Lama sekali Zaki menutup wajah. Tika berhenti memukul, Sinta berhenti terisak, dan Tanto menelan ludah beberapa kali tanpa suara. Di tengah mereka, Indri berdiri dengan tangan yang tak tahu harus memeluk atau menunggu.
Ketika akhirnya Zaki menurunkan tangan, matanya merah, rahangnya kaku, tetapi suaranya hampir biasa saja.
“Kita turun dulu.”
“Kak—”
“Kamu butuh makan, butuh air panas, butuh orang yang bisa periksa kakimu.” Ia berhenti, menarik napas seolah menelan sesuatu yang berduri. “Yang lain nanti. Turun dulu, Dri. Aku nggak bakal ke mana-mana.”
Tidak ada yang membantah. Zaki berjalan paling depan dan tidak sekali pun menoleh, tetapi Indri memperhatikan bahwa langkahnya diperlambat sampai tepat seirama dengan langkah Indri di belakangnya. Tika menggandeng tangan kirinya dan tidak mau melepaskannya sepanjang jalan setapak. Sinta berjalan di sisi lain, kadang mengusap lengan Indri seakan memastikan ia benar-benar padat. Tanto berjalan di belakang sambil bergumam tanpa henti, setengah doa, setengah daftar hal yang harus ia urus.
Tiga jam menuruni jalur terasa seperti tiga menit. Ketika atap-atap seng Ranu Pani akhirnya terlihat di antara pepohonan, matahari sudah condong ke barat.
Posko ramai oleh orang berseragam. Kepala posko berdiri di depan tenda terpal dengan map plastik, dan begitu melihat rombongan itu ia nyaris menjatuhkan map tersebut.
“Ini ... ini Mbak Indri Arkadewi?”
“Betul, Pak.” Tanto maju lebih dulu dan menjawab sebelum siapa pun sempat membuka mulut. “Ditemukan penduduk Tengger di sisi barat, dekat hutan Ranu Tompe. Mbak Indri tersesat, dirawat di rumah penduduk, dan baru bisa jalan hari ini. Saya yang menjemputnya.”
“Sembilan hari?” Kepala posko memandang Indri dari atas sampai bawah, kain batik dan kebaya yang jelas bukan perlengkapan pendaki. “Di rumah penduduk? Di sisi barat itu tidak ada pemukiman, Pak Tanto.”
“Ada yang tidak tercatat, Pak. Ndak semua rumah di Tengger masuk peta.”
Kepala posko membuka mulut, menutupnya lagi, lalu menatap Zaki yang berdiri di belakang Tanto dengan wajah tanpa ekspresi. Entah apa yang ia lihat di sana, tetapi ia akhirnya menghela napas dan mengangguk.
“Baik. Petugas kesehatan akan memeriksa Mbak Indri sekarang. Saya akan buatkan berita acara nanti.” Ia berhenti, lalu menambahkan lebih pelan, “Syukurlah, Mbak. Kami sudah mau menutup berkasnya.”
Petugas kesehatan, seorang perempuan muda berambut dikuncir dua, memeriksa Indri di bangku tenda terpal. Tekanan darah, denyut nadi, pupil yang disorot senter kecil. Lutut lecet yang sudah mengering, telapak kaki yang lebam kebiruan, kuku yang patah satu. Perempuan itu menggeleng-geleng sambil mencatat.
“Kamu kurus sedikit, tapi kondisimu bagus sekali untuk orang yang hilang sembilan hari,” katanya heran. “Biasanya, yang ditemukan sesudah sebegini lama sudah dehidrasi berat.”
“Penduduknya baik, Bu. Makan teratur.” Indri tersenyum sopan dan membiarkan Tika yang berdiri di belakang pura-pura batuk dengan keras.
Dari tenda sebelah, seseorang meletakkan papan klip dengan bunyi nyaring.
Oni. Wakil ketua Mapala itu berdiri membeku di pintu tenda dengan pulpen masih di tangan, dan wajahnya perlahan berubah dari tidak percaya menjadi sesuatu yang sulit digambarkan. Mulutnya bergerak. Tidak ada suara keluar. Lalu, tanpa sepatah kata, ia berbalik dan berlari ke arah penginapan warga di ujung jalan.
***
Mereka datang terengah-engah, hanya beberapa menit kemudian, dengan Oni tertinggal di belakang.
Bunda berhenti di tepi lapangan. Rambutnya yang biasanya rapi tergerai tak teratur, jaket pinjaman petugas tersampir salah di bahunya. Ia berdiri di sana, menatap Indri, dan tidak melangkah lagi. Kedua tangannya naik pelan menutup mulut.
“Bunda.”
Satu kata itu cukup. Bunda berlari. Ia menabrak Indri dengan seluruh tubuhnya, memeluknya, dan kali ini tidak ada tas, tidak ada carrier, tidak ada kain kasar untuk dipeluk menggantikan. Hanya tubuh anaknya yang nyata, hangat, bau asap kayu dan pinus dan sesuatu yang manis yang tidak ia kenal.
“Nak.” Suaranya patah. “Nak, kamu utuh? Coba lihat tanganmu. Kakimu. Jari-jarimu.”
“Utuh, Bunda. Semuanya ada.”
“Bunda hitung.” Bunda memegang kedua telapak tangannya dan menghitung jarinya satu per satu, dengan bibir bergetar, seperti anak kecil yang baru belajar berhitung. “Satu, dua, tiga ...”
“Bunda ...”
“Biar Bunda hitung.”
Ayah berhenti beberapa langkah di belakang. Ia tidak berlari. Ia berdiri dengan tangan di sisi tubuh dan wajah yang tidak bergerak sedikit pun, tetapi lutut celananya bergetar dan matanya basah. Setelah lama, ia melangkah maju, mengulurkan kedua lengan, dan memeluk istri dan anaknya sekaligus. Dagunya bertumpu di puncak kepala Indri.
“Kamu pulang,” katanya.
“Iya, Ayah.”
“Itu saja yang Ayah mau dengar.”
Bunda mengusap pipi Indri dengan punggung tangan, berkali-kali, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Kamu lapar? Bunda bawa nasi dari penginapan, belum Bunda sentuh dari pagi. Ada telur dadar. Ada sambal.”
“Bunda belum makan dari pagi?”
“Bunda sedang menunggu.” Ia menyeka pipinya sendiri. “Sekarang tidak perlu menunggu lagi.”
Tidak lama kemudian Bunda mengangkat wajah. Matanya menyapu putrinya, kebaya yang bukan miliknya, kepangan rapi yang bukan buatan tangan sendiri, dan akhirnya berhenti di pergelangan kiri. Di sana, gelang cendana melingkar mengilap, jelas bukan barang dari pasar mana pun.
Bunda memandangnya lama.
Indri menunggu pertanyaan. Ia sudah menyusun jawabannya di sepanjang jalan: pemberian penduduk, kenang-kenangan, hadiah. Semua terdengar bohong di kepalanya. Namun yang Bunda lakukan hanya menyentuh gelang itu dengan ujung jari, sekali saja, lalu menarik tangannya kembali.
“Cantik,” kata Bunda. “Bunda tidak akan tanya sekarang. Tetapi nanti, kamu cerita. Ya?”
“Iya, Bunda.”
Ayah menoleh pada Zaki, yang berdiri agak jauh dengan tangan di saku. “Nak Zaki.”
“Pak.”
“Kamu bilang kepada istri saya, anak kami akan pulang. Kamu menepatinya.”
“Saya tidak menepati apa-apa, Pak. Saya hanya menunggu di tempat yang sama.”
Ayah menatapnya lama, sama seperti waktu di tenda dulu. Lalu ia mengangguk, sekali, tetapi kali ini bahunya turun beberapa senti. “Terima kasih sudah menunggu.”
Zaki hanya menunduk. Tangannya di saku mengepal.
***
Anto muncul terakhir, terpincang-pincang dengan tongkat bambu, pipi tembamnya basah entah sejak kapan. Ia berhenti beberapa meter dari Indri dan tidak bisa bicara.
“Nto.”
“Dri ...” Tongkatnya jatuh. Ia menabrak Indri tanpa peduli kakinya yang terkilir, memeluk gadis itu dengan kedua lengan gempalnya. Bahunya berguncang. “Gue kira ... gue kira lo ikut ...”
“Gue di sini, Nto. Gue nggak ke mana-mana.”
“Gue nggak bisa tidur.” Suaranya serak, teredam di bahu Indri. “Sejak malam itu. Tiap merem gue lihat tangan Mbak Retno. Tangan yang ... yang gue nggak sempat—” Ia berhenti, terisak. “Gue lagi nunggu lo balik biar ada yang bilang itu bukan salah gue, tapi gue tahu itu bohong.”
Indri tidak langsung menjawab. Ia memeluk Anto lebih erat, merasakan punggung gempal itu bergetar. Dalam hati ia teringat tangan-tangan kecil yang mendorong, dan seorang gadis pucat di dapur air yang menolak ditebus sebelum Ragil.
“Gue tahu lebih banyak dari yang lo kira,” bisik Indri. “Nanti gue ceritain. Janji. Tapi malam ini tidur, ya? Gue di sini.”
Anto mengangguk di bahunya.
“Gue coba,” katanya.