Serambi paviliun malam itu hanya diterangi satu lampu minyak yang digantung di tiang sudut. Arjuna, yang tadi berpamitan, ternyata tidak pergi jauh dari paviliun. Ia duduk bersila di lantai kayu, punggung bersandar pada tiang, dan sebilah pisau kecil di tangannya menyerut sepotong kayu kemuning menjadi sesuatu yang belum jelas bentuknya.
Rangga Wesi lewat di ujung selasar bersama dua prajurit yang berjaga. Ia berhenti.
“Pangeran belum beristirahat?”
“Sebentar lagi, Rangga.” Arjuna tidak mengangkat kepala. “Giliran jaga di batas selatan sudah diganti?”
“Sudah, Pangeran. Kerdil mengintai lagi di balik pagar bambu, tetapi mundur begitu obor kami terangkat.” Rangga Wesi menunggu, lalu bertanya lebih hati-hati, “Pangeran menjaga Den Ayu dari luar pintu setiap malam?”
“Aku menjaga dari jarak.” Serutan kayu jatuh ke lantai, tipis seperti kulit bawang. “Itu yang diizinkan.”
Senapati itu mengangguk sekali dan berlalu. Di luar jangkauan pendengarannya, Arjuna mulai bersenandung. Tembang pendek tanpa kata, yang naik dan turun di nada yang sama seperti ia dulu mendengarnya di serambi lain, dengan jari-jari lembut yang menyisir rambutnya.
Di tengah bait, suaranya putus. Ia menatap kayu di tangannya cukup lama, lalu menyerut lagi.
“Shhhh ....”
Desis itu datang dari atas. Di bubungan paviliun, seekor ular hitam sebesar lengan melingkar di antara genteng, matanya yang keemasan memandang turun. Arjuna tidak perlu mendongak untuk tahu siapa.
“Dia menangis,” kata suara Jaga, berat dan pelan, jelas suara manusia meski keluar dari moncong ular. “Sejak sebentar tadi. Bukan tangis yang keras.”
“Aku tahu.” Pisau di tangan Arjuna berhenti. “Aku baru saja mendengarnya. Tetapi ia tidak memanggilku.”
“Kau bisa mengetuk.”
“Dan masuk tanpa dipanggil, padahal ia sudah pernah bilang ‘jangan’? Tidak.” Arjuna meniup serbuk kayu dari ujung pisau. “Selama ia tidak memanggil, aku di sini.”
Ular itu terdiam, lalu mendesis sekali, lebih pelan. “Itu hal paling bodoh dan paling benar yang pernah kau lakukan, Anak Raja.”
Arjuna tidak membalas. Tembang tanpa kata itu kembali mengalun, kali ini lebih pelan dari sebelumnya.
***
Di dalam kamar, Indri duduk di lantai dengan punggung ke dipan dan lampu minyak di sampingnya. Bungkusan kain hitam itu terbuka di pangkuannya.
Isinya tiga lembar lontar yang dijalin tali benang, panjang seperti penggaris, dan permukaannya digores dengan tinta yang sudah cokelat. Ia menduga akan melihat aksara Jawa. Ternyata tulisannya huruf latin, miring, dan ejaannya ejaan lama. Ada dj di tempat j, tj di tempat c. Indri harus membacanya pelan-pelan seperti membaca surat nenek moyang yang lupa bahwa waktu sudah berganti.
Makan malamnya sudah dingin di meja, hanya tersentuh dua suap. Indri tidak punya selera. Ia memandang tali benang yang mengikat lontar itu dan merasakan jantungnya berdebar, bukan karena takut pada isi surat, melainkan karena takut bahwa setelah ia membacanya, ia tidak lagi bisa berpura-pura belum tahu.
“Bismillah,” bisiknya, seperti yang dulu Bunda ajarkan setiap kali ia hendak membuka sesuatu yang membuatnya gentar.
Ia menarik napas dan mulai membaca.
“Untuk engkau jang membatja ini.
Aku menulis tatkala rambutku telah putih seluruhnja. Djangan terkedjut. Engkau akan melihat wadjahku di dalam wadjahmu sendiri, tetapi kita bukan satu orang. Itulah sebabnja aku tidak akan memerintahmu menempuh djalanku.
Segel itu bukan batu dan bukan mantra. Ia hidup, dan ia makan. Jang ia makan ialah umur sang djangkar. Rakjat tidak menua karena aku menua bagi mereka. Aku baru memahaminja pada tahun keduapuluh lima, ketika tjermin tidak lagi mengenalku. Tidak seorang pun mengatakannja sebelum aku mengutjapkan kata ‘ja’.”
Indri berhenti. Dadanya terasa seperti ditekan sesuatu yang lebar dan dingin. Ia menutup mulut dengan punggung tangan, lalu mengulang kalimat itu dalam hati tanpa suara. Jang ia makan ialah umur sang djangkar.
Lembar kedua. Tintanya lebih gemetar.
“Djangan pertjaja bahwa engkau akan kembali. Itu jang dikatakan Baginda kepadaku pada malam pertama, dan itu dusta jang ia sendiri pertjaja. Jang terpilih tidak akan bisa kembali. Bukan karena pintu terkundji, tetapi karena umurmu telah menjadi milik tanah ini.
Aku tidak menjesal mentjintainja. Aku sama sekali tidak menjesal. Aku menjesal tidak diberi tahu. Seandainja ia katakan semuanja pada hari aku didjemput, mungkin aku tetap memilih ja, mungkin tidak. Tetapi pilihan itu akan sepenuhnja milikku, dan itulah jang ia tjuri dariku.”
Air mata Indri jatuh tanpa ia sadari ke ujung lontar. Ia buru-buru mengusapnya dengan ujung lengan baju agar tinta kuno itu tidak luntur.
Lembar ketiga paling pendek. Hurufnya miring seperti ditulis oleh orang yang tangannya sudah sulit menggenggam.
“Baginda berkata tiap tahun, ‘Tiga tahun lagi akan ada djalan lain.’ Ia berkata demikian setiap tahun, dua puluh sembilan tahun lamanja. Ia tidak pernah mentjarinja. Aku menunggu sampai tidak lagi mampu berdiri.
Katakanlah tidak bila hatimu belum ikhlas. Itu bukan dosa dan bukan pengkhianatan. Djika engkau berkata ja, katakanlah dengan mata terbuka. Djika engkau berkata tidak, aku akan bangga kepadamu, siapa pun engkau.
Satu hal lagi. Kepada anakku, Arjuna, katakan bahwa Ibu tidak pernah marah karena ia tidak boleh masuk. Ibu jang melarang. Ibu tidak ingin ia mengenang wadjah Ibu jang itu. Tetapi barangkali aku salah. Barangkali ia berhak melihat segalanja.
Widjadari.”
Indri meletakkan lontar itu di lantai dengan sangat hati-hati, seakan benda itu bisa pecah. Lalu ia memeluk lututnya, membenamkan wajah, dan menangis. Bukan tangis keras. Tangis yang pelan, panjang, dan tidak bisa dihentikan.
Ia menangis untuk perempuan yang menua sendirian. Untuk Arjuna yang diam di luar pintu kamar ibunya tanpa tahu alasannya. Untuk Laras yang membawa titipan ini sembilan tahun. Dan, ia sadar, sedikit untuk dirinya sendiri, karena kalimat ‘Jang terpilih tidak akan bisa kembali’ ternyata bukan ancaman, melainkan kenyataan yang dibungkus dengan terlalu banyak keindahan.
Tiga tahun lagi. Sebuah janji yang diulang setiap tahun sampai berubah menjadi mantra penenang, dan setiap pengulangannya menambah satu garis di wajah seorang perempuan. Indri bertanya-tanya, berapa kali Brawijaya mengucapkannya sambil menatap mata istrinya, dan apakah ia sendiri percaya pada kalimat itu pada pengulangan yang kesepuluh, yang kedua puluh.
Dan sekarang kalimat yang sama menunggu dirinya. Kalau ia berkata tidak pada malam dua puluh, apa yang akan dikatakan negeri ini kepada gadis berikutnya?
Berapa lama ia duduk begitu, ia tidak tahu. Lampu minyak sudah merendah ketika ia menegakkan kepala. Dari balik jendela, samar, ia mendengar dengung tembang tanpa kata yang naik dan turun di serambi, lalu putus di tengah bait, lalu mulai lagi.
Indri mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia menggulung lontar itu rapi, mengikatnya dengan tali yang sama, dan berdiri.
Tadi Laras berpesan: jangan biarkan siapa pun melihat, bahkan Pangeran. Tetapi surat ini berisi pesan untuk Pangeran. Menahannya semalam saja sudah terasa seperti ikut mencuri.
Ia membuka selot pintu.