Indri mendorong daun pintu itu sedikit lagi, cukup untuk melangkah masuk, tetapi ia berhenti di ambang, di garis tempat lantai marmer bertemu lantai kayu.
“Saya nggak menolak karena benci, Baginda.”
Brawijaya menatapnya. Dua alur basah masih mengilap di pipinya, dan ia tidak berusaha menghapusnya.
“Saya memang marah.” Indri menarik napas, mengatur suaranya agar tidak bergetar. “Marah sekali, malah. Tapi marah itu bukan alasan. Saya belum bilang tidak, saya juga belum bilang ya. Yang saya tahu sekarang, saya belum ikhlas. Jadi tolong, jangan minta jawabannya sekarang.”
“Itu hakmu, Nak.” Brawijaya menelan ludah. “Aku sudah menyiapkan banyak kalimat untuk malam seperti ini. Tak satu pun kupakai.”
“Saya tahu.” Indri mengangkat dagu. “Baginda sendiri yang bilang saya tamu. Tamu boleh pulang, boleh juga menunda jawaban.”
Kalimat itu mengena. Bahu Brawijaya turun seinci, dan sesuatu yang mirip senyum pahit melintas di wajahnya. “Ibumu pasti membesarkanmu dengan baik.”
“Bunda memang sering bilang, ‘Jangan jawab kalau lagi kesel, Ndri. Tidur dulu.’” Indri menahan tawa kecil yang justru hampir jadi isak. “Saya mau tidur dulu, Baginda. Besok kita lihat.”
Ia menunduk hormat, membalik badan, dan baru ketika melewati Rangga Wesi yang berdiri tegak di luar pintu, ia sadar lututnya gemetar sampai harus berpegang pada tiang selasar.
***
Pagi hari, kabut belum terangkat dari taman Kemuning.
Cipta duduk di bangku batu dengan jenggot putih terurai ke dada. Di sampingnya, Jaga bersandar di tiang sambil memutar serulingnya, sementara kerutan di dahi keduanya menunjukkan bahwa tak seorang pun dari mereka tidur nyenyak.
“Nduk.” Cipta menepuk bangku di sisinya. “Duduklah. Kau pasti ingin tahu seberapa buruk keadaannya.”
“Iya, Pak Cipta.” Indri duduk. “Pangeran mana?”
“Di lapangan panah sejak fajar,” kata Jaga. “Menembakkan anak panah sampai sasarannya berlubang semua. Kami tidak berani mendekat.”
Cipta mengusap janggutnya. “Dengarkan baik-baik. Segel itu seperti kain yang menutupi seluruh negeri. Selama ratu masih menjadi jangkar, kainnya kencang. Sejak Ratu Widyadari mangkat, kainnya terus kendur, dan Baginda menambalnya tiap purnama dengan tenaganya sendiri. Tapi tambalan bukan jahitan baru.” Ia mengangkat dua jari. “Bila Purnama Biru lewat tanpa jangkar, kain itu robek. Dalam beberapa hari, paling lama tujuh, selubungnya runtuh. Dunia luar akan melihat kita. Dan yang pertama masuk bukan para pendaki, Nduk.”
“Sabdo Palon.”
“Dan semua yang ia bawa.”
“Kerdil, Putri Kuning, entah apa lagi,” timpal Jaga sambil mengetuk-ngetukkan seruling ke telapak tangan. “Dan aku kehilangan tempat tidur favoritku di dahan beringin. Kau tahu betapa langkanya dahan beringin yang pas di punggungku?”
“Jaga.”
“Aku hanya mencairkan suasana, Cipta.”
“Suasananya belum membeku.”
Indri memandangi tangannya sendiri di pangkuan. Embun menetes dari ujung daun kemuning di atas kepalanya, jatuh tepat di telapak tangannya, dingin dan nyata.
“Pak Cipta, saya mau nanya satu hal.”
“Tanyalah.”
“Dalam seribu tahun lebih, atau berapa pun, apa nggak pernah ada yang nyoba cara lain? Selain satu perempuan jadi jangkar?”
Cipta dan Jaga saling memandang. Jaga menghentikan putaran serulingnya.
“Cara lain seperti apa?” tanya Jaga pelan.
“Saya nggak tahu. Saya bukan ahli segel.” Indri menggeleng. “Tapi rasanya aneh. Segel sebesar ini cuma dipikul satu orang. Saya dari Mapala. Waktu kami mendaki, beban selalu dibagi. Carrier berat dibagi tujuh. Kalau satu orang yang memikul semuanya, dia ambruk duluan.”
Hening.
“Tidak pernah,” kata Jaga akhirnya. Ia berkata seperti orang yang baru mengakui kesalahan yang sudah lama diketahuinya. “Tidak pernah ada yang mencoba. Karena sejak awal Amarawati sendiri yang menawarkan diri, dan sesudah itu semua orang menganggap begitulah caranya.”
“Itu bukan alasan.”
“Memang bukan.” Cipta menunduk, dan cuping telinganya yang tua memerah. “Kami terlalu lama hidup di satu cara, sampai lupa cara itu hanyalah satu dari banyak.”
“Dan Arjuna?” Indri bertanya pelan. “Dia baik-baik aja?”
“Ia anak yang tidak pernah belajar marah, Nduk. Sekarang ia belajar sekaligus.” Cipta tersenyum letih. “Biarkan dulu. Marah yang diganggu cenderung mengeras. Marah yang dibiarkan biasanya mencair sendiri, asal ada yang menunggu di ujungnya.”
Indri menggigit bibir. Ia tahu siapa yang dimaksud.
Jaga menoleh kepada Cipta. “Cipta, aku bertanya lagi, seperti dulu di Semeru. Apakah kau masih yakin mereka berdua dapat bersatu? Dengan cara apa pun?”
Cipta tidak langsung menjawab. Ia memandang Indri, lalu langit yang mulai membiru di antara celah kabut, lalu tangan keriputnya sendiri.
“Dahulu aku yakin,” katanya. “Sekarang aku hanya tahu bahwa gadis ini baru saja menanyakan sesuatu yang tidak pernah kita tanyakan selama lima ratus tahun.”
***
Pasar pagi terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Indri berjalan sendirian di antara kedai-kedai kayu dengan kain tipis menutup kepala, hanya diikuti dua prajurit yang menjaga jarak. Rakyat menunduk saat ia lewat, tetapi kali ini ia menangkap bisik-bisik yang menempel di udara seperti kabut.
“... tadi malam, garis hitam di atas balairung, kelihatan dari sini ...”
“... kata istriku retaknya sudah menjalar sampai ke langit ...”
“Baginda tidak keluar sejak itu. Pangeran pun tidak kelihatan ...”
Ibu penjual kedai yang menyuguhkan wet kofi dulu berlari kecil dari balik gerainya, wajahnya cemas. “Nduk! Nduk, itu garis hitam di langit mau ngapain? Kata orang-orang, kalau garis itu lebar, kita semua jadi debu. Betul, ya?”
“Saya belum tahu, Bu.” Indri menggenggam tangannya sebentar, hangat dan berbau santan. “Tapi nggak ada yang jadi debu hari ini. Percaya sama saya.”
“Ibu percaya.” Ia menepuk punggung tangan Indri dengan kedua telapak. “Nduk jadi ratu to, nanti?”
“Belum tentu, Bu.”
Ibu itu tidak menjawab, hanya tersenyum sedih, lalu kembali ke gerainya.
Di sudut lorong dekat gerai batik, seorang perempuan tua duduk di atas bangku rendah. Ia menggendong sebuah boneka kayu seukuran bayi, dibungkus selendang merah lusuh, dan dengan lembut menimang-nimangnya sambil menyenandungkan sesuatu. Rambutnya digelung rapi dan wajahnya mulus tanpa keriput, wajah perempuan yang sudah lima ratus tahun tidak menua.
Indri berhenti.
Perempuan itu mengangkat wajah, tersenyum malu, dan menggoyangkan boneka itu sedikit. “Anaknya rewel, Nduk. Sebentar lagi tidur.”
Tenggorokan Indri tercekat. Ia tidak sanggup menjawab. Ia hanya mengangguk, membungkuk sedikit, dan berjalan lagi dengan langkah lebih cepat daripada yang ia niatkan.
Di belakangnya, bayang tinggi menyusul tanpa suara. Jaga, dalam wujud pria berseruling, berjalan berdampingan.
“Kau ingin pergi,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Iya.” Suara Indri terdengar kecil. “Aku mau pulang, Mas Jaga. Sebentar aja. Ketemu Bunda. Duduk di dekat Bunda. Mikir di tempat yang bukan sini. Nggak ada yang bisa mikir jernih kalau tiap sudut ada baju yang diukurkan buat dia.”
Jaga memandangnya lama. Seruling di tangannya berhenti berputar.
“Kabut tahu jalan pulang,” katanya. “Tinggal kau yang memintanya.”