Garis hitam di dinding belakang singgasana sudah semalaman bertambah lebar. Siang itu ia selebar jari telunjuk, merambat dari lantai hingga ke ukiran naga terakhir, dan para pelayan balairung sengaja berjalan memutar agar tidak melewati bayangannya.
Brawijaya duduk di singgasana kayu jati, tegak seperti biasa, namun wajahnya tampak seolah sehelai kertas yang dilipat terlalu sering. Di sisi kirinya berdiri Rangga Wesi dengan tangan di gagang keris.
Indri melangkah masuk sendirian, berhenti di tengah lantai, lalu menunduk. Bukan sembah, hanya hormat.
“Baginda, saya mau pulang.”
Satu kalimat. Rangga Wesi sempat menoleh. Brawijaya tidak bergerak sama sekali.
“Pulang ke Cemoro Kembar, lalu ke tempat teman-teman saya.” Indri menjaga suaranya tetap rata. “Saya mau ketemu Bunda. Saya mau duduk dekat orang yang tidak memakai kebaya buat saya. Kalau sudah, saya akan memutuskan, dan saya akan datang sebelum malam dua puluh, apa pun jawabannya. Itu janji saya.”
“Bila kau tidak datang?”
“Berarti jawabannya tidak, dan Baginda boleh mulai mencari yang lain.” Ia menelan ludah. “Tapi saya akan datang, Baginda. Saya nggak mau menjawab lewat orang lain.”
Brawijaya memejamkan mata. Entah selama berapa tarikan napas, hanya dengung angin yang masuk lewat jendela tinggi, mengaduk debu halus dari retakan.
“Aku tidak akan menahanmu,” katanya akhirnya. “Tidak dengan syarat, tidak dengan janji, tidak dengan ancaman. Kau datang sebagai tamu, kau pergi sebagai tamu. Itu yang kukatakan pada hari pertama, dan itulah yang akan kupegang, sekalipun segalanya runtuh.”
Indri mengerjap. Ia sudah menyiapkan tiga alasan untuk menawar, dan sekarang ketiganya tidak berguna.
“Terima kasih, Baginda.”
“Jangan berterima kasih.” Senyum yang muncul di wajah itu terlalu lelah untuk disebut senyum. “Berterima kasihlah bila kau kembali. Sampai saat itu, terima saja.”
Rangga Wesi maju setengah langkah dan menunduk. “Baginda, izinkan hamba menyampaikan satu hal.”
“Katakan.”
“Jalur ke Cemoro Kembar penuh kerdil, Baginda. Sejak tadi malam, mereka berkeliaran di dua sisi hutan.” Suaranya berat. “Pasukan hamba baru dapat menyapu seluruh jalur hingga menjelang fajar hari ketiga, tepat tanggal tujuh belas. Bila Den Ayu berangkat lebih awal, hamba tak dapat menjamin keselamatannya.”
Indri menoleh. “Hari ketiga dari sekarang?”
“Hari ini hari pertama, Den Ayu. Besok yang kedua. Fajar lusa, Den Ayu berangkat.”
Berarti dua malam lagi. Sisa hari menuju malam dua puluh menyusut dalam kepala Indri: tujuh belas berangkat, dua puluh jawaban. Tiga hari di luar sana. Cukup untuk memeluk Bunda, menangis, mengatur napas. Mungkin cukup.
“Baik,” katanya. “Fajar lusa.”
Brawijaya menurunkan tangan ke pangkuan dan melepas sesuatu dari pergelangannya. Sebuah gelang dari kayu cendana, tipis, digosok halus, dengan ukiran sulur daun yang hampir aus di sepanjang lingkarannya. Wangi manis menyebar begitu benda itu terbuka dari lengan jubahnya.
“Ini tanda tamu. Siapa pun yang mengenakannya boleh melewati Cemoro Kembar dan tidak akan dihalangi oleh juru kunci mana pun. Dahulu ini milik Ratu Widyadari.” Ia mengulurkan gelang itu dengan dua tangan. “Kukatakan ini bukan untuk mengikatmu. Hanya agar kau tahu jalan pulang tidak akan tertutup.”
Indri menerima gelang itu. Ringan, hangat dari kulit sang raja. Ia melingkarkannya di pergelangan kiri.
“Saya jaga baik-baik.” Indri menyentuh sulur-sulur halus di gelang itu, lalu menoleh ke arah pintu samping tempat para penjahit biasa lewat. “Dan kain putih gading itu, Baginda?”
“Kusuruh simpan. Penjahit tidak akan menjahitnya sebelum kau memberi jawaban.” Brawijaya menatap ujung jubahnya sendiri. “Seharusnya itu kulakukan sejak awal. Aku sudah terlalu terbiasa menyiapkan segalanya untuk orang lain.”
“Terima kasih.”
“Bukan untukmu saja, Nak. Juga untukku. Aku ingin belajar tidak melakukan itu lagi.”
“Saya tahu, Baginda.”
***
Lapangan panah di belakang istana sepi. Hanya bunyi Tak! Tak! yang berulang, anak panah menancap dan ditarik, menancap dan ditarik, dari seorang lelaki yang tidak menoleh ketika Indri berhenti di pagar.
Sasaran jerami itu sudah berlubang di mana-mana, seperti sarang tawon yang digerogoti. Arjuna menarik tali busur sekali lagi, melepasnya, dan anak panah itu menyusup masuk ke lubang yang sama.
“Aku mau berangkat lusa fajar,” kata Indri.
Tali busur diturunkan. Arjuna tidak menoleh. “Ayahanda mengizinkan?”
“Tanpa syarat.”
“Berarti ia benar-benar kehilangan keberanian untuk menawar.” Nadanya getir, tetapi bukan marah. Bahunya perlahan menurun. “Aku mengantarmu sampai Cemoro Kembar.” Ia berdeham. “Bila kau mengizinkan.”
“Aku izinkan.”
“Bagus.” Sudut bibirnya naik sedikit. “Sebab kalau tidak, aku akan membuntuti diam-diam dan itu jauh lebih memalukan.”
Indri tertawa kecil, lega bahwa lelucon itu masih bisa muncul di tengah hari seberat ini.
“Kamu sama Baginda belum ngomong lagi?”
“Belum. Aku tidak tahu harus mengatakan apa.” Arjuna meletakkan busurnya di rak, sangat hati-hati, seperti benda rapuh. “Semalam aku bertanya, dan jawabannya hanya ‘aku tahu’. Hari ini aku tahu apa yang ingin kutanyakan, tetapi belum tahu bagaimana mengucapkannya tanpa membakar sesuatu.”
“Itu nggak apa-apa.” Indri menyandarkan lengan di pagar kayu. “Kamu nggak perlu buru-buru. Baginda juga nggak ke mana-mana.”
Ia pikir Arjuna akan menjawab sinis. Ternyata lelaki itu menoleh dan menatapnya cukup lama, dengan mata cokelat terang yang sudah kehilangan kilau keras malam tadi.
“Terima kasih,” katanya pelan, “karena tadi malam kau tidak membiarkanku pergi sendirian terlalu lama.”
“Aku cuma berdiri di pintu.”
“Itu cukup.”
***
Selasar menuju paviliun siang itu lengang. Indri berjalan sambil memutar-mutar gelang cendana di pergelangannya, memikirkan ucapan apa yang harus ia sampaikan pertama kali kepada Bunda, dan apakah Bunda akan percaya bahwa ia baik-baik saja, ketika sebuah tangan mendadak menahan lengannya dari balik tiang.
Laras.
Tak ada nampan, tak ada senyum sopan. Wajahnya basah, matanya merah, dan kerudung tipisnya terpelintir di bahu seperti orang yang berlari. Napasnya pendek-pendek, dan genggamannya di lengan Indri terasa sangat dingin.
“Mbak Laras, ada apa?”
“Den Ayu benar-benar akan pergi?”
“Iya. Fajar lusa.”
Indri meraih kedua tangan perempuan itu dan menggenggamnya. Dingin sekali, dan di jari manis kiri, cincin kayu itu kembali terasa di bawah telapaknya, licin dan tua.
“Cincinnya bagus, Mbak. Dari siapa?”
“Dari suami hamba, Den Ayu.” Jawaban itu terlontar sebelum Laras sempat menyaringnya. “Dia ... sudah lama hilang.”
“Maaf, aku nggak tahu.”
“Tidak apa-apa.” Laras menarik tangannya perlahan, seakan menarik sesuatu dari bara. Ia menggeleng pelan, seperti ingin mengusir sesuatu dari kepalanya. “Hamba tidak ... hamba hanya ...” Ia menarik napas. Bibirnya bergetar, lalu mengatup, lalu terbuka lagi dengan suara yang nyaris tak ada. “Apa pun yang terjadi, hamba tidak ingin Den Ayu terluka.”