“20 Mei 2016, 16.10 WIB”
Indri tidak mau menunggu candi.
Ia turun ke pasar sendiri, dengan kebaya sederhana pinjaman Laras yang agak kebesaran dan gelang cendana di pergelangan. Arjuna berjalan dua langkah di belakangnya, Zaki di sisi lain, dan Tika di antara mereka sambil menggenggam ujung jaket Indri seperti anak kecil di pasar malam.
Di tengah lapangan pasar yang separuh gosong, rakyat sudah berkumpul. Tidak ada yang memanggil. Mereka hanya datang, seperti air yang mengalir ke tempat rendah. Para pedagang dengan tangan masih berbalut kain, ibu-ibu menggendong bayi boneka kayu, laki-laki sepuh bersandar pada tongkat, anak-anak duduk di bahu ayah mereka. Ratusan wajah. Semuanya menatap Indri.
Ia naik ke tumpukan peti kayu yang dijadikan panggung seadanya. Lututnya lemas. Ia tidak pandai bicara di depan banyak orang. Ia pernah gagap saat presentasi mata kuliah dasar, dan Tika pernah tertawa sampai menangis karena itu.
“Saya Indri,” katanya, dan suaranya pecah di kata pertama. Ia menelan ludah dan mengulang. “Saya Indri. Banyak yang menyebut saya titisan, dan saya tahu apa yang kalian harapkan dari kata itu. Saya mau bilang terus terang: saya takut.”
Bisik-bisik menyebar di antara orang banyak.
“Malam ini Purnama Biru. Baginda memberi saya satu pertanyaan, dan saya akan menjawabnya. Tapi saya tidak mau menjawab sebelum kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Ia mengangkat lontar yang dibawa Arjuna. “Segel yang menyembunyikan negeri ini dijaga oleh satu perempuan, dan segel itu menghisap umurnya. Ratu Widyadari wafat karenanya. Kalian semua ... mungkin sudah menduga. Tapi saya ingin kalian dengar dari saya.”
Tidak ada yang bersuara.
“Saya tidak mau jadi ratu yang dihabiskan.” Ia menarik napas dalam-dalam. “Saya juga tidak mau pergi dan meninggalkan kalian dengan selubung yang retak. Jadi saya minta sesuatu yang besar. Saya minta kalian ikut memikulnya. Bukan satu perempuan. Semua. Satu janji dari tiap orang, untuk menjaga negeri ini bersama.”
Hening. Lalu seorang ibu tua di barisan depan, ibu kedai dengan lengan terbalut, perlahan mengangkat tangannya yang sehat.
“Nduk,” katanya, nyaring dan jernih. “Kami sudah lima ratus tahun lebih menunggu seseorang bertanya apa yang kami mau.”
Orang-orang menoleh pada perempuan itu.
“Kami tidak bisa menjanjikan kami tidak takut. Tapi kalau yang kamu minta cuma janji,” ia terkekeh getir, “kami punya banyak, Nduk. Sejak zaman Baginda berjalan di keraton, kami punya janji yang belum ditagih siapa pun.”
Seseorang bergumam setuju. Lalu dua orang. Lalu tepuk tangan, tidak riuh, hanya bunyi telapak kasar yang bertemu pelan, menjalar seperti gerimis. Indri menutup mulut dengan punggung tangan dan menunduk, tidak ingin ada yang melihat air matanya.
Di bawah panggung, Tika menyeka pipi dengan lengan baju dan berbisik pada Zaki, “Dia dapet nilai A.”
“A plus,” gumam Zaki.
***
Di ujung selatan istana, tempat tembok kokoh berbatasan dengan parit air dan rimbun bambu, Pintu Selatan menjulang gelap.
Laras berdiri di hadapannya dengan nampan kosong yang ia gunakan sebagai alasan. Penjaga yang biasa berjaga di sana sudah ia kirim ke dapur dengan pesan palsu. Dingin menjalar naik dari parit. Dan di balik semak bambu, tanpa suara, muncul tiga kerdil bertombak.
“Kau datang,” desis yang paling depan.
“Aku datang.” Suara Laras nyaris tak terdengar. “Mana suamiku?”
Kerdil itu menyeringai dan menggerakkan tombaknya ke samping. Dari kabut tipis di antara rumpun bambu muncul sesosok bayangan lelaki. Bahunya lebar, wajahnya tak tampak jelas, hanya garis tubuh keabuan yang kadang buram. Di jari manis tangan kirinya, cincin kayu yang kembar dengan milik Laras. Ia tidak bicara. Ia hanya berdiri di sana, memandang Laras dengan sesuatu yang terasa lebih pedih daripada kata.
Napas Laras tertahan. Tangannya gemetar saat meletakkan nampan di tanah.
“Angkat palangnya,” kata kerdil itu. “Tuanku bilang kau tahu aturannya. Palang diangkat sebelum bulan, tapi pintu hanya akan menyerah ketika bulan penuh terbit. Tuanku Sabdo Palon akan masuk lewat sini. Setelah itu suamimu bebas.”
“Kalian janji.”
“Tuanku tidak pernah ingkar.”
Laras tahu kalimat itu bohong. Ia tahu sejak malam pertama ia mengangguk di dapur. Tetapi bayangan di balik bambu itu menatapnya dan menggeleng samar, seolah memohon, seolah melarang. Atau mungkin itu hanya matanya yang kabur oleh air.
Ia memegang palang kayu besar itu dengan kedua tangan. Berat, dingin, bergetar. Ia mengangkatnya dari sangkutan, dan palang jatuh ke tanah dengan bunyi dalam yang membuat burung-burung di bambu terbang.
Pintu tidak terbuka.
Ia mendorong. Daun pintu itu tak bergeming, seakan ada tangan raksasa menahannya dari seberang. Segel, pikir Laras. Segel di pintu itu masih bernapas.
“Sabar,” kata kerdil itu sambil terkekeh. “Menunggu bulan. Tuanku bilang kau cukup mengangkat palangnya. Sisanya urusan langit.”
Laras memandang telapak tangannya yang berbekas serpihan kayu. Lalu menatap bayangan suaminya, yang perlahan memudar kembali ke dalam kabut.
***
Matahari tenggelam seperti telur yang pecah, kuning keemasan menumpah di balik awan.
Gilang menunggu di luar pos jaga, bersandar pada tongkat. “Lima menit, Kak,” ia berkata ke pintu ruang jaga kecil itu. “Cepet.”
“Iya. Gue cuma pengin pipis, Lang,” sahut suara Ragil dari dalam.
Itu yang terakhir kali Gilang mendengar suara Ragil sebelum bunyi kayu beradu. Ia sadar terlambat. Ruang jaga itu tidak punya pintu belakang, tetapi punya jendela kecil ke gudang sekam di sebelahnya, tempat para prajurit menaruh barang sitaan semalam. Satu di antaranya obor kerdil yang bara dalamnya belum mati, dibungkus kain basah oleh seorang prajurit yang sama sekali tidak mengira ada yang akan memilihnya.
Ragil berdiri di tengah gudang. Matanya kosong, bibirnya tersenyum tipis. Ia meniup bara itu pelan-pelan dari balik kain. Merah. Jingga. Kuning.
Lalu ia menaruhnya di tumpukan sekam kering.
Sekam menyambar seperti kertas. Dalam hitungan napas nyala merah sudah menjalar ke dinding papan, ke atap anyaman, ke tiang. Asap hitam bergulung keluar lewat celah atap.
“RAGIL!”
Zaki datang dari arah pasar, berlari secepat kakinya yang masih mati rasa mengizinkan. Ia menerjang pintu gudang dengan bahu, berteriak, “Gil! Gil, keluar! Gil!”
Ragil berdiri di tengah kobaran. Api menari-nari di matanya. “Cantik,” gumamnya. “Putri bilang, cantik ....”
Zaki menyambar kerah jaketnya dan menyeretnya keluar. Ragil meronta, tidak melawan, hanya menengadah ke arah api. Mereka jatuh di tanah lapang. Asap hitam menggumpal ke atas, tinggi, menembus celah yang mulai robek di kabut.
“Ayat Kursi! Mas Tanto!” teriak Zaki.
Tanto sudah ada di sana. Ia berlutut dan membacakan ayat itu pelan di telinga Ragil, tetapi yang menembus lebih dulu adalah suara Zaki, yang mencengkeram bahu Ragil dan berseru tepat di wajahnya, “Gil! Retno masih nunggu julid lo! Lo mau bikin dia nunggu sambil lo gosong?” Pandangan Ragil berkedip, goyah, lalu pecah dalam tangis yang tiba-tiba.
“Gue ... gue nggak sengaja,” isaknya. “Gue lihat bara, terus ... terus gue cuma pengin ...”
“Ssst. Kamu ndak apa-apa.” Tanto menariknya ke dada.
Cahaya putih berpendar di atas atap gudang. Cipta berdiri di sana, kedua tangan terentang, dengan segenggam batu putih bercahaya. Jaga di sebelahnya, serulingnya menyala. Kabut mengalir turun dari langit, menyelimuti api, menutup robekan di atas satu demi satu dengan lipatan putih pekat.
“Cepat!” seru Cipta. “Selubungnya robek lebar!”
Api padam lebih cepat dibanding semalam. Namun asap yang sudah naik tidak mau kembali. Ia membumbung terus, pekat dan hitam, lewat sela kabut yang sempat terkoyak, membubung tinggi di atas negeri, menembus awan, dan bersandar di langit senja yang mulai gelap.
“Itu sudah terlihat,” bisik Jaga.