Fajar belum benar-benar naik ketika gerbang kedua dibuka. Engselnya berderit panjang, seakan gerbang itu tak lagi seramah dulu kepada tamu yang hendak pergi, dan udara dingin yang menyelinap lewat celahnya membawa bau embun, kayu basah, dan sesuatu yang manis dari taman.
Indri berdiri di ambang gerbang dengan kain batik yang sama seperti hari pertamanya di sini, rambut dikepang rapat oleh tangan Laras, dan gelang cendana melingkar di pergelangan kiri. Di sisi kanannya, Arjuna berdiri tegak tanpa sepatah kata. Di sisi kirinya, Rangga Wesi, bahu terbalut kain putih yang masih berbercak merah muda, menolak duduk walau Indri sudah memelototinya dua kali.
Brawijaya datang dengan langkah yang lebih lambat daripada yang Indri ingat. Jubahnya sama megah, mahkotanya sama, tetapi punggung sang raja sedikit membungkuk, dan sorot matanya sayu, tanda semalaman tidak tidur. Ia berhenti tiga langkah dari Indri.
“Nak.”
“Baginda.” Indri membungkuk sedikit, tidak sampai berlutut. Soal berlutut sudah selesai sejak hari ketiga, dan Brawijaya tidak pernah mempersoalkannya lagi.
“Aku tidak akan berpidato,” kata sang raja. “Aku sudah terlalu banyak bicara, dan terlalu sedikit mengatakan yang benar.” Ia menarik napas dalam. “Aku hanya ingin kau pulang dengan hati yang tidak dipaksa. Apa pun yang kau putuskan di sana, putuskanlah sebagai dirimu sendiri, bukan sebagai titisan siapa pun.”
Kerongkongan Indri terasa sesak. “Terima kasih, Baginda. Saya akan datang menjawab sebelum malam itu. Saya sudah janji.”
“Aku ingat.”
Brawijaya menoleh pada putranya. Matanya turun sekilas ke lengan kiri Arjuna, tempat sisik kuning itu dulu menjalar, lalu naik lagi. Ia seperti ingin bertanya sesuatu dan tidak menemukan kalimat pembukanya. Arjuna balas menatap, rahangnya mengeras, bibirnya tertutup rapat. Hening di antara keduanya begitu tebal sampai prajurit di gerbang pura-pura memeriksa tombak mereka. Seekor burung jalak bersiul di atas lengkung gerbang, nyaring dan tidak tahu diri, lalu diam sendiri karena tidak ada yang menanggapi.
“Antarkan tamu kita sampai pintu,” kata Brawijaya akhirnya.
“Baik, Ayahanda.” Hanya itu. Nada Arjuna datar seperti permukaan batu.
Laras maju dari belakang dengan sebuah buntalan kain di kedua tangan. Matanya sembap, dan ia tidak berani menatap Indri lebih dari sekejap.
“Bekal, Den Ayu. Ada kue beras dan buah kering.” Ia menelan ludah. “Di bawahnya hamba selipkan pakaian Den Ayu yang dulu. Sudah hamba cuci. Celana lapangan dan kaosnya, juga ... apa pun yang ada di sakunya.”
Sarung tangan Zaki. Indri hampir lupa benda itu masih tersimpan di sana.
“Terima kasih, Mbak Laras.” Ia menerima buntalan itu dan, tanpa pikir panjang, memeluk perempuan itu sekilas. Tubuh Laras kaku seperti papan, lalu perlahan melunak. Tangannya naik dan menepuk punggung Indri dengan gerakan ragu.
Ia membuka mulut, menutupnya lagi, lalu hanya menekan telapak tangan Indri sekali, kuat, seakan menitipkan sesuatu yang tak bisa dikatakan. Cincin kayu di jarinya terasa kasar dan dingin di kulit Indri.
“Aku selamat kok, Mbak. Doain aja.”
Laras mengangguk berkali-kali tanpa mengangkat wajah, lalu mundur dan menghilang di balik barisan dayang.
Rangga Wesi memberi hormat dengan tangan kanannya, karena yang kiri sudah tidak bisa terangkat. “Hamba tidak bisa mengantar sampai pintu, Den Ayu. Tetapi jalur sudah disapu sejak semalam. Kerdil tidak akan berani mendekat selama matahari belum tinggi.”
“Jangan banyak gerak, Pak. Lukanya bisa terbuka.”
“Hamba patuh.” Sudut bibir senapati itu terangkat sedikit, hanya sedetik, lalu kembali kaku seperti biasa.
***
Pasar masih setengah tidur ketika mereka melewatinya. Gerobak-gerobak ditutup terpal, dan sisa-sisa kekacauan kemarin sudah dirapikan, tetapi bekas tiang patah dan atap sirap yang berlubang belum sempat diganti. Tak ada yang berteriak menawarkan dagangan. Tak ada yang berani menyapa.
Rakyat berdiri di tepi lorong, satu per satu keluar dari pintu rumah mereka. Pedagang kain yang pahanya Indri balut kemarin berdiri bertumpu pada tongkat dan menunduk dalam. Anak laki-laki bersiku terkilir menggenggam ujung baju ibunya. Perempuan tua pembawa boneka kayu mengangkat bonekanya tinggi-tinggi, seperti memamerkan sesuatu yang berhasil diselamatkan.
Tidak ada suara. Tidak satu pun. Hanya ratusan kepala menunduk dan bunyi sandal Indri di batu jalan.
Ibu penjual wet kofi berdiri paling depan. Ia tidak berkata “Nduk” kali ini. Ia hanya menaruh gelas tanah liat hangat di tangan Indri dengan kedua tangannya sendiri, lalu menepuk punggung tangan gadis itu dua kali. Indri menyesap sedikit. Kayu manis. Manisnya tepat.
“Mereka tahu kau mungkin tidak kembali,” gumam Arjuna di sampingnya. Matanya lurus ke depan, ke lorong yang kosong dari tawar-menawar.
“Mereka juga tahu aku mungkin kembali.”
“Itu jauh lebih mereka harapkan.”
Di ujung pasar, kabut sudah menunggu. Bukan kabut biasa; ia menggantung rendah dan pekat di antara dua gerai tembikar, bergulung pelan seperti napas makhluk yang sedang menunggu. Dari dalamnya terdengar suara seruling, sekali, nadanya panjang dan datar.
“Berpeganglah pada kabut,” kata Arjuna, mengulang kalimat Jaga di Gerbang Selatan.
“Aku masih ingat ini bikin pusing.”
“Tahan perutmu.”
Sesuatu yang dingin dan licin melata di punggung kaki Indri. Seekor ular hitam sebesar lengan, bersisik mengilap, meluncur ke depan mereka dan masuk ke dalam kabut lebih dulu. Dari dalam gulungan putih itu terdengar suara yang sudah Indri kenal, rendah dan geli.
“Kabut ini pinjaman, Indri. Aku hanya mengantar sampai kaki undakan. Sesudah itu kau berjalan dengan kakimu sendiri.”
“Iya, Mas Jaga. Makasih.”
“Jangan berterima kasih dulu. Pintu itu tidak pernah ramah pada yang pulang.”
Mereka melangkah masuk. Satu langkah, dua langkah, dan jalan batu di bawah kaki Indri berubah menjadi tanah lembap berlumut. Langkah ketiga, ia mencium aroma getah pinus. Ketika kabut menipis, undakan batu yang panjang sudah terbentang di depan mereka, dan di puncaknya berdiri dua pohon cemara raksasa yang bersisian, batangnya begitu tua sampai kulitnya menyerupai kulit gajah.
Cemoro Kembar.
Di bawah pohon di sebelah kiri, seorang lelaki tua berambut perak duduk bersila dengan lentera menyala di sisinya. Apinya tak bergoyang walau angin pagi menggerakkan seluruh dahan.
“Mbah Resa,” sapa Indri. “Mbah nunggu dari tadi?”
“Sejak lentera ini dinyalakan, Nduk. Pintu tidak bisa dibuka tanpa saya, dan saya tidak bisa menutupnya tanpa kau.” Ia menunjuk ke sela dua pohon dengan dagunya. “Di balik itu hutan Ranu Tompe. Saya antar sampai tepi air. Lebih jauh dari itu saya tidak boleh.”
Juru kunci itu berdiri pelan, bertumpu pada tongkat. Matanya turun ke pergelangan Indri dan berhenti di sana lama sekali.
“Cendana Ratu,” gumamnya. “Sembilan tahun saya tidak melihatnya terpakai di tangan orang yang masih bernapas.” Ia mendongak. “Kau tamu, Nduk. Bukan tawanan. Pintu ini tahu itu.”
Arjuna berhenti di anak tangga terbawah dan tidak melangkah lagi. Indri menoleh.
“Mas?”
“Jalan ini kau tempuh sendiri.” Ia berdiri tegak, kedua tangan terkepal di sisi tubuh, seolah menahan dirinya sendiri dengan susah payah. “Itu bagian dari pilihanmu. Kalau aku ikut, orang akan bilang aku yang menuntunmu. Aku mau kau bisa bilang, kapan pun nanti, bahwa kau yang memutuskan setiap langkahnya.”
Indri menatapnya. Lalu, dengan gerakan yang ia sendiri tidak rencanakan, ia mengulurkan tangan. Arjuna memandang tangan itu seakan tak percaya.
“Boleh?” tanyanya serak.
“Aku yang minta.”
Jemari mereka bertaut sebentar. Hangat, cukup lama untuk diingat, cukup singkat untuk tidak menjadi janji. Lalu Indri melepasnya.
“Sampai ketemu, Mas.”
“Sampai ketemu.”
Ia menggendong buntalan Laras di bahu, menaiki sisa undakan, dan melewati celah di antara dua batang cemara itu sendirian.