“17 Mei 2016, 11.05 WIB”
Cahaya matahari menghantam mata Indri begitu keras sampai ia harus berhenti dan memejamkan mata.
Ia berdiri di atas anak tangga batu yang retak dan ditumbuhi lumut, di antara dinding-dinding candi tua yang sudah separuh runtuh. Tidak ada piramida, tidak ada pasar, tidak ada burung jalak penjaga. Hanya pinus tinggi, pakis basah, dan udara dingin yang berbau tanah. Ketika ia menoleh ke belakang, dua pohon cemara tadi sudah lenyap. Yang tersisa hanya celah sempit di antara dua tonggak batu, dan di baliknya hutan yang tampak biasa saja.
Biasa. Dunia nyata terasa seperti kata yang lupa ia ucapkan selama sembilan hari. Ia menunduk, melihat kain batik dan kebayanya yang lembap, lalu tertawa pendek tanpa suara. Orang-orang di bawah sana tidak akan percaya satu pun dari ini.
“Jangan diam saja di tangga, Nduk. Batunya licin.”
Mbah Resa sudah berdiri di anak tangga di bawahnya, lenteranya masih menyala meski matahari sedang di atas kepala. Indri tidak melihat kapan ia lewat.
“Mbah lewat kapan?”
“Pintu itu tidak punya urutan.” Ia berbalik dan mulai menuruni tangga. “Ikut saya.”
“Tadi fajar belum naik waktu gerbang kedua dibuka, Mbah. Kok sekarang sudah siang?”
“Waktu di balik pintu tidak sejalan dengan dunia luar, Nduk. Sebentar di dalam, lama di luar.” Lenteranya bergoyang pelan di tangannya. “Makanya orang yang keluar selalu terlambat dari yang ia kira.”
Mereka menyusuri jalan setapak yang nyaris tak terlihat, menembus pakis setinggi pinggang. Sandal Indri basah oleh embun yang tak mau kering, dan buntalan Laras terasa berat di bahunya. Sepanjang jalan Mbah Resa tak bicara. Hanya langkahnya yang pelan, dan kadang ia berhenti untuk mendengarkan sesuatu yang tidak terdengar oleh Indri.
Lalu pohon-pohon menjarang, dan di bawah mereka terbentang sebuah danau kecil. Airnya gelap dan tenang seperti kaca hitam, tak memantulkan langit, dan di permukaannya kabut tipis menggantung seakan enggan pergi.
Ranu Tompe.
“Sampai di sini saya.” Mbah Resa berhenti. “Garis yang membuat teman Nduk lumpuh itu ada di bawah sana, lima langkah dari tepi air. Nduk bukan penjaga negeri, tidak ada sumpah yang mengikat. Jalan terus.” Ia menatap Indri sebentar, mata tuanya dalam dan tidak berkedip. “Hati-hati dengan yang mengikuti.”
“Mengikuti?”
Ketika Indri berbalik, lelaki tua itu sudah tidak ada. Tinggal bau minyak lentera yang samar di udara.
Krosak!
Pakis di sebelah kirinya bergoyang. Lalu di kanan. Lalu di belakang. Sepasang mata kuning menyala dari balik dedaunan, rendah, tepat setinggi lutut. Satu, lalu empat, lalu tak terhitung.
Indri mundur satu langkah, dua langkah. Bau tanah basah dan lumut yang ia kenal di pasar kemarin menusuk hidungnya. Ia membuka mulut untuk berteriak, dan tidak ada yang keluar.
“Sstt. Jangan lari.”
Suara perempuan, sangat dekat dan sangat tipis. Indri menoleh ke kiri. Di bawah pohon pinus condong berdiri seorang gadis dengan jaket pendaki pudar, rambut kusut, satu kaki miring ke dalam. Wajahnya pucat, tetapi tidak menakutkan. Hanya sangat lelah.
“Kamu ... Dania?”
Mata gadis itu melebar. “Kamu bisa lihat aku?”
“Bisa. Dari dulu aku bisa lihat yang kayak kamu.” Indri menelan ludah, menjaga pandangannya jangan sampai bergeser ke mata-mata kuning di sekitar mereka. “Mereka nggak mau pergi.”
“Mereka tidak suka kabutku.” Dania melangkah ke sisinya, dan udara di antara mereka mendadak dingin menusuk, berbau embun dan logam. Mata-mata kuning itu mundur setapak. “Ikut aku. Jangan menoleh. Jangan lari. Jalan biasa saja.”
“Biasa gimana?”
“Seperti orang yang pulang.”
Indri berjalan. Setiap kali ranting berderak di belakangnya, Dania mengangkat tangan, dan kabut tipis menebal di antara pohon. Hingga di sebuah tikungan setapak, mata kuning terakhir berhenti mengikuti dan tinggal desis samar di semak.
“Aku tidak bisa lebih jauh.” Dania berhenti di bawah pinus terakhir. “Mereka di depan sana. Orang-orang yang tiap pagi duduk menunggu kamu. Mas yang selalu bilang demi keselamatan itu menolongku sampai plat, dan dia satu-satunya yang mau bicara padaku seperti pada orang hidup.”
“Mbak Dania, ibu Mbak nunggu di—”
“Aku tahu.” Gadis itu tersenyum. Senyum pertama yang Indri lihat di wajah itu. “Kalau Mas yang baik itu sudah bertemu ibuku, sampaikan aku di dekat Arcopodo, di tempat yang tenang, dan aku tidak marah pada siapa pun. Minta ibu berhenti menyalahkan dirinya sendiri.”
Ia memudar seperti napas di kaca.
***
“17 Mei 2016, 11.40 WIB”
Zaki berdiri dua langkah dari garis yang tak terlihat itu, dan seluruh tubuhnya bergetar oleh keinginan untuk melangkahinya.
Sejak pukul lima pagi tadi mereka duduk di sini. Tanto membawa daftar giliran, Sinta membawa termos, dan Zaki membawa sweter rajutan titipan Bunda di dalam tasnya, dan sesuatu yang lebih berat dari carrier mana pun. Matahari sudah tinggi. Fajar sudah lewat enam jam. Termos teh jahe Sinta tinggal ampas dan tak seorang pun menyentuhnya. Tika duduk di batu dengan dagu bertopang lutut, bola matanya merah. Sinta berdiri di sampingnya memeluk lengan sendiri. Dan Tanto, yang sejak pagi memegangi bagian belakang jaket Zaki seperti memegangi anak kambing yang mau lari, tidak melepaskan genggamannya.
“Mas, lepas.”
“Ndak, Ki.”
“Gue udah bilang, kalau fajar lewat dan dia nggak keluar—”
“Ini belum tengah hari. Ndak ada yang bilang fajar harus pas jam enam.” Suara Tanto datar, tetapi tangannya gemetar. “Sampeyan lumpuh sekali, saya papah. Dua kali, saya gotong. Tiga kali, saya ndak tahu bagaimana menjelaskan ke Ibu Indri.”
“Satu jam lagi Oni nunggu jawaban gue.” Zaki mengusap wajah. “Gue mau bilang apa?”
“Bilang saja sampeyan masih menunggu.”
Tika mengangkat kepala. “Kak,” katanya parau, “aku masih mau percaya.”
“Percaya apa, Tik?”
“Percaya dia bakal muncul. Kakak sendiri yang bilang ke Bunda.”
Zaki tidak sempat menjawab. Daun-daun pakis di ujung setapak berdesir, dan bukan karena angin. Sinta menoleh lebih dulu, matanya membesar, tangannya menutup mulut.
“Kak Zaki,” bisiknya.
“Hm?”
“Itu.”
Di tikungan setapak, di antara dua batang pinus, berdiri seorang gadis dengan kain batik bunga hitam-oranye-hijau dan kebaya yang ujungnya kotor oleh lumpur. Rambutnya terkepang rapat, buntalan kain di bahunya, dan di pergelangan tangan kirinya melingkar sesuatu yang mengilap cokelat.
“Kak Zaki!”
Suara itu pecah di tengah. Dan sebelum siapa pun sempat bergerak, Tika sudah melompat dari batu dan berlari. Ia menabrak Indri dengan seluruh tubuhnya, memeluknya sampai keduanya hampir jatuh, lalu memukul bahunya bertubi-tubi sambil menangis.
“Dasar bego! Dasar bego! Lo ke mana aja, hah?! Lo tahu nggak kita semua—lo tahu nggak—”
“Maaf, Tik. Maaf.”
“Maaf lo mahal banget!”
Sinta menyusul, terisak tanpa suara, dan melingkarkan kedua lengannya pada mereka berdua. Tanto berdiri membeku dengan tangan masih terangkat, seperti baru sadar ia memegang udara. Lalu ia menunduk dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jawa yang terdengar seperti doa syukur.
Zaki tidak bergerak.
Ia berdiri di tempatnya, dua langkah dari garis, dengan kaki yang tak bisa ia gerakkan lagi. Bukan karena sumpah. Indri menatapnya dari balik bahu Tika, wajahnya basah, bibirnya bergetar membentuk satu kata yang tidak terdengar.
“Kak.”
“Lo pake kebaya, Dri?!” Tika menarik mundur wajahnya, menatap pakaian itu dari atas sampai bawah di antara tangis dan tawa. “Kita nyariin lo sampai gunung mau runtuh, dan lo dandan?!”
“Panjang ceritanya.”
“Gue mau denger semuanya! Tapi nanti. Sekarang peluk gue lagi.”
Dan Zaki, yang selalu tepat waktu, yang tegas, yang tidak pernah tampak goyah di hadapan siapa pun, mengangkat kedua tangan dan menutup wajahnya.