Pintu terbuka, dan tembang tanpa kata itu berhenti seketika.
Arjuna menoleh dari tempatnya duduk. Pisau kecil di tangannya terlepas dan berdenting di lantai kayu, tetapi ia tidak memungutnya. Matanya meneliti wajah Indri, mata sembab, hidung merah, rambut kusut bekas diusap tangan, dan sesuatu di dalam dirinya yang selama ini tegak mendadak kehilangan pegangan.
“Kau menangis.”
“Iya.” Indri berdiri di ambang pintu, tidak melangkah keluar. “Mas Juna, ada yang harus kamu baca. Bukan dariku. Dari ibumu.”
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti batu ke dalam sumur.
Arjuna bangkit. Gerakannya pelan dan kaku, seperti orang yang takut kakinya salah menginjak lantai. “Dari ibuku?”
“Mbak Laras menyimpannya sembilan tahun. Pesannya, kalau Baginda nggak menyerahkan, aku harus menyerahkannya sendiri.” Indri mengulurkan gulungan lontar itu dengan dua tangan. “Dan sebagian isinya memang untukmu.”
Jemari Arjuna menyentuh tali benang pengikatnya, lalu berhenti. Untuk sesaat Indri mengira ia akan menolak. Tetapi lelaki itu mengambilnya, mendekat ke lampu minyak di tiang, dan duduk bersila di lantai. Tali dibuka. Lembar pertama terbentang di pangkuannya.
Indri tidak masuk, tidak pula menjauh. Ia duduk di ambang pintu, bahu bersandar pada kusen, cukup dekat untuk terdengar jika dipanggil, cukup jauh untuk tidak mengganggu.
Hening lama sekali. Hanya desir angin dan bunyi lembar lontar yang digeser.
Pada lembar kedua, napas Arjuna berubah. Rahangnya mengeras. Pada kalimat ‘Aku menjesal tidak diberi tahu’, bahunya turun seperti ditarik beban yang tak kelihatan. Pada lembar ketiga, ketika matanya sampai ke kalimat tentang pintu kamar yang tak boleh ia masuki, ia berhenti membaca dan hanya menatap satu titik di lontar itu.
“Ibu yang melarang,” katanya, nyaris tak terdengar. “Bukan Ayahanda.”
Indri tidak menjawab.
“Selama sembilan tahun aku mengira Ayahanda menghalangiku karena tidak mau berbagi duka.” Suara Arjuna pecah di tengah kalimat. “Aku membencinya karena itu. Pelan-pelan, tanpa sadar. Aku menjauh, aku menjadi pangeran yang rajin, yang menurut, yang tidak bertanya. Padahal ...” Ia mengusap wajah dengan lengan, kasar. “Padahal Ibu yang menyuruh. Dan aku tidak tahu. Dan alasan Ibu menua ...”
“Segelnya,” kata Indri pelan.
“Ayahanda tahu.”
“Ayahanda tahu, dan ia tetap diam selama dua puluh sembilan tahun.” Arjuna meremas lontar itu, lalu buru-buru melonggarkannya karena sadar bisa merusak. Tangannya gemetar. “Ia memandangku tiap hari. Ia menyuruhku menikahimu. Ia menjahitkan baju untukmu. Dan sepanjang itu ia tahu apa yang dilakukan negeri ini kepada perempuan yang berdiri di sisinya.”
“Mas Juna.”
“Aku tidak akan menikahimu.”
Kalimat itu keluar datar, keras, final, seperti palu menghantam paku. Indri tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatapnya, dan sesuatu di dadanya menimbang dua hal sekaligus: lega bahwa ia tidak harus menjadi alasan seseorang dihabiskan, dan sakit karena cara kalimat itu dilemparkan.
“Kamu mutusin itu sendirian,” katanya.
“Ya. Aku mutusin supaya kau tidak—”
“Itu persis yang ayahmu lakukan.”
Arjuna membeku.
“Dia memutuskan buat Ibumu karena merasa tahu yang terbaik. Menyimpan rahasia supaya ibumu nggak sedih, padahal justru nyuri hak ibumu buat milih.” Indri menahan suaranya agar tidak naik, tetapi setiap kata jatuh jelas. “Sekarang kamu mau memutuskan buat aku dengan alasan yang sama. ‘Supaya kau tidak terluka.’ Aku nggak minta kamu melindungi aku dengan cara nyuri pilihanku, Mas.”
“Aku bukan Ayahanda.”
“Baru aja kamu ngomong persis kayak dia.”
“Lalu aku harus bagaimana?” Suara Arjuna naik, lalu patah. “Menunggu sampai kau berkata ya, lalu menontonmu memutih seperti Ibu? Menunggu rakyat yang tidak menua berdiri di sampingmu sementara kau membusuk dari dalam? Kau meminta aku diam, Indri. Aku tidak sanggup diam.”
“Aku nggak minta kamu diam. Aku minta kamu nanya dulu.” Indri bangkit setengah, lalu duduk lagi, karena lututnya masih lemas. “Nanya aku, Mas. Nanya Baginda. Nanya semua orang yang tahu sesuatu. Bukan nyimpulin sendirian dan nutup pintunya dari luar.”
Gubrak! Di kejauhan, entah di dapur atau gudang, sesuatu jatuh dan bergulir. Keduanya menoleh sekilas, lalu kembali saling menatap.
Arjuna menunduk. Lampu minyak di tiang menggoyangkan bayangan mereka di dinding, dan di antara dua bayangan itu ada jarak yang tiba-tiba terasa seperti jurang.
“Kau mau menikah denganku, setelah membaca ini?” tanyanya akhirnya, lebih lirih.
“Aku belum tahu.” Indri mengusap pipinya sekali lagi. “Aku cuma tahu aku nggak mau diputusin. Bukan sama Baginda, bukan sama kamu, bukan sama Ibumu dari dalam lontar. Aku bukan dia, Mas. Aku Indri dari Lampung yang suka jatuh dan suka white coffee. Kalau aku bilang ya, itu ya-nya Indri. Kalau tidak, tidak-nya Indri.”
Arjuna menatapnya lama, lalu tertawa kecil. Pendek, getir, hampir menyerupai isak. “White coffee.”
“Kamu yang beliin di pasar.”
“Memang.”
Hening kembali. Bukan hening bermusuhan, melainkan hening dua orang yang sama-sama kehabisan kata sebelum kehabisan perasaan. Arjuna menggulung lontar itu satu lembar demi satu lembar. Gerakannya pelan dan hati-hati.
Kemudian ia berdiri.
“Mas?”
“Aku harus bertanya kepadanya.” Wajah Arjuna yang tadi hancur sudah mengeras kembali, tetapi bukan kekerasan yang menakutkan. Lebih seperti kebulatan tekad seseorang yang baru tahu ia berhak marah. “Malam ini. Kalau aku menunggu pagi, aku akan mencari alasan untuk mengampuninya.”
“Mas, tunggu. Biar aku—”
“Tolong tetap di sini, Indri.” Ia menunduk sedikit. Sopan, dan sangat tegas. “Aku berutang ini pada ibuku. Sendirian.”
Dan sebelum Indri sempat menahan, ia sudah melangkah menyusuri selasar dengan lontar di genggaman, bayangan hitamnya memanjang melewati tiang-tiang yang diterangi obor.
Indri berdiri di ambang pintu dengan tangan kosong. Pisau kecil dan serutan kemuning masih tergeletak di lantai serambi, bentuk setengah jadi yang tadi tampak seperti burung.
Plop! Sesuatu mendarat lunak di sisi tiang. Ular hitam sebesar lengan itu menggeliat turun dari bubungan, menjulurkan kepala sejajar mata Indri.
“Shhhh .... Kau tidak menyusul?”
“Dia minta sendirian, Mas Jaga.”
“Dia minta.” Mata keemasan ular itu berkedip pelan. “Minta dan butuh tidak selalu satu barang, Indri. Ayahnya laki-laki yang keras kepala dan anaknya lebih keras kepala lagi. Bila keduanya sendirian di ruangan yang sama dengan kemarahan, dinding balairung yang sudah retak itu bisa lebih retak.”
Indri menggigit bibir. Ia memandang selasar kosong, lalu pisau di lantai, lalu lampu minyak yang tersisa di kamarnya.
“Kalau aku datang, aku cuma berdiri di pintu,” katanya.
“Itu cukup untuk satu malam.”
Ia menyambar kain tipis dari sandaran kursi, melilitkannya di bahu, dan berlari menyusuri selasar yang sama dengan langkah dilunakkan.
***
Balairung di tengah malam hanya dihuni satu lampu.
Brawijaya duduk sendirian di anak tangga terendah singgasana, jubah putihnya tergerai di lantai batu, dan di pangkuannya terhampar sebuah lukisan kecil tanpa bingkai. Seorang perempuan muda dengan selendang biru tersenyum dari kanvas yang sudah menguning. Ia menyentuh pipinya dengan ibu jari, hati-hati, seakan lukisan itu bisa terluka.
“Tiga tahun lagi,” bisiknya kepada perempuan di lukisan itu. “Selalu tiga tahun lagi. Maafkan aku.”
Pintu balairung bergetar.
Brawijaya mengangkat kepala. Ia belum sempat berdiri ketika daun pintu kayu jati merah itu didorong dari luar dengan satu hentakan keras, membentur dinding sampai debu halus berjatuhan dari balok-balok atap. Seseorang berdiri di ambangnya, napasnya naik turun, tangan kanannya menggenggam gulungan lontar yang dikenal Brawijaya sampai ke setiap simpul talinya.
Lukisan itu meluncur dari pangkuannya dan menyentuh lantai tanpa bunyi.
“Anakku?”