghantam mandala. Lantai berderak. Seluruh cincin berkedip. Dan dari balik tubuhnya, kerdil-kerdil menjerit serentak dan menyerbu.
“Pertahankan cincinnya!” teriak Rangga. “Jangan biarkan satu pun menginjak garis cahaya!”
Gubrak! Seekor kerdil menghantam bahu Tanto, dan lelaki itu terhuyung sebelum membalas dengan sapuan tongkat trekking yang membuat tiga lawannya terjungkal. Zaki melompat ke depan Indri. Kaki kirinya yang setengah mati rasa menyeret di batu, tetapi tongkatnya memutar rapi, menangkis tombak, mendorong, memukul.
“Ki, di kiri lo!”
“Tahu!” Zaki menjatuhkan satu kerdil lagi. Napasnya kasar. “Ndri, jangan lepas tangan dari batu itu sampai segelnya selesai!”
“Aku nggak lepas!”
Di dekat telinga Zaki, suara cempreng yang hanya dia dengar mendengus. “Bagus. Akhirnya lo sadar siapa yang di sini paling berguna. Kiri lagi, Ki. Kiri!”
Zaki menunduk, tombak lewat sejengkal di atas kepalanya, dan ia hampir tertawa. Hampir. Di sekeliling mereka, cincin-cincin cahaya bergetar kena hantaman hitam Sabdo Palon, dan malam pecah lagi.