“Jangan khawatir, Gusti,” kata Sabdo Palon sambil menyibak lengan jubahnya. “Aku bukan datang untuk membunuh malam ini. Aku datang menagih. Tapi anak-anak buahku sudah terlalu lama menunggu di luar pintu.”
Ia menjentikkan jari.
Dari pintu gerbang pelataran, gelombang kedua yang jauh lebih besar membanjir seperti air bah. Lembing berdenting, obor menyala, jeritan pecah di segala penjuru. Prajurit Rangga Wesi merapat membentuk barisan, tombak-tombak bertemu dan tombak lain menyambut. Rangga sendiri berdiri di barisan terdepan dengan bahu kirinya yang terluka berdarah lagi, berteriak memberi aba-aba.
“Jaga lorong barat! Jangan sampai mereka menyentuh anak-anak!”
“Kak Zaki, kiri!” seru Tika.
Zaki memutar badan tepat pada waktunya dan menangkis tombak yang menyambar dengan batang tongkat yang ia ambil dari seorang prajurit. Ia mendorong, memutar, lalu memukul sisi kepala kerdil itu hingga terlempar ke belakang. Napasnya kasar. Kaki kirinya masih setengah mati rasa, tetapi ia berdiri.
“Mas Tanto, jaga belakang!”
“Saya sudah di sini!” Tanto menyabetkan tongkat trekkingnya ke samping, mengait kaki seorang kerdil, dan menendangnya ke arah prajurit. “Sinta, mundur ke sebelah Tika! Demi keselamatan kita bersama, jangan pergi sendiri!”
Arjuna bertarung seperti air, mengalir dari satu sisi ke sisi lain dengan kerisnya yang berkilat biru di bawah bulan. Tiap kali satu kerdil mencoba menerobos ke arah Indri, ia sudah ada di sana, tanpa berkata apa-apa. Indri berdiri di belakang punggungnya, napasnya memburu, genggaman tangannya pada gelang cendana terasa basah.
Gilang duduk di tanah dengan Ragil di sampingnya, kedua tangan Ragil masih terikat syal. Ia memegang tongkat dahan itu erat-erat dengan kedua tangan seperti pemukul bisbol. “Satu aja yang dekat, gue gebuk. Satu aja!”
“Lang,” bisik Ragil, “lo nggak bisa bisbol.”
“Diam, Kak. Gue sedang konsentrasi.”
Di tengah kekacauan itu, sebuah suara perempuan melengking dari balik barisan prajurit.
“Hamba!”
Indri menoleh. Laras berlari keluar dari lorong dayang, rambutnya terurai, kebayanya kusut. Dua prajurit mengejar di belakangnya. Ia berhenti tepat di depan undakan candi dan berlutut di tanah dengan keras.
“Hamba pembuka pintu!” serunya, dan suara itu membelah bunyi pertempuran. “Hamba yang mengangkat palang Pintu Selatan, Baginda! Hamba yang membiarkan mereka masuk!”
Satu detik sunyi di sekitarnya. Lalu dua prajurit meringkusnya, menekuk kedua tangannya ke belakang.
“Mbak Laras!” Indri hampir melompat ke arahnya, tetapi Arjuna menahan lengannya. “Mas, lepasin!”
“Tidak sekarang.”
“Hamba tidak membela diri,” tangis Laras dari atas tanah, wajahnya basah dan kotor oleh debu. “Hamba hanya ingin Baginda tahu, Den Ayu, hamba tidak pernah ingin—” Prajurit menyeretnya pergi, dan sisa kalimat itu hilang dalam hiruk-pikuk.
Indri mengepalkan tangan. Nanti, katanya dalam hati. Aku akan bicara dengannya nanti. Kalau masih ada nanti.
Lalu tanah di sisi kanan taman bergetar.
Air terjun bertingkat di dinding batu itu, yang tadinya mengalir tenang sebagai latar, mendadak membuncah. Air naik, bukan turun, menyembur ke atas seperti tiang kaca. Dari dalam pusarannya berjalan keluar sosok perempuan berkebaya kuning yang menggeliat basah, mahkota mutiara di rambutnya, sisik emas berkilat di pelipis dan punggung tangan.
“Titisan,” kata Jene Kumbolo. Suaranya merdu, dingin. “Aku datang menagih hutangmu.”
Di belakangnya, hamba-hamba berpakaian putih keluar dari air satu demi satu, kaku dan pucat, tombak tulang ikan di tangan. Dua gadis kecil di barisan depan, yang dulu menarik-narik tangan Indri di jalan menuju istana, melambai pelan, wajah mereka polos dan kosong.
“Jangan lihat matanya!” teriak Tanto.
Terlambat. Jene mengangkat telapak tangannya. Di dalamnya, cangkang mutiara memancarkan cahaya merah muda kebiruan. Seluruh tubuh Indri tersentak. Rasanya seperti ada tangan tak kasatmata menarik sesuatu dari dalam dadanya, dan lututnya langsung lemas. Ia jatuh berlutut. Dunia meliuk-liuk di pinggir penglihatannya.
“Indri!” Arjuna berbalik, tetapi tiga hamba sudah menyerbu. Ia menebas, memutar, tidak punya waktu menengok.
“Tidak sakit,” bisik Jene sambil melangkah mendekat. Cangkang di tangannya berdenyut seirama jantung Indri. “Hanya tidur sebentar. Lalu kau akan menemaniku. Selama-lamanya. Aku kesepian, titisan. Aku sudah sangat kesepian.”
Indri berusaha menggerakkan jari. Tidak bisa. Kelopak matanya berat. Ia melihat kaki-kaki hamba mendekat, tetapi tiba-tiba ada kaki lain yang berdiri di antara mereka dan dirinya. Kaki bersepatu gunung.
“Eh, eh, eh. Mau ke mana, Tuan Putri?”
Suara itu ketus, cempreng, sangat dikenal.
Retno berdiri tepat di depan Jene. Jaket pendaki lusuh, rambut dikuncir asal, wajah pucat tetapi dagu terangkat tinggi. Ia menyilangkan tangan di dada dan menatap Jene dengan pandangan yang biasa ia pakai pada Ragil.
“Lo kira gue lupa lo yang nyuruh gue ngelayanin meja? Gaji nggak ada, lembur tiap hari, makanan malah gue disuruh bawa buat orang lain. Lo tahu itu eksploitasi tenaga kerja, nggak?”
Jene mengerjap. Sesaat, hanya sesaat, tangan yang memegang cangkang bergetar.
“Mbak ... Retno?” gumam Indri. Dari tenggorokannya hanya keluar bisikan.
“Diem kamu. Hemat tenaga.” Retno menoleh sepintas, dan matanya melembut. “Aku tahan dia bentar. Ngomong aja. Kamu kan jago ngomong.”
“Mbak, aku—”
“Ndri.” Retno tersenyum miring. “Waktu kamu janji mau balik, aku pikir kamu bohong. Ternyata enggak. Sekarang selesaiin.”
Ia melangkah ke depan Jene, menepuk bahunya dengan telapak tangan yang tembus, lalu menempel dingin di kulit Jene. Ia mengganggu dengan segala cara: berdiri di jalur pandang Jene, bicara terus-menerus, mengetuk-ngetuk tangan hamba sampai mereka kebingungan. Cangkang di tangan Jene bergetar tak terkendali. Tekanan di dada Indri berkurang. Ia menarik napas, tersengal, dan merangkak berdiri dengan bantuan lengan Sinta yang tiba-tiba ada di sisinya.
“Jene,” katanya serak.
Jene menoleh. Matanya yang kuning keemasan penuh air.
“Kamu nunggu seseorang,” kata Indri pelan. Ia melangkah mendekat satu langkah. “Kamu nunggu sampai tenggelam, dan orang itu nggak pernah datang. Aku nggak bisa jadi dia. Aku nggak bisa jadi teman abadimu, dan aku nggak akan bohong soal itu. Tapi aku bisa janji satu hal.”
“Apa?” bisik Jene.
“Namamu bakal diingat. Putri Jene Kumbolo. Bukan sebagai penunggu yang menarik orang ke air, tapi sebagai putri yang menunggu terlalu lama. Setiap kali aku lewat Ranu Kumbolo, aku akan cerita yang benar. Ke teman-temanku, ke anak-anakku nanti, ke siapa pun yang mau dengar.” Suaranya pecah. “Kamu nggak akan hilang. Itu janjiku.”
Cangkang di tangan Jene berhenti bergetar.
Hening panjang, seolah pertempuran di sekitar mereka mengecil. Wajah Jene yang cantik dan dingin pelan-pelan retak. Bukan retak kemarahan. Retak seseorang yang sudah menahan terlalu lama dan akhirnya diizinkan melepas.
“Diingat,” ulangnya, seperti mengeja kata dari bahasa lama. “Diingat ....”
Ia menurunkan tangan. Satu per satu hamba berpakaian putih berhenti, tombak-tombak tulang jatuh tanpa bunyi. Cahaya pucat keluar dari tubuh mereka, naik menjadi butir-butir halus yang melayang ke bulan. Dua gadis kecil melambai sekali lagi, kini tersenyum, lalu menghilang.
Dari cangkang mutiara, setetes cahaya merah keemasan melesat dan menyentuh jari Indri. Hangat. Seolah sesuatu yang sudah lama hilang kembali ke tempatnya. Jene menutup cangkang itu dengan dua tangan. Kini kosong, ringan, hanya sebuah cangkang tua.
Retno berdiri di sisi Zaki yang berlari mendekat, pucat dan basah. Hanya Zaki, Indri, dan Sabdo Palon yang bisa melihatnya. Retno tidak berkata apa-apa. Ia hanya menepuk punggung Zaki, tembus dan dingin, sambil tersenyum tipis.
Jene menoleh. Ia menatap Sabdo Palon, yang selama ini berdiri diam dengan tangan terlipat di balik jubah.
“Hutangmu sudah kuhapus,” katanya, tenang dan jernih. “Tidak ada lagi yang kau janjikan padaku, dan tidak ada lagi yang kutagih darimu.”
Sabdo Palon tidak menjawab. Senyum sinisnya memudar. Ia menoleh perlahan, melewati Indri, melewati Arjuna, melewati ribuan wajah rakyat yang menahan napas, dan berhenti pada seorang lelaki tua berjubah putih yang berdiri kaku di atas undakan candi.