Mbah Resa tidak menoleh ketika mereka mendekat. Ia hanya mengangkat lenteranya sedikit, dan cahayanya yang tak bergoyang jatuh tepat di wajah Indri.
“Kau datang sendiri, Nduk,” katanya. Suaranya parau dan pelan, seperti pintu kayu yang jarang dibuka. “Atau membawa orang?”
“Saya membawa teman-teman saya, Mbah.” Indri maju dua langkah, berhenti tepat di garis tak terlihat itu, lalu merasa tengkuknya meremang. Udara di sini lebih dingin dari yang seharusnya. “Saya mau mengundang mereka ke dalam.”
“Titisan memang boleh mengundang.” Mbah Resa akhirnya menoleh. Matanya sepucat air danau di belakangnya, tetapi sorotnya tajam. Ia menatap barisan itu satu per satu: Tanto, Sinta, Tika, Gilang yang bersandar pada tongkat, Ragil yang masih berbisik menghitung, dan terakhir Zaki. Pandangannya berhenti di situ. “Kecuali yang satu itu.”
Zaki tidak mengelak. “Saya tahu, Pak.”
“Kau bersumpah di tepi air ini, Nak. Di depan mata saya sendiri. Saya sudah bilang waktu itu, sumpahmu tak punya pintu belakang.” Mbah Resa mengetukkan tongkatnya sekali di tanah basah. “Lima langkah ke depan, tubuhmu akan menagih sendiri. Saya tak perlu mengangkat tangan.”
“Kak,” kata Indri cepat. Ia berbalik menghadap Zaki, dan hatinya mencelos melihat wajah itu tenang sekali. “Kakak sampai sini aja. Beneran. Kakak sudah janji ngantar, dan Kakak sudah ngantar. Tunggu di sini sama yang lain. Aku nggak mau Kakak lumpuh gara-gara aku.”
“Kamu mau aku di sini, atau kamu mau aku ikut?”
Pertanyaan itu begitu langsung sampai Indri terdiam.
“Ndri.” Zaki melangkah satu langkah mendekat, berhenti sebelum garis. Ia merendahkan suara supaya hanya Indri yang mendengar. “Aku nggak minta kamu memilihku. Aku cuma pengin tahu satu hal kecil. Kalau kamu yang minta, aku bakal ikut. Kalau kamu bilang tunggu, aku bakal tunggu sampai kamu pulang. Mana?”
Indri menggigit bibir. Di punggungnya, jaket Ayah terasa berat. Ia teringat Retno di dapur air, terkepung deretan hamba berpakaian putih. Ia teringat Zaki yang berlutut dan Retno memeluknya. Teringat Zaki yang mengatakan sesuatu padanya di dermaga telaga, dengan suara gemetar, tanpa meminta apa-apa sebagai balasan.
Ia tidak sanggup masuk ke tempat itu sendirian. Tidak sanggup, dan ia malu mengakuinya.
“Ikut, Kak,” katanya lirih. “Aku minta Kakak ikut. Maaf.”
“Jangan minta maaf.” Sudut bibir Zaki terangkat, hanya sedikit. “Itu jawaban yang aku tunggu.”
Mbah Resa menghela napas yang terdengar seperti dedaunan gugur. “Anak-anak keras kepala. Seperti anak saya dulu.”
Zaki melangkah.
Langkah pertama, tidak terjadi apa-apa. Langkah kedua, ia menarik napas tajam. Tanto langsung bergerak maju, tetapi Mbah Resa mengangkat tongkat dan menahannya dengan satu kata, “Jangan.”
Langkah ketiga, wajah Zaki mengerut. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. Kedua pahanya gemetar, seolah ada ribuan jarum menusuk dari dalam tulang. Indri melihat tangannya mengepal sampai kuku-kukunya memutih, lalu terbuka, lalu mengepal lagi.
“Kak!”
“Aku ... nggak apa-apa.” Giginya terkatup. “Perih doang. Kayak ... kesemutan sejuta.”
Langkah keempat, lututnya tertekuk. Ia nyaris jatuh, tetapi bahunya menegang, ia menopang dirinya dengan satu tangan di paha dan memaksakan tegak. Tika menutup mulut dengan kedua tangan. Sinta menangis tanpa suara. Tanto berdiri dengan rahang mengeras dan bibir bergerak membaca doa.
Langkah kelima, ia berdiri tepat di tepi air, di samping Indri, dengan seluruh tubuh bergetar.
Tidak jatuh. Tidak lumpuh. Hanya berdiri, sebagai satu-satunya jawaban yang bisa ia berikan pada sumpahnya sendiri.
“Sudah,” bisiknya. “Dua jari kaki mati rasa. Sisanya masih milikku.”
Mbah Resa menatapnya lama. “Tubuhmu yang akan membayar nanti, Nak. Kalau bukan hari ini, esok. Kau paham?”
“Paham, Pak.”
“Baik.” Lelaki tua itu akhirnya menurunkan lentera. Ada sesuatu di wajahnya yang lembut dan pahit sekaligus. “Sudah dua puluh tahun lebih saya berdiri di sini, dan baru kali ini ada yang melanggar sumpah bukan untuk dirinya.”
Belum sempat siapa pun menjawab, permukaan Ranu Tompe beriak.
Bukan tertiup angin. Air yang tadi seperti cermin mendadak bergetar dari tengah danau, dan dari kabut tipis di atasnya terdengar derap kuku kuda, banyak dan teratur. Lalu satu per satu muncul sosok-sosok berkuda dengan pakaian hitam dan sabuk merah, lembing tegak di tangan kanan. Kuda-kuda itu berlari di atas air seakan air adalah tanah keras, dan dari tiap telapaknya terpercik cahaya perak.
Tika berbisik, “Ya ampun.”
Di depan barisan, seorang lelaki berwajah keras mengangkat tangan, dan seluruh pasukan berhenti serempak. Rangga Wesi. Bahu kirinya masih berbalut kain putih yang di pinggirnya merembes noda cokelat tua.
“Ada pelanggar yang menembus batas,” serunya dari atas pelana. Matanya langsung tertuju pada Zaki, yang masih bertumpu pada paha sendiri. “Orang itu bersumpah di bawah pengawasan juru kunci, dan sumpahnya sudah dilanggar. Tangkap dia.”
Dua prajurit meloncat turun.
“Berhenti.”
Indri sendiri tak menyangka suaranya akan sekeras itu. Ia melangkah ke depan Zaki, menyibak lengan jaket Ayah, dan mengangkat tangan kanannya. Gelang cendana di pergelangannya berkilau kecokelatan di bawah cahaya lentera.
“Gelang ini diberikan Baginda sendiri,” katanya. Napasnya berat, tetapi ia tidak menunduk. “Bapak mengenalinya, kan?”
Rangga Wesi menyipitkan mata. Ketika ia melihat ukiran halus di sekeliling gelang itu, bunga-bunga cendana yang merambat dalam lingkaran tertutup, wajahnya berubah. Gelang itu bukan hiasan. Itu milik Ratu Widyadari. Semua orang di negeri ini tahu siapa yang boleh memakainya.
“Mereka tamu saya,” kata Indri. “Mereka datang karena saya yang mengundang. Kalau ada hukuman buat yang melanggar, saya yang menanggung. Tapi saya minta Pak Rangga membawa kami semua ke Baginda. Hari ini juga.”
Kesunyian membentang. Hanya bunyi air yang menetes dari kuku kuda.
Lalu Rangga Wesi turun dari pelananya. Ia menekuk satu lutut di tanah basah, menaruh tangan kanan di dada, dan menunduk dalam-dalam. Para prajuritnya serempak mengikuti. Delapan belas lembing diturunkan ke tanah hampir tanpa bunyi.
“Den Ayu,” ujarnya. “Hamba mohon maaf atas kelancangan. Perintah Baginda jelas: siapa pun yang Den Ayu bawa adalah tamu istana.”
Zaki mengerjapkan mata, menatap Indri dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tika menggamit lengan Sinta. “Dia barusan kayak ... ratu,” bisiknya.
“Jangan bilang gitu,” gumam Indri, tetapi pipinya panas.
Satu per satu mereka dinaikkan ke punggung kuda. Tanto menolak diangkat dan naik sendiri dengan wajah kaku. Gilang dikawal dua prajurit, Ragil dibopong prajurit lain yang ia tatap dengan mata kosong sambil terus menghitung dalam hati. Zaki menolak bantuan, lalu memegang pelana erat-erat ketika kuda tinggi itu mulai melangkah ke permukaan danau.
Indri menoleh ke belakang sekali. Mbah Resa berdiri dengan lenteranya, kecil dan sendirian, semakin jauh.
“Terima kasih, Mbah,” katanya.
“Pergilah, Nduk.” Lelaki tua itu mengangkat lentera sedikit. “Dan bawa pulang yang lain.”
Kuda-kuda itu berlari di atas air, menembus kabut yang melipat jarak seperti kain basah. Jalan setapak, pohon-pohon besar, undakan batu tua. Ketika langit di atas pinus sudah gelap sepenuhnya, Rangga Wesi yang memimpin di depan mendadak menarik kendali.
“Itu bukan senja,” gumamnya.
Di kejauhan, di balik jajaran cemara yang menjulang, langit memerah. Bukan merahnya matahari terbenam. Merahnya lebih rendah, bergolak, dan berkedip seperti sesuatu yang bernapas.