“17 Mei 2016, 23.40 WIB”
Indri tidak ingat bagaimana ia menuruni tangga loteng. Ia hanya ingat lantai kayu yang dingin di telapak kakinya yang tanpa alas, pintu penginapan yang ia dobrak sampai membentur dinding, dan Tika yang menjerit di belakangnya, “Dri, sandal! Sandal lo!”
Lapangan posko terbentang di depannya, kelabu di bawah bulan. Dua lampu minyak berayun tertiup angin. Tenda paling ujung, tempat Gilang tadi berjaga, kini menganga kosong dengan kain pintunya berkibar. Di ujung lapangan, Ragil sudah hampir mencapai bayang pinus pertama, langkahnya lambat tetapi tidak pernah goyah, seperti orang yang berjalan menuju sesuatu yang sudah ia hafal jalannya.
Zaki sudah berlari dari bangku di tepi lapangan, dengan Tanto menyusul sambil menyambar senter. Ia melihat tenda ujung terbuka lebih dulu daripada siapa pun. Matanya merah, tetapi tidak sedikit pun linglung.
“Ragil!” teriak Zaki. “Gil! Berhenti!”
Ragil tidak menoleh.
Mereka berlari. Zaki yang pertama menyusulnya, menangkap lengan kanan temannya, dan ia nyaris terseret. “Gil! Woi! Lo mau ke mana?!”
“Ki, jangan ditarik terlalu kuat!” seru Tanto sambil menangkap lengan kirinya. “Ndak ada yang tahu apa dia sedang tidur atau—”
Ragil berhenti. Bukan karena ditahan. Tubuhnya kaku, kepalanya tegak, dan pelan-pelan bibirnya terbuka. Napas tak keluar dari sana. Hanya suara.
“Titisan.”
Itu bukan suara Ragil. Suara perempuan, merdu dan dingin, seperti denting air dalam gua. Zaki melepaskan lengan temannya seolah tersengat. Tanto menelan ludah, senternya bergetar di tangan.
Indri berhenti sepuluh langkah dari mereka dengan napas tersengal. Di bawah pohon pinus itu, perempuan berkebaya kuning masih berdiri dengan tangan terulur, dan sekarang ia menatap Indri. Matanya tidak seperti yang Indri ingat di istana air. Kesepian itu hilang malam ini, digantikan tuntutan.
“Bayar hutangmu, titisan.”
“Mas,” desis Zaki tanpa melepas pandang dari Ragil. “Ini yang Sinta ceritain, kan? Penunggu Ranu Kumbolo. Gimana ngehentiinnya?”
“Putri yang nunggu kekasihnya sampai masuk ke air dan ndak pernah keluar lagi, Ki,” bisik Tanto. “Orang yang menunggu terlalu lama itu kesepian, dan kesepian cari teman. Cara ngehentiinnya, saya ndak tahu. Yang saya punya cuma doa.” Ia menelan ludah. “Dan dia ndak menampakkan diri pada yang ndak ditandainya. Jangan cari wajahnya.”
“Jene,” kata Indri tanpa mengalihkan pandangan. “Dia berdiri di bawah pohon itu. Kakak nggak bisa lihat?”
“Aku cuma lihat Ragil berdiri kayak patung.”
“Ndri, jangan jawab apa pun yang ndak kamu tahu pasti,” gumam Tanto. Wajahnya pucat, senternya digenggam dua tangan. “Dia menghitung kata.”
“Kau berjanji kembali.” Mulut Ragil bergerak lagi, tetapi suara itu semakin terang, semakin jelas seperti datang dari tempat yang jauh dan dekat sekaligus. “Kau berjanji pada dayang di dapurku. Sudah tujuh malam, dan kau masih di sini, berdiri di tepi, di antara orang-orang yang tak tahu apa-apa. Ikan mas tidak lupa, titisan. Ikan mas menunggu.”
Tika tiba di belakang Indri bersama Gilang yang terpincang dan Sinta. Tak seorang pun berani maju.
Tanto menarik napas panjang, menutup mata, dan mulai melantunkan sesuatu. Suaranya bergetar di dua baris pertama, lalu menguat. Ayat Kursi, dengan logat Jawa yang kental dan tidak sempurna, tetapi mengalir. Bibir Zaki ikut bergerak tanpa suara. Sinta menutup mata dan menunduk. Di belakang mereka, Tika menggenggam tangan Gilang kuat-kuat.
Perempuan kuning itu mengernyit. Bayangannya bergetar seperti permukaan air yang dijatuhi batu.
Indri maju. Satu langkah, dua langkah, sampai berdiri tepat di depan Ragil yang matanya terbuka tetapi kosong.
“Aku ingat janjiku,” katanya. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, pelan tetapi tidak gemetar. “Aku berjanji pada Mbak Retno. Aku berjanji akan kembali. Bukan untuk Kak Ragil, bukan juga untuk membayar apa pun yang bukan hutangku.”
“Hutangmu ada pada darah yang kuterima.”
“Darahku sudah kuberikan. Itu sudah kutebus untuk dia.” Indri menunjuk Ragil. “Aku akan kembali untuk Mbak Retno. Untuk semua hamba di istanamu yang masih menunggu seseorang datang. Aku akan kembali, dan aku akan bicara denganmu, Jene. Bukan lewat mulut orang yang tidak tahu apa-apa.”
“Janji?”
“Janji.”
Hening. Tanto berhenti membaca di tengah ayat dan membuka satu mata. Suara jangkrik, yang sejak tadi hilang, mulai terdengar lagi dari rumput.
Perempuan kuning itu menatap Indri lama. Rahangnya mengencang, lalu mengendur. Bibirnya bergerak seakan hendak mengatakan sesuatu yang lain, tetapi yang keluar hanya bisikan, dan bisikan itu berdesir di sela-sela daun seperti air yang menyurut.
“Kuingat. Kuingat setiap kata, titisan.”
Ia melebur ke dalam gelap di bawah pohon dan hanya meninggalkan bau lumpur danau.
Tubuh Ragil terkulai. Zaki menangkapnya tepat sebelum ia menyentuh tanah, menahan bobot tubuh itu di pelukan dan merosot berlutut di rumput. Tanto menyorotkan senternya ke leher Ragil.
Garis kuning yang melingkar di sana tidak hilang, tetapi lebih tipis. Jauh lebih tipis daripada tadi sore.
“Dia masih bernapas,” kata Tanto, suaranya parau. “Alhamdulillah.”
“No ...” Ragil menggumam, matanya mulai berkedip, bibirnya kering. “Retno bilang ... jangan telan ... jangan ...”
“Sst. Udah, Gil. Udah.” Zaki menepuk-nepuk pipinya. Suaranya patah. “Lo aman. Lo di sini.”
Dengan bantuan Gilang dan Tanto, Ragil digotong kembali ke tenda. Tika dan Sinta berjalan di belakang membawa selimut. Indri berdiri sendirian di tepi hutan beberapa saat lagi, memandangi tempat perempuan kuning itu menghilang.
“Kamu bilang kembali.”
Ia tidak menoleh. Zaki sudah berdiri di sisinya, entah sejak kapan, dengan kedua tangan di saku dan wajah yang tidak terbaca.
“Aku bilang ke Jene.”
“Itu yang kudengar.” Zaki menatap pinus gelap itu. “Kalimat itu kamu ucapkan seolah sudah memutuskan.”
“Belum, Kak.” Indri memeluk tubuhnya sendiri; baru sekarang ia sadar angin malam menusuk dan kakinya telanjang. “Aku cuma nggak bisa bohong ke dia. Besok kita bicara, ya? Jangan malam ini.”
Zaki mengangguk. Ia berjalan ke bangku di tepi lapangan, mengambil tasnya, dan kembali dengan selembar sweter rajutan terlipat. Ia tidak menyampirkannya. Ia menyodorkannya dengan dua tangan, lalu mundur selangkah. “Dari Bunda,” katanya. “Titipan kalau kamu keluar kedinginan. Sudah dari kemarin aku bawa.” Ia memalingkan wajah. “Besok. Pakai sandal.”
***
Di dalam tenda terpal, Ragil terbaring dengan tiga lapis selimut. Lampu minyak kecil di sudut membuat bayangan Gilang dan Sinta yang menjaganya bergerak-gerak di dinding. Indri duduk bersila di samping dipan, sweter rajutan Bunda masih membungkus bahunya, dan sandal jepit pinjaman Tika terasa terlalu besar di kakinya.
Kelopak mata Ragil bergetar, lalu terbuka. Kali ini matanya fokus, merah dan lembap, tetapi miliknya sendiri.
“Dri?” suaranya serak. “Lo ... beneran di sini? Atau gue masih—”
“Beneran, Kak. Ini gue.”
“Gue mimpi lagi?” Ia mengusap wajahnya. “Gue ngerasa kaki gue jalan sendiri. Gue teriak ‘jangan’ dari dalam kepala, tapi mulut gue nggak gerak. Gue ... ada perempuan manggil. Gue nggak mau, Dri. Gue nggak mau ke sana lagi.”
“Nggak bakal, Kak.” Indri menggenggam ujung selimutnya. “Gue yang bakal ke sana. Bukan lo.”
“Lo?” Ragil menatapnya, dan keningnya berkerut seperti baru menyadari sesuatu. “Jangan bilang lo mau—”
“Tidur dulu.”
“Dri, kalau lo ke sana, bilangin Retno ...” Suaranya bergetar. “Bilang gue belum sempat balas julid terakhir dia. Gue punya yang bagus banget.”
Gilang menunduk, bahunya gemetar. Indri menggigit bibir.
“Pasti gue sampaikan.”