“18 Mei 2016, 07.20 WIB”
Ayah menaruh sendoknya di piring kosong dengan bunyi pelan, dan Indri tahu sidang sudah dibuka.
“Sekarang.”
“Yah, makan dulu—”
“Ayah sudah makan.” Piringnya bersih, padahal Indri tidak melihat kapan ia menyuap. Mereka bertiga duduk di tikar ruang tengah penginapan, di antara uap teh yang mengepul di jendela dan nasi goreng cabai hijau yang baru separuh habis di piring Indri. “Ayah tidak akan memaksa. Ayah cuma mau tahu, siapa yang menolong kamu selama sembilan hari itu.”
Indri memutar gelasnya. Ia sudah menyusun kalimat sejak subuh, dan sekarang semua kalimat itu terasa seperti kain yang tidak muat di badan.
“Seseorang, Yah. Laki-laki. Dia nolong aku waktu aku jatuh di tebing malam itu. Namanya Arjuna.” Ia berhenti. “Dia baik. Dulu dia sempat kelewat batas, tapi dia belajar. Sekarang dia nanya dulu sebelum megang, dan dia nerima kalau aku bilang nggak.”
Bunda mengangkat alis tipis. Ayah tidak bergerak.
“Dia tinggal jauh,” lanjut Indri. “Di tempat yang nggak ada di peta. Aku nggak bisa cerita semuanya sekarang, Yah. Bukan karena aku nggak percaya. Karena kalau aku salah ngomong, ada orang yang bisa celaka.”
“Orang lain, atau kamu?”
“Dua-duanya.”
Hening. Di luar, seekor ayam berkokok terlambat. Bunda menuang teh ke gelas Indri yang masih penuh, hanya untuk memberi tangannya pekerjaan.
“Ayah.” Bunda meletakkan tangannya di lengan suaminya. “Biar Bunda.”
Ayah menarik napas dan mengangguk. Ia bangkit, berhenti sejenak di belakang Indri, dan meletakkan telapak tangannya yang besar di puncak kepala putrinya, sebentar saja, seperti dulu waktu Indri masih kecil dan baru jatuh dari sepeda. Lalu ia melangkah ke beranda dan meninggalkan mereka berdua. Bunda memandang punggungnya sampai pintu tertutup, kemudian kembali menatap putrinya.
“Bunda tidak akan memaksa kamu cerita yang kamu tidak sanggup ceritakan,” katanya. “Tetapi Bunda mau cerita sesuatu yang kamu tidak pernah tahu.”
Indri menunggu.
“Dulu, waktu Bunda mau menikah dengan Ayahmu, Nenek tidak setuju.” Bunda tersenyum samar pada kenangan itu. “Bukan karena Ayah jahat. Karena Ayah bukan dari kampung kami, dan tidak punya apa-apa selain topi lusuh dan janji. Nenek bilang, kalau kamu pergi, jangan pulang. Bunda pergi.”
“Bunda nggak pernah cerita.”
“Memang tidak. Bunda malu. Bunda merasa seperti anak durhaka.” Ia menatap tangannya sendiri. “Tahun pertama, tiap kali Bunda menelepon, Nenek menutup. Tahun kedua, sama. Bunda hampir menyerah. Tetapi Bunda tidak berhenti mengirim kabar, sekecil apa pun. Foto kamu waktu lahir. Surat-surat yang tidak pernah dibalas. Sampai suatu hari, Nenek datang sendirian ke rumah kita di Lampung membawa sekarung beras, dan berkata, ‘Ibu hanya mau lihat cucu ibu.’”
Mata Indri panas.
“Restu itu datang,” kata Bunda, “bukan karena Bunda benar. Tetapi karena Bunda tidak menyerah dan tidak berbohong. Jadi kalau suatu hari kamu harus mengambil keputusan yang Bunda belum bisa mengerti ...” Ia menggenggam tangan Indri. “Lakukan dengan mata terbuka. Dan kabari Bunda, apa pun hasilnya.”
“Bunda.” Suara Indri nyaris tidak keluar. “Terima kasih.”
“Sekarang makan. Nasi gorengmu dingin.”
***
Tahlilan untuk Retno dimulai setelah zuhur di posko, di atas tikar yang dipinjamkan petugas.
Kepala posko sendiri yang membawakan sepiring pisang goreng dan menaruhnya di pinggir tikar tanpa bicara, lalu pergi dengan topi di dada. Angin dari arah pinus membawa wangi tanah dan asap tungku penduduk. Mereka duduk melingkar di bawah tenda terpal biru: Indri, Zaki, Tika, Gilang dengan tongkat di sampingnya, Sinta, Anto yang matanya bengkak sejak pagi, dan Tanto yang duduk di ujung sebagai pemimpin. Ragil duduk di antara Gilang dan Zaki, bersandar pada bahu keduanya, wajahnya masih pucat tetapi matanya terang. Di pojok tenda Oni berdiri dengan ponsel yang baru saja ia matikan setelah urusan perpanjangan dengan kampus, dan ia menunggu sampai doa dimulai sebelum duduk di belakang Anto.
“Kita mulai dengan Al-Fatihah,” kata Tanto. Suaranya rendah dan mantap. “Untuk Mbak Retno, sekretaris kita, sahabat kita.”
Sembilan suara menyatu. Yasin mengalir pelan, bergantian dibaca oleh Sinta dan Tika yang suaranya pecah di dua ayat. Zaki membaca dengan mata terpejam, ibu jarinya menekan lututnya sendiri keras-keras, dan di ayat keenam suaranya hilang sama sekali. Tanto menunggu tanpa menegur, lalu melanjutkan pelan supaya Zaki bisa menyusul. Zaki menyusul. Gilang terisak tanpa suara. Ragil tidak membaca, hanya mengikuti dengan bibir bergerak, dan sesekali menghapus pipi dengan punggung tangan.
Indri tidak menangis. Ia bahkan terkejut pada dirinya sendiri. Ia sudah menangis cukup banyak di dapur air, di ruang tidur Paviliun Kemuning, di bawah dua pohon cemara. Sekarang yang ia rasakan justru sesuatu yang lain, lebih tenang dan lebih berat sekaligus.
Di sampingnya, Tika menyandarkan bahu ke bahunya. Di seberang, Anto menyandarkan kening ke tangan Sinta. Satu per satu, tanpa bicara, mereka saling menopang. Tidak ada yang menanggung kesedihan itu sendirian.
Dan ia teringat tiga lembar lontar bertinta lusuh. Seorang perempuan yang memikul segel sendirian, di antara orang-orang yang tidak berubah.
Ia menunduk dan berbisik pada dirinya sendiri, nyaris tanpa suara, “Duka Mbak Retno terasa ringan kalau dipikul banyak orang.”
Tika menoleh. “Apa?”
“Nggak. Cuma mikir.”
“Mikirin apa?”
“Nanti, Tik.”
Tanto menutup dengan doa. “Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha ...” Satu per satu mereka mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Amin lirih memenuhi tenda. Oni yang di belakang berbisik amin terakhir paling lama.
***
Orang-orang bubar pelan-pelan. Sinta membawa gelas-gelas kosong ke tenda dapur, Tanto melipat tikar, dan Gilang menuntun Ragil kembali ke tenda untuk istirahat. Anto tidak beranjak. Ia duduk memeluk lutut di tikar yang sudah setengah terlipat.
“Dri.”
Indri duduk di sampingnya. “Iya, Nto.”
“Yang kemarin belum selesai, Dri.” Suaranya kering. “Soal tangan Mbak Retno. Waktu itu gue di belakang dia. Ada yang nyenggol kaki gue, terus tanahnya amblas. Gue nyoba raih, beneran. Tapi tangan gue cuma nyampe ujung jarinya. Cuma ujung jari.”
“Nto ...”
“Kalau gue lebih cepat dua detik, mungkin dia—”
“Nto.” Indri menggenggam tangannya yang dingin. “Lo sendiri yang cerita ke pendaki itu, kan? Ada bayangan pendek bertombak yang nyenggol kalian. Gue lihat mereka juga, Nto. Kerdil-kerdil itu nyata, dan mereka yang bikin tanahnya amblas. Mbak Retno nggak jatuh karena lo kurang cepat. Dua detik lebih cepat pun, mereka tetap ada di sana.”
Anto menatapnya lama. Bibirnya bergetar, tetapi tidak ada kata yang keluar, hanya satu anggukan kecil yang tampak seperti usaha pertamanya untuk percaya. Dari pintu tenda, bayangan seseorang jatuh di tikar.
Zaki berdiri di sana dengan tangan terlipat, wajahnya yang kuyu diterangi cahaya siang yang miring. Ia menatap Indri sebentar, lalu Anto, lalu kembali ke Indri.
“Nanti sore, Ndri,” katanya. “Aku perlu bicara.”