“17 Mei 2016, 19.30 WIB”
Telur dadar buatan Bunda terasa asin dan sedikit gosong di tepinya. Indri menghabiskan tiga potong, nasi satu piring penuh, dan segelas teh manis yang gulanya kebanyakan, sambil sesekali menahan senyum yang tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun di meja itu.
Penginapan warga di Ranu Pani hanyalah rumah kayu bertingkat dengan tungku di ruang tengah dan dinding yang berbau asap kayu. Ayah duduk di kursi rotan di pojok, membaca koran lama yang halamannya tidak ia balik sejak sepuluh menit lalu. Bunda duduk tepat di seberang Indri, memandanginya makan, dan setiap kali piring Indri kosong separuh, ia menambahkan lagi tanpa bertanya.
“Pelan-pelan, Nak. Nasinya tidak lari.”
“Enak banget, Bunda.”
“Itu telur dari warung depan. Bunda cuma goreng.”
Ayah berdeham tanpa mengangkat mata dari koran. “Besok pagi kamu cerita.”
“Iya, Yah.”
“Bukan sekarang. Sekarang kamu tidur.” Ia melipat korannya perlahan. “Ayah dan Bunda di kamar bawah. Kalau kamu mimpi buruk, teriak saja.”
Indri mengangguk, dan ketika ia naik ke loteng, ia merasakan dua pasang mata mengikuti punggungnya sampai ia hilang di tangga.
***
Kamar di atas hanya berisi dua kasur tipis di lantai dan satu jendela yang menghadap lapangan posko. Tika sudah duduk bersila di atas salah satunya sejak Indri mandi, memeluk bantal, dan wajahnya tampak seperti orang yang menahan diri untuk tidak menjerit sampai seluruh tubuhnya bergetar.
“Udah.” Indri menutup pintu dan duduk di hadapannya. “Tanya.”
“Gue bakal mati kalau lo nggak cerita sekarang.”
“Janji nggak ngomong ke siapa-siapa. Termasuk Gilang. Sampai gue bilang boleh.”
“Janji.” Tika mengangkat dua jari. “Sumpah demi Gilang.”
Maka Indri bercerita. Bukan semuanya, karena semalam pun tidak cukup. Tentang tebing dan Arjuna yang menangkapnya; tentang gua; tentang pasar di tengah hutan dan kebaya batik yang ia kenakan sekarang; tentang istana yang berdiri di atas lautan awan. Setiap kali ia berhenti, Tika menggigit bantal untuk menahan teriakan.
“Tunggu, tunggu.” Tika mengangkat tangan di bagian kebaya. “Lo dikasih baju sama pelayan? Pelayan beneran? Yang manggil lo ‘Den Ayu’?”
“Iya.”
“Pantesan lo jalan keluar hutan kayak mau kondangan.” Tika menahan tawa. “Terus Kak Zaki? Dia kan ada di sana juga. Pantesan dia diem mulu dari kemarin. Tiap gue tanya jawabannya ‘aku sudah bersumpah’.”
“Dia memang sudah bersumpah, Tik. Demi nyawa Kak Ragil. Jangan desak dia.”
“Gue nggak bakal.” Tika menatap bantalnya. “Tapi gue marah dikit boleh nggak?”
“Boleh. Dikit.”
“Pangeran?” bisiknya akhirnya. “Beneran pangeran? Yang di mimpi lo itu?”
“Namanya Arjuna.”
“Anjir.”
“Tik.”
“Maaf. Lanjut.”
Indri terdiam sebentar, lalu menceritakan bagian yang paling sulit. “Gue lihat Mbak Retno.”
Bantal di pelukan Tika berhenti bergerak.
“Di dapur istana air milik penunggu Ranu Kumbolo. Ia ... ia jadi pelayan di sana, Tik. Gue lihat sendiri. Gue ngobrol sama dia. Dia bilang—” Suaranya tersendat. “Dia bilang Kak Ragil harus keluar duluan.”
Air mata Tika jatuh tanpa suara. Ia tidak menyeka. Hanya menarik napas panjang dan bergetar, lalu bertanya sangat pelan, “Dia masih galak?”
“Galak banget.” Indri tertawa di antara air matanya. “Dia nyuruh Kak Zaki ‘julidin gue kayak biasa’.”
“Astaga.” Tika menutup mulut dengan kedua tangan, tertawa dan menangis bersamaan. “Mbak Retno banget. Mbak Retno banget.”
Mereka diam cukup lama. Di luar, lolongan anjing penduduk terdengar jauh, dan angin malam menggetarkan kaca jendela.
“Dri.” Tika menatapnya lurus. “Lo cinta dia?”
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada yang Indri kira. Ia membuka mulut dan menutupnya lagi.
“Gue nggak tahu.”
“Nggak tahu kayak ‘mungkin’, atau nggak tahu kayak ‘iya, tapi gue takut’?”
“Dua-duanya.” Indri memeluk lututnya. “Dia baik, Tik. Dia lucu dan canggung, dan tadi pagi dia nganter gue sampai pintu terus nggak mau ikut, biar gue sendiri yang milih. Tapi di sana ada banyak hal yang gue nggak ngerti, dan di sini ada ... ada Bunda. Ada kalian. Ada—” Ia terdiam.
“Kak Zaki,” kata Tika.
“Iya.”
Tika mengusap hidungnya. “Lo tahu nggak, Kak Zaki nggak makan dua hari sejak lo hilang? Cuma minum. Tanto sampai maksa-maksa dia gigit roti, dan Kak Zaki cuma ngunyah karena dibentak. Tadi pagi gue lihat dia ngelamun lihat jalur ke arah danau itu kayak orang nunggu keputusan hakim.”
“Gue tahu dia peduli.”
“Gue nggak nyuruh lo pilih dia, ya. Gue cuma pengin lo tahu.” Tika meraih tangan Indri dan menggenggamnya erat. “Apa pun yang lo pilih, gue di sisi lo. Titik.”
Pintu berderit.
***
Gilang berdiri di ambang dengan tongkat di satu tangan dan tampang seseorang yang sedang berusaha terlihat santai padahal jelas tidak. Pahanya terbalut perban tebal, dan ia memakai sarung bergaris yang jelas bukan miliknya.
“Pacar gue dipinjem berapa lama?” tanyanya.
“Lang!” Tika melempar bantal. “Ketuk dulu!”
“Sudah. Tiga kali. Kalian lagi sibuk nangis.” Gilang menyeringai, lalu seringainya padam. Ia menyandarkan tongkat ke dinding dan duduk di lantai dengan hati-hati. “Dri, gue senang lo pulang. Banget. Tapi gue ke sini bukan cuma buat itu.”
“Ada apa?”
“Kak Ragil nggak beres.”
Udara di kamar mendadak berubah. Tika menegakkan punggung.
“Dia memang sudah aneh sejak digotong turun,” lanjut Gilang pelan. “Tapi tiga malam ini makin parah. Tidur, tapi mulutnya gerak-gerak. Gue pernah dekatin telinga, dia nyebut satu kata berulang-ulang. ‘Putri’. Lehernya ... garis kuning itu belum hilang, Dri. Tadi gue lihat sendiri, kayak napasnya naik turun mengikuti.”
Indri menahan napas. Tanda kuning di leher Ragil. Garis tipis yang Jene lingkarkan di bawah air, “supaya ikan mas ingat siapa yang berhutang”. Sore tadi ia sempat melihat Ragil dari jauh, bersandar di dalam tenda dengan garis itu tinggal samar, dan ia mengira jerat Jene sudah mengendur. Ternyata ia keliru. Ia berdiri dan mendekati jendela. Di luar, lapangan posko hanya diterangi dua lampu minyak dan bulan yang hampir bulat. Tenda-tenda tampak abu-abu. Pinus di kejauhan membentuk dinding hitam.
Dan di antara tenda, ada sesuatu yang bergerak.
Seorang lelaki berkaus tipis melangkah pelan melintasi lapangan, tanpa sandal, tanpa jaket, kedua lengannya tergantung lemas di sisi tubuh. Ia berjalan lurus, tidak menoleh, ke arah batas hutan.
“Itu Kak Ragil,” bisik Tika di belakangnya.
“Matanya terbuka,” kata Gilang yang sudah berdiri di samping mereka. Suaranya serak. “Tapi dia nggak ada di dalamnya.”
Di ujung lapangan, di bawah bayang pohon pinus pertama, berdiri sesosok perempuan berkebaya kuning. Rambutnya basah, panjang, meneteskan air ke tanah kering. Ia tidak bergerak. Hanya mengulurkan satu tangan, pelan, seperti orang menunggu seorang anak pulang.