Gulungan lontar itu melayang melintasi ruangan dan jatuh tepat di kaki Brawijaya, talinya terlepas, ketiga lembarnya terbuka seperti sayap burung yang patah.
“Bacalah.”
Tidak ada salam, tidak ada sembah. Arjuna berdiri di tengah lantai marmer balairung dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuh, dan suaranya rendah, tertahan, jenis suara yang justru lebih mengerikan daripada teriakan.
Brawijaya menunduk. Ia tidak mengambil lontar itu. Ia hanya menatap huruf-huruf miring yang bisa ia kenali dari jauh, dan matanya yang tua, yang sudah melihat Majapahit berdiri lalu runtuh, bergerak dari baris ke baris tanpa membaca sungguh-sungguh. Ia sudah hafal isinya.
“Dari mana kau mendapatkannya?”
“Itu bukan pertanyaan yang penting sekarang.”
“Dari tangan yang menyimpannya sembilan tahun, dan tidak berani menyerahkannya kepada Ayahanda.” Arjuna melangkah dua langkah lebih dekat. “Ayahanda tahu. Sejak dahulu. Segel itu menghabiskan umur Ibu, dan Ayahanda menyaksikannya dua puluh sembilan tahun, dan Ayahanda menjahitkan baju upacara untuk gadis lain agar semuanya berulang.”
“Anakku—”
“Jawab aku. Ayahanda tahu?”
Lampu minyak di tiang terdekat berkedip. Hening panjang merambat di antara dua laki-laki itu, dan dalam hening itu Brawijaya tampak mengerut: jubah putihnya menjadi terlalu besar, mahkota di pelipisnya terlalu berat, dan punggungnya yang selalu lurus kini bungkuk seperti sudah terlalu lama memikul beban yang tidak boleh ditaruh.
“Aku tahu,” katanya.
Dua kata saja. Arjuna memejamkan mata, seperti orang yang menerima pukulan yang sudah ia duga akan datang, namun tetap menyakitkan.
“Ibumu tidak diberi tahu sampai terlambat. Aku sendiri baru mengerti kebenarannya ketika rambutnya mulai memutih, dan saat itu semuanya sudah terlambat untuk dibatalkan.” Suara Brawijaya serak. “Setiap tahun aku berkata kepadanya bahwa tiga tahun lagi akan ada jalan. Setiap tahun aku percaya pada kata-kataku sendiri, atau berpura-pura percaya. Aku berharap cara lain akan datang. Dari para dewa. Dari doa. Dari mana saja. Aku berharap sampai ibumu tak lagi bisa berdiri.”
“Dan setelah Ibu tiada?”
“Aku menunggu titisan berikutnya.” Ia mengangkat wajah. Matanya basah, tetapi tidak ada upaya menutupi. “Aku pengecut, Anakku. Aku lebih takut kehilangan negeri ini daripada kehilangan perempuan yang kucintai, dan aku sudah mengorbankan keduanya.”
“Aku tidak ingin mendengar penyesalan.” Arjuna menggeleng. “Aku ingin mendengar kenapa aku tidak boleh melihat Ibu di akhir hidupnya.”
“Itu permintaannya sendiri. Ia membuatku bersumpah.” Brawijaya tersenyum sangat tipis dan sangat pahit. “Satu-satunya sumpah yang kutepati dengan sempurna dan satu-satunya yang kusesali.”
“Seperti apa hari terakhirnya?”
Pertanyaan itu pelan, dan jawabannya lebih lama datang daripada yang Arjuna duga.
“Ia memintaku menyisir rambutnya.” Brawijaya menatap telapak tangannya sendiri. “Putih semuanya, tipis, rapuh seperti benang laba-laba. Aku menyisirnya sampai ia tertidur. Besok paginya ia sudah tidak ada.” Jeda yang sangat panjang. “Ia tidak meminta apa pun lagi. Tidak meminta aku membatalkan segel. Tidak meminta aku memaafkan diriku. Hanya rambutnya disisir.”
Rahang Arjuna bergerak, seperti hendak mengatakan sesuatu, lalu urung.
Arjuna menatap ayahnya lama sekali. Lalu, perlahan, ia melepas sesuatu dari pinggangnya: sehelai selempang merah tua dengan sulaman benang emas bergambar naga, tanda pewaris tahta Negeri Sukma Hilang. Ia melipatnya dua kali, lalu menaruhnya di lantai di antara mereka.
“Aku melepas hakku, Ayahanda.”
“Arjuna—”
“Aku tidak akan menjadi raja bagi negeri yang berdiri di atas umur ibuku. Aku tidak akan duduk di takhta itu, tidak akan menyambung segel itu, dan tidak akan menikahi siapa pun supaya segelnya bisa dipakai lagi.”
Brawijaya berdiri terlalu cepat. Ia terhuyung. Telapak tangannya terulur untuk menyentuh bahu putranya, tetapi Arjuna mundur setengah langkah, dan tangan itu menggantung kosong di udara.
Krrrk!
Bunyi itu datang dari dinding di belakang singgasana. Sebuah garis hitam setipis rambut merambat dari lantai, naik menyusuri batu ukiran naga, melebar sedikit demi sedikit seperti sungai kecil yang menemukan alurnya. Debu berjatuhan. Dua obor di sisi singgasana berdesis, nyalanya menunduk.
Brawijaya menoleh ke dinding itu. Wajahnya pucat pasi.
“Kau tidak mengerti.” Suaranya turun menjadi bisikan. “Segel mengenali garis darah raja. Hak yang kau lepas dengan marah, ia mencatatnya sebagai kehilangan. Setiap hari tanpa ahli waris, retaknya melebar.”
“Kalau begitu biarkan.”
“Anakku.”
“Biarkan melebar, Ayahanda.” Arjuna berbalik. “Barangkali itu yang Ibu inginkan.”
***
Di luar pintu utama, Rangga Wesi berdiri dengan telapak tangan terbuka menghadap dua prajurit penjaga yang sudah menarik setengah pedang mereka.
“Sarungkan.”
“Gusti Rangga, ada bunyi dari dalam, seperti dinding—”
“Aku mendengarnya.” Rahang senapati itu mengeras. Dari sela daun pintu merah, cahaya obor di dalam sempat bergoyang, dan debu halus melayang turun seperti salju kecil. “Yang mengguncang balairung bukan musuh. Itu urusan Baginda dan Pangeran. Tidak ada yang masuk, kecuali aku yang memerintah.”
Kedua prajurit saling menatap, lalu menyarungkan pedang. Rangga Wesi menggeser tubuhnya setengah langkah, memberi ruang tepat pada saat langkah ringan berhenti di belakangnya, dan seorang gadis berkebaya dengan kain tipis di bahu menatapnya dengan napas memburu.
“Den Ayu.”
“Aku harus masuk, Pak Rangga.”
Ia memandang gadis itu sebentar. Lalu, tanpa sepatah kata, Rangga Wesi mengangkat satu daun pintu kayu jati itu seinci lebih lebar.
***
Indri tiba di ambang pintu balairung tepat ketika bunyi retakan kedua menggema.
Napasnya terengah karena berlari, kain tipis di bahunya melorot setengah, dan tangannya refleks menahan kusen pintu agar tidak jatuh. Dari celah daun pintu yang terbuka, ia melihat Arjuna berdiri membelakanginya di tengah ruangan, lurus dan kaku, dan di hadapannya Brawijaya, sang raja yang selama ini selalu tampak seperti tiang batu, berdiri dengan bahu merosot dan kedua tangan terbuka.
Garis hitam di dinding belakang singgasana melebar hingga menyentuh langit-langit.
“Mas Juna,” panggil Indri, pelan.
Arjuna menoleh sedikit. Rahangnya masih terkatup, tetapi bahunya turun separuh, sebagai tanda bahwa ia mendengar. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya melewati ayahnya, lewat sisi kiri, tanpa menatap, dan keluar lewat pintu samping balairung yang menuju serambi.
Hening yang ditinggalkannya terasa padat.
Brawijaya memandang pintu samping itu lama. Lalu ia memutar tubuh, perlahan, dan mata tuanya jatuh pada Indri yang masih berdiri di ambang pintu utama.
“Nak,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. “Kau sudah membaca surat itu.”
“Sudah, Baginda.”
“Kalau begitu kau sudah tahu semua yang tidak berani kukatakan.”
Indri tidak menjawab. Ia berdiri dengan jari-jari menegang di kusen kayu jati yang dingin.
Brawijaya melangkah mendekat, satu langkah, dua langkah, lalu berhenti jauh sebelum mencapai pintu. Ia menunduk, dalam sekali, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan kepada siapa pun di depan rakyatnya.
“Aku tidak akan memohon agar kau berkata ya.” Napasnya bergetar. “Aku tidak punya hak. Tetapi dengarlah satu hal, Nak. Bila kau menolak, tolaklah karena kau tak ikhlas. Karena kau tak yakin. Karena kau ingin hidup di duniamu sendiri.”
Ia mengangkat wajah. Dua alur basah mengalir di pipi sang raja.
“Jangan menolak karena kebencianmu padaku.”