“16 Mei 2016, 08.30 WIB”
Kepala posko Ranu Pani berdiri di depan tenda terpal biru dengan map plastik di tangan, dan dari cara bahunya terangkat sedikit, Zaki sudah tahu kabar apa yang akan keluar dari mulutnya.
“Bapak, Ibu, adik-adik sekalian.” Pria paruh baya berseragam taman nasional itu menarik napas. “Sesuai rapat pagi ini, operasi pencarian resmi kami tutup sore ini pukul lima. Tim SAR gabungan sudah menyisir seluruh jalur dari Kalimati sampai Arcopodo, dan satu korban kami temukan dalam keadaan meninggal.” Ia melirik Oni sekilas. “Satu lagi, pendaki atas nama Indri Arkadewi, belum ditemukan.”
Ibu Indri, yang duduk di bangku kayu di barisan depan dengan jaket tebal pinjaman petugas, tidak bergerak sedikit pun. Hanya kedua tangannya yang menekan lututnya lebih kuat.
“Kami tidak berhenti mencari, Bu.” Kepala posko menurunkan suara. “Tetapi sesuai prosedur, operasi dengan tim sebesar ini tidak bisa diteruskan tanpa petunjuk baru. Penduduk Tengger akan tetap berjaga. Posko tetap buka.”
“Berarti Bapak meminta kami pulang.” Suara ibu Indri sangat tenang, dan karena itu terasa lebih berat daripada isak mana pun.
“Kampus yang meminta, Bu.” Ia menunduk. “Saya hanya menyampaikan.”
“Saya tidak akan pulang.”
Tidak ada yang menyahut. Di barisan belakang, Tika menggenggam ujung jaket Sinta dan menggigit bibir bawahnya sampai pucat.
***
“Ini surat dari rektorat,” kata Oni pelan, sesudah kerumunan bubar. Ia dan Zaki duduk di tepi bak truk yang diparkir di samping posko, sementara Ragil yang sudah bisa duduk lama memandangi hamparan pinus dari dalam tenda. “Tenggatnya tanggal delapan belas. Setelah itu rombongan harus kembali ke Jakarta. Yang masih sakit bisa menyusul, tapi minimal wakil mapala harus hadir di rapat evaluasi.”
“Lo yang berangkat.”
“Gue kepala sementara, Ki. Gue boleh berangkat. Tapi nggak akan.” Oni melipat surat itu dua kali. “Lo ketua tim. Rapat itu tanggung jawab lo, dan lo masih di sini nungguin sesuatu yang nggak mau lo sebut.”
Zaki menunduk. Betis kirinya masih kaku, sisa lumpuh di tepi Ranu Tompe tiga hari lalu, dan setiap kali ia menekuknya, ingatan itu kembali menusuk: Tika berlari ke arahnya, Tanto menyeretnya mundur, wajah Mbah Resa yang tidak marah, hanya pasrah.
Sumpahnya masih menempel di tenggorokan seperti sepotong tulang. Tidak menyebut isi negeri kepada siapa pun. Tidak kembali ke sana. Ia mau menyerahkan segalanya kepada Oni, mau bilang, “Ni, di sana ada negeri. Indri di sana. Retno di sana.” Tetapi sekadar membayangkan kalimat itu terbentuk di mulutnya sudah membuat dadanya seperti diremas.
“Gue minta waktu sampai besok,” kata Zaki akhirnya. “Satu hari. Habis itu gue kasih lo jawaban, apa pun hasilnya.”
“Itu aja?”
“Itu aja.”
Oni menatapnya lama. “Oke,” katanya. “Tapi satu hari, Ki. Bukan satu hari plus satu hari lagi.”
Dari ujung tenda, Tanto mendekat. Topinya sudah hilang entah di mana, kemejanya lecek, dan di tangan kirinya ada selembar kertas bergaris tempat ia menulis nama-nama dengan pensil.
“Ini giliran jaga di Ranu Tompe,” katanya sambil menunjukkan kertas itu kepada Zaki. “Sudah tiga hari kita bergantian. Tiap fajar, dua orang menunggu di tepi hutan, tidak masuk, tidak mendekat ke garis. Cuma duduk dan menunggu. Kalau Mbak Indri keluar dari sana, kita yang pertama melihatnya.”
“Gue ikut.”
“Ya jelas, Ki. Tapi kamu jaga sambil duduk, jangan maksa berdiri.”
Zaki mengangguk, dan matanya sempat melirik ke dalam tenda terpal sebelah. Ragil duduk bersandar di dipan dengan selimut sampai dada, tatapannya lurus ke arah deretan pinus. Bibirnya bergerak tanpa suara. Di lehernya, garis kuning tipis itu masih ada, lebih pudar tetapi belum hilang.
“Dari tadi begitu, Ki,” bisik Gilang yang duduk di sampingnya dengan tongkat di pangkuan. “Kadang manggil nama. Gue nggak berani nanya nama siapa.”
Zaki tidak menjawab. Ia hanya menepuk bahu Gilang, lalu kembali memandang daftar Tanto. Matanya turun ke daftar itu. Nama-nama ditulis dengan huruf besar dan rapi, dan baris paling bawah bertuliskan tangan yang lain: Tika, Sinta, dan sebuah tanda tanya yang dihapus Tanto dengan jempolnya, kebiasaan gugup.
“Demi keselamatan kita bersama,” gumam Tanto, dan kali ini kalimat itu tidak terdengar seperti pepatah, melainkan seperti sebuah janji.
***
Sinta berjalan keluar dari tenda dapur dengan termos besar di pelukannya. Rambut sebahunya terurai tanpa ikat, wajahnya pucat tetapi sudah tidak semuram dua hari lalu, dan di bawah tenda terpal ia berhenti sebentar untuk menyeka keringat.
“Mas Tanto, ini termos buat jaga besok fajar. Isinya teh jahe sama gula aren, biar Kak Zaki nggak masuk angin lagi.”
Tanto menerima termos itu, hendak berterima kasih, lalu mendadak membeku.
Di belakang Sinta, di antara dua pohon cemara yang tumbuh condong, berdiri seorang perempuan dengan jaket pendaki pudar. Rambutnya kusut, kaki kirinya miring. Matanya menatap lurus ke Tanto, dan tidak seorang pun lain yang menoleh, seakan hanya Tanto yang mampu melihatnya.
“Jangan bawa api,” kata Dania.
Suara itu tipis, hampir bukan suara. Tanto menelan ludah.
“Api apa, Mbak?”
“Kapan pun kalian ke sana. Jangan ada yang menyala.” Dania melirik termos di tangan Tanto, lalu membuang pandangan ke arah hutan. “Asapnya mengundang yang tidak kalian inginkan.”
“Saya ndak bawa api. Ini cuma teh.”
“Bagus.” Ia tersenyum kecil, lalu jaket pendakinya memudar lebih dulu, disusul sisanya.
“Mas Tanto?” Sinta memegang lengannya. “Kenapa?”
“Ndak apa-apa, Ta.” Tanto menarik napas panjang dan memeluk termos itu lebih erat. “Ndak apa-apa. Cuma ingat sesuatu.”
***
Menjelang siang, Zaki menemukan ibu Indri berdiri di mulut jalur setapak yang menanjak ke arah Ranu Kumbolo. Tas kecil yang tadi pagi hanya dipangku kini disandang di bahu, dan sepasang sepatu karet pinjaman petugas sudah diikat rapat.
“Tante mau ke mana?”
“Ke tepi hutan itu, Nak.” Perempuan itu tidak menoleh. “Tika bilang kalian bergiliran jaga tiap fajar. Besok Tante ikut. Tante tidak akan masuk dan tidak akan merepotkan. Tante cuma mau duduk di tempat Indri mungkin lewat.”
“Jalurnya licin, Tante. Sebelum matahari naik, dinginnya bisa bikin orang jatuh sakit.” Zaki memilih kata dengan hati-hati. “Dan di dekat sana ... ada yang tidak aman. Saya sendiri hampir celaka kemarin.”
“Tante sudah tidur di tanah sejak Indri hilang, Nak. Dingin bukan lawan Tante.” Sekarang ibu Indri menoleh, dan sorot matanya tidak lagi bertanya. Ia sudah memutuskan, dan hanya menunggu apakah ada yang berani melarangnya. “Tapi Tante tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Tante tidak akan menekan. Jadi Tante minta imbalannya.”
“Apa, Tante?”
“Kalau Tante tidak boleh naik, kamu yang naik untuk Tante. Berdiri di sana, dan jangan pulang tanpa dia.”
Zaki menelan ludah. Tidak ada kalimat yang melanggar sumpah di situ, dan tidak ada kebohongan yang bisa ia pakai sebagai pelarian.
“Indri akan pulang, Tante,” katanya. “Saya yang akan pastikan.”
Ibu Indri menatapnya lama, lalu melepas tali tasnya satu per satu dan menggantungnya kembali di bahu Zaki. Tas itu ringan. Isinya selembar sweter rajutan, sudah dilipat. “Kalau dia keluar dari sana kedinginan,” katanya, “kasih ini.”
Zaki mengangguk, lalu berjalan menuju jalur menanjak tanpa menoleh. Dalam hati, tanpa kata, tanpa seorang pun mendengar, ia menambahkan janji yang lain: kalau besok fajar Indri tidak keluar dari hutan itu, ia akan melangkah melewati garis tak terlihat itu, sumpah atau bukan, lumpuh atau tidak.