“Hidup,” ulang Arjuna.
Ia mengucapkannya pelan, seperti orang mencicipi kata dari bahasa yang belum dikuasainya. Awan di bawah serambi sudah berubah dari ungu menjadi biru tua, dan satu-dua bintang menyembul di sela lapisan tipisnya.
“Cuma itu jawabanmu?” tanyanya.
“Jawaban yang lain bakal bohong, Mas. Aku nggak mau ngasih janji yang aku sendiri belum tahu bisa kutepati atau nggak.” Indri menarik kakinya ke atas bangku, memeluk lutut. “Aku cuma tahu kamu harus tetap hidup. Makan, tidur, jadi orang yang nolongin ibu-ibu di pasar. Itu bukan permintaan yang aneh, kan?”
Arjuna tidak menjawab. Ia menatap Indri sebentar, lalu mendadak berbalik dan menuruni undakan serambi dengan langkah lebar.
“Mas? Mau ke mana?”
“Jangan ke mana-mana!” serunya dari kejauhan. “Tunggu di situ!”
Indri melongo. Laras, yang berdiri di pintu dengan lampu minyak, hanya menunduk dalam-dalam. Bahunya bergetar sedikit. Indri baru sadar perempuan itu sedang menahan senyum.
“Mbak Laras tahu dia ke mana?”
“Hamba tidak berani menebak, Den Ayu.”
Indri duduk lagi. Dari kejauhan, entah dari arah dapur istana, terdengar bunyi benda logam jatuh, disusul suara perempuan tua yang melengking: “Jangan, Pangeran! Itu bukan gula!”
Laras menutup mulut dengan punggung tangan. Bahunya naik turun.
“Dapur pasti ramai malam ini,” kata Indri. Lalu ia teringat sesuatu dan menoleh. “Mbak, saluran air yang dipakai kerdil tadi siang, sudah ditutup?”
Tawa Laras berhenti. “Sudah, Den Ayu. Gusti Rangga menaruh tiga prajurit di sana.” Matanya bergeser ke lantai. “Hamba rasa tidak akan ada yang lewat lagi.”
“Syukurlah.”
Laras mengangguk dan kembali menunduk, tetapi tangannya yang memegang lampu mengeratkan genggaman. Indri sempat melihatnya, lalu melupakannya, karena langkah Arjuna kembali terdengar di undakan.
Hampir satu jam sudah lewat. Lampu-lampu di taman sudah dinyalakan satu per satu. Pelan kali ini. Arjuna naik ke serambi sambil membawa baki kayu dengan sebuah mangkuk tanah liat di atasnya, dan wajahnya tampak seperti orang yang baru kalah perang tetapi menolak mengakuinya. Ada noda abu di pelipisnya, dan lengan kemejanya basah sampai siku.
“Aku masak,” katanya. “Juru masak istana mengajariku tiga kali. Dia bilang aku boleh berhenti kalau aku mau. Aku tidak mau.”
Indri menatap mangkuk itu. Bubur putih dengan irisan jahe, bawang goreng yang sedikit terlalu cokelat, dan uap yang membawa wangi gosong tipis dari dasar panci.
“Katamu orang harus hidup,” ujar Arjuna sambil meletakkan baki di pangkuannya. “Orang hidup harus makan.”
Tenggorokan Indri mendadak sesak, dan ia tidak tahu apakah itu karena lapar atau karena hal lain. Ia mengambil sendok kayu, meniup bubur itu, dan memasukkannya ke mulut.
Asin. Asin sekali.
Ia mengunyah pelan. Menelan. Mengambil suapan kedua.
“Enak?” tanya Arjuna, nyaris tanpa napas.
“Mas, ini ... luar biasa.”
“Kau berbohong.”
“Sedikit.” Indri menahan tawa dan gagal. “Garamnya kebanyakan, Mas. Tapi aku makan semuanya, tenang aja.”
“Juru masak bilang secukupnya. Aku tidak tahu seberapa cukup itu.” Arjuna duduk di lantai serambi, bersandar pada tiang, dan menyembunyikan wajah di balik telapak tangan. “Aku pangeran yang bisa menyibak kabut dengan satu jari, dan aku kalah oleh garam.”
“Kamu nggak kalah. Buburnya habis, kok.”
Dan memang habis. Sampai butir terakhir, sampai Indri mengerok dasar mangkuk dengan ujung sendok.
“Kamu sendiri makan?” tanyanya.
“Aku mencicipi di dapur. Sekali.” Arjuna meringis. “Sesudah itu aku langsung mengerti kenapa Ayahanda menyewa juru masak.”
“Dan Ayahmu? Kamu sudah ngomong sama beliau?”
Senyum Arjuna menghilang pelan-pelan, seperti lampu yang sumbunya dikecilkan. “Belum.”
“Mas, besok pagi beliau berdiri di gerbang. Cuma satu kalimat juga cukup.”
“Kalimat pertama yang paling sulit.” Ia menatap telapak tangannya. “Setelah mengantarmu. Aku janji.”
“Aku nggak minta janji. Aku cuma nggak mau kamu nyesel.”
***
Malam turun penuh. Laras sudah menyingkir ke ujung selasar, dan di taman hanya terdengar jangkrik negeri yang bunyinya lebih halus daripada jangkrik mana pun yang pernah Indri dengar.
“Boleh aku bicara jujur?” tanya Arjuna.
“Dari tadi juga kamu jujur.”
“Ini lebih sulit.” Ia memilin ujung lengan kemejanya yang masih basah, kebiasaan yang baru Indri perhatikan. “Aku tidak tahu apa itu mencintai, Indri. Aku belum pernah belajar. Yang kutahu hanya ini: kalau kau masuk ke suatu ruangan, aku lupa apa yang tadi kupikirkan. Kalau kau terluka, aku lupa aturan. Dan sejak kemarin sore, aku tidak bisa membayangkan serambi ini tanpa suaramu yang sering salah ngomong.”
“Aku nggak sering salah ngomong.”
“Kau bilang ‘wet kofi’ dengan serius sejak hari pertama.”
“Itu kan nama baru!” Indri tertawa, tetapi tawanya cepat padam. Ia menatap mangkuk kosong. “Mas, aku juga jujur, ya. Rasa itu ada. Aku nggak mau pura-pura nggak ada. Tapi kalau malam ini aku bilang ya, itu karena aku takut sama besok. Bukan karena aku yakin. Dan aku nggak mau kamu dapat jawaban dari orang yang lagi ketakutan.”
“Aku mengerti.”
“Kamu beneran ngerti?”
“Tidak sepenuhnya.” Arjuna tersenyum miring. “Tetapi aku lebih baik menunggu jawaban yang yakin daripada menerima jawaban yang cepat. Ibuku dulu memberi jawabannya tanpa pernah diberi tahu seluruh harganya. Aku tidak mau mengulang itu.”
“Makasih, Mas. Aku nggak mau diputusin siapa pun lagi.”
“Aku sudah berhenti memutuskan untukmu.” Ia menggaruk tengkuk. “Atau aku sedang belajar berhenti. Kadang kebiasaan lama datang tanpa permisi.”
“Kayak pegangan tangan?”
“Kayak pegangan tangan.” Ia hampir tertawa. “Dua kali kau bilang tidak, dan dua kali aku masih ingin bertanya lagi. Itu memalukan.”
“Nggak memalukan. Yang memalukan itu kalau kamu nggak nanya dan langsung narik.”
Hening. Jangkrik berhenti sejenak, lalu mulai lagi.
“Indri.” Suaranya turun menjadi hampir bisikan. “Boleh aku menyentuh pipimu? Sekali saja. Aku akan berhenti kalau kau bilang berhenti.”
Dada Indri berdegup tidak keruan. Ia memikirkannya. Sungguh-sungguh memikirkannya, sampai kuping Arjuna ikut memerah menunggu. Lalu ia mengangguk.
“Boleh.”
Jemari itu naik pelan, seakan takut meninggalkan jejak. Ujung-ujungnya kasar oleh gagang pedang dan hangat, dan ia hanya menyentuh sebatas tulang pipi Indri, tidak lebih, selama napas yang pendek.
“Cukup,” bisik Indri.
Tangan itu langsung turun. Tidak ada tarikan, tidak ada tatapan menagih. Arjuna hanya menunduk, mengepalkan tangan di lutut, dan bernapas panjang. Pipi Indri masih terasa hangat di tempat jari itu tadi singgah, dan ia pura-pura sibuk merapikan selendang supaya tidak perlu menatap siapa pun.
“Terima kasih,” katanya.
“Untuk apa?”
“Karena kau bilang cukup, dan aku masih boleh duduk di sini.”
Sebelum Indri sempat menjawab, genting di atas serambi berdetak. Bukan kerdil; detaknya terlalu ringan. Sesosok pria berambut sebahu duduk bersila di tepi atap dengan seruling di pangkuan, kakinya berayun santai seperti anak kecil di pagar.
“Mas Jaga!” Indri hampir menjatuhkan mangkuk. “Dari kapan di situ?”
“Sejak bubur,” sahut Jaga ringan. “Aku tidak mau mengganggu. Aku hanya penasaran apakah Pangeran akan menang melawan panci.”
“Jaga,” geram Arjuna.
“Kalah.” Jaga tertawa pendek, lalu tawanya menghilang. Ia memutar serulingnya sekali dan menatap mereka berdua dengan mata yang tiba-tiba terlalu tua. “Besok kabut mengantar kalian ke pintu. Tidurlah. Jalan pulang tidak suka menunggu orang yang masih mengantuk.”