“20 Mei 2016, 20.40 WIB”
“Tambalan ini hanya bertahan sampai bulan naik penuh,” kata Cipta rendah-rendah.
Ia berdiri di sisi Indri di tepi pelataran Candi Segel, memandang langit yang masih gelap kebiruan. Di sekitar mereka rakyat berjejalan: ratusan orang membawa lampu batu di telapak tangan, cahaya kebiruan yang berpendar di wajah-wajah tua dan muda. Tidak ada yang bicara keras. Tiang-tiang candi berdiri membentuk lingkaran, dan di tengahnya, di atas undakan batu lebar, Prabu Brawijaya berdiri tegak dalam jubah putih. Seolah penyakit sehari semalam itu ia simpan di tempat yang tidak akan dilihat siapa pun.
“Tambalan apa?” bisik Tika yang berdiri di belakang Indri. Ia menengadah. “Yang mana?”
“Lihat ke atas.”
Tika menengadah. Di antara kabut yang menggantung sebagai langit-langit negeri, ada garis-garis tipis yang kadang berkedip pucat, seperti retak halus di kaca yang dilem berulang-ulang. Asap dari gudang sekam tadi sore sudah hilang. Tetapi bekasnya, goresan hitam tipis, masih tampak sampai ke puncak.
“Itu ... bakal pecah?”
“Kalau Sabdo Palon datang sebelum selesai,” sahut Cipta. “Dan dia sudah menunggu bulan itu.”
Di sisi lain pelataran, Ragil duduk di antara Sinta dan Gilang dengan kedua tangan terikat di depan. Ia sendiri yang minta, sebelum Zaki menolak, dengan syal rajut Sinta yang dililitkan berkali-kali. Matanya terpejam rapat, bibirnya bergerak menghitung. Tanto berdiri di belakang mereka, bibirnya juga bergerak, tetapi dengan doa.
Zaki berdiri di sisi Tanto. Ia sempat menangkap pandangan Indri, mengangguk sekali, lalu mengalihkan mata.
“Ini dia,” bisik Arjuna.
Ia berdiri tepat di sebelah Indri dengan pakaian upacara hitam dan emas, udeng merah tuanya rapi. Ia tidak menyentuhnya. Hanya berdiri di sana, bahu hampir menempel, dan Indri tahu tanpa menoleh bahwa ia sedang menunggu isyarat kecil. Ia mengangguk tipis, dan jemari Arjuna meluncur pelan, menggenggam jemarinya. Hangat dan agak gemetar.
Gamelan, entah dari mana, menyayat perlahan.
Lalu bulan terbit.
Bukan terbit dari cakrawala, sebab negeri ini tak punya cakrawala. Ia muncul dari balik tabir kabut di timur, membesar pelan-pelan, bulat sempurna, dengan warna biru pucat yang belum pernah Indri lihat di langit mana pun. Cahayanya jatuh ke seluruh pelataran, ke seluruh wajah, ke lampu-lampu batu yang serentak meredup seperti malu. Beberapa orang di barisan belakang terisak. Seorang perempuan tua berlutut dan menempelkan dahinya ke tanah.
“Purnama Biru,” gumam Tanto, takjub.
Brawijaya mengangkat kedua tangan. Gamelan berhenti.
“Rakyatku,” suaranya menggema ke seluruh pelataran, dalam dan tenang meski tubuhnya letih. “Lima abad lebih kita bersembunyi di balik kabut ini, dan malam ini kita berdiri di bawah bulan yang menentukan. Bulan ini mengikat. Bulan ini juga membebaskan. Dan di hadapanku berdiri seorang tamu dari dunia luar yang kutanyai satu pertanyaan, yang belum ia jawab.”
Ia menoleh. Matanya menemukan Indri.
“Titisan Amarawati. Anakku Indri. Kau datang dengan kehendakmu sendiri. Katakan kepada kami, di hadapan bulan dan rakyat negeri ini, apa jawabanmu?”
Seribu napas tertahan. Indri merasakan jantungnya memukul tulang rusuk, dan genggaman Arjuna mengencang sekejap lalu melonggar, memberinya ruang untuk melepas.
Ia melepas.
Lalu melangkah ke depan, tiga langkah. Berhenti di bawah cahaya bulan, kebayanya yang biru tua berkilau seperti air.
“Baginda,” katanya. “Jawaban saya tiga, dan saya mohon didengar sampai habis.”
“Bicaralah.”
“Pertama.” Suaranya jernih, jauh lebih jernih daripada yang ia kira. “Saya tidak akan menikah malam ini. Bukan karena saya tidak menghormati negeri ini, dan bukan karena saya tidak peduli pada Mas Juna.” Ia melirik sekilas ke arah Arjuna, yang mengangguk pelan. “Tapi saya sudah berjanji pada Bunda dan Ayah saya. Kalau suatu hari saya menikah, mereka harus ada. Janji pada orang tua tidak bisa saya batalkan demi bulan, sebesar apa pun bulannya.”
Gumam terdengar di antara rakyat.
“Kedua. Saya tidak pergi.” Ia menarik napas. “Saya bisa. Baginda sudah bilang, saya bisa berkata tidak dan melangkah lewat Cemoro Kembar. Tapi saya sudah keluar sekali, dan saya kembali karena saya yang memilih. Saya tidak akan lari ketika banyak orang di sini masih membutuhkan.”
“Dan ketiga?”
“Ketiga.” Tangan Indri mengepal di sisi tubuh. “Saya tidak mau menjadi satu-satunya jangkar. Saya tidak mau bernasib seperti Ratu Widyadari, dan saya tidak mau ada perempuan lain bernasib seperti dia. Karena itu saya menawarkan jalan lain. Segel ini dijaga bukan oleh satu nyawa, tapi oleh janji kita semua. Setiap orang di negeri ini, setiap ibu, setiap prajurit, setiap pedagang, mengucapkan satu janji untuk menjaga selubung dan menjaga satu sama lain. Dan saya, bila diizinkan, akan memberi darah saya untuk membuka jalannya. Bukan sebagai ratu yang dihabiskan. Sebagai salah satu dari kalian.”
Keheningan.
Lalu seseorang di barisan belakang berteriak, “Kami ikut!”
Bukan satu orang. Seorang pemuda, kemudian seorang ibu, kemudian seorang prajurit tua yang mengacungkan tombaknya. Suara itu menyebar seperti api dalam jerami, tetapi bukan api yang menghancurkan. “Kami ikut! Kami ikut, Den Ayu!” Gemuruh itu naik, naik, hingga lampu-lampu batu di telapak tangan mereka bergetar, hingga bulan biru di langit seperti ikut mendengarkan.
Tika menutup mulut dengan kedua tangan. Gilang di sebelahnya menepuk-nepuk bahu pacarnya tanpa sadar. Sinta menyeka pipi. Zaki menatap Indri dengan wajah yang seperti sedang menahan sesuatu yang bukan lagi perih, mungkin bangga.
Brawijaya tidak bergerak.
Ia berdiri di undakan itu dengan kedua tangan masih terangkat setengah, wajahnya terpaku, mulutnya terbuka tanpa suara. Ia menatap rakyat yang bergemuruh, lalu menatap Indri, lalu menatap tangan sendiri seolah tangan itu bukan miliknya.
“Ayahanda,” kata Arjuna pelan.
Belum sempat Brawijaya menjawab, bumi bergetar.
Ledakan terdengar dari arah selatan, dalam dan memekakkan, seperti ribuan pohon tumbang serentak. Debu mengepul dari balik tembok istana. Lampu-lampu batu padam sekejap, lalu menyala lagi dalam warna merah. Jeritan memecah pelataran.
“Pintu Selatan!” teriak Rangga Wesi dari atas tembok. “Pintu Selatan jebol!”
Dari kejauhan terdengar derap kaki-kaki kecil yang berlari, banyak sekali, dan lolongan melengking yang pernah Indri dengar di Kalimati. Kerdil. Gelombang pertama, kecil dan cepat, menerobos gerbang yang hancur dan menyebar di pelataran candi dengan obor di tangan mereka.
“Lindungi rakyat!” seru Arjuna, menghunus kerisnya. “Zaki, bawa Indri—”
“Aku tidak ke mana-mana,” balas Indri.
Pasukan Rangga Wesi bergerak. Para ibu menarik anak-anak ke belakang. Tanto berteriak menyuruh Sinta dan Tika merapat ke Ragil. Dan di antara hiruk-pikuk itu, sesuatu menyibak kerumunan, perlahan, seperti perahu membelah air.
Rakyat menyisih satu per satu tanpa diperintah. Seolah ada hawa dingin yang mendorong mereka.
Seorang lelaki pendek gemuk berjalan ke tengah pelataran dengan langkah tenang. Jubah brahmana kuning keemasan menyapu tanah, rambut putih keabu-abuan dicepol rapi di atas kepala. Wajah bulatnya tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya.
Sabdo Palon berhenti sepuluh langkah dari undakan. Ia menengadah memandang Brawijaya, dan untuk sesaat hanya bulan biru yang bergerak di wajahnya.
“Lama tidak berjumpa, Gusti.”