Sabdo Palon mengangkat satu tangan. Hanya satu, dengan jari-jari gemuknya terbuka.
Kerdil-kerdil berhenti. Lembing yang sedang terayun tertahan di udara, obor yang sedang diacungkan tidak lagi bergoyang, dan lolongan yang tadi memekakkan telinga putus di tengah napas. Prajurit Rangga Wesi tidak berani menurunkan tombak, tetapi tidak ada yang berani menyerang lebih dulu. Pelataran Candi Segel mendadak sunyi. Hanya api obor yang berderak kecil dan bulan biru yang menyorot lurus dari atas.
Indri mencengkeram lengan baju Arjuna. Arjuna sudah menggeser kerisnya ke depan, setengah menutupi tubuhnya, tetapi Sabdo Palon bahkan tidak melirik mereka. Matanya tertuju pada satu orang saja.
“Turunlah, Gusti,” katanya. “Aku tidak mau bicara dengan leher pegal.”
Brawijaya menuruni undakan candi satu demi satu. Jubah putihnya menyapu batu, langkahnya pelan, bahunya bungkuk, dan Cipta yang hendak menahan lengannya dihentikan dengan satu isyarat tangan. Ia berhenti enam langkah dari Sabdo Palon. Dua lelaki tua berdiri berhadapan di bawah bulan, yang satu pendek gemuk berjubah kuning, yang satu tinggi dan kurus berjubah putih. Seribu orang menonton, dan tak seorang pun berani batuk.
“Lima abad,” kata Sabdo Palon. Suaranya tidak keras. Justru itu yang membuat bulu kuduk Indri berdiri. “Lima abad lebih. Kau tahu apa yang kulakukan pada hari pertama?”
“Katakan.”
“Duduk. Di depan batu lengkung di lembah itu, tempat pintumu menutup. Aku memukulnya sampai kulit tanganku terkelupas, lalu aku duduk dan menunggu pintu itu membuka lagi.” Ia tersenyum, senyum yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan gembira. “Tiga puluh hari. Lalu tiga puluh tahun. Aku duduk sampai kerajaanmu jadi cerita, sampai namamu dipakai orang untuk menakut-nakuti anak yang tak mau tidur. Aku belajar membencimu, Gusti, karena membenci jauh lebih ringan daripada menunggu.”
“Aku melihatmu berlari, Kakang.”
Sabdo Palon terdiam.
Kata itu, Kakang, jatuh di pelataran dan tak ada yang bersuara. Indri melihat bahu lelaki gemuk itu bergerak, hanya sekali.
“Aku melihatmu,” ulang Brawijaya. “Dari dalam cahaya itu, aku menoleh. Jubah kuningmu robek, tanganmu terulur, kau memanggilku. Pintu itu belum rapat, Kakang. Tiga langkah. Cukup satu orang berhenti dan berbalik, maka ia akan tetap terbuka cukup lama.”
“Dan kau tidak berhenti.”
“Aku tidak berhenti.” Brawijaya mengatakannya tanpa menutup mata, tanpa menunduk. “Aku punya alasan, dan alasan itu bagus, dan aku sudah mengulangnya kepada diriku sendiri selama lima abad. Di belakangku ada ribuan orang yang percaya padaku. Kau menawarkan dua ribu orang untuk menahan gerbang, dan aku tahu bagaimana akhir perang yang kau tawarkan. Aku takut kau menyeret perang ke tempat yang kujanjikan sebagai damai.”
“Itu alasan.”
“Itu alasan,” Brawijaya setuju. “Yang sebenarnya lebih jelek. Ketika kulihat kau berlari, ada sesuatu dalam diriku yang lega, Kakang. Lega karena pintu itu menutup dan aku tak perlu memutuskan. Aku memilih ketenangan ribuan orang di atas seorang sahabat, dan sebagian diriku bersyukur karena pilihan itu diambilkan oleh waktu.” Suaranya serak. “Aku tidak bisa membela itu. Aku hanya bisa menanggungnya, dan sudah.”
Tika meremas lengan Gilang sampai pemuda itu meringis. Di balik tabir air mata, Sinta menunduk. Dan Indri, yang pernah melihat sendiri lelaki gemuk itu berlari menuju pintu yang menutup, merasa matanya panas. Raja ini tidak sedang memohon. Ia hanya menaruh dosanya di tanah, di depan kaki orang yang dirugikannya.
“Selama ini kukira dia cuma nama,” desis Arjuna di dekat telinganya. Rahangnya tegang. “Penjahat dalam peringatan yang diulang-ulang sebelum tidur. Cuma pernah kudengar ia ‘sahabat lama’ Ayahanda. Tak pernah ada yang bilang sedekat kakak angkat.”
“Mas, jangan maju dulu,” balas Indri pelan. “Dengerin sampai habis. Ini bagian yang nggak pernah ada di dongeng.”
“Aku mendengar.” Genggaman Arjuna pada hulu keris tidak mengendur, tetapi kakinya tetap di tempat. “Hanya saja, mendengar tidak berarti aku rela.”
Di sudut pelataran, Rangga Wesi mengangkat dagu kepada prajuritnya. Tombak-tombak tidak diturunkan, tetapi barisan berhenti merapat. Seorang kerdil di barisan depan, yang tadi berteriak paling lantang, menunduk menatap lembingnya sendiri seperti baru sadar benda itu berat. Rupanya bukan hanya Indri yang sedang menahan napas. Pasukan Sabdo Palon pun menunggu kata-kata tuannya, dan dari wajah buruk mereka terlihat bahwa kata-kata itulah yang selama ini membuat mereka bertahan.
***
“Gue nggak suka orang itu,” bisik Retno.
Zaki tidak menoleh. Ia berdiri dengan tongkat prajurit di tangan, kaki kirinya masih setengah mati rasa, dan di sisinya sosok berjaket pendaki lusuh itu bersedekap, pucat, tembus pandang di bawah cahaya bulan. “Gue juga nggak,” balas Zaki nyaris tanpa suara.
“Tapi gue dengerin.” Retno memiringkan kepala. “Lo lihat mukanya, Ki? Itu bukan muka orang yang menang. Itu muka orang yang nunggu lima ratus tahun buat dibilang ‘aku salah’, dan sekarang dibilangin, dia nggak tahu mesti ngapain tangannya.”
Di belakang mereka, Ragil mengerang rendah. Tanda kuning di lehernya berdenyut, merah jambu lalu kuning lagi seperti lampu rusak, dan tangannya yang terikat syal menegang. Gilang cepat-cepat memegang bahunya.
“Kak, tahan. Lihat gue. Lihat muka gue yang jelek ini.”
“Jelek banget,” desis Ragil, giginya beradu. “Itu ... bagus. Teruskan.”
“Demi keselamatan kita bersama, jangan bergerak,” bisik Tanto, tangannya sudah di ubun-ubun Ragil, bibirnya menggumamkan doa yang sama sejak senja.
Memang begitu. Tangan Sabdo Palon, yang tadi terangkat tegas, kini menggantung di sisi jubah dan jari-jarinya bergerak sendiri, membuka dan menutup. Mulutnya terbuka. Tertutup. Terbuka lagi.
“Kakang,” ulangnya pelan, hampir seperti bertanya pada udara. “Sudah lama tak ada yang memanggilku begitu.”
“Kau tetap kakangku.”
Seluruh pelataran menunggu. Sesaat, hanya sesaat, Indri melihat sesuatu goyah di wajah bulat itu. Bahunya turun, dan ia seperti hendak bersujud. Gusti, bisiknya tanpa suara, dan Indri membaca kata itu di bibirnya, bukan Gusti yang sinis, melainkan Gusti yang dulu ia pakai dalam balairung berasap, ketika ia masih orang yang percaya.
Lalu rahangnya mengeras.
“Maaf,” kata Sabdo Palon. Ia meludahkan kata itu. “Maaf itu murah, Gusti. Kau bisa mengucapkannya seratus kali malam ini, dan tak satu pun mengembalikan lima abad yang kuhabiskan di depan batu itu.” Ia melangkah maju satu langkah, dan kerdil-kerdil di belakangnya ikut bergeser seperti bayangan. “Kau menutup dunia di balik kabut dan menyuruh semua orang lupa. Kau tinggal di sini, hidup abadi, sementara aku menunggu di luar sendirian. Maka dengarkan tuntutanku.”
Arjuna mencengkeram hulu kerisnya.
“Buka segel itu,” kata Sabdo Palon. “Buka dengan tanganmu sendiri, di depan rakyatmu, di bawah bulan yang kau banggakan. Lalu keluarlah ke dunia yang kau tinggalkan dan hadapi apa yang tumbuh tanpa kau. Kalau kau berani berdiri di sana seperti aku berdiri lima abad, aku akan menyuruh pasukanku pulang.”
Ia menengadah. Bulan biru tepat di atas kepalanya.
“Kalau tidak, sebelum bulan itu bergeser selebar jari, aku sendiri yang akan menyobek selubungmu.”