“19 Mei 2016, 19.30 WIB”
“Jangan berhenti!” teriak Indri. “Pak Rangga, lebih cepat!”
“Den Ayu, hamba harus mengamankan Den Ayu dulu ke dalam gerbang—”
“Itu pasarnya, Pak! Orang-orangnya ada di sana!”
Rangga Wesi menatapnya sedetik. Rahangnya menegang, lalu ia menghentak kendali dan membelokkan barisan ke arah jalan tanah yang menurun di antara jajaran cemara. Kuda-kuda meringkik, derap mereka bergemuruh. Di atas, langit makin merah.
Cemoro Kembar muncul dari balik kabut, dua pohon cemara raksasa yang berdiri berdampingan seperti dua penjaga yang sedang bersandar. Tidak ada burung jalak yang menyapa. Burung itu sudah terbang ke atas dahan tertinggi dan berteriak-teriak tanpa henti.
“Pegangan,” kata Rangga.
Mereka melewati di antara dua batang itu, dan dunia membalik.
Sekilas saja. Seperti membuka mata dari dalam air. Dingin lenyap, udara berganti hangat dan berbau asap. Dan dari balik undakan batu yang panjang, terbentang pasar yang tadinya hanya Indri kenal dalam cahaya siang: deretan kedai bambu, gerai batik, lapak emas dan perak, semua berhias lampu-lampu batu yang menyala sendiri dengan cahaya kebiruan, tanpa api.
Atau seharusnya begitu.
Sekarang, di tengah deretan gerai, tiga bangunan sedang menyala. Nyala jingga melompat dari atap ke atap, merambat ke kain-kain dagangan yang digantung. Orang-orang berlarian membawa ember dan tempayan. Seorang anak menangis di pinggir jalan, ibunya menariknya menjauh. Dan di antara asap yang bergulung ke langit, bayangan-bayangan pendek melompat dari tiang ke tiang, masing-masing membawa obor menyala.
“Ya Tuhan,” desis Tika. “Itu ... itu mereka lagi.”
Tanto sudah turun dari kuda sebelum kuda itu benar-benar berhenti. “Api,” bisiknya, wajahnya putih. “Di malam hari. Ini yang Mbah Resa maksud.”
“Obor!” seru Rangga Wesi pada pasukannya. “Rebut obornya! Jangan biarkan satu pun melempar ke gudang kain!”
Lembing-lembing berputar. Para prajurit menyebar. Indri sendiri melompat turun dengan lutut hampir menekuk. Di depannya, seorang ibu tua berkerudung kain batik tersungkur di tanah dengan lengan merah melepuh.
“Ibu!” Indri berlutut dan menarik tubuh itu menjauh dari kedai yang terbakar. Wajah itu ia kenal: ibu penjual kedai yang dulu membawakan “wet kofi” buatannya sendiri. Dengan suara terengah, perempuan itu menggenggam tangan Indri.
“Nduk ... Nduk, kamu pulang.”
“Iya, Bu. Jangan bicara dulu.” Indri menoleh. “Sinta! Air! Yang bersih, bukan dari parit!”
Sinta berlari ke tempayan di ujung lorong, membawa batok kelapa yang penuh. Indri merobek lengan kaus lapangan, membasahinya, dan menutup luka bakar itu tanpa menekan. Pertolongan pertama PMR: dinginkan, jangan oles apa pun, tutup longgar. Ia mengulang pelajaran itu dalam hati seperti mantra.
Hawa panas menyapu wajahnya, dan di sela bunyi retak kayu terbakar ia mendengar derap kuda lain dari arah istana. Cepat, keras, satu ekor saja.
Indri mengangkat kepala.
Di ujung jalan pasar, di tengah kepulan asap yang berputar, seekor kuda hitam meluncur dan berhenti mendadak hingga kedua kaki depannya terangkat. Penunggangnya melompat turun sebelum kuda itu menapak tanah. Kemeja hitam, udeng merah tua miring, rambut ikal sebahu yang kusut tertiup angin panas.
Arjuna.
Ia berhenti beberapa langkah dari Indri. Pandangannya menyapu pasar yang terbakar, kerdil-kerdil yang berlompatan, wajah-wajah asing di belakang Indri, lalu kembali ke gadis yang berlutut di tanah dengan tangan basah dan wajah hitam oleh jelaga.
Dunia seperti mengecil.
“Kau kembali,” ucapnya. Suaranya serak. Seolah ia tak yakin sedang bicara dengan bayangan.
Indri bangkit pelan-pelan. Ia menyeka tangan di celana lapangan. Semua yang ingin ia katakan sejak mimpi di tepi danau, marah, rindu, takut, mendadak berebut keluar sekaligus, dan yang lolos hanya satu.
“Aku datang.” Ia menatap lurus ke mata cokelat terang itu. “Karena pilihan, Mas. Bukan karena kamu nyuruh, bukan karena nggak ada pilihan lain. Aku yang milih.”
Arjuna mengatupkan bibir. Rahangnya bergerak sekali. Lalu sesuatu di wajahnya yang selama ini terkunci, entah apa, melunak, hanya sesaat sebelum tertutup lagi oleh urusan yang lebih mendesak.
“Nanti kita bicara,” katanya. “Sekarang pasar.”
“Iya.”
Dengan satu lompatan ia sudah mencabut keris pendek dari pinggang dan menghadang kerdil yang melemparkan obor ke arah gerai batik. Obor itu terbang berputar. Arjuna menebasnya di udara, dan bara berhamburan seperti kunang-kunang yang mati.
“Padamkan yang di atap!” serunya. “Jangan biarkan asap naik! Jaga!”
Seruling terdengar samar dari kejauhan, melengking tinggi lalu rendah, tetapi tidak ada kabut yang datang menolong. Pertolongan datang dari tangan-tangan: pedagang, ibu-ibu, dan anak-anak berderet mengoper ember dari sumur ke atap, dan asap yang tadi menjulur ke langit perlahan buyar oleh siraman air.
Tanto sudah ikut berbaris dalam rantai itu. Zaki di sebelahnya, satu kaki masih sedikit diseret, wajahnya basah oleh keringat dan air tumpahan.
“Mas, yang kiri lebih parah!” seru Zaki. “Oper ke gue aja embernya!”
“Aku bawa dua sekalian, Ki!” sahut Tanto sambil mengangkat dua ember. “Lo awasi atapnya!”
Mereka tertawa pendek, hampir kehabisan napas, di tengah kepanikan. Indri belum pernah mendengar mereka tertawa bersama.
Gilang, yang tidak bisa berlari, duduk di dekat sumur kecil dan menimba tanpa henti. “Tik! Anak-anak ke belakang, jangan ke jalan!” teriaknya. Tika menyahut dari kejauhan, “Gue tahu, Lang! Lo jangan ngomong, timba aja!” Ia berlari ke sana kemari menarik anak-anak, menggendong satu di punggung dan menuntun dua yang lain.
Rakyat negeri itu, awalnya takut pada orang-orang asing berpakaian aneh, perlahan berhenti ragu. Seorang pemuda melempar ember kosong pada Zaki, yang menangkapnya dengan satu tangan.
“Terima kasih, Tuan!” katanya.
“Saya bukan tuan,” sahut Zaki. “Ember lagi!”
Satu per satu api menyusut. Kerdil terakhir terjatuh dari atap gerai emas, disergap tiga prajurit sekaligus, dan menjerit dalam bahasa yang tak dimengerti sebelum menghilang ke saluran air.
Kemudian hanya sisa. Bau hangus dan basah. Tiang-tiang hitam yang berasap. Orang-orang terduduk di tanah, terbatuk, saling menepuk punggung. Anak tadi akhirnya berhenti menangis dan hanya tersengal-sengal di pelukan ibunya.
“Selesai,” kata Rangga Wesi dari atas atap, terengah. “Semua padam.”
Arjuna menyarungkan keris dan menengadah. “Berapa yang lolos?”
“Empat, Pangeran. Lewat saluran air lagi. Saluran itu sudah hamba tutup dua kali, dan mereka membukanya dua kali.” Rangga melompat turun dan berlutut. “Hamba gagal menjaga pasar.”
“Kau tidak gagal. Kau menahan sebelum api sampai ke gudang kain.” Arjuna menepuk bahunya yang tidak terluka. “Minta tabib ke sini. Ibu kedai itu dulu.”
“Sudah, Mas,” kata Indri dari belakang. “Lukanya sudah didinginkan, tapi tolong jangan pakai ramuan yang pedas dulu. Dibiarkan terbuka sebentar.”
Arjuna menoleh. Matanya melembut sedikit. “Kau masih sempat menolong orang.”
“Namanya juga PMR.”
“Aku tidak tahu itu apa,” kata Arjuna, “tapi aku suka.”
Tidak semua.
Indri melihatnya lebih dulu. Di ujung lorong pasar, di antara dua kedai yang sudah menjadi arang, seseorang berdiri sendirian. Punggungnya membelakangi mereka. Bahunya naik turun lambat.
Ragil.
Di depannya sisa bara dari sebuah obor yang jatuh masih menyala sebesar kepalan tangan, merah, berdenyut, dan setiap kali berdenyut kilat jingga memantul di matanya yang tak berkedip. Ia berdiri persis di garis pembatas antara tanah gosong dan tanah basah.
“Kak Ragil?” panggil Indri pelan.
Tak ada jawaban. Ragil bahkan tidak bernapas dengan ritme orang yang sadar. Tangannya terkulai kaku di sisi tubuh, dan di lehernya, di bawah kerah, garis kuning itu bersinar samar seperti bara kecil lain.
Zaki menghampiri dan berhenti di sisinya. “Gil.”
Ragil tidak bergerak.
“Gil, lo dengar gue?”
Bara itu berdenyut sekali lagi. Sebelum Zaki sempat menyentuh bahunya, dari menara gerbang istana di kejauhan terdengar gong, satu, dua, tiga, panjang dan dalam, menggetarkan sisa abu di udara.
Rangga Wesi, yang berdiri di atap gosong, langsung menegang. Semua kelegaan hilang dari wajahnya.
“Tiga kali,” gumamnya. “Ada yang datang ke gerbang membawa bendera hitam.”