Sore itu pasar ramai lagi, seolah rakyat sepakat melupakan garis hitam di langit demi sebungkus daun sirih dan dua ikat sayur.
Indri berjalan di antara kedai-kedai bersama dua dayang muda yang diperintahkan Laras mengawalnya. Ia sengaja turun ke sini, bukan karena ingin membeli apa pun, tetapi karena besok ia tidak punya waktu lagi untuk pamit. Ibu penjual wet kofi sudah melambaikan tangan dari jauh, dengan gelas tanah liat di kedua tangan dan senyum yang dilebarkan terlalu lebar.
“Nduk! Ibu bikin yang baru, tambah kayu manis!”
“Wah, Bu, nanti saya ketagihan.” Indri menyambut gelas itu. Hangat, manis, dan aromanya mirip warung kopi di dekat kampus. Ia menyesap sedikit, dan sebelum sempat memuji, ia menangkap sesuatu yang bergerak di atap sirap kedai sebelah.
Krosak!
Sebuah bayangan pendek melompat. Lalu dua. Lalu belasan.
“KERDIL!”
Teriakan itu pecah dari mulut seorang pedagang, dan seluruh pasar meledak. Gerobak terguling. Tikar berhamburan. Perempuan menjerit, anak-anak berlari tanpa tahu ke mana, dan dari atap-atap kayu, makhluk-makhluk pendek berkulit gelap menerjang turun dengan kapak dan tombak pendek, berbau tanah basah dan lumut.
Gelas wet kofi terlepas dari tangan Indri dan pecah.
“Den Ayu!” Salah satu dayang menarik lengannya. “Lari, Den Ayu!”
“Tunggu! Ibu ...!”
Ibu penjual kedai terjerembap di tengah lorong, satu kakinya terhalang pecahan periuk. Seekor kerdil sudah mengayunkan kapak. Indri bahkan tidak sempat berpikir; ia melompat dan menarik bahu Ibu ke samping.
Wuss! Kapak itu menancap di tanah tepat di bekas posisi Ibu tadi.
“Pergi!” teriak Indri, tidak tahu pada siapa. Ia menarik Ibu berdiri, lalu menyambar sapu ijuk dari sudut gerai dan menghantamkannya ke kepala si kerdil. Plakk! Makhluk itu terhuyung, mendesis, matanya yang kuning melotot ke arah gelang cendana di pergelangan Indri.
Sebelum sempat menerjang lagi, sesuatu menghantamnya dari samping. Anak panah menembus bahunya, dan tubuh kecil itu terbanting.
“Mundur!”
Suara Arjuna. Ia datang dari ujung lorong dengan pedang di tangan kanan dan busur di punggung, kemejanya setengah basah oleh keringat latihan. Satu gerakan tangannya cukup untuk menebas dua kerdil sekaligus. Yang ketiga mencoba melompat ke bahunya, tetapi pedang itu berputar, dan makhluk itu menghilang di balik gerobak sayur seperti bayangan yang disapu.
Dari arah gerbang, derap kaki prajurit bergema. Rangga Wesi memimpin sepuluh orang berlari menembus kerumunan, kerisnya sudah terhunus. Ia melompati sebuah tikar, memotong lintasan satu kerdil yang menyeret pedagang kain, dan menusuknya di bawah tulang rusuk.
Tetapi di atap gerai tembikar, satu kerdil lain melemparkan tombak.
“Gusti Rangga!”
Rangga Wesi mengelak setengah, tetapi tombak itu masih menyayat bahu kirinya, merobek lengan baju dan kulit di bawahnya. Ia terhuyung, mendengus, lalu menebas balik, dan kerdil di atap itu jatuh berdebam ke jalan batu.
Dalam hitungan napas, semuanya selesai. Sisa kerdil melompat ke atap, mendesis, dan lenyap ke arah selatan, meninggalkan jejak lumpur dan beberapa kapak yang tertinggal di tanah.
Hening menghantam pasar. Hanya terdengar isak anak kecil dan ringkik seekor kuda di kejauhan.
Arjuna sudah di depan Indri sebelum ia sempat menarik napas. Pedangnya masih terhunus, tetapi matanya menyapu tubuh gadis itu dari kepala sampai kaki.
“Kau terluka?”
“Nggak. Aku nggak apa-apa.” Indri menunjuk ke belakang. “Ibu itu, Mas, tolong lihat Ibu—”
“Ibu itu selamat. Kau yang menariknya, aku melihatnya.” Suaranya serak, dan tangannya yang memegang pedang sedikit bergetar. “Kau melompat ke arah kapak. Kau tahu itu?”
“Aku nggak mikir.”
“Itulah masalahnya.” Ia menyarungkan pedang dengan gerakan terlalu keras. “Lain kali pikirkan dulu, atau setidaknya berteriak memanggilku.”
“Kamu jauh, Mas.”
“Aku seharusnya tidak sejauh itu.”
***
“Kain! Siapa punya kain bersih?” Indri berlari dari satu orang ke orang lain, tangan basah oleh darah entah milik siapa. “Air panas, tolong rebus air! Mbak, Mbak tolong bawa lampu ke sini! Jangan kasih minum dulu yang kepalanya kena!”
Ia tidak tahu dari mana suaranya muncul, tetapi tubuhnya bergerak sendiri dari sisa pelatihan PMR di SMA yang tampaknya tertanam lebih dalam daripada yang ia sadari. Seorang pedagang kain dengan luka sayatan di paha. Seorang anak laki-laki dengan siku yang terkilir. Seorang perempuan tua dengan dahi benjol sebesar telur, yang menolak ditolong sampai ia mengaku bahwa bonekanya terinjak.
“Bonekanya nggak apa-apa, Bu, ini cuma kotor.” Indri mengusap debu dari boneka kayu itu dan menaruhnya kembali di pelukan si ibu tua. “Nah. Sekarang lihat saya, ya. Pusing nggak?”
“Cuma ... bunyi lonceng, Nduk.”
“Itu wajar. Duduk dulu, jangan bangun-bangun.”
Dayang-dayang yang tadi menjerit kini berlarian membawa baskom dan kain. Ibu penjual kedai bergetar hebat, tetapi tetap memegangi pelita dengan dua tangan agar cahayanya mantap di atas luka si pedagang. Indri membalut paha itu dengan gulungan kain yang diikat kencang, persis seperti yang diajarkan kakak kelasnya dulu.
“Ditekan. Terus ditekan. Jangan dilepas sampai saya bilang.”
“Hamba tidak tahu cara ini, Den Ayu,” bisik salah satu dayang.
“Nanti saya ajari. Yang penting sekarang tekan.”
Rangga Wesi masih berdiri di tempat ia terkena tombak, dengan tangan kanan menekan bahu kirinya dan darah menetes pelan dari sela jari. Ia menolak duduk sampai pasukannya menyisir seluruh lorong. Ketika akhirnya prajurit terakhir melapor dan ia boleh bersandar, Indri sudah berada di depannya dengan kain bersih di tangan.
“Duduk, Pak Rangga.”
“Hamba baik-baik—”
“Duduk.” Nada Indri tidak naik, tetapi tidak membuka ruang bantahan.
Senapati bertubuh tinggi itu menurut. Indri menyibak kain bajunya, meneliti sayatan sepanjang telapak tangan di bahu itu. Tidak dalam, tetapi lebar. Ia menuang air rebusan sirih, menepuk-nepuk lukanya dengan kain, lalu membalutnya kencang.
Selama itu Rangga Wesi tidak bersuara. Ia hanya menatap kepala Indri yang menunduk, kepangan yang berantakan, dan kebaya yang ujungnya kotor bekas lumpur.
“Den Ayu,” katanya akhirnya. Suaranya berat dan sangat rendah. “Sejak hari pertama, hamba menganggap Den Ayu sebagai tamu yang dititipkan. Hamba salah.”
“Pak Rangga—”
“Orang yang berlari ke arah kapak untuk menarik seorang ibu tua bukan tamu.” Ia menekan tangan kanannya ke dada, lalu menunduk dalam. Bukan hormat protokol, bukan hormat kepada calon ratu. Hormat seorang prajurit kepada orang yang ia sadari lebih berani daripada dirinya. “Hamba berutang kepada Den Ayu.”
Indri tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya memegang bahu kanan senapati itu sebentar dan berkata, “Cepat sembuh, ya.”
***
Senja menyala di atas lautan awan ketika Indri akhirnya duduk di serambi paviliun. Bajunya sudah diganti, wajahnya sudah dicuci, tetapi bau darah dan sirih masih menempel di rambutnya. Di meja kecil di sisinya, Laras meletakkan secangkir teh jahe tanpa sepatah kata, lalu mundur.
Arjuna datang tidak lama kemudian. Ia berdiri di undakan serambi, bersandar pada tiang, dan menatap awan yang mulai berubah ungu.
“Kerdil sudah mundur sampai batas selatan,” katanya. “Rangga bilang mereka masuk lewat saluran air dapur pasar. Aneh. Seharusnya dapur itu dijaga rapat.”
“Mereka nyari apa, Mas? Mereka nggak nyuri apa-apa.”
“Satu mengincar gelangmu.” Arjuna melirik pergelangan kiri Indri. “Cendana milik Ibu. Mereka mengenalinya sebagai tanda tamu, dan tanda tamu berarti jalan keluar yang resmi. Sabdo Palon ingin tahu siapa yang berhak keluar masuk, dan kapan.”
“Berarti mereka juga tahu aku berangkat besok fajar.”
“Belum tentu. Tetapi cukup banyak telinga di istana ini.”
Indri mengangkat alis. Dapur. Kata itu menggelitik sesuatu di ingatannya: Laras di lorong kemarin, mata basahnya, dan cincin kayu di jarinya. Ia terlalu lelah untuk menyusunnya. “Besok kita lihat.”
“Ya.”
Untuk beberapa saat tak ada yang bicara. Angin sore menggerakkan ujung selendang Indri dan menerbangkan satu helai daun kemuning ke pangkuannya.
“Indri.”
“Hm?”
“Aku sudah memikirkannya sejak panah pertama tadi sore.” Arjuna tetap menatap ke depan. “Kau akan pulang. Aku tidak akan menahanmu dan tidak akan memintamu kembali. Tetapi aku harus bertanya, karena kalau aku tidak bertanya, aku akan menyesalinya.”
“Tanya aja.”
“Kalau kau pulang dan tidak kembali, apa yang harus kulakukan?”
Indri menatap profil lelaki itu: hidung yang tegas, rahang yang masih belum rileks, mata cokelat terang yang memantulkan semburat senja. Ia mengira jawaban untuk pertanyaan itu akan panjang, penuh pertimbangan, penuh janji. Ternyata hanya satu kata yang muncul.
“Hidup.”