“20 Mei 2016, 06.15 WIB”
Lilin itu sudah dibuang dari semalam, tetapi Ragil masih menatap tempat ia pernah berdiri.
Ia duduk bersila di lantai paviliun besar, punggung bersandar pada tiang kayu, mata terbuka lebar. Sinta duduk di sebelah kirinya dengan selimut tebal di pangkuan, Tika di sebelah kanan dengan roti pipih yang sudah dingin. Keduanya tampak seperti dua perawat yang kurang tidur.
“Kak,” kata Sinta pelan. “Semalam bibir Kakak bilang ‘Putri’ ke lilin itu. Maksudnya apa?”
Ragil tidak menoleh. “Itu bukan gue yang ngomong, Sin. Mulut gue gerak sendiri.” Ia menelan ludah. “Gue cuma tahu dia lagi manggil.”
“Kak Ragil, makan dikit,” bujuk Tika.
“Gue nggak lapar.”
“Dari kemarin lo nggak makan apa-apa.”
“Justru itu.” Ragil menoleh perlahan, dan dalam cahaya pagi yang kebiruan wajahnya tampak lebih tirus. “Lo ingat apa kata Retno di dapur air? Jangan telan apa pun dari tangan dia. Gue lagi latihan nolak, Tik. Dari dalam.”
Tika membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia meletakkan roti itu di pangkuan Ragil. “Kalau gitu pegang aja. Nggak usah dimakan. Pegang.”
Ragil memandangi roti itu, lalu menggenggamnya dengan kedua tangan seperti benda berharga. Garis kuning di lehernya tampak lebih jelas dibanding kemarin, tetapi ia tidak menyentuhnya.
Dari beranda terdengar Tanto berbicara dengan nada rendah. Ia berdiri bersama Mbah Resa dan seorang lelaki tua gemuk berjenggot putih yang mengenakan pakaian putih dan menyandang mahkota stupa tiga tingkat. Cipta. Di tangannya ia memegang segenggam batu putih bulat seperti telur burung.
“Tidak ada api,” ujar Cipta mengulang untuk ketiga kalinya. “Tungku dapur sudah dipadamkan. Hari ini rakyat makan yang dingin. Lampu-lampu batu cukup. Bila ada yang membawa obor atau menyalakan korek dari dunia luar, serahkan padaku sekarang.”
Tanto meraba saku dan dengan malu-malu menyerahkan korek api gas dari kantong celananya. Gilang menyerahkan satu lagi dari ranselnya. Zaki menyerahkan senternya yang bukan api, tetapi Cipta menolak sambil tersenyum tipis dan mengembalikannya.
“Itu boleh. Cahaya yang tidak membakar bukan musuh.”
“Dan Ragil?” tanya Tanto pelan.
Cipta menoleh ke dalam paviliun. Ia menghela napas. “Tanda itu mengenali api seperti ikan mengenali air. Jangan tinggalkan dia sendirian, walau hanya sebentar.”
Indri mendengar semuanya dari lorong. Ia melangkah pergi sebelum ada yang menyadarinya, menuju sisi belakang paviliun tempat dayang-dayang membawa baki sarapan.
Salah satunya ia kenal dari langkahnya.
“Mbak Laras.”
Laras berhenti. Baki di tangannya berisi buah-buahan dingin dan roti tawar. Wajahnya terangkat sekilas lalu turun lagi.
“Den Ayu. Hamba kira Den Ayu masih tidur.”
“Nggak bisa tidur.” Indri tersenyum kecil dan mengambil satu buah dari baki, hanya untuk memberi tangannya sesuatu yang dipegang. “Mbak tadi malam juga nggak tidur, ya? Matanya merah.”
“Hamba biasa begitu.”
“Mbak.” Indri menurunkan suaranya. “Boleh aku ngomong sebentar? Bukan sebagai Den Ayu. Sebagai Indri.”
Laras terdiam. Jemarinya mengetat di tepi baki, dan cincin kayu di jari manis kirinya tampak menonjol dalam cahaya pagi.
“Aku tahu Mbak lagi nahan sesuatu,” kata Indri pelan. Tidak ada tuduhan dalam suaranya. “Aku nggak tahu apa. Dan aku nggak akan maksa Mbak ngomong. Tapi kalau ada yang menekan Mbak, kalau ada seseorang yang Mbak takutkan, bilang ke aku. Aku mungkin nggak bisa apa-apa. Tapi setidaknya Mbak nggak sendirian.”
Mata Laras memerah, dan bibirnya terbuka seakan kata-kata itu sudah sampai di ujung lidah. “Den Ayu ... hamba ... sesungguhnya—”
“Nyai Laras!” Suara dayang lain terdengar dari ujung lorong. “Dapur menunggu! Baki sarapan Baginda belum diantar!”
Laras menutup mulut. Udara di antara mereka seperti tali yang tiba-tiba ditarik putus. Ia menunduk dalam-dalam, nyaris sampai pinggang.
“Hamba mohon diri.”
“Mbak ....”
Tetapi perempuan itu sudah berjalan menjauh, punggungnya kaku, langkahnya lebih cepat daripada dayang mana pun yang pernah Indri lihat.
***
Zaki menunggu di serambi terbuka yang menghadap taman, satu tangan memegang pagar. Pagi sudah terang. Dari tempat itu tampak kabut menggantung di sela pepohonan dan, jauh di bawah mereka, lapisan awan putih menghampar seperti lautan susu.
“Kakak sudah makan?”
“Sudah sedikit.” Ia menoleh. “Kamu?”
“Belum.” Indri berdiri di sampingnya. Beberapa saat mereka hanya diam memandangi awan. “Kakak mau ngomong?”
Zaki tertawa kecil. “Aku bahkan belum mulai, kamu sudah tahu.”
“Wajah Kakak ketebak.”
“Ya.” Ia menarik napas panjang, melepas pagar, dan berbalik menghadap Indri. “Ndri, aku nggak akan nanya soal aku lagi. Itu sudah kamu jawab, dan aku dengar. Satu hal saja yang belum pernah ada yang tanyakan ke kamu.” Ia menatap lurus. “Kalau malam ini kamu bilang ya, dan besok kamu nggak bisa pulang, kamu bakal nyesel?”
Angin melewati serambi. Di bawah pagar, daun-daun laurel berdesir.
Indri tidak mengalihkan pandangannya. Ia ingin lari, tetapi kakinya tidak mau bergerak, dan ia sadar justru itu yang harus ia lakukan: berdiri.
“Mungkin,” katanya. “Tiap hari. Aku bakal kangen Bunda, kangen sekret, kangen berisiknya kalian.” Ia mengusap pagar yang dingin. “Tapi kalau aku bilang tidak cuma karena takut, aku bakal nyesel lebih lama, Kak. Dan soal hatiku, Kakak berhak dengar langsung. Hatiku sudah jatuh ke Mas Juna.”
Suaranya bergetar, tetapi tidak berhenti. “Aku nggak tahu persisnya kapan. Mungkin waktu dia mulai nanya dulu sebelum menyentuhku. Mungkin waktu dia marah padaku di mimpi. Tapi itu bukan hal yang bisa kuubah, dan aku nggak mau berbohong. Kakak nggak pantas dapat setengah hati.”
Hening lama.
Zaki menatap awan di bawah, rahangnya bergerak. Ia tidak membantah, tidak mendesak, tidak menoleh pada Indri. Ketika ia akhirnya bicara, suaranya berat tetapi jernih.
“Terima kasih sudah jujur.” Ia mengembuskan napas panjang. “Aku sudah nebak sebagian. Tapi dengar dari kamu rasanya lain. Lebih sakit, tapi ... lebih bersih.”
“Kak, maaf—”
“Jangan.” Ia mengangkat tangan. “Jangan minta maaf soal perasaan. Perasaan nggak bisa diminta. Aku tetap akan menjagamu, Ndri. Sampai pintu, sampai malam ini, sampai kamu aman. Itu bukan pamrih. Itu janji seorang senior.”
Mata Indri berkaca-kaca, dan ia menggigit bibir untuk menahan sesuatu yang lebih keras dari tangis. “Kakak orang terbaik yang pernah kukenal.”
“Aku tahu.” Zaki tersenyum miring, getir tetapi tulus. “Makanya sayang banget kamu nggak milih aku.”
Tawa Indri pecah sedikit di tengah air matanya. Zaki menunduk, mengusap tengkuk sendiri, dan menghindari tatapannya dengan sopan.
Langkah kaki terdengar dari ujung serambi.
Arjuna berdiri di sana, tak jauh, dengan kemeja hitam yang sama seperti semalam dan wajah yang tampaknya belum tidur. Ia berhenti tanpa mendekat, seolah menunggu izin.
Indri menyeka matanya. “Aku... aku ke dalam dulu, ya, Kak.”
Zaki mengangguk. Ketika Indri lewat, Arjuna menunduk sedikit padanya, lalu pandangannya bertemu Zaki. Dua lelaki berdiri berhadapan di bawah langit pucat.
“Kita belum pernah bicara baik-baik,” kata Arjuna.
“Betul.” Zaki bersedekap. “Kamu pangeran. Itu cuma gelar. Yang aku tahu, kamu orang yang bikin dia pulang dengan mata sembab.”
Arjuna tidak membela diri. “Benar.”
“Kalau kamu melukainya,” ujar Zaki, tenang dan pelan, “aku nggak peduli kamu pangeran.”
“Kalau aku melukainya,” jawab Arjuna, “aku akan membiarkanmu memukulku.”
Zaki memandangnya lama. Lalu salah satu alisnya naik, dan sudut bibirnya bergerak.
“Aku pegang kata-katamu.”