“19 Mei 2016, 04.05 WIB”
Tika berhenti dua langkah di belakang Indri, pura-pura sibuk membetulkan tali carrier. Ia terlalu jujur untuk pura-pura, dan pundaknya yang kaku menunjukkan ia sedang menahan diri supaya tidak ikut bicara.
“Kak,” ulang Indri. Napasnya mengepul di udara dingin. “Bukan sekadar mengantar, Kak. Aku harus masuk lagi ke sana. Hari ini. Sekarang.”
Zaki tidak langsung menjawab. Senter di tangannya masih mati, dan jempolnya bergerak pelan di atas tombolnya, menekan, melepas, menekan lagi.
“Sekarang,” katanya akhirnya. “Bukan nanti sore.”
“Dua malam lagi Purnama Biru. Kalau aku telat, aku nggak tahu apa yang bakal terjadi sama orang-orang di sana.” Indri menelan ludah. “Dan sama Retno. Aku sudah janji.”
“Aku tahu kamu janji.” Suara Zaki rendah dan datar, tetapi rahangnya mengeras. “Aku cuma pengin dengar kamu mengatakannya sendiri. Kamu balik karena janji pada Retno, pada orang-orang itu, atau karena dia?”
Pertanyaan itu menusuk, dan Indri tidak mau menghindar. “Semuanya, Kak. Termasuk dia. Aku nggak mau bohong lagi soal itu.”
Zaki mengangguk satu kali. Ia menunduk sebentar, menatap senter di tangannya seolah benda itu mendadak berat. Ketika ia mengangkat wajah lagi, sorot matanya tenang, dan hanya Indri yang cukup dekat untuk melihat betapa lelahnya mata itu.
“Aku sudah janji akan mengantar,” katanya. “Itu nggak berubah gara-gara jawabanmu.”
“Kak, sumpahmu—”
“Urusan sumpah itu urusanku, Ndri. Jangan kamu pikirkan.” Ia menyibak kain tenda lebih lebar. “Bangunkan yang lain. Aku siapkan peta.”
***
Tenda Tanto di ujung lapangan masih gelap. Indri mengetuk tiang tendanya pelan-pelan, dan tak sampai dua ketukan, resletingnya sudah ditarik dari dalam.
“Ndri?” Tanto menjulurkan kepala. Rambutnya acak-acakan, tetapi matanya sudah terjaga. Pemandu yang bertahun-tahun tidur di gunung memang tidak pernah benar-benar tidur. “Jam segini. Ada yang sakit?”
“Nggak, Mas. Aku mau ke Ranu Tompe.”
Tanto diam. Cukup lama sampai Gilang di tenda sebelah terbatuk dalam tidurnya.
“Ndak bisa,” katanya, sepelan mungkin tetapi tegas. “Maaf, Ndri, tapi ndak bisa. Operasi pencarian sudah ditutup, jalur sisi utara dijaga petugas, dan Ranu Tompe itu daerah yang ndak boleh dimasuki orang. Demi keselamatan kita bersama, saya ndak bisa membawa siapa pun ke sana. Sampeyan sudah pulang dengan selamat. Itu sudah mukjizat.”
“Aku ngerti.” Indri menarik napas. “Tapi aku harus ke sana, dan aku nggak bisa jalan sendirian. Ada satu lagi, Mas. Dania titip pesan.”
Wajah Tanto berubah. Pelan, seperti permukaan air yang disentuh ujung jari.
“Waktu aku keluar dua hari lalu, dia muncul di dekat danau. Dia masih di dekat Arcopodo, di tempat yang tenang, dan dia nggak marah pada siapa pun. Dia minta itu disampaikan ke Mas Tanto, dan minta ibunya berhenti menyalahkan diri. Aku seharusnya bilang dua hari lalu, tapi aku ....” Indri menggeleng. “Maaf.”
Tanto tidak menyahut. Ia duduk di ambang tenda dan menatap ke gelap, ke arah gunung yang tidak kelihatan. Bibirnya bergerak tanpa suara. Indri tak tahu apakah itu doa atau nama.
“Terima kasih, Ndri,” bisiknya kemudian. “Saya yang menyuruhnya menunggu di plat itu. Saya ndak pernah tahu dia ... masih ada di sana.”
“Mas ndak salah.”
“Saya pemandunya.” Tanto mengusap wajah. “Tetap saja ndak bisa. Saya ndak mau menyeret kalian ke tempat yang saya sendiri ndak paham.”
“Aku ikut.”
Sinta sudah berdiri di belakang Indri, entah sejak kapan. Ia memakai jaket kebesaran milik Tika dan memegang botol air, rambut sebahunya diikat asal. Wajahnya pucat tetapi dagunya terangkat.
“Ta,” tegur Tanto.
“Mas Tanto sendiri yang bilang, jangan biarkan teman jalan sendirian.” Suara Sinta kecil, tetapi tidak goyah. “Aku sudah ditinggal sendirian di Ranu Kumbolo. Aku nggak mau lagi. Kalau Mas nggak mau, aku jalan sama Kak Indri duluan.”
Tanto menatapnya lama. Lalu menarik napas yang panjang sekali, menepuk lututnya, dan berdiri.
“Kalian ini,” gumamnya, “bikin saya ubanan sebelum waktunya.” Ia masuk tenda mengambil ransel, dan dari dalam terdengar, “Saya yang pimpin. Ndak ada yang jalan di depan saya. Dan kalau saya bilang mundur, semua mundur, ndak pakai tawar-menawar.”
“Siap, Mas,” kata Indri dan Sinta hampir bersamaan.
***
Oni sudah menunggu di bawah tenda terpal, sebuah jaket tebal tersampir di bahunya dan ponsel di tangan. Ia tidak kelihatan terkejut. Rupanya Tika sudah lebih dulu membangunkannya.
“Gue nggak akan tanya gimana caranya lo bakal naik ke sana,” katanya pelan, sambil melirik ke arah pintu penginapan. “Gue cuma mau pastiin satu hal. Lo yakin?”
“Yakin, Kak.”
“Oke.” Oni mengangguk. “Gue di sini. Orang tua lo biar gue yang tenangin. Bunda lo ... gue tahu beliau udah tahu. Tapi tetap perlu ada yang duduk di sebelahnya waktu bangun nanti.”
“Makasih, Kak.”
“Jangan makasih ke gue. Makasih ke Retno kalau ketemu.” Suara Oni sedikit retak. “Bilangin juga, kalau dia nggak pulang, gue yang bakal ngomel di kuburannya soal laporan kas.”
Di belakangnya Anto bersandar pada tiang tenda, satu kakinya masih diperban. Ia tidak ikut berkemas. Ia hanya berdiri dengan kedua tangan terbenam di saku dan menatap Indri seperti anak kecil yang tahu ia tak diajak.
“Gue jaga posko, Ndri,” katanya. “Biar gue yang jaga. Gue ... gak mau jatuh lagi.”
“Nto, lo nggak jatuh.”
“Gue jatuh,” kata Anto, lirih tetapi jelas. “Cuma bedanya, sekarang gue tahu harus berdiri di mana. Di sini. Kalau ada yang balik, ada yang nyambut.”
Indri tidak sanggup membalas dengan kata. Ia mendekat dan memeluknya sebentar, dan Anto yang gempal itu mendadak kaku seperti papan, lalu pelan-pelan balas menepuk punggungnya.
“Tapi jalur Blank 75 dijaga petugas,” kata Oni, kembali ke nada ketua sementara. “Mereka udah dipasang lagi tadi malam, gara-gara berita ada pendaki hilang di sana. Kalian harus lewat sisi.”
“Saya tahu jalannya,” kata Tanto dari belakang. “Ndak enak, tapi ada.”
Mereka sudah hampir bergerak ketika bunyi kerikil terinjak datang dari arah penginapan. Pelan, tidak rata, seperti langkah orang yang berjalan sambil menyeret sesuatu.
Ragil.
Ia berdiri di tepi cahaya dengan jaket yang dikancing salah satu, rambut kusut, dan wajah yang hampir tak punya warna. Di lehernya, di bawah kerah, garis kuning tipis itu masih kelihatan. Lebih samar daripada kemarin. Tetapi belum hilang.
Di belakangnya, Gilang terpincang-pincang dengan tongkat dari dahan, berusaha menyusul. “Kak! Kak Ragil, balik ke kasur—”
“Gue ikut.”
Suara Ragil serak, tetapi tidak ada gombal di dalamnya, tidak ada kedipan mata yang biasa. Ia menatap Indri tanpa berkedip.
“Kak, lo belum pulih,” kata Indri hati-hati.
“Retno ada di sana.” Ragil menelan ludah, dan jakunnya naik turun dengan susah payah. “Gue harus ke sana, Ndri. Gue yang bikin dia ... dia ngelayanin meja di dapur air itu gara-gara gue nggak dengerin. Kalau lo bilang nggak, gue tetap ikut. Gue merangkak juga nggak apa-apa.”