“18 Mei 2016, 21.15 WIB”
Lampu minyak di loteng penginapan mengecil sampai tinggal sebiji kacang, dan bayangan Tika di dinding mengikuti naik turun napasnya yang sudah teratur.
Gadis itu tertidur sambil memeluk bantal, mulut sedikit terbuka, setelah berbicara selama dua jam tanpa jeda tentang segala hal kecuali yang paling penting. Tentang tahlilan, tentang Gilang yang menolak minum obat pahit, tentang betapa Zaki kelihatan jauh lebih baik sesudah “ngobrol dari hati ke hati”, kata Tika sambil menaikkan alis tinggi-tinggi. Indri hanya menjawab seperlunya. Setiap kali Tika menoleh, ia menyibukkan diri dengan sesuatu: merapikan selimut, menyisir rambut yang sudah rapi.
Sekarang ia berbaring terlentang menatap balok kayu di langit-langit dan memutar gelang cendana di pergelangannya dengan ibu jari. Aroma kayunya manis dan tua. Ia ingat tangan Brawijaya yang gemetar ketika memasangkannya.
Zaki sudah mengaku. Tika sudah tahu. Bunda dan Ayah menunggu cerita. Hari ini ia merasa dikelilingi orang-orang yang menyayanginya, dan ia justru tidak tahu harus berdiri di mana.
Dari lantai bawah terdengar suara Ayah dan Bunda berbisik-bisik, lama sekali, lalu pintu kamar mereka ditutup pelan. Indri menahan napas sampai bunyi itu hilang. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dan ia tidak berani menebak.
Matanya akhirnya memberat. Aroma cendana bercampur bau embun, dan ia tertidur.
***
Hijau keperakan.
Itu warna pertama yang ia sadari. Air danau yang tenang, dipantul cahaya rembulan penuh, dan udara yang berbau lumut basah. Indri berdiri di tepian dengan kaki telanjang, memakai kaus dan celana lapangan yang ia kenakan tadi sore. Danau itu sama seperti dalam mimpinya di Ranu Kumbolo, hanya saja sekarang ia tahu namanya bukan mimpi biasa.
“Indri.”
Arjuna berdiri beberapa langkah darinya, dengan kemeja hitam dan udeng merah tua yang miring. Rambut ikalnya basah. Wajahnya letih, dengan lingkar hitam di bawah mata yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
“Mas Juna?” Suaranya tercekat. “Ini beneran kamu? Atau aku lagi mimpi?”
“Aku tidak tahu.” Ia tersenyum lemah. “Mungkin dua-duanya. Jaga membukakan jalan ini sebentar. Aku hanya punya waktu untuk mengatakan satu hal.”
“Apa?”
“Tinggallah di duniamu.”
Indri tidak langsung mengerti. Ia menatapnya dan menunggu.
“Aku sudah bicara dengan Ayahanda,” lanjut Arjuna. Ia melangkah setengah langkah, lalu berhenti, seolah ada garis tak terlihat di antara mereka. “Aku bilang aku tidak akan menikahi siapa pun. Tidak kau, tidak titisan mana pun. Segel boleh retak, selubung boleh runtuh. Aku tidak akan membayar dengan hidup seorang perempuan lagi. Pulanglah, Indri. Hiduplah. Itu yang kau minta dariku, dan sekarang aku memintanya darimu.”
Dada Indri berdenyut keras. Bukan karena haru. Karena sesuatu yang lain, yang panas dan cepat menyebar sampai ke ujung jari.
“Kapan?”
“Kemarin malam. Sesudah kau pergi.”
“Terus Beliau bilang apa?”
“Tidak apa-apa.” Arjuna menunduk. “Ayahanda hanya menatap tembok balairung yang retak itu lama sekali. Lalu ia berkata aku boleh memutuskan sendiri. Itu pertama kalinya ia berkata begitu, dan aku benci karena aku tidak merasa menang.”
“Kamu bilang sebelum aku berangkat, kamu mau ngomong sama ayahmu setelah mengantarku.” Suaranya tidak naik, tetapi bergetar. “Jadi itu yang kamu omongin? Kamu ngomong ke dia soal aku tanpa nanya aku dulu?”
“Aku mau membebaskanmu.”
“Itu bukan membebaskan.” Indri melangkah maju satu langkah. “Itu mengambil pilihan dari tanganku lagi. Pertama ayahmu mutusin sendiri soal Ibumu. Sekarang kamu mutusin soal aku. Kalian berdua sama aja, Mas! Selalu ada laki-laki yang mutusin ‘demi kebaikanmu’, tanpa nanya apa kebaikanku menurutku sendiri!”
“Aku tidak—”
“Aku bilang aku belum jawab. Aku bilang aku nggak mau diputusin siapa pun. Dan kamu ngomong ke ayahmu bahwa kamu nggak akan menikahi siapa pun?” Napasnya tersengal. “Kamu pikir itu bikin aku lega? Itu bikin aku merasa kayak kehilangan sesuatu sebelum sempat milih!”
Arjuna menatapnya dengan mulut setengah terbuka. Di wajahnya tidak ada pembelaan, hanya keterkejutan seorang laki-laki yang tidak pernah dimarahi dengan cara itu.
“Aku takut,” bisiknya.
“Aku juga takut!”
“Aku takut kau datang ke sini lalu menua seperti Ibu.” Suaranya pecah. “Aku takut menyaksikannya lagi dari balik pintu yang terkunci. Aku lebih baik kehilangan kau daripada—”
“Itu keputusanku, bukan keputusanmu.” Indri mengusap pipinya dengan kasar, dan baru sadar ia menangis. “Kamu boleh takut. Kamu boleh sedih. Tapi jangan pernah ngomong ke aku ‘tinggallah’ seolah itu hadiah.”
Mereka berdiri terpisah oleh jarak lima langkah dan satu danau yang bergetar tertiup napas. Arjuna tampak ingin mendekat, dan Indri melihat otot di lehernya menegang menahan diri.
“Boleh aku—”
“Jangan.” Indri mengangkat satu tangan. “Bukan sekarang. Aku lagi marah banget sama kamu, Mas, dan aku nggak mau marah-marah dalam pelukan.”
“Baik.” Ia mundur setengah langkah, tangannya terkepal. “Aku akan berdiri di sini.”
Lalu sebuah nada seruling melintas, panjang dan sendu, dari balik pohon cemara di tepi danau. Jaga muncul dari bayang batang, tidak dalam wujud ular, hanya pria berambut sebahu dengan wajah muram. Tidak ada senyum iseng seperti biasa.
“Maaf menyela.” Ia menatap Arjuna sekilas. “Jalan ini tidak akan terbuka lama. Ada yang lebih penting daripada pertengkaran kecil kalian.”
“Pertengkaran kecil?” gumam Arjuna.
“Retakan di selubung melebar sejak tengah hari.” Jaga berbicara cepat. “Cipta dan aku menambalnya dua kali, dan dua kali ia pecah lagi. Baginda jatuh sakit sejak semalam. Tabib istana tidak berani menyebut penyakitnya. Dan tadi sore seorang pemburu babi di lereng barat Lawu melihat atap pasar kita, Indri. Hanya sebentar, tetapi ia melihatnya.”
Tubuh Indri membeku. “Orang itu nggak apa-apa?”
“Ia pulang membawa cerita yang tak akan dipercaya siapa pun. Untuk sekarang.” Mata Jaga menggelap. “Pasar yang terlihat, Indri, adalah tanda pertama. Yang kedua biasanya jauh lebih buruk.”
“Tinggal dua malam,” kata Indri lirih.
Danau bergoyang. Rembulan retak menjadi pecahan-pecahan di permukaan air, dan wajah Arjuna menjauh seperti terseret arus. Ia mengulurkan tangan, tetapi tidak sampai.
“Indri—”
***
Indri terbangun dengan napas patah-patah dan pipi basah.
Langit-langit kayu. Bau asap dan embun. Lampu minyak sudah padam. Gelap, dan di gelap itu sepasang lengan hangat melingkar dari belakang, memeluknya erat.
“Sstt. Gue di sini.” Suara Tika serak oleh kantuk. “Lo ngigau. Lo nangis dari tadi. Gue panik, tapi nggak berani bangunin keras-keras.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf.” Tika mengeratkan pelukan. “Mimpi buruk?”
Indri menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti ditaburi pasir. “Bukan mimpi buruk,” katanya. “Cuma ... mimpi yang nggak pengin gue lupain, dan nggak pengin gue ulang.”
Tika tidak bertanya lagi. Ia menarik selimut ke atas bahu mereka berdua dan menepuk-nepuk lengan Indri pelan, seperti menidurkan anak kecil.
“Dua malam,” gumam Indri.
“Hah?”
“Nggak apa-apa. Tidur lagi.”
Namun matanya tetap terbuka, menatap kegelapan, menghitung.