“20 Mei 2016, 11.20 WIB”
“Jadi kamu mau bilang itu di depan Ayahanda,” kata Arjuna. “Semuanya.”
“Semuanya.” Indri duduk di tepi kolam teratai Paviliun Teratai, jari-jarinya memutar gelang cendana. Kolam itu tenang, ikan emas melintas malas di bawah daun. Di seberang kolam, Jaga bersandar pada tiang sambil memainkan serulingnya tanpa meniup. “Tapi aku mau dengar dulu pendapatmu, Mas. Bukan buat minta izin. Aku mau tahu kamu di mana.”
Arjuna menatap permukaan air. Cukup lama sampai Jaga berdehem pelan.
“Aku berutang jawaban jujur,” akhirnya Arjuna bicara. “Ceritakan padaku rencanamu. Dari awal.”
Indri menarik napas. “Surat Ibumu bilang segel itu menghisap umur satu orang, karena jangkarnya cuma satu. Satu perempuan, sendirian. Waktu tahlilan Retno, aku lihat sesuatu yang kebalikannya. Duka yang dipikul orang banyak jadi ringan. Nggak hilang, tapi bisa dibawa.” Ia menggeleng pelan. “Bukan soal tahlilannya. Soal orang-orangnya. Cuma sembilan orang di atas tikar, tapi saling pegang beban. Jadi kalau segel dijaga bukan oleh satu nyawa, tapi oleh janji semua orang di negeri ini, janji untuk menjaga selubung bersama, mungkin harganya nggak jatuh ke satu orang.”
“Janji,” ulang Jaga.
“Iya. Bukan cuma ucapan. Janji yang dicatat segel, kayak darahku bisa dikenali segel.” Ia menoleh. “Mas Jaga bilang segel mengenali darahku. Berarti segel mengenali yang dipercayakan padanya. Siapa tahu mengenali juga siapa pun yang mau ikut menanggung.”
Jaga mengerutkan kening dan menatap Arjuna. Arjuna menatap Indri. Beberapa saat tidak ada yang bicara.
“Itu gila,” ujar Arjuna pelan.
Bahu Indri turun.
“Dan itu mungkin satu-satunya hal waras yang kudengar sejak ibuku wafat.” Ia berdiri. “Aku ikut. Apa pun yang kau bilang di depan Ayahanda, aku berdiri di sisimu.”
Tenggorokan Indri terasa sesak. “Kamu yakin?”
“Tidak.” Arjuna tersenyum tipis. “Tapi aku mau jadi orang yang berdiri dengan yakin di sebelahmu.”
“Itu kalimat paling nggak masuk akal yang pernah kudengar.”
“Aku belajar dari seseorang yang sering jatuh dan selalu bangun lagi.”
Indri tertawa, pendek, sedikit serak, dan menutup mulut dengan punggung tangan. Jaga di tiangnya pura-pura sibuk meniup debu dari seruling.
“Mas Jaga, jangan nguping,” tegur Indri.
“Bukan menguping. Aku memang berdiri di sini lebih dulu.” Jaga menegakkan badan. “Lagi pula, kalau kau mau Baginda mendengarkan, jangan membawa rencana yang bolong. Biar aku dan Cipta yang menutup bagian teknisnya.”
***
Brawijaya menerima mereka di ruang kecil di samping balairung, bukan di singgasana. Ia duduk di kursi rendah beralas kain, tubuhnya dibalut selendang tebal. Cipta dan Jaga berdiri di sisinya. Di atas meja kayu kecil tergeletak tiga lembar lontar tua milik Widyadari, yang tadi pagi Indri minta dibawa.
Indri menjelaskan. Pelan, runtut, tanpa menaikkan suara. Ia mulai dari surat, lalu tahlilan, lalu pasar yang kemarin mereka padamkan bersama-sama, ember demi ember, dari tangan ke tangan. Ia tidak berkata “aku mengusulkan.” Ia berkata, “Saya ingin bertanya, Baginda, apakah ini pernah dicoba.”
Ketika selesai, ruangan sunyi.
Cipta yang pertama bergerak. Ia mengelus jenggot putihnya, menatap Jaga, lalu menatap Brawijaya. “Kita belum pernah mencobanya, Baginda. Bukan karena mustahil. Karena kita tidak pernah punya keberanian memintanya.”
“Dan jika dicoba?” tanya Brawijaya, datar.
“Mungkin berhasil,” jawab Jaga. “Segel tidak membedakan satu jangkar dengan seribu, asal ikatannya jujur. Tetapi ...” Ia melirik Cipta.
“Tetapi ada syaratnya,” sambung Cipta. “Segel pertama diikat oleh Baginda sendiri, dengan keabadian Baginda sebagai pengikat utama. Selama pengikat itu abadi, jangkar tunggal diperlukan. Untuk memindahkan beban ke banyak orang, pengikat itu sendiri harus melepas keabadiannya. Ia harus menjadi fana lagi.”
Brawijaya tidak bergerak. Wajah tuanya tidak berubah, tetapi jari-jarinya di atas lutut mengencang.
“Bagaimana bentuk janjinya?” tanya Indri hati-hati. “Saya mau tahu apa yang diminta dari rakyat. Jangan sampai saya mengajak mereka tanpa tahu harganya.”
“Satu janji tiap orang, diucapkan di hadapan mandala,” jawab Cipta. “Janji untuk menjaga selubung dan saling menjaga di baliknya. Segel mencatatnya. Darahmu menjadi tanda pembuka, Nduk, karena hanya darah titisan yang dapat membangunkan cekungan di pusat mandala. Tetapi tanpa Baginda melepas pengikat utama, semua janji itu hanya ucapan.”
Brawijaya mengangkat wajahnya. “Jika aku menjadi fana,” katanya perlahan, “aku akan menua. Aku akan sakit seperti yang kau lihat. Dan bila ikatan bersama itu gagal di tengah upacara, segel akan runtuh seketika tanpa penjaga. Seluruh negeri akan terlihat. Seluruh rakyat akan hilang bersama kabutnya.” Ia mengangkat mata pada Indri. “Nak, kau meminta aku mempertaruhkan lima abad hidup rakyatku pada tahlilan seorang gadis dari dunia luar.”
“Bukan tahlilan, Baginda.” Suara Indri tidak goyah. “Orang-orang yang percaya satu sama lain. Itu yang saya lihat. Dan kemarin malam, waktu pasar terbakar, tidak ada yang menyuruh mereka berbaris membawa ember. Mereka cuma melakukannya.”
“Kemarin satu pasar. Malam ini satu negeri.”
“Lalu Baginda mau mengulangi yang sudah terjadi?” Indri merasakan matanya panas. “Baginda sendiri yang bilang kepada saya, hanya jawaban ya yang menutup jalan pulang. Tapi pilihan macam apa kalau satu-satunya jawaban yang tidak merenggut apa pun cuma tidak, lalu negeri ini runtuh? Saya tidak mau jawaban itu, Baginda. Saya mau ada pilihan yang tidak menghabiskan siapa pun.”
Brawijaya memejamkan mata. Napasnya terdengar berat dan pendek-pendek.
“Aku takut,” gumamnya, begitu lirih sampai Indri nyaris tak yakin ia mendengar. “Aku sudah kehilangan banyak. Aku tidak ingin kehilangan lagi.”
“Ayahanda.”
Arjuna melangkah maju. Sejak masuk ia berdiri setengah langkah di belakang Indri, tidak berkata apa-apa. Sekarang ia berdiri tepat di sisinya, sejajar, bahu hampir bersentuhan tetapi tidak.
“Ayahanda takut kehilangan,” katanya. Suaranya tenang dan getir. “Aku mengerti. Aku pun begitu. Tetapi tiga lembar lontar di meja itu ditulis Ibu dengan tangannya yang gemetar, di hari-hari terakhirnya, untuk perempuan yang belum ia kenal. Ibu tahu ia sedang dihabiskan. Dan Ayahanda juga tahu, bertahun-tahun, dan tetap berkata tiga tahun lagi.”
“Arjuna—”
“Atau Ayahanda ingin Ibu terulang?” Mata Arjuna berkilat, basah, tetapi tidak jatuh. “Satu lagi perempuan yang menua di balik pintu terkunci, dan aku berdiri di luar, tidak boleh masuk?”
Keheningan itu jatuh begitu berat sampai bunyi ikan emas di kolam dari luar ruangan terdengar jelas.
Brawijaya membuka mulut. Menutupnya lagi. Bibirnya bergetar, dan untuk beberapa detik ia tampak seperti lelaki yang tidak lagi bertubuh raja, hanya seorang tua yang dipukul oleh sesuatu yang sudah lama ia sembunyikan di dalam dada.
Perlahan ia bangkit. Tongkatnya mengetuk lantai dua kali. Ia menatap Indri, lalu Arjuna, lalu lontar di meja, lalu melangkah keluar tanpa sepatah pun jawaban.
Pintu menutup tanpa suara.
Indri baru sadar bahunya kaku sejak tadi. Ia melemaskannya, dan lututnya hampir tak kuat menahan tubuh. Arjuna menahan sikunya, ragu sepersekian detik, lalu bertanya dengan matanya. Indri mengangguk.
“Dia tidak menolak,” bisik Indri. “Tapi dia tidak bilang mau.”
“Dia tidak pernah bilang ‘mau’ untuk hal apa pun yang menakutkan.” Cipta menghela napas dan memungut lontar-lontar itu, melipatnya hati-hati. “Tetapi dia pun tidak bilang ‘tidak’ dengan suara yang biasa. Itu pertanda.”
“Jadi kita harus tunggu?”
“Kita tidak punya pilihan lain, Nduk.” Cipta mengelus kepala Indri sebentar. “Dia akan memutuskan di candi.”