“Boleh,” kata Indri.
Semua kepala menoleh padanya, termasuk Zaki yang sudah membuka peta terlipat di tangannya. Ragil mengerjap, seolah tak percaya ia benar-benar diizinkan.
“Tapi Kak Ragil jalan di tengah,” lanjut Indri. “Di antara Mas Tanto dan Kak Zaki. Kalau Kakak dengar ada yang manggil dari belakang atau dari air, jangan noleh. Jangan jawab. Pegang jaket Kak Zaki dan hitung langkah. Sanggup?”
“Sanggup.” Ragil mengangguk cepat-cepat. “Gue hitung. Sampai seribu juga gue hitung.”
“Lang, lo di posko aja,” kata Tika sambil menahan bahu Gilang, yang sudah melangkah dengan tongkat dahannya. “Paha lo baru dijahit dua belas, Bego.”
“Gue ikut. Pelan-pelan.” Gilang mendengus. “Tik, gue sudah pernah lihat lo hampir dimakan macan. Gue nggak mau dengar kabar lo dari orang lain lagi.”
Tika terdiam. Lalu ia menyeringai getir, menepuk pipi pacarnya dua kali dengan agak keras, dan berkata, “Ya udah. Tapi jangan ngeluh. Dan lo jagain Kak Ragil, bukan gue.”
Mereka berangkat saat langit masih kelabu. Tanto di depan, membelah jalan setapak yang licin oleh embun dengan langkah yang tidak terburu-buru dan tidak ragu. Ia menolak lewat jalur utama. Pos penjagaan di sana pasti sudah dinyalakan lampu minyaknya, dan dua petugas sedang membuat teh di depan pondok kayu. Dari balik semak, Indri melihat asap tipis mengepul dari cerobong pondok itu dan menahan napas ketika mereka melintas dalam jarak lima puluh meter.
“Jangan nginjak ranting,” bisik Tanto tanpa menoleh. “Rantingnya ndak punya salah, tapi suaranya bisa membangunkan orang.”
Gilang tertinggal dua puluh langkah di tikungan pertama. Tika menunggunya sambil pura-pura mengikat tali sepatu, lalu berjalan di sisinya, memberi bahu tanpa diminta. Gilang pura-pura tidak sadar bahunya dipakai sebagai tumpuan. Barisan itu pun melambat menyesuaikan satu kaki yang pincang, dan tak seorang pun mengeluh.
***
“19 Mei 2016, 11.50 WIB”
Blank 75 tidak ramah.
Tanto sudah memperingatkan mereka sejak awal, tetapi tidak ada yang cukup siap melihatnya. Sisi barat lereng itu tidak punya jalan sama sekali. Hanya punggung bukit sempit dengan batu-batu lepas, di sebelah kirinya jurang menganga yang dasarnya tertutup kabut tebal, dan di sebelah kanannya dinding tanah yang ditumbuhi akar. Angin bertiup naik dari bawah membawa bau dingin yang aneh, seperti besi dan lumut basah.
“Satu-satu,” kata Tanto. “Telapak kaki rata, tangan pegang akar. Kalau ada yang tergelincir, jangan teriak. Jatuh pelan-pelan ke sisi kanan.”
Sinta berjalan tepat di belakangnya, matanya tidak lepas dari punggung Tanto. Setiap kali Tanto menoleh memeriksa barisan, tatapan mereka bertemu sepersekian detik, dan Sinta menunduk. Indri yang berada di belakangnya menyadari itu, tetapi ia tidak berkomentar. Ada hal-hal yang cukup dilihat, tidak perlu diganggu.
“Ndri.” Suara Zaki dari belakang, pelan. “Lihat kiri.”
Indri menoleh. Di tepi jurang, di antara dua batu besar, berdiri seorang perempuan dengan jaket pendaki lusuh. Wajahnya pucat, rambutnya basah, dan kakinya yang terkilir berdiri miring. Dania. Ia mengangkat satu tangan dan menunjuk lurus ke depan, ke arah tebing yang menyempit.
“Dia bilang jangan lewat tepi,” bisik Indri. “Mas Tanto, kita harus naik lebih tinggi, ke lereng atas. Dania nunjukin.”
Tanto tidak bertanya. Ia hanya melirik ke arah yang ditunjuk Indri, mengangguk, lalu memutar langkah naik. Zaki yang tak melihat apa-apa tetap mengikuti dengan wajah tegang. Tika, yang di belakang, menyipitkan mata ke arah batu itu dan bergumam, “Sumpah, tadi gue kayak lihat bayangan orang.”
Baru sepuluh langkah mereka naik, tanah di jalur lama runtuh dengan suara gemuruh kecil. Batu-batu bergulir ke jurang. Seandainya mereka masih di sana, kemungkinan besar sudah ikut jatuh.
“Terima kasih, Mbak,” bisik Tanto ke udara kosong. Suaranya serak.
Mereka belum sempat menarik napas ketika dari balik semak di atas punggung bukit terdengar cicit tajam, seperti kelelawar. Lalu bayangan-bayangan pendek melompat turun.
Kerdil.
Sedikitnya delapan, bertubuh gempal dengan baju dari daun kering yang berkeresek. Tombak mereka terangkat. Wajah mereka yang buruk berkerut bengis, dan salah satunya langsung melesat ke arah Indri.
“Krosak! Krosak!” Daun-daun beterbangan.
“Ndri, mundur!” Zaki menerjang dan menepis tombak itu dengan ransel di lengannya. Ujung tombaknya menggores kain, tidak menembus.
Tanto berseru, “Tika! Ranting! Pegang dua tangan!”
Tika sudah menyambar sebatang ranting pinus sebesar lengan dan mengayunkannya ke samping dengan semua tenaga yang ia punya. Plakk! Seekor kerdil terpental ke semak. “Rasain lo, kurcaci tanggung!” teriaknya, tetapi suaranya bergetar.
Ragil berdiri kaku di tengah, tangannya mencengkeram jaket Zaki sampai buku jarinya memutih. Gilang, yang tak bisa berlari, menjepit lengan seniornya dari sisi lain dan melempar batu sebesar kepalan ke kerdil mana pun yang mendekat. Dua kali kena. Sekali meleset, dan ia mengumpat. Sebuah suara perempuan, halus, lembut, terdengar entah dari mana, memanggil Ragil dengan nama pendeknya: ‘Gil ... Gilll ...’
“Jangan noleh, Kak!” seru Indri. “Hitung!”
“Satu ... dua ... tiga ...” Ragil memejamkan mata rapat-rapat dan berbisik dengan suara pecah. “Empat ... lima ... ini nggak lucu, Putri, nggak lucu ... enam ...”
Tanto menyabetkan tongkatnya ke kerdil yang mencoba menjegal kaki Ragil. “Tahan di sini! Jangan ada yang turun ke kiri!”
Sinta sendiri tidak melempar apa-apa. Ia hanya berdiri tepat di belakang Tanto dan menyodorkan botol airnya sebagai tameng ketika dua kerdil lain menyerbu. Aneh, tetapi cukup untuk membuat mereka ragu sepersekian detik, dan Tanto memanfaatkan jeda itu untuk mengayunkan tongkat dengan kedua tangan.
Lalu kabut turun.
Bukan kabut biasa. Putih pekat, tebal, menggulung dari arah jurang naik ke punggung bukit. Kerdil-kerdil itu berteriak kebingungan, memutar-mutar mencari arah, lalu satu per satu mundur tunggang langgang. Dari balik kabut, samar, seorang perempuan berjaket pendaki mengangkat tangan sekali lagi, kemudian lenyap bersama kabutnya.
“Dania,” desah Indri.
Tak ada yang bicara beberapa saat. Zaki melepaskan Ragil perlahan, sementara Ragil menurunkan tangan dari telinganya dan terisak pendek, bukan karena takut. Entah apa.
“Saya ndak tahu,” kata Tanto akhirnya, terengah, bahunya naik turun, “siapa yang lebih berani hari ini. Kalian, atau ...” Ia berhenti, melirik Sinta, dan wajahnya yang cokelat tua mendadak tampak terlalu hangat untuk udara sedingin itu. “Atau ya sudah, jalan lagi.”
Sinta tersenyum tipis, menunduk, dan memasukkan botolnya kembali ke saku tas.
***
“19 Mei 2016, 17.40 WIB”
Cahaya matahari yang jatuh ke ufuk barat berwarna madu ketika mereka tiba.
Ranu Tompe membentang di bawah, kecil dan hening seperti cermin yang lupa dipakai. Airnya berwarna kelabu kehijauan. Pinus-pinus hitam mengelilinginya, dan kabut tipis menggantung beberapa jengkal di atas permukaan. Tidak ada angin, tidak ada burung, bahkan serangga pun seolah menahan suara.
Tika menghembuskan napas panjang. Enam hari lalu ia berdiri di tepi yang sama, bersama kerdil di semak dan Dania yang menyuruh mundur. “Danaunya tetap sekecil itu. Cuma kali ini gue tahu kenapa nggak ada burung.”
“Jangan terlalu dekat.” Zaki mengulurkan lengan untuk menahan siapa pun yang maju. “Kira-kira lima langkah dari tepi. Itu garisnya.”
Indri menyipitkan mata. Di tepi danau, di antara tanah basah dan batu-batu pipih, sebuah titik cahaya kuning bergoyang pelan.
Lentera.
Seorang lelaki tua berdiri di sana, bungkuk, mengenakan baju lusuh yang warnanya sudah lama hilang, dengan tongkat kayu di satu tangan. Apinya tidak berayun tertiup angin. Ia tidak menoleh pada mereka. Ia hanya menatap ke permukaan air, seperti orang yang sudah menunggu seratus tahun.
“Mbah Resa,” bisik Indri.