“19 Mei 2016, 03.40 WIB”
Dua malam. Indri menghitungnya lagi sambil menuruni tangga kayu tanpa bunyi, satu anak tangga setiap satu napas.
Ia sudah tidak tahan berbaring. Tika tidur lagi di kasur sebelah dengan satu kaki tertindih selimut, dan lampu minyak sudah mati sepenuhnya. Di bawah, ruang tengah gelap, hanya bara tungku yang memerah samar. Pintu beranda terbuka sedikit, dan cahaya biru pucat dari langit sebelum subuh jatuh di lantainya.
Seseorang sudah duduk di sana.
Bunda. Bersarung tebal, kepala dibungkus selendang, kedua tangannya memegang gelas teh yang jelas sudah lama dingin. Ia tidak menoleh ketika Indri membuka pintu.
“Kamu juga tidak bisa tidur.”
“Bunda sudah dari tadi?”
“Sejak Ayahmu berhenti mendengkur.” Bunda menggeser duduknya di bangku panjang, memberi ruang. “Duduk. Di luar dingin.”
Indri duduk. Dari beranda, lapangan posko tampak abu-abu dan sunyi, pinus di kejauhan seperti jajaran penjaga bertopi tinggi. Bintang-bintang masih banyak, dan di ufuk timur garis kelabu perlahan memutih.
Lama mereka diam. Lalu Indri berkata, dengan suara yang ia usahakan tidak gemetar, “Bunda, aku harus pergi lagi.”
Bunda tidak terkejut. Ia hanya mengangguk perlahan, seperti sudah menunggu kalimat itu sejak ia melihat gelang cendana kemarin.
“Ke tempat orang yang namanya Arjuna.”
“Iya.”
“Yang membuat kamu menangis dalam tidur tadi malam.”
Indri menunduk. “Bunda dengar?”
“Bunda ibumu.” Bunda tersenyum sedikit. “Kamu menyebut namanya dua kali. Satu kali dengan marah, satu kali dengan sedih. Bunda tidak perlu jadi dukun untuk mengerti.”
“Bunda, aku ... aku belum tahu apakah aku ke sana untuk tinggal, atau cuma untuk menjawab sesuatu.” Indri meremas jari-jarinya. “Tempatnya jauh. Mungkin nggak bisa dihubungi. Aku nggak bisa jelasin lebih dari itu, dan aku tahu itu nggak adil buat Bunda dan Ayah. Tapi kalau aku nggak pergi, ada banyak orang yang bakal ... ada yang harus kuselesaikan.”
“Apakah kamu akan baik-baik saja?”
“Aku nggak tahu.”
“Satu pertanyaan lagi, dan Bunda ingin jawaban jujur.” Bunda menatap lurus. “Dia memperlakukan kamu dengan hormat?”
Indri teringat serambi, mangkuk bubur yang terlalu asin, tangan yang bertanya dulu sebelum menyentuh pipinya, dan tangan yang mundur ketika ia berkata cukup. Senyum kecil lolos begitu saja.
“Dia nanya dulu, Bunda. Bahkan sebelum megang tanganku. Dan kalau aku bilang nggak, dia mundur.”
“Kalau begitu Bunda ingin bertemu orang yang mengajari anak laki-laki itu menghormati perempuan.” Bunda menghela napas.
Bunda mengangguk lagi. Ia meletakkan gelasnya di bangku, lalu menggenggam kedua tangan Indri dengan telapaknya yang kasar.
“Bunda tidak akan menahan kamu.”
Mata Indri membelalak. “Bunda?”
“Kalau Bunda menahan, Bunda hanya akan membuatmu pergi diam-diam, dan itu lebih menyakitkan.” Suaranya bergetar tetapi tidak patah. “Dulu Bunda pergi tanpa restu. Bunda tahu rasanya. Bunda tidak mau kamu melewati itu sendirian.”
“Tapi Bunda takut.”
“Takut sekali.” Ia tertawa kecil di tengah air matanya yang jatuh pelan. “Seperti saat kamu pertama masuk SD dan Bunda berdiri di gerbang sampai kamu hilang di kelas. Lalu Bunda tetap berdiri dua puluh menit lagi, siapa tahu kamu keluar.” Ia mengusap pipinya dengan ujung selendang. “Tetapi Bunda punya satu syarat.”
“Apa saja.”
“Kalau suatu hari kamu menikah, Nak.” Bunda menatapnya lurus. “Dengan siapa pun, di mana pun, dengan cara apa pun. Ayah dan Bunda harus ada. Kami bukan minta kamu menikah. Kami hanya tidak ingin duduk di rumah sambil membaca kabar dari orang lain, seperti Nenekmu dulu.”
Napas Indri tersangkut. Ia mengangguk berkali-kali, tidak sanggup bicara, lalu menunduk dan memeluk Bunda erat-erat. Selendang dan bau minyak angin dan sabun murah. Hangat yang tak ada gantinya di mana pun, di istana atau di negeri mana pun.
“Aku janji, Bunda. Aku janji.”
“Dan Nak Zaki?” tanya Bunda sambil mengelus rambutnya. “Dia akan ikut?”
“Dia bilang mau nganter sampai pintu.”
“Anak baik. Biarkan dia mengantar. Orang yang mengantar dengan ikhlas tidak sedang meminta apa-apa.” Bunda tersenyum samar. “Tapi jangan biarkan dia menanggung hal yang bukan miliknya.”
Bunda mengusap punggungnya, lalu melepaskan pelukan dan merogoh sesuatu dari balik sarung. Sebuah kalung emas tipis dengan liontin kecil berbentuk bunga melati.
“Ini milik Nenek. Dia berikan ke Bunda waktu Bunda pulang pertama kali setelah menikah. Katanya, supaya Bunda ingat jalan pulang.” Ia menyelipkan kalung itu ke telapak tangan Indri dan menutup jemarinya. “Pakailah. Supaya kamu ingat.”
“Bunda, ini terlalu—”
“Pakai.”
Indri mengaitkannya di leher dengan tangan gemetar. Ujung liontin terasa dingin sesaat, lalu hangat oleh kulitnya.
Pintu di belakang mereka berderit pelan.
Ayah berdiri di ambang, bersarung dan berkaus oblong, rambutnya acak-acakan. Ia tidak berkata apa-apa. Matanya merah, dan Indri sadar ia pasti sudah berdiri di situ sejak percakapan dimulai. Pria itu melangkah keluar, melepas jaket tebal yang tersampir di lengan kirinya, dan meletakkannya di bahu Indri. Berat, hangat, berbau tembakau dan asap kayu.
Tangannya bertahan di bahu putrinya sebentar. Hanya sebentar. Lalu ia berbalik dan masuk lagi tanpa suara.
“Ayahmu lebih sulit mengatakannya,” bisik Bunda. “Tapi jaket itu jawabannya.”
Indri menggigit bibir. Di luar, garis di ufuk sudah semakin terang, dan kokok ayam pertama terdengar dari kejauhan. Ia berdiri.
“Aku harus kembali sekarang, Bunda. Sebelum matahari naik.”
“Pergilah.”
***
Tika terbangun pada guncangan kedua. “Hmm? Dri? Jam berapa?”
“Hampir jam empat.” Indri berlutut di sisi kasurnya, jaket Ayah masih menggantung di bahu. “Tik, bangun. Gue harus balik. Sekarang.”
Seperti disetrum, Tika langsung duduk. Rambutnya mencuat ke segala arah, tetapi matanya terang. “Sekarang? Kemarin lo bilang—”
“Gue tahu. Gue nggak bisa nunggu.” Indri menggenggam tangannya. “Gue butuh lo bantu bangunin yang lain. Dan gue mau ngomong ke Kak Zaki sendiri.”
Tika menatapnya beberapa detik. Lalu ia menyibak selimut dan meraih jaketnya. “Gue ikut ke bawah. Nggak usah nunggu.”
Sambil Tika mengikat sepatu, Indri membuka buntalan Laras di sudut kamar. Celana lapangan dan kaos yang sudah harum sabun istana, kebaya dan kain batik terlipat di bawahnya. Ia mengambil celana itu, menyelipkan tangan ke saku, dan jemarinya menyentuh sesuatu yang lembut: sepasang sarung tangan rajut yang sudah agak kusut. Ia memegangnya sebentar, lalu memasukkannya kembali. Belum waktunya.
“Dri,” bisik Tika dari belakang, “itu kalung baru?”
“Dari Bunda.”
“Cantik.” Tika tidak bertanya lagi, hanya menyambar carrier kecil dari bawah kasur dan menjejalkan dua botol air ke dalamnya. “Bawa ini. Gue nggak tahu yang lo butuhin, tapi gunung nggak pernah salah soal air.”
Mereka menuruni tangga bersama, menyeberangi lapangan yang berembun, dan sepatu-sepatu mereka meninggalkan jejak basah di rumput. Tenda terpal biru masih gelap di kejauhan. Dan di sebelahnya, tenda kecil milik Zaki.
Kain pintunya sudah tersibak.
Zaki berdiri di ambangnya dalam jaket gunung, ransel kecil di bahu dan senter di genggaman. Rambutnya basah, seperti baru cuci muka. Ia tidak kelihatan baru terbangun. Ia kelihatan seperti orang yang sudah menunggu sejak semalam.
“Kak,” kata Indri.
“Aku sudah bilang akan mengantarmu.”