“18 Mei 2016, 15.30 WIB”
“Jangan terlalu banyak dipikir, Ki.”
Tanto menyodorkan segelas kopi hitam yang masih beruap. Zaki, yang sejak tadi hanya berdiri di depan tenda dengan kedua tangan dimasukkan ke saku dan lagi-lagi dikeluarkan, menerimanya tanpa menyesap.
“Gue nggak mikir. Gue lagi ngitung.”
“Ngitung apa?”
“Berapa kali gue berhasil nahan diri biar nggak ngomong.” Zaki tersenyum miring tanpa humor. “Sejak dia masuk Mapala. Selalu ada alasan nunda. Ada ekspedisi. Ada ujian. Ada Retno yang bakal ngetawain gue.”
“Mbak Retno pasti sudah menyuruh sampeyan nembak dari kemarin.”
“Dia bakal bilang, ‘Ki, ribet banget lo, tembak aja deh.’” Suara Zaki menurun. “Gue kangen dia, Mas.”
“Saya juga.” Tanto menepuk bahunya sekali. “Jujur saja, Ki. Itu satu-satunya cara yang ndak bikin sampeyan nyesel malam ini.”
Zaki mengangguk. Ia meneguk kopi itu dalam satu tarikan, membiarkan pahitnya menampar tenggorokan, lalu berjalan ke arah penginapan tempat Indri menunggu.
***
Telaga Ranu Pani sore itu berwarna perak kehijauan. Pohon-pohon pinus di seberangnya menjulang gelap, dan di tepian dekat dermaga kecil, beberapa bebek penduduk berenang malas dengan riak yang tak terburu-buru. Angin membawa bau lumpur dan bunga liar.
Zaki berjalan di depan, Indri mengikuti di belakang dengan jarak yang tidak mereka bicarakan. Mereka berhenti di ujung dermaga kayu yang catnya sudah mengelupas. Zaki duduk, membiarkan kakinya menggantung di atas air, dan Indri duduk dengan jarak satu meter darinya. Ia memeluk lututnya.
Lama tidak ada yang bicara.
“Aku mau mulai dari yang memalukan,” kata Zaki akhirnya. Ia tidak menatap Indri. Pandangannya jatuh ke permukaan air. “Aku suka kamu, Dri. Dari hari pertama kamu daftar Mapala, waktu kamu salah masuk ruang sekret dan nanya ‘ini ruang Mapala atau gudang’. Aku bilang dua-duanya. Kamu ketawa. Dan sejak itu aku mulai cari alasan buat sering lewat depan kelasmu. Retno sampai bilang di sekret, ‘Ki, lo tuh naksir Indri, jelas banget, kayak lampu jalan.’ Aku pura-pura budek.”
Indri menahan tawa dan air mata sekaligus, dan akibatnya hanya terdengar seperti tersedak.
Indri membuka mulut. Zaki mengangkat satu tangan.
“Biar aku selesaiin dulu. Kalau aku berhenti, aku nggak akan berani lanjut.”
Indri mengangguk.
“Di Tanjakan Cinta aku bilang pikirin aku, ya. Itu bukan bercanda. Aku nggak minta kamu langsung suka. Aku cuma ... pengin tahu apa aku ada di kepalamu, walau sedetik.” Ia tertawa kecil, getir. “Dan sekarang aku tahu jawabannya. Di kepalamu ada orang lain, kan? Sejak awal.”
“Kak—”
“Nggak apa-apa. Itu bukan salahmu.” Ia akhirnya menoleh. Matanya merah tetapi tenang. “Aku cuma mau minta satu hal, dan aku tahu ini egois. Aku nggak tidur dua malam, Dri. Hampir dua kali aku nyoba nerobos garis di Ranu Tompe. Tanto sampai narik jaketku dari belakang. Jadi pulanglah ke Jakarta bareng kami. Lupakan tempat itu, lupakan siapa pun yang di sana. Jangan kembali. Aku nggak tahu apa yang menunggumu, tapi aku tahu aku nggak sanggup ngelihat kamu masuk hutan itu lagi.”
Angin berhenti. Seekor bebek berkecipak, lalu diam.
Indri tidak langsung menjawab. Ia memikirkan setiap kata yang akan ia ucapkan, seperti memilih batu untuk menyeberangi sungai.
“Kak Zaki,” katanya pelan. “Aku nggak mau bohong. Kalau aku bilang aku bisa pulang dan lupa, itu bohong. Kalau aku bilang aku pasti kembali, itu juga belum tentu benar. Aku cuma tahu aku butuh waktu.”
“Waktu buat apa?”
“Buat tahu aku ingin apa. Bukan apa yang harus.” Ia menarik napas. “Dan aku mau jujur satu hal lagi, karena Kakak pantas dengar. Aku pernah ngebayangin, Kak. Di kereta waktu itu, waktu Kakak nutup pandanganku dari sosok yang nggak punya mata, dan di Ranu Kumbolo waktu Kakak ngasih sarung tangan. Aku ngebayangin hidup yang tenang. Pulang kuliah, nongkrong di sekret, naik gunung bareng Mapala, dan Kakak ada di sampingku. Hidup yang gampang dimengerti.”
Dada Zaki naik turun. Ia tidak berkata apa-apa.
“Aku berutang banyak sama Kakak.” Suara Indri bergetar. Ia berhenti, menggosok telapak tangannya di lutut. “Dua kali Kakak jagain aku.”
Zaki menggeleng pelan, tetapi Indri meneruskan.
“Tapi aku nggak mau jawab pakai rasa utang. Itu nggak adil buat Kakak.” Ia menelan ludah. “Dan aku nggak mau janji apa-apa.”
Hening cukup lama. Matahari menyentuh puncak pinus di seberang telaga dan menjadikan permukaan air jingga.
Zaki akhirnya tertawa pendek, serak. “Ternyata kamu lebih galak dari Retno.”
“Aku nggak galak.”
“Kamu baru nolak aku pakai sopan santun tingkat tinggi, Dri. Itu lebih menyakitkan.” Ia memungut kerikil dari papan dermaga dan melemparnya ke air. Riaknya melebar pelan dan menghilang. “Tapi sekaligus lebih jujur dibanding kalau kamu bilang ‘mungkin’ biar aku tenang.” Ia menggosok wajah dengan kedua tangan, lalu menurunkannya. “Tapi aku nggak bakal bilang aku nyerah.”
“Kak—”
“Aku punya hak berjuang. Itu hak semua orang yang suka sama orang lain. Aku nggak akan maksa, nggak akan ngejar-ngejar kamu sampai kamu risih, nggak akan jelek-jelekin siapa pun. Tapi aku juga nggak akan pura-pura nggak ada rasa.” Rahangnya mengeras sebentar, lalu melunak. “Kalau akhirnya dia yang kamu pilih, aku akan terima. Tapi aku mau kamu milih dengan mata terbuka. Dengan tahu bahwa ada pilihan lain yang nunggu kamu di sini.”
Indri menunduk. Setetes air jatuh di lututnya.
“Makasih, Kak.”
“Jangan nangis. Aku kalah kalau kamu nangis.” Zaki mengambil napas panjang dan menatap lurus ke depan. “Satu lagi. Aku tahu kamu bakal kembali ke sana. Kamu nggak perlu bilang. Cara kamu ngomong ke perempuan di hutan semalam itu ... itu bukan cara orang yang masih ragu.”
“Aku belum putuskan.”
“Kamu sudah setengah memutuskan. Cuma belum mau ngaku.” Zaki berdiri, menepuk-nepuk celananya, lalu mengulurkan tangan ke Indri. Bukan untuk menarik. Telapaknya terbuka ke atas, menunggu. “Kalau kamu harus pergi ke tempat yang nggak boleh kusebut namanya, aku antar. Sampai ke pintunya. Kalau pintunya nolak aku, aku bakal berdiri di depannya sampai kamu keluar. Itu janjiku. Itu bukan tuntutan apa-apa.”
Indri menatap tangan itu lama. Lalu ia meraihnya, bukan untuk ditarik berdiri, hanya menggenggam sebentar, dan melepasnya.
“Aku bakal ingat, Kak.”
“Bagus.” Zaki tersenyum, dan senyumnya hampir utuh. Mereka berjalan menyusuri dermaga, satu langkah dari satu sama lain. “Satu pertanyaan lagi, nggak usah dijawab. Dia tahu kamu pulang hari ini?”
“Dia nganter aku sampai pintu. Dia bilang nggak akan minta aku kembali.”
“Laki-laki yang bilang begitu biasanya yang paling berharap.” Zaki mengangkat bahu. “Aku tahu, soalnya aku juga laki-laki yang barusan bilang nggak akan memaksa.”
Indri tertawa kecil, terpaksa, lalu benar-benar tertawa. Rasanya melegakan sekaligus menyakitkan.
“Ayo balik. Bunda nanya kamu mau makan apa malam ini, dan aku udah janji bakal nyampein.”