Gong itu masih bergema, dan Rangga Wesi sudah menoleh ke menara gerbang dengan rahang mengeras, ketika Zaki menepuk pipi Ragil dua kali, pelan, lalu lebih keras. “Gil, lihat gue. Bukan ke situ, ke gue.”
Dari tenggorokan Ragil keluar suara tipis, perempuan, dan jauh. “Api yang cantik ....”
“Itu bukan lo yang ngomong.” Zaki mencengkeram bahunya dan memutar badan Ragil menjauhi bara. “Mas Tanto, bantu.”
Tanto sudah di sisi lain, menaruh telapak tangannya di punggung Ragil dan menggumamkan ayat dengan suara rendah. Mata Ragil mengerjap sekali, dua kali. Pandangannya yang kosong baru kembali ketika Tanto sampai pada ayat terakhir, dan ia terhuyung. Zaki menangkapnya.
“Gue ngapain tadi?” Suaranya parau.
“Berdiri,” kata Zaki. “Lama.”
“Gue ... lihat api. Terus ada yang bilang kalau api itu hangat. Gue cuma pengin hangat, Ki.” Ragil memegang lehernya. “Ini panas.”
“Jangan disentuh.” Tanto menarik tangannya. “Garis itu menyala karena api. Ndak boleh lagi ada yang pegang obor di dekat Ragil, sampai semuanya beres.”
Rangga Wesi menghampiri dengan wajah muram. “Baginda memanggil semua yang datang ke balairung. Sekarang.”
Mereka berjalan melewati sisa pasar yang gosong menuju gerbang istana. Rakyat menepi memberi jalan dan memandangi mereka dengan tatapan yang berbeda dari kemarin: bukan takut, tetapi sesuatu yang mirip penasaran dan terima kasih. Seorang perempuan menyodorkan setangkup roti pipih ke tangan Tika tanpa berkata apa-apa.
Arjuna berjalan di sisi Indri, memegang tali kudanya, dan tidak berkata apa pun sampai pasar tinggal di belakang.
“Soal mimpi itu,” katanya pelan. “Aku seharusnya bertanya dulu padamu. Bukan memutuskan lalu memberitahu.”
“Iya.”
“Aku masih takut.” Ia menatap lurus ke depan. “Tapi aku tidak akan memutuskan untukmu lagi.”
“Aku tahu.” Indri tidak menoleh, tetapi bahunya yang sejak tadi kaku sedikit turun. “Nanti, Mas. Kita bicara setelah ini.”
“Boleh aku berjalan di sisimu?”
“Kamu sudah jalan di sisiku.”
Ujung bibir Arjuna terangkat sedikit. Hanya itu.
***
Balairung malam itu lebih sepi daripada yang Indri ingat. Obor-obor batu menyala redup, dan ukiran emas di dinding tampak kusam. Di singgasana kayu jati, Prabu Brawijaya duduk dengan punggung tidak setegak biasanya. Jubahnya melorot di bahu kiri, tongkat bersandar di lututnya, dan di tangannya ada sapu tangan bernoda merah yang buru-buru ia sembunyikan.
Dinding di belakangnya retak. Retak itu sekarang merambat dari lantai hingga ke atas kubah.
“Baginda,” kata Indri sambil menunduk, lalu ragu, dan menunduk lebih dalam lagi.
“Berdiri tegak, Nak.” Suaranya jauh lebih lemah daripada terakhir kali. “Kau sudah tidak perlu menunduk di hadapanku.”
“Baginda sakit.”
“Sedikit.” Brawijaya tersenyum samar. “Orang tua boleh sakit.” Lalu tatapannya berpindah ke belakang Indri, pada sosok-sosok berpakaian asing yang berdiri kaku dan basah kuyup. Ia berhenti pada Zaki yang masih menyeret satu kaki. “Kau yang bersumpah di tepi Ranu Tompe.”
“Saya, Baginda.” Zaki membungkuk dalam. “Saya melanggarnya dengan sadar. Saya siap menerima hukuman apa pun.”
“Mbah Resa sudah berkata padaku.” Brawijaya menyandarkan kepala ke sandaran singgasana. “Tubuhmu sudah membayar sebagian. Dan engkau melanggarnya bukan untuk dirimu sendiri, melainkan karena seorang gadis yang meminta ditemani. Hukum negeri ini keras, tetapi aku tidak menghukum seseorang dua kali untuk satu kesalahan yang sudah ia tebus.” Ia menarik napas pendek. “Aku memaafkanmu. Dan engkau, dan semua yang datang bersamanya, adalah tamu negeri ini sampai purnama berikutnya.”
Zaki menunduk lagi tanpa kata. Tika menghela napas panjang di belakang dan menepuk punggung Sinta.
“Terima kasih, Baginda,” kata Indri. “Kami datang karena—”
“Karena kau memilih.” Brawijaya mengangguk lemah. “Aku tahu, Nak.”
Pintu kayu jati merah di ujung balairung terbuka dengan keras.
Dua prajurit masuk menyeret sesosok tubuh pendek bergelantungan di antara mereka. Kerdil. Pakaiannya dari daun yang sebagian gosong, mukanya tergores, tetapi di tangannya yang terikat ia menggenggam sebatang tongkat kecil dengan secarik kain hitam. Kain itu berkibar meskipun tak ada angin.
“Dia mengaku utusan, Baginda,” lapor salah satu prajurit. “Membawa bendera hitam.”
Arjuna sudah melangkah ke depan Indri. “Bendera itu hanya berarti satu hal. Ia boleh bicara dan tidak boleh disentuh.”
“Aku tahu hukumnya,” gumam Brawijaya. “Lepaskan ikatannya.”
Tali dilepas. Kerdil itu menegakkan tubuh pendeknya, mengangkat dagu dengan sombong, dan memandang berkeliling dengan mata kecil yang licik. Ketika tatapannya bertemu Indri, ia menyeringai.
“Daulat Tuanku Sabdo Palon,” katanya dengan suara nyaring melengking, “menitahkan pesan untuk raja yang bersembunyi di balik kabut.”
“Bicaralah,” kata Brawijaya.
“Besok malam, ketika bulan biru naik ke puncak, serahkan titisan itu.” Kerdil itu mengacungkan tongkat benderanya pada Indri. “Atau negeri ini terbakar. Tidak satu pasar. Seluruh negeri. Tuanku bilang dia sudah menunggu lima abad, dan dia tidak akan menunggu semalam lebih lama.”
Tak ada yang bergerak.
Tanto menarik napas tajam. Sinta menggenggam lengan jaketnya. Gilang bergumam, “Anjir ....” dan Tika langsung menyikutnya. Arjuna menghunus separuh keris dari sarungnya, dan bunyi besi yang meluncur terdengar sangat keras di ruang sunyi itu.
“Lancang,” desisnya.
“Tahan,” ujar Brawijaya, tetapi suaranya bergetar.
Indri melangkah maju. Ia dapat merasakan semua mata menempel di punggungnya, dan kalung melati Nenek terasa dingin di lehernya. Kerdil itu menatapnya dengan sengit.
“Katakan pada Tuanmu,” ujar Indri. Suaranya tenang, jauh lebih tenang daripada yang ia rasakan. “Jawabanku akan kuberikan besok malam. Tapi bukan jawaban yang kalian kira.”
Kerdil itu mengerjap. Seringainya berkurang. Ia tampak seperti hendak membantah, tetapi sesuatu pada tatapan Indri membuatnya diam. Lalu ia meludah ke lantai, menyambar tongkat benderanya, dan berbalik cepat keluar tanpa menunggu diizinkan.
Pintu kayu jati menutup di belakangnya.
“Nak,” bisik Brawijaya. “Apa yang akan kau lakukan?”
“Besok, Baginda.” Indri menelan ludah. “Saya mohon, beri saya sehari.”
***
Larut malam, di serambi balairung yang menghadap taman, Tanto berdiri sendirian memandangi seberkas lampu batu yang berayun lemah di pagar. Langkah ringan datang dari belakangnya. Mbah Resa, dengan lentera dan tongkat, wajahnya lebih letih daripada di tepi danau.
“Saya pikir Bapak ndak bisa meninggalkan pintu,” kata Tanto.
“Pintu itu tidak punya urutan, Nak.” Mbah Resa meletakkan lenteranya di pagar. Apinya tetap tak bergoyang. “Saya ke sini karena api tadi.”
“Saya lihat. Yang menyalakan kerdil.”
“Tidak hanya itu.” Mbah Resa menatap lampu batu. “Api di malam hari di negeri ini bukan sekadar bahaya. Ia seperti jarum yang menusuk kain. Asapnya naik ke langit, dan di atas sana kabut yang melindungi kita sedang rapuh. Setiap kali ada api, satu benang lepas.”
“Kalau begitu besok malam—”
“Besok malam hanya perlu satu percikan di tempat yang salah.” Suara lelaki tua itu pelan. “Kau ndak lihat anak yang bernama Ragil tadi? Itu bukan hanya Putri Jene. Tanda di lehernya akan dipakai orang lain. Hati-hati dengannya, Nak.”
Tanto tidak menjawab. Ia melirik ke dalam, tempat para dayang membawa rombongan Indri menuju paviliun besar. Di sana, di antara obor batu yang berpendar biru, tampak Ragil duduk di bangku kayu dengan Sinta dan Tika mengapit di kedua sisi. Seorang dayang menaruh lilin kecil di meja di depannya, mungkin ingin memberi kehangatan, tanpa tahu apa-apa.
Ragil menatap nyala lilin itu. Tidak berkedip. Satu detik, dua, tiga, lima, sepuluh.
Sinta menyentuh tangannya, tetapi ia tidak bergeming. Tika memanggil namanya dua kali.
Lalu bibir Ragil bergerak, membentuk satu kata tanpa suara.
“Putri.”